Selamat Datang di ENSIKLOPEDIA PRAMUKA
go to my homepage
Go to homepage

May 18, 2014

Kepemimpinan : Nilai-nilai Tradisional Kepemimpinan Masyarakat Melayu




Tajus Salatin (Mahkota Raja-raja)

Krisna Budiman, mahasiswa Jurusan Filsafat Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Indonesia (UI) dalam makalahny yang berjudul "Cermin Khasanah Melayu: Tinjauan Pemimpin Ideal dari Sudut Pandang Melayu" (dimuat di: http://www.rajaalihaji.com), menyatakan bahwa Taj al Salatin karangan Bukhari Al Jauhari  tahun 1630 merupakan  kitab mahakarya budaya-politik-peradaban Melayu. Kitab Taj al-Salatin memberi sumbangan penting bagi pembentukan tradisi dan kultur politik Melayu dengan memberi rincian tentang syarat-syarat menjadi raja/pemimpin (mencakup syarat yang bersifat jasmaniyah dan rohaniah).

Kitab ini bahkan juga digunakan oleh beberapa penguasa di pulau Jawa pada abad 17-18. Taj al-Salatin begitu berpengaruh hingga abad ke-19 ketika Munsyi Abdullah mencoba mengenal atau mengetahui watak Raffles dari air mukanya berdasarkan ilmu firasat di dalam buku tersebut. Dalam bukunya Kisah Pelayaran Abdullah ke Negeri Kelantan, Abdullah telah menasihatkan raja-raja di negeri itu supaya membaca Taj al-Salatin untuk mengetahui tanggung jawab sebagai raja.

Bukhari menggariskan ada 10 sifat raja, pemerintah atau pemimpin yang baik, sebagai berikut:
  1. Tahu membedakan baik dengan yang buruk.
  2. Berilmu.
  3. Mampu memilih menteri dan pembantunya dengan benar.
  4. Baik rupa dan budi pekertinya supaya dikasihi dan dihormati rakyatnya.
  5. Pemurah.
  6. Mengenang jasa orang atau tahu balas budi.
  7. Berani; jika berani maka pengikutnya juga akan berani.
  8. Cukup dalam makan tidur supaya tidak lalai.
  9. Mengurangi atau tidak berfoya-foya atau tidak “bermain” dengan perempuan.
  10. Laki-laki  ((Raja perempuan boleh dilantik jika tiada waris laki-laki untuk mengelakkan daripada berlaku huru-hara).

Etika Kepemimpinan Melayu

Krisna Budiman, dalam tulisan  yang sama menyatakan bahwa sumber etika kepemimpinan Melayu sangatlah banyak diantara  Taj-us Salatin, Salatus Salatin, Bustanul Salatin, Hikayat Hang Tuah, dan hikayat-hikayat lainnya yang juga terbukti memiliki kandungan nilai-nilai yang luhur. Sifat Pemimpin Ideal menurut  Etika Budaya Melayu, adalah :

1. Pemimpin adalah Mengurus Orang Banyak

Pemimpin adalah orang yang diberi kelebihan untuk mengurus kepentingan orang banyak. Arti raja atau penguasa dimaknai oleh bangsa Melayu lewat pepatah lama:

Yang didahulukan selangkah
Yang ditinggikan seranting
Yang dilebihkan serambut
Yang dimuliakan sekuku  

2. Pemimpin adalah orang yang banyak tahunya

Tahu duduk pada tempatnya
Tahu tegak pada layaknya
Tahu kata yang berpangkal
Tahu kata yang berpokok

Seorang pemimpin yang baik haruslah mempunyai banyak pengetahuan sebagai dasar bersikap, berfikir,  mengetahui  kondisi rakyat  dan berbagai pengetahuan lainnya. Dengan pengetahuan akan mempermudah menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang ada sekaligus mencegah munculnya permasalahan baru.

3. Pemimin adalah orang yang banyak tahannya

Tahan berhujan mau berpanas
Tahan bersusah berpenat lelah
Tahan berlenjin tak kering kain
Tahan berteruk sepepak teluk

Ketabahan dan kesabaran menjadi salah satu sifat dari pemimpin ideal untuk menjamin tetap terjaganya komitmen dari sang pemimpin. Pemimpin juga harus mampu bersikap tawakkal yaitu memiliki sikap pasrah  namun bukan berarti menyerah pada masalah. Kepasrahan dilakukan setelah melakukan usaha yang maksimal. Dengan kata lain  tawakkal merupakan  penyerahan hasil kepada Allah dari usaha yang dilakukan manusia.

Pada sisi lain seorang pemimpin harus tahan terhadap kritik-kritik tajam dan keluhan-keluhan yang akan diterima oleh banyak pihak. Ketahanan untuk menerima semua itu dan memikirnya secara mendalam merupakan ciri pemimpin ideal.

4. Pemimpin adalah orang yang banyak bijaknya

Bijak menyukat sama papat
Bijak mengukur sama panjang
Bijak menimbang sama berat
Bijak memberi kata putus

Kebijakan adalah sifat yang mutlak harus dimiliki oleh setiap pemimpin karena sifat bijak merupakan salah satu sifat utama seorang pemimpin. Kebijaksanaan sangat erat kaitannya dengan ketepatan dalam mengambil keputusan. Baik buruk kebijakan akan  bermuara pada baik atau buruknya pengambilan keputusan oleh seorang pemimpin. Tanpa kebijakan yang terencana dengan baik, pemimpin akan mudah sekali terjerumus dalam tindakan dan keputusan yang sewenang-wenang.

5. Pemimpin adalah orang yang  banyak cerdiknya

Cerdiknya mengurung dengan lidah
Cerdik mengikat dengan adat
Cerdik menyimak dengan syarak
Cerdik berunding sama sebanding
Cerdik mufakat sama setingkat
Cerdik mengalah tidak kalah
Cerdik berlapang dalam sempit
Cerdik berlayar dalam perahu bocor
Cerdik duduk tidak suntuk
Cerdik tegak tidak bersundak

Pemimpin harus memiliki kecerdikan, yang dimaknai sebagai  proses pengolahan pengetahuan yang dimiliki untuk mencapai keputusan yang paling tepat dalam menangani masalah. Seorang pemimpin, dipastikan akan berkutat dengan berbagai permasalahan yang kompleks. Maka dari itu, dibutuhkan sebuah kecerdikan untuk menghasilkan solusi yang tepat. Tanpa kecerdikan, seorang pemimpin akan rentan menghasilkan kebijakan yang tidak efekif dan kebijakan yang salah salah yang berdampak negatif secara luas bagi bangsa dan negara.

6. Pemimpin adalah orang yang banyak pandainya

Pandai membaca tanda alamat
Pandai mengunut mengikuti jejak
Pandai menyimpan tidak berbau
Pandai mengunci dengan budi

Pemimpin harus memiliki kepandaian agar mampu menganalisis secara baik terhadap masalah-masalah yang ada. Ciri orang pandai adalah mampu melakukan analisis masalah secera mendalam dan menyeluruh. Kemampuan Analisis adalah bagian terpenting dalam usaha penyelesaian masalah, oleh sebab itu sangat dibutuhkan oleh seorang pemimpin. Pepatah lama mengatakan: “Bagi yang pandai, mana yang kusut akan selesai; orang yang pandai pantang memandai-mandai”.

Kepandaian analisis akan  berperan besar dalam mengurai “benang kusut”. Tanpa kepandaian, benang kusut tersebut takkan pernah selesai untuk diurai, kalaupun dapat dilakukan akan memakan waktu yang lama sehingga tidak efisien.

7. Pemimpin adalah orang yang  banyak arifnya

Di dalam tinggi ia rendah
Di dalam rendah ia tinggi
Pada jauh ianya dekat
Pada yang dekat ianya jauh

Arif dan bijak mungkin adalah dua kata yang memiliki makna yang sangat dekat. Bahkan, ada sebagian masyarakat yang menyamakan dua kata tersebut. Namun, dalam konteks Melayu, dua kata tersebut memiliki pengertian yang berbeda. Arif lebih merujuk kepada kemampuan pembawaan diri dalam proses sosialisasi, sedangkan bijaksana lebih mengarah kepada pengolahan pengetahuan dengan sebaik-baiknya.

Seorang raja/pemimpin akan lebih dihormati apabila ia memiki kearifan dalam bertindak. Kearifan yang dimiliki pemimpin akan menambah rasa kepercayaan rakyat bahwa ia memang benar-benar figur yang cocok untuk memimpin.

8. Pemimpin adalah orag yang  mulia budinya

Berkuasa tidak memaksa
Berpengetahuan tidak membodohkan
Berpangkat tidak menghambat

Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang tidak menyalahgunakan kekuasaannya untuk melakukan perbuatan sewenang-wenang. Pemimpin adalah seseorang yang ditunjuk untuk melayani kepentingan masyarakat, bukan seseorang yang hanya diberi kekuasaan untuk memuaskan ambisi pribadinya.  Oleh karena itu, bagi bangsa Melayu, sifat sewenang-wenang dalam memerintah pantang dilakukan oleh seorang pemimpin.

9. Pemimpin adalah orang yang banyak relanya

Rela berkorban membela kawan
Rela dipapak membela yang hak
Rela mati membalas budi
Rela melangas karena tugas
Rela berbagi untung rugi
Rela beralah dalam menang
Rela berpenat menegakkan adat
Rela terkebat membela adat
Rela binasa membela bangsa

Pemimpin adalah seorang yang harus membela kepentingan rakyatnya. Ia harus rela untuk mengorbakan  banyak hal demi terpenuhinya kepentingan warga.  Syair di atas menunjukkan bahwa seorang pemimpin harus rela sengsara demi membela hak, ia harus rela membela kawan meski harus berkorban. Ia juga harus rela dalam kesulitan ketika rakyatnya kesulitan, mengusahakan kebahagiaan untuk rakyatnya saat ia bahagia.

Pemimpin harus memiliki jiwa patriotisme untuk bela negara.  Bahkan, seorang pemimpin harus rela mati demi membela bangsanya, serta rela berpenat dan terkebat dalam membela adatnya. Di samping itu seorang pemimpin memang idealnya mampu berfungsi  sebagai orang yang bersedia berkorban demi orang banyak.

10. Pemimpin adalah orang yang  banyak ikhlasnya

Ikhlas menolong tak harap sanjung
Ikhlas berbudi tak harap puji
Ikhlas berkorban tak harap imbalan
Ikhlas bekerja tak harap upah
Ikhlas memberi tak harap ganti
Ikhlas mengajar tak harap ganjar
Ikhlas memerintah tak harap sembah

Istilah rela memiliki pengertian yang berbeda dengan ikhlas. Bila rela adalah sebuah bentuk siap untuk berkorban, maka ikhlas lebih mengarah kepada pengelolaan niat. Hal ini sangat jelas disuarakan dalam pepatah lama: “Kalau pemimpin tidak ikhlas, banyaklah niat yang ‘kan terkandas”. Artinya, keikhlasan seorang pemimpin dalam bertindak akan sangat mempengaruhi output dari proses pelaksanaan niat tersebut. Apabila seorang pemimpin tidak ikhlas, maka niat-niat baik yang ada tentunya akan hilang.

11. Pemimpin adalah orang yang  banyak taatnya

Taat dan takwa kepada Allah
Taat kepada janji dan sumpah
Taat memegang petua amanah
Taat memegang suruh dan teguh
Taat kepada putusan musyawarah
Taat memelihara tuah dan meruah
Taat membela negeri dan rakyatnya

Ketaatan bukan hanya kewajiban yang dimiliki oleh rakyat terhadap pemimpinnya, melainkan juga dimiliki oleh seorang pemimpin itu sendiri. Etika kepemimpinan Melayu  menekankan pentingnya hubungan timbal balik yang baik antara pemimpin dan yang dipimpin. Rakyat wajib menaati pemimpin, begitu pula sebaliknya.

Raja harus menaati suara rakyat. Ia tak boleh mengabaikan aspirasi warganya, terlebih apabila suara itu adalah keputusan musyawarah. Ia harus taat pada kewajibannya untuk membela negara dan rakyatnya. Selain itu, yang paling penting juga adalah bahwa ia harus taat pada Allah, karena bagaimanapun Ia adalah perwakilan Allah di muka bumi.

12. Pemimpin adalah orang yang  mulia duduknya

Duduk mufakat menjunjung adat
Duduk bersama berlapang dada
Duduk berkawan tak tenggang rasa

Sikap dan sifat yang baik harus menjadi identitas seorang pemimpin. Perilaku sehari-hari sang pemimpin harus mampu mencerminkan kepribadian yang baik. Inilah yang dimaksud dengan syair di atas, bahwa seorang raja harus memiliki tingkah laku yang baik sehingga tidak kehilangan kewibawaannya. Ia harus bersama-sama rakyat untuk menjunjung adat tanpa adanya perbedaan kewajiban.

Kedudukannya sebagai pemimpin tak mengurangi tugas sedikit pun untuk menjunjung adatnya. Ia juga harus sering duduk bersama rakyatnya, dengan segala kebesaran hatinya mau menghilangkan kesombongan dan bersedia mendengarkan keluh kesah rakyatnya, sehingga akhirnya mampu bertenggang rasa. Kewibawaan akhirnya menjadi penilaian apakah ia seorang pemimpin yang baik atau buruk.

13. Pemimpin adalah orang yang banyak sadarnya

Memimpin sedar yang ia pimpin
Mengajar sedar yang ia ajar
Memerintah sedar yang ia perintah
Menyuruh sedar yang ia suruh

Seringkali seorang pemimpin kerap menggunakan kekuasaannya dengan sewenang-wenang, tidak hanya berupa perbuatan yang menjurus pada pelampiasan ambisi pribadi, melainkan juga kesalahan dalam mengambil keputusan yang akhirnya menyusahkan rakyatnya. Banyak pemimpin yang tak mampu membaca situasi dan tak mengerti keadaan yang pasti, akhirnya terjerumus dalam persoalan yang lebih parah. Maka dari itu, seorang pemimpin harus benar-benar sadar apa yang ia lakukan, sadar tentang alasan dalam melakukannya, dan yang paling penting adalah sadar akan akibatnya.

14. Pemimpin adalah orang yang banyak tidaknya

Merendah tidak membuang meruah
Meninggi tidak membuang budi
Sayang tidak akan membinasakan
Kasih tidak merusakkan
Baik tidak mencelakakan
Elok tidak membutakan
Buruk tidak memuakkan
Jauh tidak melupakan
Dekat tidak bersinggungan
Petua tidak menyesatkan
Amanah tidak mengelirukan

Hak, tentunya, selalu disandingkan dengan kewajiban. Begitu pula halnya dengan sifat kepemimpinan. Berbagai pantangan harus dihindari demi sempurnanya pelaksanaan suatu kewajiban. Seorang pemimpin haruslah selalu memegang teguh kebaikan dan menghindari keburukan yang dapat merugikan rakyatnya.

Pepatah lama mengatakan: “Sifat elok sama dipegang, sifat buruk sama dipantang. Elok dipegang, buruk dibuang.” Itu artinya seorang pemimpin haruslah hanya berpegang pada sifat-sifat yang baik saja dan harus membuang jauh-jauh sifat-sifat yang buruk. Raja sebagai “bayang-bayang” Tuhan di muka bumi haruslah mencerminkan sifat-sifat ketuhanan itu sendiri. Dalam konteks Melayu yang kental dengan nuansa Islam, Asmaul Husna harus menjadi pegangan dalam bertindak.

Selamat berlatih. Salam Pramuka


Sumber :
  • Kak Hadikusumo (Ka Kwarda DIY 1983 - 1996) "Pemimpin Berkepemimpinan Dalam Keteladanan yang Nyata" - Buku Rujukan KPDK Kwarda DIY tahun 1988
  • http://www.tni.mil.id/pages-8-11-asas-kepemimpinan.html\
  • http://file.upi. edu/Direktori/FIP/JUR._PSIKOLOGI/195009011981032-RAHAYU_GININTASASI/kepemimpinan
  • id. wikipedia.org/wiki/Kepemimpinan
  • journal. uny.ac.id/index.php/jpka/article/download/1284/1068
  • http://shimchinmae. wordpress.com/2012/12/04/kepemimpinan-suku-bugis/
  • http://www. rajaalihaji.com/id/article.php?a=ZURIL3c%3D=

 Lihat entry/topik terkait :
  • Kepemimpinan : pengertian, teori dan fungsi
  • Kepemimpinan : syarat, sifat, azas & profile
  • Kepemimpinan : model kepemimpinan yang efektif
  • Kepemimpinan : assesment test kepemimpinan efektif
  • Kepemimpinan : model tim kepemimpinan
  • Kepemimpinan : nilai-nilai tradisional kepemimpinan masyarakat jawa
  • Kepemimpinan : nilai-nilai tradisional kepemimpinan masyarakat bugis
  • Kepemimpinan : nilai-nilai tradisional kepemimpinan masyarakat sunda
  • Kepemimpinan : nilai-nilai tradisional kepemimpinan masyarakat batak
  • Kepemimpinan : model kepemimpinan prophetik  dan asketis
  • Kepemimpinan : nilai-nilai kepemimpinan Gerakan Pramuka
  • Kepemimpinan : Latihan Pengembangan Kepemimpinan Pramuka Penegak Pandega
  • Kepemimpinan : Gladian Pemimpin Ambalan Penegak dan Racana Pandega
  • Kursus Pengelola Dewan Kerja Penegak Pandega
  • Dewan Kerja sebagai Lembaga Kader Kepemimpinan Gerakan Pramuka

Catatan :
Melalui beragam metode dan suasana latihan kepramukaan yang menyenangkan nilai-nilai kepemimpinan masyarakat melayu dapat dijadikan materi latihan untuk "pembentukan watak & sikap kepemimpinan yang positip" kepada para peserta didik.

 
Situs ini merupakan layanan informasi pendidikan kepramukaan yang merujuk ke berbagai sumber yang bisa di pertanggung jawabkan.... Semoga Bermanfaat