Selamat Datang di ENSIKLOPEDIA PRAMUKA
go to my homepage
by PT MOLINO PRAMUKA
Go to homepage

Program On Device Portal....

PT.MOLINO PRAMUKA.saat ini sedang mengembangkan sebuah program "on device portal"sebuah layanan informasi pendidikan dan informasi Organisasi Gerakan Pramuka melalui smartphone...

ENSIKLOPEDI PRAMUKA.....

Sejarah Panjang Gerakan Pramuka telah melahirkan banyak peristiwa,tokoh,benda tradisi istilah kependidikan istilah organisasi dan berbagai hal lainya yang pelu di dokumentasikan......

HASDUK BERPOLA ...

Hasduk Berpola merupakan film pramuka yang mengangkat isu nasionalisme dan patriotisme bangsa Indonesia yang dirilis pada tahun 2013. Film ini disutradarai oleh Harris Nizam.

PENANAMAN POHON...

Peserta Rakernas Gerakan Pramuka tahun 2013" seusai menanam pohon buah di "Kebun Buah Bumi Perkemahan Cibubur - Jakarta" yang dikelola dan dikembangkan oleh Divisi Aset Menejemen PT. Molino .......

Ka Kwarnas Gerakan Pramuka mendapat penghargaan.

Ka Kwarnas Gerakan Pramuka mendapat penghargaan Bupati Sepuh dari Keraton Surakarta Hadiningrat dengan sebutan gelar bangsawan Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Azrul Aswar Notonegoro

May 25, 2013

Dongeng Boneka sebagai Media Pendidikan Kepramukaan




Pengantar

Perkembangan zaman melahirkan tuntutan, aspirasi, motivasi dan harapan-harapan  baru  para peserta didik dalam mengikuti kegiatan kepramukaan. Para Pembina Pramuka diharapkan mampu memenuhi tuntutan tersebut dengan terus-menerus melakukan inovasi agenda,  metode dan penggunaan media latihan kepramukaan. Tanpa upaya seperti itu akan menyebabkan hilangnya antusiasismenya peserta didik dalam mengikuti kegiatan dan latihan pramuka.

Mendongeng dengan boneka merupakan salah satu media pendidikan yang bisa digunakan oleh para Pembina Pramuka untuk menghadirkan latihan pramuka yang menyenangkan dan menggairahkan. Pemakaian boneka sebagai media pendidikan populer sejak tahun 1940-an terutama ketika mulai banyak digunakan di sekolah dasar dan sekolah lanjutan di Amerika. Bahkan di daratan Eropa seni pembuatan boneka telah sangat tua, lebih tinggi kehaliannya  dan sangat populer penggunaanya sebagai media pendidikan di bandingkan di Amerika.

Di Indonesia penggunaan boneka sebagai media pendidikan massa juga sudah sejak lama dilakukan di tengah masyarakat. Di Jawa Barat dikenal dengan tradisi boneka tongkat berbentuk “Wayang Golek” yang dipakai untuk memainkan dan menyampaikan pesan-pesan moral cerita Mahabarata dan Ramayana. Di Jawa Timur dan Jawa Tengah dikenal pula boneka tongkat dengan dua dimensi dibuat dari kayu yang disebut “Wayang Krucil”. Di dua wilayah ini dikenal pula boneka bayang-bayang yang disebut “Wayang Kulit”. Disamping itu terdapat  berbagai jenis tradisi cerita lain berbasis boneka yang tersebar di seluruh nusantara.


Boneka sebagai Media Pembelajaran

Boneka adalah tiruan dari bentuk manusia dan bentuk  binatang. Boneka manusia merupakan model dari manusia, atau yang menyerupai manusia sangat banyak bentuk dan ragamnya. Boneka  hewan merupakan model dari hewan dengan beragam bentuk dan perbandingan. Awalnya  boneka hanya merupakan benda dekorasi atau koleksi untuk anak yang sudah besar atau orang dewasa dan sebagai media permainan untuk anak-anak perempuan.

Bentuk boneka yang sangat menarik minat anak-anak melahirkan ide penggunaan boneka sebagai media pembelajaran dengan cara dimainkan dalam sandiwara boneka. Boneka sebagai media cerita memiliki banyak kelebihan dan keuntungan. Anak-anak  pada umumnya menyukai boneka, sehingga cerita  yang dituturkan lewat karakter boneka jelas akan mengundang minat dan perhatiannya. Anak-anak juga bisa terlibat dalam permainan boneka dengan ikut memainkan boneka dalam sebuah dongeng atau cerita. Hal ini berarti, boneka bisa menjadi pengalih perhatian anak  sekaligus media untuk berekspresi  atau  menyatakan  perasaannya.  Bahkan  boneka  bisa  mendorong tumbuhnya fantasi atau imajinasi anak.

Mendongeng dengan alat peraga boneka, memerlukan sedikit keterampilan karena tokoh yang akan dibawakan atau boneka yang dipegang harus sesuai dengan karakter dalam cerita. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan, ketika mendongeng dengan alat peraga boneka:
  • Jarak boneka tangan harus agak jauh dari mulut.
  • Kedua belah tangan harus lentur dalam memainkan boneka.
  • Bisa diiringi dengan musik untuk menambah suasan.
  • Libatkan anak-anak dalam adegan cerita yang dibawakan.
  • Sesekali adakan dialog antara tokoh boneka dan pendengar atau penonton.
  • Suara karakter dari tokoh cerita dongeng harus pas sesuai peran.
  • Ajak pendengar atau penonton bernyanyi bersama boneka guna memperoleh keterikatan dalam cerita dongeng.
  • Seusai mendongeng jangan lupa ulas pesan yang terkandung dalam dongeng tersebut; boneka seolah-olah berbicara pada anak-anak (pendengar atau penonton).


Manfaat Mendongeng dengan Boneka

Manfaat mendongen atai cerita boneka sebagai media pendidikan  sudah sangat banyak dibahas oleh para ahli.  Umumnya para ahli menyatakan bahwa  dongeng  sangat bermanfaat bagi pengembangan anak. Dongen  sebagai media belajar  juga dapat melahirkan suasana belajar yang menyenangkan, interaktf, inspiratif dan motivatif.  Manfaat dongen secara lebih luas adalah :

  • Membantu pembentukan pribadi dan moral anak. Cerita sangat efektif membentuk pribadi dan moral anak. Melalui cerita, anak dapat memahami nilai baik dan buruk yang berlaku pada masyarakat.
  • Menyalurkan kebutuhan imajinasi dan fantasi. Cerita dapat dijadikan sebagai media menyalurkan imajinasi dan fantasi anak. Pada saat menyimak cerita, imajinasi anak mulai dirangsang. Imajinasi yang dibangun anak saat menyimak cerita memberikan pengaruh positif terhadap kemampuan anak dalam menyeelesaikan masalah secara kreatif.
  • Memacu kemampuan verbal anak. Ceritadapat memacu kecerdasan linguistik anak. Cerita mendorong anak bukan saja senang menyimak cerita tetapi juga senang bercerita atau berbicara. Anak belajar tata cara berdialog dan bernarasi.
  • Merangsang minat menulis anak. Anak yang terbiasaa memahami cerita dan lebih awal berkenalan dengan cerita akan memiliki kemampuan menulis dengan baik.
  • Merangsang minat baca anak. Kegiatan bercerita dengan buku menjadi ‘pelatihan” baca yang penting. Cerita akan menumbuhkan minat anak terhadap bacaannya.
  • Membuka cakrawala pengetahuan anak. melalaui cerita anak akan mendapatkan berbagai pengetahuan yang bermanfaat.

Jenis-jenis Boneka sebagai Media Pembelajaran 

Boneka jari

  • Boneka ini dibuat dengan alat sederhana seperti tutup botol, bola pingpong, kapas, dakron, gabus, bambu kecil, dll  yang dapat dipakai sebagai kepala boneka. Sesuai dengan namanya boneka ini dimainkan dengan menggunakan jari tangan. 
  • Cara memainkannya kepala boneka diletakkan pada ujung jari kita/ dalam. Dapat juga dibuat dari semacam sarung tangan, dimana pada ujung jari sarung ta-ngan tersebut sudah berbentuk kepala boneka dan dengan demikian kita/ dalam tinggal memainkannya saja.
  
Boneka Tangan

  • Kalau boneka dari setiap ujung jari kita dapat memainkan satu tokoh, lain halnya dengan boneka tangan. Pada boneka tangan ini satu tangan kita hanya dapat memainkan satu boneka. Disebut boneka tangan, karena boneka ini hanya terdiri dari kepala dan dua tangan saja, sedangkan bagian badan dan kakinya hanya merupakan baju yang akan menutup lengan orang yang memainkannya disamping cara memainkannya juga hanya memakai tangan (tanpa menggunakan alat bantu yang lain).
  • Cara memainkanya adalah jari telunjuk untuk memainkan atau menggerakkan kepala, ibu jari, dan jari tangan untuk menggerakkan tangan. Di Indonesia penggunaan boneka tangan sebagai media pendidikan/ pembelajaran di sekolah-sekolah sudah dilaksanakan, bahkan dipakai diluar sekolah yaitu pada siaran TVRI dengan film seri boneka “Si Unyil” dan jiuga "Si Komo".
  
Boneka Tongkat
  • Disebut boneka tongkat karena cara memainkannya dengan menggunakan tongkat. Tongkat-tongkat ini dihubungkan dengan tangan dan tubuh boneka. Wayang Golek di Jawa Barat misalnya adalah termasuk boneka jenis ini.
  • Untuk keperluan penggunaan boneka tongkat sebagai media pendidikan/ pembelajaran di sekolah, maka tokoh-tokohnya dibuat sesuai dengan keadaan sekarang. Misalnya dibuat tokoh tentara, pedagang, lurah, nelayan dan sebagainya Boneka tongkat dapat dibuat darikayu yang lunak seperti kayu kemiri, randu, dan sebagainya.

Boneka Tali

  • Boneka tali atau “Marionet” banyak dipakai dinegara barat. Perbedaan yang menyolok antara boneka tali dengan boneka yang lain adalah, boneka tali bagian kepala, tangan, dan kaki dapat digerak-gerakkan menurut kehendak kita/dalangnya. 
  • Cara menggerakkannya dengan tali. Dengan demikian maka kedudukan tangan orang yang memain-kannya berada di atas boneka yang dimainkannya. Untuk memainkan boneka tali diperlukan latihan-latihan yang teratur, sebab memainkan boneka tali ini memerlukan keterampilan yang lebih sulit dibandingkan dengan memainkan boneka-boneka yang lainnya. Adakan tetapi memiliki kelebihan lebih hidup dari pada boneka yang lain, karena mendekati gerak manusia atau tokoh yang sebenarnya.

Boneka Bayang-bayang
  • Boneka bayang-bayang (Sadhow Puppet) adalah jenis boneka yang cara memainkannya dengan mempertontonkan gerak bayang-bayang dari boneka tersebut. Di Indonesia khususnya di Jawa dikenal dengan “Wayang kulit” dengan latar ceita ramayana dan mahabarata.
  • Untuk keperluan pendidikan dapat diciptaka tokoh-tokoh baru dengan nuansa kekinian seperti polisi, tentara, pembina pramuka, orang tua, dsb. Untuk memainkan boneka ini diperlukan ruangan gelap/tertutup dan  lampu sorot untuk membuat bayang-bayang layar.


Selamat Bereksprsi. Salam Pramuka

Lihat Entri/Topik Terkait :
Dongeng Boneka Jari untuk Pendidikan Kepramukaan
Dongeng Boneka Tangan untuk Pendidikan Kepramukaan
Dongeng Boneka Tongkat untuk Pendidikan Kepramukaan
Dongeng Boneka Tali untuk Pendidikan Kepramukaan
Dongen Boneka Bayang-bayang untuk Pendidikan Kepramukaan


Sumber :
www.griyabelanja.com
www.satulingkar.com
www.getscoop.com
www.tradisidongen.blogspot.com
www.aaps10.blogspot.com
www.molylovelyme.blogspot.com














May 22, 2013

Kompas, Penggunaannya dalam Kegiatan Kepramukaan





Pengantar

Kompas adalah alat penunjuk arah yang bekerja berdasarkan gaya medan magnet. Pada kompas selalu terdapat sebuah magnet sebagai komponen utamanya. Magnet tersebut biasanya berbentuk sebuah jarum penunjuk. Saat magnet penunjuk tersebut berada dalam keadaan bebas, maka akan mengarah ke utara-selatan magnet bumi. Inilah yang dijadikan dasar dalam pembuatan kompas dan alat navigasi berbasis medan magnet yang lain.

Umumnya kompas terdiri dari 3 komponen kompas, yaitu badan kompas, jarum magnet, dan skala arah mata angin. Badan kompas berfungsi sebagai pembungkus dan pelindung komponen utama kompas. Jarum magnet dipasang sedemikian rupa agar bisa berputar bebas secara horizontal. Skala penunjuk umumnya berupa lingkaran 360° dan arah mata angin.

Kompas sebagai alat penunjuk  arah mata angin sangat penting untuk para Pramuka dalam hal :
  • Membantu kelancaran dan keselamatan dalam pengembaraan karena para  Pramuka akan dapat mengikuti jalan yang tertera dalam peta sehingga tidak tersesat dijalan.
  • Membantu menentukan arah kiblat untuk kesempurnaan beribadah di alam bebas/di perkemahan bagi yang beragama Islam.
  • Menentukan arah datangnya sinar matahari untuk menentukan arah mendirikan tenda dan arah lokasi kegiatan di di pagi atau sore hari.
  • Membantu dalam pembuatan dan pembacaan peta pita dan atau peta perjalanan
  • Membaca peta medan atau peta topografi
Oleh sebab kegunaannya yang sangat beragam tersebut maka para Pramuka seyogyanya memiliki kemampuan untuk menggunakan dan membaca kompas secara benar dan tepat. Disamping itu kegiatan menggunakan dan membaca kompas merupakan kegiatan yang menyenangkan, melatih ketelitian, kerjasama dan pengenalan medan/lokasi di alam bebas.


Macam dan jenis kompas

Kompas terdiri dari 3 jenis, yaitu kompas bidik (kompas prisma), kompas orientering (kompas silva), dan kompas biasa.

  • Kompas bidik atau prisma fungsi utamanya untuk mempermudah menghitung sudut sasaran bidik (tempat atau benda) secara langsung. Cara pemakaiannya dengan membidikkan kompas ke sasaran secara langsung sekaligus membaca sudut sasaran pada skala kompas. Besar sudut yang dibuat oleh arah bidikan dan arah jarum (utara) itulah sudut sasarannya (bearing).


  • Kompas silva atau orienteering fungsi utamanya untuk mempermudah perhitungan dan pembacaan pada peta secara langsung. Badan atau pembungkus kompas silva selalu dibuat transparan untuk mempermudah pembacaan peta yang diletakkan di bawahnya.


  • Kompas biasa adalah kompas yang hanya digunakan sebagai penunjuk arah dan bentuknya sederhana.

Bagian-bagian penting dari Kompas Bidik :
  • Dial, adalah permukaan Kompas dimana tertera angka derajat dan huruf mata angin.
  • Visir, adalah lubang dengan kawat halus untuk membidik sasaran.
  • Kaca Pembesar, digunakan untuk melihat derajat Kompas.
  • Jarum Penunjuk, adalah alat yang menunjuk Utara Magnet.
  • Tutup Dial, dengan dua garis bersudut 45° yang dapat diputar.
  • Alat Penyangkut, adalah tempat ibu jari untuk menopang Kompas saat membidik.

Cara Mempergunakan Kompas Bidik
  • Letakkan Kompas di atas permukaan yang datar, setelah jarum Kompas tidak bergerak maka jarum tersebut akan menunjukkan ARAH UTARA MAGNET.
  • Bidik sasaran melalui Visir, melalui celah pada kaca pembesar, setelah itu miringkan kaca pembesar kira-kira bersudut 50° dengan kaca dial.
  • Kaca pembesar tersebut berfungsi sebagai : (a) Membidik ke arah Visir, membidik sasaran, (b) Mengintai derajat Kompas pada Dial.
  • Apabila Visir diragukan karena kurang jelas terlihat dari kaca pembesar, luruskan garis yang terdapat pada tutup Dial ke arah Visir, searah dengan sasaran bidik agar mudah terlihat melalui kaca pembesar.
  • Apabila sasaran bidik 30° maka bidiklah ke arah 30°
  • Sebelum menuju sasaran, tetapkan terlebih dahulu Titik sasaran sepanjang jalur 30°.
  • Carilah sebuah benda yang menonjol/tinggi diantara benda lain disekitarnya, sebab rute ke 30° tidak selalu datar atau kering, kadang-kadang berbencah-bencah. Ditempat itu kita Melambung (keluar dari rute) dengan tidak kehilangan jalur menuju 30°.
  • Sebelum bergerak ke arah sasaran bidik, perlu ditetapkan terlebih dahulu Sasaran Balik (Back Azimuth atau Back Reading) agar kita dapat kembali ke pangkalan apabila tersesat dalam perjalanan.

Rumus back azimuth/back reading

1.    Apabila sasaran kurang dari 180° = di tambah 180° maka akan menjadi  180° = X + 180°
2.    Apabila sasaran lebih dari 180° = di kurang 180°
3.    Contoh : Sasaran balik dari
  • 30°      adalah    :    30° + 180°  = 210°
  • 240°    adalah    :    240° - 180°  = 60°
  • 45°, 34’, 20’’      adalah   : 225°    34’    20’’
  • 178°,  54’ , 14’’  adalah   : 001°    05’    45’’



Arah mata angin dalam kompas
    • U         =   Utara                           : 0° atau 360°
    • UTL    =   Utara Timur Laut        : 22°     30’
    • TL       =   Timur Laut                  : 45°
    • TTL     =   Timur Timur Laut       : 67°    30’
    • T          =   Timur                          : 90°   
    • TMG    =   Timur Menenggara     : 112°    30’
    • TG       =   Tenggara                      : 135°
    • SMG    =   Selatan Menenggara   : 157°    30’
    • S          =   Selatan                        :180°
    • SBD    =   Selatan Barat Daya     : 202°    30’
    • BD      =   Barat Daya                  : 225°
    • B         =   Barat                           : 270°
    • BBL    =   Barat Barat Laut         : 292°    30’
    • BL       =   Barat Laut                  : 315°
    • UBL    = Utara Barat Laut          : 337°    30’

Benda-benda lain yang dapat di gunakan untuk menentukan arah Mata Angin :
  • Matahari, terbit di Timur dan terbenam di Barat.
  • Masjid, sebagai kiblat menghadap Barat Laut.
  • Bintang, Rasi-rasi bintang pada malam hari.
  • Kuburan Islam, batu nisan membujur dari Utara Selatan.
  • Silet, jika diapungkan di atas air.

Selamat Berlatih. Salam Pramuka

May 18, 2013

Berkemah : Teknologi Sederhana Penjernih Air




Pengantar
 

Kadangkala  ketika berkemah para Pramuka sulit menemukan air bersih untuk keperluan mandi, masak dan mencuci. Air bersih sulit didapatkan  salah satunya disebabkan rusaknya lingkungan terutama ruang terbuka hijau sehingga air hujan tidak lagi mampu diserap oleh tanah dengan baik yang berakibat mengecilnya sumber-sumber mata air.

Ketiadaan air  bersih untuk masak memasak dapat menimbulkan  penyakit diare, penyakit lambung dan penyakit pencernaan lainnya. Hal itu karena air kotor seringkali tercemar bakteri salmonella, E-coli bakteri dan berbagai bakteri lainnya.

Agar perkemahan dapat berjalan dengan  sehat, menyenangkan dan penuh kegembiraan maka para Pramuka dituntut mampu melakukan penjernihan air kotor dengan menggunakan teknologi sederhana. Banyak jenis teknologi sederhana penjernihan air yang bisa dipelajari dan dimanfaatkan oleh para Pramuka seperti penjernihan dengan menggunakan filter bahan-bahan alami di bawah ini. Penggunaan teknologi yang tepat akan dapat mengubah air kotor  menjadi air bersih yang layak dan sehat untuk dikonsumai.

Bahan yang Dibutuhkan   
  • Dua buah drum
  • Pipa penghubung
  • Pasir
  • Arang
  • Kerikil

Gambar  Alat Penjernih


Cara kerja alat:
  • Air kotor dituangkan ke drum yang telah diberi filter dengan  lapisan pasir, arang dan kerikil. Lapisan pasir, arang, dan kerikil berfungsi untuk menghilangkan bakteri yang tercampur dalam air kotor tadi. 
  • Alirkan air bersih hasil penyaringan dengan pipa/selang ke drum penampungan air bersih. Air bersih hasil penyaringan akan menjadi air sehat untuk mandi, masak dan mencuci. Namun demikian jika akan diminum harus dimasak terlebih dahulu.
  • Jika aliran air bersih makin mengecil ganti atau bersihkan pasir, arang dan kerikil yang digunakan sebagai filter.
  • Ketersediaan air bersih akan mendukung kegiatan perkemahan yang sehat, menyenangkan, ramah lingkungan serta meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan para Pramuka dalam hal penerapan teknologi penjernihan air.


Selamat mencoba. Salam Pramuka

Sumber
http:// www.teknologisederhana.com/
 

May 16, 2013

Pembina Pramuka : Fungsi, Peran & Model Pembawaannya




Funqsi dan Peran Pembina Pramuka

Dalam mejalankan tugas sebagai pendidik yang menggunakan alam bebas sebagai sarana belajar, "Pembina" mempunyai beberapa fungsi dan peran. Fungsi-fungsi ini seringkali tidak dapat dipisahkan antara fungsi yang satu dengan fungsi yang lainnya serta digunakan bersamaan pada waktu dan saat yang tepat. Fungsi dan Peran Pembina tersebut adalah :
  1. Pengamat : Tugas seorang Pembina untuk mengamati dan memantau perkembangan dan tingkah laku individu dan dinamika kelompok. Dalam proses pengamatan ini, seorang pembina tentunya harus menyadari pentingnya membawa "note book" yang berguna untuk mencatat hal-hal yang penting selama pengamatan berlangsung.
  2. Keterampilan Pembina : Seorang pembina harus memastikan bahwa dalam melakukan kegiatan di alam bebas dapat berjalan dengan aman (berkemah, mendaki gunung, memanjat, rafting, snorkeling, dan sebagainya).
  3. Penjaga Keamanan : Memastikan bahwa peserta/kelompok selalu dalam keadaan aman. Sisi samping dari fungsi ini adalah untuk mengantisipasi keadaan bahaya atau beresiko tinggi,maka pembina harus menguasai teknik-teknik P3K, minimal sesuai dengan ruang alam bebas yang sedang digunakan.
  4. Fasilitator : Memberikan dan menyediakan fasilitas bagi peserta atau kelompok kursus untuk belajar. Fasilitas yang dimaksud disini adalah selain sarana pelatihan dan pendidikan juga metode dan teknik-teknik pengajaran yang tepat untuk peserta atau kelompok.
  5. Presenter : Pembina juga harus menguasai teknik-teknik presentasi yang baik. Presentasi yang dimaksud adalah mencakup juga prensentasi dalam berdinamika kelompok di outdoor.
  6. Translator : Setiap pribadi dalam kelompok biasanya memiliki watak karakteristik, dan gaya komunikasi yang berbeda-beda. Tugas Pembina adalah menjembatani perbedaan ini, karena jika terjadi konflik komunikasi dan tidak ditengahi, dapat merusak proses pelatihan atau dinamika kelompok.
  7. Penasehat : Berkaitan dengan fungsi fasilitas, seorang pembina juga harus mempersiapkan dirinya menjadi seorang penasehat yang tidak menasehati. Pembina haruslah melayani dengan penuh Empati.
  8. Panutan : Seorang Pembina dituntut menjadi panutan bagi peserta. Orang yang melaksanakan tugas dengan sungguh-sungguh, taat pada tata tertib, disiplin dan sebagainya. Tingkah laku dan tindakan pembina akan selalu dilihat oleh peserta, baik disaat senggang/santai maupun saat menjalankan aktifitas.
  9. Pemimpin : Menjadi seorang pemimpin di dalam kelompok peserta didik adalah salah satu tugas dan peran Pembina di dalam sebuah kegiatan.
  10. Perencana Kegiatan : Fungsi Pembina yang paling tinggi dan mungkin puncak dalam tugasnya adalah menyusun suatu program kegiatan yang dibutuhkan oleh peserta didik. Penyusunan program kegiatan adalah faktor penting dalam menjamin tercapainya tujuan kegiatan. 
Pembina adalah seorang pendidik yang unik, menggunakan metode yang unik, ruangan belajar yang luas (outdoor), memiliki peserta didik dengan latar belakang yang beragam dan secara individu, maupun kelompok. Fungsi dan peran yang dijabarkan diatas mengambarkan secara implisit ke-khasan seorang pembina. Mana yang tepat digunakan, semua tergantung dari tugas yang dijalankan dan kebutuhan yang harus dipenuhi. Satu hal yang pasti, pengalaman dan kemauan belajar akan mendukung kemampuan seorang Pembina dalam menjalankan tugas dan peran yang diharapkan dari dirinya.
Pembawaan & Gaya Pembina Pramuka

Teknik-teknik memfasilitasi adalah sebuah proses belajar melalui pengalaman (petualangan, permainan dan sebagainya) telah mengalami beberapa evolusi perubahan. Teknik-teknik ini disusun berdasarkan tingkat penemuannya dan tingkat kesulitannya. Mereka adalah :

Membiarkan pengalaman berbicara sendiri ((Letting the Experience speak for it self)
Gaya fasilitasi ini tergantung penuh pada keandalan suatu program, oleh karena peserta harus menangkap sendiri maknanya yang terkandung melalui program yang dijalankan (program harus benar-benar disusun rapih dan teratur).

Berbicara atas pengalaman (Speaking for the Experience)
Pembina, umumnya dalam peran sebagai seorang konsultan atau ahli, yang dapat menerjemahkan kegiatan yang baru berlangsung oleh peserta. Pembina memberitahu mereka apa yang mereka pelajari dan bagaimana mereka menerapkan di masa yang akan datang.

Membahas pengalaman (Debriefing the Experience)
Para peserta diminta untuk memikirkan ulang (refleksi) apa yang mereka jalankan dan membicarakan apa yang mereka pelajari dari kegiatan tersebut. Teknik ini mulai muncul dipertengahan tahun 70-an dan popular di AS dengan sebutan "Outward Bound Plus".

Memberikan masukan langsung diawal kegiatan (Directly frontloading the Experience)
Penambahan masukan pada briefing awal selain peraturan permainan dan peraturan keselamatan. Pembina membahas di awal kegiatan.

Memberikan batasan pada pengalaman (Framing the Experience)
Kegiatan yang akan dijalankan dibatasi secara isomorph oleh Pembina. lsomorph adalah suatu kiasan yang dibuat oleh Pembina agar peserta dapat membuat kaitan antara kegiatan yang akan dilaksanakan dengan kebutuhan mereka.

Memberikan masukan tidak langsung diawal kegiatan ((lndirectly frontloading the Experience)
Teknik ini umumnya digunakan Pembina apabila peserta terus-menerus menemui kesulitan yang sama pada saat kegiatan berlangsung. Untuk membatasi hal-hal tersebut Pembina umumnya memberikan masukan secara tidak langsung :
  • Mengingat keberhasilan dan kesulitan yang telah mereka alami.
  • Memberikan bayangan-bayangan alternatif penyelesaian.
  • Memberikan contoh tidak langsung.
  • Menghilangkan hal-hal yang membuat mereka " Stuck".
  • Secara pro aktif mem "framing" kegiatan.
Pada tiga gaya terahir pembahasan dititikberatkan pada teknik praktik dari Pembina untuk meningkatkan pelajaran yang didapat peserta dari kegiatan-kegiatan, dan memudahkan untuk menerapkan pada masa yang akan datang.  Ketiga teknik ini dapat dipercaya bahwa perubahan tingkah laku dipengaruhi pengalaman langsung, dibandingkan oleh analogi yang diciptakan pada saat diskusi akhir atau setelah kegiatan selesai berlangsung.


Sumber :

Buku,  Outdoor Games Ala Pramuka, Gerakan Pramuka Kwarda DKI Jakarta, tahun 2004




May 15, 2013

Morse Dalam Kegiatan Kepramukaan


 Pengantar 

  • Sebelum ditemukan Morse oleh Samuel Finley Breese Morse pada tahun 1832, sudah banyak cara yang dilakukan oleh manusia untuk menyampaikan berita dengan cepat dari satu tempat ketempat lain. Cara pertama dilakukan oleh Homerus Ilias yang menggunakan api yang berasap, yang disusun menurun kode-kode berita seperti yang dilakukan oleh suku Indian Amerika.
  • Selanjutnya ditemukan alat tilgram yang menggunakan ketukan-ketukan suara yang diatur panjang dan pendek untuk rnengirirn berita. Juga dipergunakan isyarat cahaya untuk mengirimkan berita yang dimengerti oleh markonis-markonis seluruh dunia. Pada tahun 1832 Morse merancang sebuah alat Telegraf yang pertama, dan pada tahun 1844 terjadilah hubungan telegraf yang pertama kali di dunia antara kota Baltimore dengan Washington, tepatnya pada tangal 27 Mei 1844.
  • Kode-kode Morse untuk mengirim berita sederhana sekali yaitu berupa alfabet Morse yang mudah dimengerti  dan dipelajari
Alfabet Morse






Alat untuk Menyampaikan Morse
  1. Dengan Peluit (Bunyi Pendek dan Panjang).
  2. Dengan Bendera (Kibaran Pendek dan Kibaran Panjang).
  3. Dengan Api/cahaya Lampu (Nyala pendek dan Panjang).
  4. Dengan Asap (Gumpalan Kecil-dan Gumpalan Besar).
  5. Dengan AIat Telegraf (Tulisan Titik dan Garis).
  6. Cermin dengan bantuan cahaya matahari (Sebentar dan Lama).

Cara Bersemboyan Morse Bendera


Yang Penting Diingat
  1. Pada waktu memberi isyarat Morse perlu diperhatikan antara perbedaan TITIK dan GARIS, yaitu 1 : 3.
  2. Misalnya untuk Titik 1(satu) detik, maka untuk Garis adalah 3 (tiga) detik.

Rumah Morse

Alat bantu untuk menghafal morse

 

Keterangan : 
  1. Kotak = titik (.)     Kotak arsir = strip/garis (-)
  2. Semua huruf yang dimulai dengan titik ( . ) carilah di sebelah kiri.
  3. Semua huruf yang dimulai dengan strip ( - ) carilah di sebelah kanan.
  4. Cara mencarinya dari kotak di atas turun lurus ke bawah. 
Yang perlu diketahui dalam Mengirim dan Menerima Semaphore

 


Selamat berlatih, Salam Pramuka


May 7, 2013

Boediono (Wapres RI) : Pendidikan Kunci Pembangunan





Barangkali tak ada di antara kita yang tak setuju bahwa pendidikan punya peran besar dalam pembangunan suatu bangsa. Namun, sering kali kita berhenti di situ pada tataran abstrak dan menerimanya sebagai kebenaran mutlak yang tidak perlu lagi dikaji dan dirinci. Berdasarkan keyakinan itu kita melaksanakan percepatan dan perluasan pendidikan melalui aneka program pendidikan. Negara sebagai penjurunya dan masyarakat berpartisipasi aktif. 
Semangat ini sudah benar. Namun, sebenarnya ada satu hal penting yang “hilang”, yaitu tentang “apa” yang seyogianya diajarkan untuk menyiapkan manusia-manusia Indonesia yang mampu berkontribusi maksimal bagi kemajuan bangsanya. Barangkali sekarang sudah waktunya kita memikirkan secara lebih mendalam masalah yang teramat penting ini. 

Belum punya konsep yang jelas

Saya harus menyatakan bahwa sampai saat ini kita belum punya konsepsi yang jelas mengenai substansi pendidikan ini. Karena tak ada konsepsi yang jelas, timbulah kecenderungan untuk memasukkan apa saja yang dianggap penting kedalam kurikulum. Akibatnya terjadilah beban berlebihan pada anak didik. Bahan yang diajarkan terasa ”berat”, tetapi tak jelas apakah anak mendapatkan apa yang seharusnya diperoleh dari pendidikannya.

Substansi dasar yang memberikan isi pada kebijakan pendidikan kita perlu dibakukan. Rumusan substansi yang jelas dan cermat akan dapat menjadi kompas dan perajut bagi begitu banyak kegiatan dan inisiatif pendidikan di Tanah Air sehingga mengurangi segala macam kemubaziran. Rumusan substansi tersebut haruslah mengacu dan diturunkan dari konsepsi yang jelas mengenai bagaimana kemajuan bangsa terjadi dan apa peranan pendidikan di dalamnya.

Saya tak akan mengulang apa yang telah dikatakan oleh para pakar mengenai peran strategis pendidikan dalam menyiapkan kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) bangsa serta dengan demikian mendorong kemajuan bangsa. Kita semua sepakat mengenai hal ini. Di sini saya ingin mengangkat sisi penting lain dari pendidikan, yaitu perannya dalam mendukung kemajuan bangsa melalui dukungannya dalam pembangunan sosial, ekonomi, dan politik.

Berikut ini adalah butir-butir yang terkait  dengan itu, yang saya sarikan dari hasil-hasil riset di bidang ekonomi-politik dan sejarah (Daron Acemoglu & James  ARobinson, 2O12). Penelitian-penelitian itu mencoba mengidentifikasi faktor-faktor penentu utama kemajuan bangsa sebagai suatu identitas sosial, ekonomi, politik berdasarkan analisis pengalaman sejarah bangsa-bangsa.

Beberapa kesimpulan penting adalah sebagai berikut. Bahwa kemajuan suatu bangsa ditentukan oleh mutu institusi-institusinya terutama institusi politik dan ekonominya. Proses kemajuan suatu bangsa terjadi dan berlanjut bila terjadi interaksi positif antara institusi politik dan institusi ekonominya. Bangsa-bangsa yang gagal maju karena insiden sejarah atau barangkali karena kelalaiannya sebagai bangsa-umumnya terperangkap dalam interaksi negatif dari kedua kelompok institusinya tersebut.

Dari dua kelompok institusi penentu kemajuan bangsa sejarah bangsa-bangsa menunjukkan, institusi politik adalah yang lebih mendasar. Kelompok institusi inilah yang pada akhirnya menentukan aturan main yang mengkondisikan efektif tidaknya institusi-institusi lain. Pembenahan dan penataan institusi politik merupakan kunci pembuka kemajuan bangsa.

Selanjutnya riset sejarah menunjukkan, institusi politik akan mendukung proses kemajuan suatu bangsa apabila memenuhi dua persyaratan utama. Pertama, harus ada suatu tingkat konsentrasi kekuasaan politik di tingkat nasional yang cukup untuk menjamin penegakan law and order. Somalia dan Afganistan adalah contoh ekstrem kekuasaan terlalu tercerai-berai sehingga ketertiban umum dan hukum tidak bias dijalankan.

Syarat kedua adalah sebaliknya yaitu kekuasaan politik tak boleh terkonsentrasi di tangan satu kelompok atau beberapa kelompok saja (oligarki), tetapi harus terbagi sedemikian rupa sehingga elemen-elemen utama bangsa terwakili di dalamnya. Konstelasi politik harus inklusif karena dengan demikian sistem checks and balances dapat berjalan efektif. Tidak terlalu terkonsentrasi dan tidak terlalu tercerai-berai.

Dengan kata lain: system demokrasi! Riset tersebut menarik kesimpulan kuat dari analisis empiris sejarah bahwa demokrasi merupakan sistem politik yang paling menjanjikan bagi bergulirnya proses kemajuan bangsa. Tentu, yang dimaksud adalah demokrasi dalam arti substantive, bukan sekadar bentuk formalnya.

Riset menunjukkan bahwa makin tinggi pendapatan per kapita makin besar peluang demokrasi berhasil dan berlanjut (Fareed Zakaria, 2OO3). Bangsa-bangsa yang sedang membangun dan sedang mengonsolidasikan demokrasinya sangat penting untuk menghindari krisis ekonomi. Sebab, di situ ada risiko tinggi sendi-sendi demokrasi yang sedang dibangun ikut rontok. Konsolidasi demokrasi berpeluang tinggi berhasil bila ditopang oleh perekonomian yang tumbuh dan manfaatnya makin terbagi merata.

Apabila demokrasi berhasil dikonsolidasikan, semakin besar pula institusi-institusi ekonomi akan berfungsi lebih baik lagi. Pada gilirannya meningkatkan kinerja  perekonomian dan selanjutnya akan memperkuat demokrasi. Demikianlah seterusnya: terjadi proses interaksi positif antara politik dan ekonomi.  

Peran pendidikan

Satu hal penting dari hasil riset mutakhir: institusi memegang peran kunci dalam proses kemajuan bangsa. Kualitas institusi penentu utama kemajuan bangsa. Oleh karena itu, upaya pembangunan bangsa semestinya memberikan prioritas tertinggi pada pembangunan institusi.

Kualitas kinerja institusi pada akhirnya ditentukan oleh kualitas manusia-manusia yang melaksanakan fungsi institusi itu, terutama dalam sikap dan kompetensinya. Di sinilah kita melihat jelas peran sentral pendidikan dalam pembangunan dan kemajuan bangsa. Melalui pendidikan kita dapat menanamkan sikap yang pas dan memberikan bekal kompetensi yang diperlukan kepada manusia-manusia yang menjalankan fungsi institusi-institusi yang menentukan kemajuan bangsa.

Di sini penting dibedakan dua sasaran pendidikan. Pertama membentuk sikap dan kompetensi dasar yang perlu dimiliki oleh setiap warga negara di manapun mereka berkarya. Ini merupakan tugas dari pendidikan umum. Adapun sasaran kedua: mendidik sikap dan kompetensi khusus yang diperlukan bagi mereka yang bekerja di bidang-bidang tertentu. Ini adalah bidang tugas dari pendidikan khusus. Pendidikan umum membekali anak didik soft skills untuk menjadi manusia dan warga negara yang baik. Pendidikan khusus memberikan hard skills untuk menjadi pekerja yang baik.

Pada hakikatnya pendidikan umum wajib diberikan kepada semua anak didik di semua jenjang mulai dari SD hingga perguruan tingg[ (S-1). Tentu materi di setiap jenjang disesuaikan dengan umur dan tingkat kematangan anak didik. Adapun substansi pendidikan khusus diberikan sesuai vokasi atau profesi yang dipilih oleh siswa atau mahasiswa dalam kariernya nanti. Materi pendidikan khusus diberikan sebagai tambahan materi pendidikan umum. Dalam pendidikan khusus inilah dibangun, antara lain, kemampuan iptek manusia Indonesia.

Dalam strategi pendidikan yang utuh, kedua komponen pendidikan ini dirumuskan secara rinci, konsisten, dan seimbang. Keduanya membentuk kurikulum minimal pada tiap jenjang pendidikan dengan standar yang berlaku, dan diberlakukan secara nasional. Tentu ruang untuk muatan lokal harus tetap diberikan sesuai kekhasan setiap daerah dan kelompok masyarakat. Inilah yang saya maksud dengan benang merah substansi pendidikan nasional yang perlu kita rumuskan secara lebih jelas dan cermat. Apabila kita menerima bahwa konsolidasi demokrasi adalah simpul kritis penentu kemajuan bangsa, strategi pendidikan perlu diarahkan sepenuhnya dan secara nyata mendukung sasaran ini. Pintu masuk kita adalah melalui pendidikan umum. Substansi pendidikan umum harus mencakup semua hal yang diperlukan untuk membekali anak didik agar jadi pelaku demokrasi yang efektif, yang tahu hak dan tanggung jawabnya, yang punya komitmen untuk menyukseskan proses konsolidasi demokrasi. Apabila ini kita lakukan, kita dapat optimistis, risiko-risiko kegagalan demokrasi dalam masa konsolidasi ini dapat diminimalkan. Demokrasi kita akan makin mantap dan institusi-institusi ekonomi akan makin efektif, yang selanjutnya akan makin memperkuat demokrasi.

Delapan kemampuan

Apa yang perlu dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan umum yang memenuhi tuntutan tersebut? Ini adalah tantangan bagi para ahli, untuk merumuskannya. Di sini saya ingin menyampaikan satu contoh substansi pendidikan umum dari negara lain untuk jenjang perguruan tinggi (S-1). Substansi bagi jenjang-jenjang di bawahnya tentu perlu penyesuaian-penyesuaian, termasuk harus memasukkan kekhasan budaya dan sejarah kita.

Profesor Derek Bok, Presiden Emeritus Universitas Harvard, mengatakan, pendidikan S-1 di Amerika Serikat bertujuan memberikan bekal delapan kemampuan kepada mahasiswanya. 

Pertama kemampuan berkomunikasi. Semua mahasiswa S-1 perlu punya kemampuan ini secara efektif dengan berbagai pihak. Mereka harus mampu menulis dengan presisi dan menarik juga secara lisan idenya dengan jelas dan persuasive. Ketidakmampuan berkomunikasi antara warga Negara atau antara pemerintah dan public adalah kegagalan demokrasi.

Kedua, kemampuan berfikir jernih dan kritis. Kemampuan ini mencakup kemampuan mengajukan pertanyaan yang relevan, mengenali dan mendevinisikan masalah, menyadari dan mempertimbangkan argumentasi dari berbagai sisi dari suatu permasalahan, serta mencari dan menggunakan secara efektif data dan informasi yang relevan. Akhirnya, mengambil sikap dan kesimpulan setelah mempertimbangkan semuanya dengan cermat.

Ketiga, kemampuan mempertimbangkan segi moral suatu permasalahan. Hampir tiap isu publik punya sisi moral. Mahasiswa perlu dilatih menganalisis dengan jernih dan mengambil sikap mengenai aspek baik-buruk, benar-salah dari segi moral dalam menghadapi permasalahan.  

Keempat, kemampuan untuk menjadi warga negara yang efektif. Mahasiswa harus disiapkan menjadi peserta aktif dalam proses demokrasi dan mampu mengambil sikap yang rasional mengenai berbagai  masalah politik dan isu-isu publik.

Kelima kemampuan untuk mencoba mengerti dan toleran terhadap pandangan yang berbeda. Di AS yang terdiri atas banyak kelompok etnis dan kelompok agama, pengajaran toleransi memperolehperhatian khusus dan dianggap sebagai tugas penting dari universitas.

Keenam, kemampuan hidup dalam masyarakat yang mengglobal. Mahasiswa diharapkan punya pengetahuan dasar masalah-masalah  internasional dan apresiasi mengenai kultur yang berbeda. 

Ketujuh, memiliki minat luas mengenai hidup. Mahasiswa harus dibangkitkan minat intelektualnya seperti mengenai sejarah, filsafat, dan minat di bidang-bidang lain, seperti music, seni, dan olahraga.

Kedelapan, memiliki kesiapan untuk bekerja. Ini sebenarnya bukan bagian dari kurikulum pendidikan umum, tetapi bagian dari kurikulum pendidikan khusus yang memang harus diajarkan pada tingkat S-1 sesuai dengan fakultasnya.

Kedenganrannya terlalu idealistik, tetapi itulah yang jadi sasaran ideal universitas-universitas disana. Dan, tampaknya mereka sangat serius dalam mencapai sasaran tersebut. Tentunya kita tak boleh puas diri dengan apa yang kita punya sekarang. Taruhannya terlalu besar untuk bersikap seperti itu. Marilah kita lakukan sesuatu yang substansif bagi pendidikan kita.


BOEDIONO
Wakil Presiden RI
 
Sumber : 
Kolom Opini Harian Kompas, Senin 27 Agustus 2012


 
PT. MOLINO PRAMUKA akan menyelenggarakan program nonton bareng Film Pramuka "Hasduk Berpola" di seluruh Indonesia. syarat dan ketentuan berlaku. Info selanjutnya hubungi Telp : 021-8731656..