Selamat Datang di ENSIKLOPEDIA PRAMUKA
go to my homepage
Go to homepage

Program On Device Portal....

PT.MOLINO PRAMUKA.saat ini sedang mengembangkan sebuah program "on device portal"sebuah layanan informasi pendidikan dan informasi Organisasi Gerakan Pramuka melalui smartphone...

ENSIKLOPEDI PRAMUKA.....

Sejarah Panjang Gerakan Pramuka telah melahirkan banyak peristiwa,tokoh,benda tradisi istilah kependidikan istilah organisasi dan berbagai hal lainya yang pelu di dokumentasikan......

PANJI GERAKAN PRAMUKA...

ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka Sri Sultan Hamengku Buwono IX menerima Panji Gerakan Pendidikan Kepanduan Pramuka dari Presiden Soekarno pada tanggal 14 Agustus 1961 di Istana Merdeka

APEL BESAR...

Para penggalang Putra dan Putri mengikuti Apel Besar Hari Pramuka yang Diselenggarakan tanggal 18 Agustus 1986 di Istana Merdeka Jakarta.......

KA KWARNAS GERAKAN PRAMUKA DARI MASA KE MASA.

Ka Kwarnas Gerakan Pramuka dari masa ke masa : Sri Sultan Hamangkubuwono IX 1961-1974, H.M. Sarbini 1974-1978(meninggal Th 1977), Mashudi 1974-1993, Himawan Sutanto 1993-1998, H.A. Rivai Harahap 1998-2003,Azrul Azwar 2003-2013,Adhyaksa Dault 2013-2018.

Jun 26, 2014

Regu Penggalang : Melatih dan Membina Anggota Baru

 



Sewaktu-waktu regumu akan menerima anggota baru untuk melengkapi dan memperkuat regumu!
Untuk itu adik selaku PINRU dan sebagai Kakak dari anak-anak itu harus dapat membina dan memberikan tuntunan untuk menjadi anggota regumu dan menjadi seorang Pramuka Penggalang yang berwatak dan berkepribadian luhur, cerdas dan tangkas sesuai dengan apa yang diharapkan oleh Dasa Darma dan Trisatya. Jadi jelaslah, bahwa anak yang baru itu juga harus bersifat ksatria seperti adik sekarang ini.

Pembinaan dan tuntunan yang diberikan kepada anak itu tentu tidak adik lakukan sendiri. Adik dapat menunjuk salah seorang anggota regumu yang sudah mencapai tingkat Rakit atau Terap atau anak lain sesuai dengan pembagian tugas dalam regumu. Anggota yang ditunjuk untuk menuntun anak itu bertanggung jawab sampai anak yang baru itu mengenal dan tahu kehidupan dalam regu dengan jiwa regu, tata kehidupan regu dan ketentuan-ketentuan yang berlaku dalam Gerakan Pramuka, khususnya dalam regumu. Penuntun yang bertangung itu harus berusaha memberikan gambaran nyata tentang peri kehidupan Pramuka Penggalang dalam regumu dan cita-cita setiap anggota Gerakan Pramuka.

Sebelumnya, sudah barang tentu Pembinamu yang menerima anak itu, dan telah diberikan gambaran nyata olehnya. Tapi tidak selengkapnya. Hanya garis besarnya saja. Kepada anak itu harus diberi contoh-contoh yang nyata dari pribadi kita atau si penuntun itu sendiri, disamping contoh-contoh lainnya. Si penuntun harus dapat membuat anak yang baru itu senang dan merasa dirinya kerasan seperti berada dalam lingkungan keluarganya sendiri, di dalam regumu itu. lni harus benar-benar dapat adik usahakan.

Bila anak itu sudah merasa dirinya kerasan dan senang dengan cara hidup berpramuka dalam regumu dan ia memilih jalan untuk menjadi anggota regumu, maka si penuntun melanjutkan tuntunan dan bimbingannya agar anak itu memahami Dasa Darma dan Trisatya Pramuka Penggalang. Sudah barang tentu diperlukan waktu cukup lama, karena kita tidak dapat memberi pengertian itu sekaligus kepada anak yang baru masuk itu. Sebagai PINRU adik juga harus memberikan dorongan kepada si anak dan menjelaskan syarat-syarat yang harus ditempuh dan ditaati oleh setiap Pramuka Penggalang. Syarat-syarat itu seperti halnya dengan SKU tingkat Penggalang Ramu. (Pelajari buku kecil Menempuh Kecakapan Umum Tingkat Ramu).

Di samping itu adik pun memberikan penjelasan kepadanya, bahwa :
  • Ia dapat menjadi seorang Pramuka Penggalang yang baik, bila ia mau berusaha dengan giat dan rajin.
  • Teman-teman seregunya akan membantu dengan ikhlas hati bila diperlukan.
  • Ia dapat dipercaya karena kehormatan dirinya.
  • Ia harus rajin dan giat mengikuti latihan dan pertemuan yang diadakan oleh regu dengan riang dan gembira.
  • Ia selalu berbuat jasa dan berbakti serta berbuat kebajikan terhadap sesamanya, terutama kepada kedua orang tua di rumah dan kepada guru di sekolahnya.
  • Pramuka Penggalang dikenal orang berkelakuan baik, sopan santun dan perwira, bukan karena seragam dan tanda-tanda pramukanya saja.
  • Cita-cita Pramuka lndonesia tersirat dalam Dasa Darma Pramuka yang diminta untuk diamalkan serta ditepati oleh setiap anggota keluarga besar Gerakan Pramuka lndonesia.

Selanjutnya segala sesuatu yang perlu diketahui dan dikuasai oleh anak itu diberikan sambil berjalan di dalam dan di luar pertemuan atau latihan regu/pasukan. Dengan cara beranjang karya ke rumah anak itu atau sebaliknya adik atau si penuntun akan berhasil membina anak itu. Tetapi ingat, bahwa setiap anak atau manusia mempunyai kesibukan di rumahnya masing-masing. Maka pilihlah waktu yang baik dan senggang untuk melakukan anjang karya itu.

Bila anak itu telah memenuhi SKU penggalang Ramu dengan baik, maka anak itu dibina dan diajarkan dalam musyawarah Dewan Kehormatan. Dalam Dewan Kehormatan ini diadakan pembicaraan dan penelitian atas diri anak itu. Maka Pembinamu akan melantiknya, bila sidang Dewan Kehormatan itu menganggap baik dan menerima pengajuanmu itu. Anak itu dilantik oleh Kakak Pembina Pasukan dalam suatu Upacara Pelantikan Pasukan yang sederhana tetapi khidmat dan berkesan bagi si anak yang dilantik, yang dihadiri pula oleh kedua orang tua si anak dan para undangan lainnya bila diperlukan.

Selaku PINRU berusahalah melatih dan membina serta rnenuntun anak yang baru itu, disamping para anggota regumu. Mintalah saran-saran dan petunjuk-petunjuk dalam hal ini dari Kakak Pembinamu. Sebab sudah barang tentu adik masih banyak kekurangannya, baik di dalam cara maupun di dalam pelaksanaannya. Kakak Pembinamu akan selalu bersedia menerimamu dan memberikan petunjuk.

  • Usahakan agar anak yang baru itu mengerti akan adanya kerukunan dan kegotongroyongan dalam regumu.
  • Tanamkan rasa persaudaraan dalam regumu dengan gambaran nyata kepada anak yang baru itu.
  • Doronglah dia agar dia mau bersama-sama anggota regu lainnya mencapai cita-cita regu dan cita-cita Gerakan Pramuka.
  • Ingatkan padanya, bahwa kewajiban utama dalam melangkah menuju hidup, adalah taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.


Lihat entri/topik terkait :

Sumber :
"Penuntun Bagi Pemimpin Regu", TA Soebandi MT. Kwarnas Gerakan Pramuka, Jakarta 1988.



Regu Penggalang : Jiwa dan Regu yang Hidup

 


  
REGU YANG HIDUP

Jangan lupa bahwa adik bertanggung jawab kepada teman-teman dan regumu, bahkan kepada pasukanmu! Teman-temanmu senang sekali kepada pemimpinnya yang cakap lagi bijaksana. Mereka akan lebih senang lagi bila pemimpinnya, berusaha menghidupkan dan membangun regunya bersama-sama mereka dengan memberi semangat kepada mereka untuk menempuh cita-cita yang tinggi dan berguna.

Adik akan berguna bagi regumu dan berhasil dengan baik dan memuaskan bila adik :
  • berusaha mengorganisir regumu sebaik dan setertib-tertibnya;
  • memenuhi dan menaati tata tertib regu;
  • menjalin tali persaudaraan dalam regu antar anggota regumu;
  • mengadakan kegiatan yang teratur dan menarik hati temanmu seregu.
Ini meminta perhatianmu !

Tatalah regumu sedemikian rupa hingga semua anggota regumu mematuhi segala peraturan dan tata tertib regu. Bawalah mereka ke arah cita-cita yang luhur dalam membangun regumu dengan rupa-rupa kegiatan yang hidup dan berguna. Jagalah selalu agar segala kegiatan atau aktivitas regu dikerjakan dengan sebaik-baiknya, rapi dan sempurna, penuh semangat tolong-menolong, bahu membahu dan bergotong royong. Buatlah acara kegiatan latihan regu yang teratur, tertib dan terarah, agar regumu selalu bergerak sesuai dengan kehidupan dan kebutuhan serta kemampuan regumu.
Ini semua meminta adik untuk belajar memimpin regu agar harapan teman-temanmu seregu itu terpenuhi.

Maka dari itu berusahalah selalu untuk bermusyawarah dalam segala hal yang menyangkut regumu. Dengan jalan ini regumu akan tetap hidup dan berkembang menurut cita-cita dan perkembangan regu itu sendiri. Cobalah adik usahakan menghidupkan regumu dengan berbagai jalan dan cara yang sesuai bagi regumu.

Hal-hal yang bertalian dengan cara di atas akan adik jumpai dalam bab-bab berikutnya.
Ingat selalu, bahwa cara bermusyawarah antara temanmu seregu adalah cara yang paling baik untuk mencapai cita-cita satu regu yang diangan-angankan anggotanya.



JIWA REGU

Selama ini adik telah mulai berusaha membentuk regu yang hidup, dengan anggotanya hidup rukun dan damai serta giat di bawah pimpinanmu.

Bukan adik saja yang berusaha ke arah itu, akan tetapi pemimpin-pemimpin regu lainnya juga berusaha agar regunya menjadi regu terbaik, regu teladan dan regu yang hidup dalam pasukannya. Setiap pemimpin regu mempunyai cara, selera dan jiwa serta semangat sendiri-sendiri. Sudah tentu adik juga merniliki cara, selera, jiwa dan semangat yang lain, karena sifat dan tabiat anggota-anggotamu yang berlainan satu dengan lainnya.

Begitu pula dengan angota-anggota regu lainnya di dalam pasukanmu. Regu yang hidup adalah regu yang :
  1. Setiap anggotanya berbuat dan berlaku atau berkelakuan sesuai dengan isi dan makna Trisatya dan Dasadarma Pramuka;
  2. Setiap anggotanya selalu bertindak sesuai dengan tata tertib regu/pasukan di segala bidang permainan, perlombaan, latihan regu, latihan pasukan, maupun di dalam pertemuan-pertemuan lainnya;
  3. Dalam menghadapi suatu pekerjaan regu setiap anggota bekerja dengan penuh perhatian dan saling membantu, giat, gembira dan teliti;
  4. Setiap anggotanya selalu bantu-membantu, bahu-membahu dalam menghadapi segala tugas kerja regu atau dalam pekerjaan yang dibebankan pada dirinya atau pada regunya;
  5. Anggotanya tidak ada yang menganggur dikala regunya mendapat sesuatu tugas, semua mendapat tugas walaupun yang sekecil apa pun;
  6. Setiap perbuatan, setiap langkah, karya dan bakti serta kebajikan apapun diusahakan untuk kehormatan dan nama baik anggota dan regunya di samping nama baik dan kehormatan dirinya;
  7. Selalu hormat-menghormati, percaya-mempercayai di antara teman seregu dan di antara sesamanya;
  8. Selalu berusaha berbuat jasa setiap hari dan setiap ada kesempatan terhadap orang tua di rumah, terhadap sesama teman di sekolah, terhadap guru dan lainnya;
  9. Selalu menghindari perbuatan dan kelakuan yang tidak sesuai dengan isi dan makna Dasadarma Pramuka dan ajaran agama.
Itulah jiwa regu yang harus adik usahakan !

Setiap anggota regu diusahakan untuk melatih dirinya ke arah apa yang diharapkan oleh jiwa regu di atas, dengan sungguh-sungguh dan rajin, untuk kehormatan dirinya dan kehormatan regunya. Bila adik berusaha membentuk dan membangun regumu dengan jiwa regu diatas, yang disebut juga jiwa pramuka, tentu banyak anak-anak lain yang ingin masuk menjadi anggota regumu. Sebaliknya Kakak Pembinamu akan mirasa lebih bangga atas usahamu dan atas regumu yang hidup dan yang berjiwa Pramuka itu.

Maka dari itu cobalah usahakan agar regumu itu berjiwa Pramuka dengan segala kemampuan dan keuletanmu selaku pemimpin regu dan pemimpin dari anggota regumu itu. Dengan demikian adik dapat menjadikan regumu “regu teladan” bagi regu-regu lainnya di dalam pasukanmu, bahkan dalam Gerakan Pramuka.

Berikanlah kesempatan, kepada anggota regumu untuk melatih dirinva belajar dan berbuat.

Lihat entri/topik terkait :

Sumber :
"Penuntun Bagi Pemimpin Regu", TA Soebandi MT. Kwarnas Gerakan Pramuka, Jakarta 1988.


Regu Penggalang : Menjadi Wakil Pemimpin Regu







Kita belum banyak membicarakan tugas temanmu yang setia, ialah Wakil Pemimpin Regu. Adik harus ingat, bahwa temanmu itu adalah seseorang yang adik pilih sendiri untuk menjadi seorang wakil pemimpin regumu. Tugasnya ialah membantu dan menjadi tangan kananmu dalam memimpin regu.

Berat juga juga tugas temanmu yang setia itu, bukan? Ia juga mempunyai tanggmg jawab yang besar seperti adik terhadap anggota dan regunya. Walaupun ia mengenakan tanda jabatan WAPINRU dengan satu janur merah saja pada lengan kirinya, akan tetapi tidaklah ringan tugas dan kewajibannya terhadap regunya.

Ia adalah pembantumu yang setia dan mewakili adik bila adik berhalangan. Ia tidak kurang pentingnya dibandingkan teman-teman lainnya seperti juru uang, juru tulis, juru perlengkapan, dan juru-juru lainnya yang ada dalam regumu. Mereka semua berguna bagi regumu. Maka dari itu, adik harus berusaha untuk dapat bahu-membahu dan akrab mengatur dan menuntun anggota regumu bersama teman setiamu itu, yang ditunjuk sebagai WAPINRU. Segala rencana regu dan apapun yang akan dikerjakan oleh regumu, diolah dan diatur bersama dengan wakilmu itu. Karena bila adik-adik berhalangan, maka regumu tidak akan terhenti dengan segala rencana kegiatannya. Wakilmu itulah yang dapat menggantikan atau mewakili pelaksanaan rencana kerja yang telah direncanakan dan diputuskan musyawarah regumu. Ia bertanggung jawab selama adik berhalangan kepada regumu dalam segala kegiatan regu.

Dengan dua orang, pemimpin dan wakilnya, adik akan lebih banyak tahu daripada seorang saja. Mungkin temanmu itu ada kelebihan pengetahuan daripada yang adik miliki dalam membawa regunya lebih maju dan lebih hidup dan berkembang lagi. Ini akan membantu tugasmuu , pemimpin dalam regumu dan meringankan bebanmu.

Suatu keuntungan bagimu mempunyai tangan kanan yang setia dan cakap dan para pembantu lainnya yang cakap juga. Dari sini adik dapat menambah lebih banyak Iagi pengalaman dan pengetahuan dalam kepramukaan dan memimpin. Usahakan selalu keakraban dan kerja sama antara adik dan temanmu yang setia itu, terjalin dengan baik dalam membawa dan menghidupkan regumu untuk membuktikan bahwa regumu telah teratur dan tertata, harus ada bukti-bukti yang menunjukkan hal itu, antara lain dalam administrasi regu yang dipegang oleh jurutulis regu. Ia yang memegang Buku Harian (Logbook) yang berisikan catatan yang dialami regu. Artinya segala kegiatan atau aktivitas regu dicatatnya dengan baik, rapi dan teratur.

Disamping itu pula Buku Khusus Regu yang disebut Buku Notulen yang mencatat segala keputusan musyawarah regu selalu diisi bila regu itu bermusyawarah dan menghasilkan keputusan. Di dalam buku acara latihan dan pertemuan regu tercatat acara regu dalam latihan, perkemahan yang mengenai latihan kecakapan umum, dan lain sebagainya yang bertalian dengan kegiatan regu dan untuk kenaikan tingkat seorang anggota atau lebih. Kemudian Buku Peringatan Regu yang berisi catatan-catatan kegiatan regu dalam perkemahan, perkenalan dan lain-lain kegiatan regu yang telah dialami regu itu. Buku ini diisi oleh setiap anggota regu dengan sajak-sajaknya dan karangan-karangan mengenai kegiatan waktu itu yang disertai dengan gambar-gambar sketsa atau potret.

Yang terakhir adalah Buku Regu, yang mencatat :
  1. Nama pemimpin regu dan nama regunya; Nama pasukan dan nama pembina-pembina pasukan; Alamat pasukan dan kwarrannya.
  2. Alamat pejabat penting dan nama pejabat yang ada di daerahnya;
  3. Ketentuan dan peraturan serta tata tertib regu;
  4. Daftar nama-nama petugas dalam regu;
  5. Daftar nama-nama anggota regu dan alarnatnya;
  6. Daftar nama dan tingkat yang dicapai anggota-anggotanya;
  7. Peristiwa-peristiwa penting yang dialami anggota regu.
Dari isi buku-buku itu semua kita dapat melihat kemajuan-kemajuan apa yang dapat melihat kemajuan-kemajuan yang dicapai oIeh regu itu. Juga dapat dilihat apakah adik benar-benar menata regumu dengan baik, tertib dan teratur.

Bersama wakilmu itu adik mengadakan penelitian sekali lagi dalam sebulan atau dua bulan. Adik akan mendapat petunjuk dari Kakak Pembinamu tentang administrasi praktis dalam menata regumu di bidang administrasi ini. Pada pokoknya tatalah dan olahlah regumu bersama wakilmu dan ikut sertakanlah anggota regumu dalam segala bidang tugas kewajiban yang dibebankan kepada regumu.
Jangan membiarkan seorang dari anggota regumu tanpa tugas di kala regumu mengerjakan suatu pekerjaan, baik dalam hal berlomba maupun dalam acara latihan regu atau latihan pasukan.

Usahakanlah semua itu dengan cara belajar, berlatih dan berkarya sebanyak-banyaknya di rumah, di sekolah dan di mana saja engkau berada.


Lihat entri/topik terkait :

Sumber :
"Penuntun Bagi Pemimpin Regu", TA Soebandi MT. Kwarnas Gerakan Pramuka, Jakarta 1988.



Regu Penggalang : Menjadi Pemimpin Regu






MENJADI PEMIMPIN

Dalam salah satu acara Dewan Regu, adik terpililih menjadi pemimpin dari regumu. Teman-temanmu memilih dan menghendaki adik menjadi pemimpin mereka. Mula-mula mungkin adik menolaknya Tetapi setelah adik sadar, bahwa setiap anggota Gerakan Pramuka harus sanggup memimpin dan dipimpin, maka engkau menerimanya juga. Bukankah begitu ?

Selain kehendak dari teman-temanmu se-regu, juga Dewan Kehormatan Pasukanmu dalam musyawarahnya menyetujui dan mengukuhkan pemilihan teman-temanmu itu. Maka Pembina Penggalang melantikmu dalam suatu upacara yang khidmat sekali, walaupun sederhana. Tanda jabatan pemimpin regu disematkan pada pakaian seragammu, setelah adik mengucapkan janji di hadapan teman-teman dan Pembinamu. Pembinamu mengucapkan selamat kepadamu. begitu pula para Pembantu Pembina dalam pasukanmu itu. Apalagi teman-temanmu seregu, karena gembira mempunyai seorang pemimpin seperti adik. Mereka itu menyambutnya dengan senang hati, karena adik kini telah menjadi pemimpin mereka.

Mereka mengharapkan darimu sebagai pemimpinnya, agar adik :
  • jujur dan adil dalam menjalankan tugas dan kewajibanmu sebagai pemimpin mereka;
  • benar-benar cakap dalam memimpin mereka tanpa nampak pada dirimu “sok pemimpin dan angkuh”;
  • mengamalkan dengan sungguh-sungguh janjimu yang berupa Trisatya dan Dasadarma Pramuka;
  • selalu berbuat jasa dan selalu menolong sesamamu yang wajib adik tolong menurut kemampuanmu, terutama dalam membantu teman-temanmu yang baru;
  • bertindak dan berbicara atas nama regumu dan tidak atas nama diri sendiri dalam pertemuan Dewan Kehormatan;
  • penuh rasa tanggung jawab dalam segala hal untuk kepentingan regumu.
Dari uraian di atas jelaslah, bahwa adik diharapkan menjadi seorang pemimpin yang bertanggungiawab dan menjadi contoh bagi teman-temanmu, yaitu contoh pribadi dengan pengamalan baktimu sesuai dengan Trisatya dan Dasadarma Pramuka. Mulai saat ini adik berdiri seperti seorang juru mudi yang sedang berlayar. Adik bertanggungiawab kepada regumu untuk sampai ke tempat yang dituju dengan selamat dan terpuji.

Adik tentu sadar dan memaklumi, bahwa sebuah kapal laut akan kandas, bila juru mudinya tidak benar-benar menguasai dan bertanggung jawab dalam mengemudikan kapal lautnya. Adik lebih mengetahui dan mengerti apa yang dimaksud dengan jurumudi itu. Adik juga faham bagaimana seorang juru mudi itu harus menjalankan kewajibannya. Bila si juru mudi tidak berhati-hati dan tidak menguasai kemudinya, akibatnya juga akan tidak memuaskan. Kalau begitu apa yang akan dikatakan orang terhadapmu sebagai juru mudi. Dengan cara bagaimanaI adik memimpin dan membentuk regu yang baik, regu teladan, buku kecil ini ingin membantumu memberikan tuntunannya. Mudah-mudahan saja buku kecil ini dapat memberi pedoman dan membantumu dalam kehidupan berpramuka dan memimpin regumu!

Adik dipilih oleh teman-temanmu untuk menjadi pemimpin mereka, karena mereka beranggapan bahwa adik anak yang cakap dan mampu memimpin. Karena itu adik selaku pemimpin akan berusaha untuk tidak mengecewakan harapan teman-temanmu, juga Dewan Kehormatan yang mengukuhkanmu. Adik harus ingat bahwa hal ini adalah panggilan bagimu dalam berpramuka.

Bukankah adik bercita-cita untuk menjadi Pramuka Indonesia yang setia dan berguna, baik bagi dirimu, bagi keluargamu di rumah, bagi teman-temanmu seregu maupun bagi nusa, bangsa dan agama? Yakinkanlah cita-citamu itu dengan giat dan rajin belajar, berlatih dan berkarya di mana ada kesempatan.

Hanya dengan jalan belajar, berlatih dan berkaryalah adik akan berhasil dalam segala usaha mencapai cita-citamu itu.

APA YANG HARUS KUPERBUAT ?
  
Dari sinar matamu dapat dibaca apa yang terkandung dalam hatimu! Teranglah bahwa hatimu bertanya : “Apakah yang harus kuperbuat sebagai seorang pemimpin?”.

Jawabannya sebetulnya singkat sekali !
“Membuat anggota regumu menjadi penggalang-penggalang yang giat, cakap, tangkas dan terampil”.
Itulah tugasmu!

Sudah tentu usahamu ke arah itu tidak dapat berhasil dalam waktu singkat dan sekaligus. Adik memerlukan waktu yang agak lama juga. “Bukankah adik selama ini mengalami juga bagaimana seorang pemimpin regu yang cakap dalam beberapa bulan saja dapat menyulap regunya menjadi regu terbaik dengan anggota-anggotanya yang cakap, giat, tangkas dan terampil? Dan tidak sedikit regu-regu terbaik dalam pasukanmu yang dalam beberapa bulan saja merosot menjadi regu yang kurang rukun dan kurang giat. Ini semua terletak di atas pundak seorang pemimpin regunya. Maka dari itu, adik harus waspada dan berhati-hati dalam melaksanakan tugasmu selaku pemimpin regu.

Dari dua buah janur merah yang tersemat seragammu orang dapat membaca dan tau tentang tugasmu selaku pemimpin

Tugasmu itu antara lain :
  • Pertama, membuat anggota regumu menjadi anak -anak yang giat, cakap, tangkas dan terampil;
  • Kedua, membuat anggota regumu menjadi satu keluarga yang baik, rukun dan damai dalam kehidupan regu yang adik pimpin.
Untuk dapat berhasil dalam melaksanakan tugas sebagai pemimpin regu, adik harus dapat bergaul akrab dengan teman-temanmu seregu. Adik harus berusaha selalu menolong teman-temanmu seregu. Adik harus berusaha selalu menolong teman-temanmu dalam segala hal yang mereka hadapi. Adik berusaha menanamkan rasa persaudaraan dalam keluarga regumu dengan cara membawa anggotamu ke arah kesatuan berpikir, berbuat, berbicara dan bertindak (berkarya). Juga membawa mereka menjadi satu kesatuan keluarga regumu yang mengerti, cinta kasih dan damai!  Bersama-sama dengan anggota regumu berlatih, belajar, berbuat dan berkarya untuk satu cita-cita regu.

Itulah yang harus adik usahakan dan adik perbuat selaku pemimpin regu. Kini adik telah mengetahui jawaban pertanyaan hatimu yang dapat dibaca dari sinar matamu dan yang terkandung dalam hatimu. Cobalah dengan segala kemampuanmu berusaha melatih dirimu untuk dapat menjadi seorang  pemimpin regu yang baik dan yang berguna. Jangan lupa bahwa Pembinamu juga akan membantumu dan menolongmu bila adik memerlukannya. Janganlah malu-malu bertanya pada Kakak Pembinamu bila adik mendapat kesulitan dalam tugasmu memimpin atau dalam hal lain-lain.
Aku harus rendah hati dan tahu diri!
Aku harus dapat dan mau meminta nasihat-nasihat dari kakak-kakakku, Pembinaku atau orang lain mengenai hal-hal yang belum kuketahui.



Lihat entri/topik terkait :

Sumber :
"Penuntun Bagi Pemimpin Regu", TA Soebandi MT. Kwarnas Gerakan Pramuka, Jakarta 1988.





Jun 13, 2014

Suprapto, Pahlawan Pandu yang Gugur ditembak Tentara Belanda



17 Agustus 1948 ketika para Pandu Indonesia akan menyelenggarakan peringatan HUT ke 3 Kemerdekaan RI bertempat di Gedung Pegangsaan Timur 56 Jakarta, diserbu oleh Polisi Milter Belanda.


Pada peristiwa penyerbuan itu seorang Pandu bernama Suprapto yang sedang mengatur jalannya perayaan tewas ditembak oleh Poilisi Milter Belanda. Suprapto gugur sebagai pandu, sebagai patriot yang membuktikan kecintaannya pada ibu pertiwi, pada NKRI dan pada cita-citra proklamasi 17 Agustus 1945.

Peristiwa itu sebenarnya tidak perlu terjadi kalau tentara Belanda kesatria, karena gencatan senjata antara tentara Belanda dengan Pemerintah RI yang sah, baru saja diumumkan. Nafsu dan keinginan Belanda untuk menguasasi kembali Ibu Pertiwi memang tidak pernah surut, bahkan dengan menghalalkan segala cara. Namun demikian atas perlindungan Tuhan Yang Maha Esa dan tumbuhnya semangat perlawahan yang hebat, pantang menyerah dari seluruh rakyat Indonesia termasuk perlawanan dari para pandu cikal bakal pramuka yang kita kenal saat ini, keinginan Belanda itu dapat digagalkan. Bangsa Indonesia menjadi bangsa yang merdeka, berdaulat dan bermartabat lepas dari cengkeraman kolonialisme Belanda yang telah berlangsung lebih kurang 350 tahun (-aiw)


Sumber : 

Buku "Patah Tumbuh Hilang Berganti, 75 Tahun Kepanduan dan Kepramukaan".
Penerbit Kwarnas Gerakan Pramuka, Jakarta 1987

May 18, 2014

Permainan Pramuka Siaga : Polisi & Pengacau



NAMA PERMAINAN
Polisi - Pengacau

KATEGORI
Permainan Siaga

TUJUAN
Permainan ini bertujuan meningkatkan kemampuan penginderaan, ketelitiaan, kegembiraan dan kecerdikan.

SASARAN
Setelah mengikuti permainan ini peserta mampu :
  • Meningkatkan semangat kebersamaan dan keakabaran sesama teman
  • Meningkatkan kemampuan penginderaan dan keelitiaan
  • Meningkatkan kemampuan mengatasi persoalan dan hambatan
  • Meningkatkan kecerdikan keluar  situasi yang tidak nyaman

METODE
Permainan kelompok

PESERTA
Pramuka Siaga

WAKTU
45 menit
  • 05 menit Pengantar dan briefing.
  • 20 menit Proses
  • 20 menit pemaknaan dan debriefing
TEMPAT
Di luar - di dalam ruangan

PERALATAN
  • 8 kantong kertas merah, 8 kantong kertas biru (bisa warna lain)
  • Dasi/stangan leher
  • Tali (rafia, kain, dll)
  • Kapur untuk garis

PELAKSANAAN
  • 2 barung yang ditunjuk bermain, 2 barung lainnya untuk menonton. Pada putaran kedua barung yang menonton menjadi pemaian, barung yang  bermain menjadi penonton.
  • 2 barung yang bermain, diatur saling berhadapan dengan jarak minimal 5 meter.
  • 1 barung kepalanya ditutup dengan kantong merah sebagai polisi, 1 yang lainnya ditutup dengan kantong kertas biru sebagai pengacau.
  • 1 barung yang bertindak sebagai polisi mengikat lengan tangan kanannya dengan dasi, 1 barung yang bertindak sebagai pengacau mengikat lengan kanannya dengan tali.
  • Setelah semua siap, sebelum permainan dimulai Yanda dan Bunda memberi penjelasan singkat dan mengajak bersama untuk bertepuk tangan dan menyanyi terlebih dahulu biar semangat.
  • Permainan dimulai. Yanda/Bunda memberi aba-aba "Jalan", maka kedua barung itu merangkak ke jurusan lawan dengan diam-diam menuju lawannya. Barung penonton bisa memberikan dukungan untuk bersemangat.
  • Bila dua barung sudah bertemu maka tugasnya adalah meraba-raba lengan kanan. Jika teman dilepaskan. Jika lawan dirampas topinya.
  • Barung yang berhasil mengumpulkan/merampas topi lawan merupakan barung yang menang.
  • Durasi permainan antara 5 - 10 menit.  
  • Putaran pertama selesai dilanjutkan dengan putaran dua (bergantian dengan barung yang pada putaran pertama jadi penonton).  
DEBRIFING
  • Setelah permainan selesai Yanda/Bunda mengajak para siaga untuk mendiskusikan pengalamannya dengan fokus apa makna panca indera penglihatan, makna ketelitian, makna kejujuran, makna kalah menang, dst.
  • Yanda/Bunda bisa mengaikan permainan ini dengan materi lain misalnya penghayatan kode kehormatan pramuks siaga, pentingnya kebugaran dan kesehatan tubuh, dll
  •  Acara selesai.

Selamat berlatih. Salam Pramuka.


Lihat entry/topik terkait :


Sumber :
Buku "284 Permainan Siaga"  Kedai Pramuka Kwarnas- Jakarta, 1990 

Kepemimpinan : Nilai-nilai Tradisional Kepemimpinan Msyarakat Bugis



Etika Kepemimpinan Masyarakat Bugis

Terdapat 2 era/periode yang melahirkan etika  kepemimpinan suku bugis, yaitu periode "galigo"  dan periode "lontara". Periode Galigo  raja/pemimpin  dianggap sebagai wakil dewa di langit, sehingga memiliki banyak kelebihdan dan  juga merupakan sumber hukum. Periode "Lontara" merupakan babakan baru dalam memandang pemimpin.

Pada periode Lontara, Etika kepemimpinan masyarakat  Bugis amat menjunjung tinggi kedudukan manusia sebagai ’tau’. Pembinaan watak manusia dalam membangun Panggadĕrĕng (tata aturan dan hukum) mendapat tempat yang amat penting. Manusia menjadi pusat penentu atas kehidupan kebudayaannya. Manusia menempati tempat tertinggi dalam menentukan nasibnya.

Perideo Lontara

Menurut etika kepemimpinan Bugis pada periode Lontara, syarat seorang yang menjadi pemimpin (raja) bagi adalah sebagai berikut :
  1. Jujur terhadap Dewata Seuwae dan sesamanya manusia.
  2. Takut kepada Dewata Seuwae dan menghormati rakyatnya dan orang asing serta tidak membeda-bedakan rakyatnya.
  3. Mampu memperjuangkan kebaikan negerinya agar berkembang biak rakyatnya, dan mampu menjamin tidak terjadinya perselisihan antara pejabat kerajaan dan rakyat.
  4. Mampu menjamin kesejahteraan rakyatnya.
  5. Berani dan tegas, tidak gentar hatinya mendapat berita buruk (kritikan) dan berita baik (tidak mudah terbuai oleh sanjungan).
  6. Mampu mempersatukan rakyatnya beserta para pejabat kerajaan.
  7. Berwibawa terhadap para pejabat dan pembantu-pembantunya.
  8. Jujur dalam segala keputusannya. (Abidin, 1983: 163)
Pada bagian lain dalam falsafah sulapa’ ĕppa, dikemukakan oleh seorang raja yang bernama Arung Matoa Matinrowa Rikannana (memerintah pada akhir abad XVI atau permulaan abad XVII) bahwa individu yang cocok menjadi pemimpin haruslah memiliki empat sifat, karena hanya pemimpin yang memiliki sifat inilah yang akan dapat memperbaiki negeri. Keempat sifat tersebut yaitu :
  1. Jujur, yaitu jika bersalah atau dipersalahkan, dia meminta maaf.
  2. Berpengetahuan, yaitu mampu melihat kemungkinan akibat yang akan terjadi dari suatu kebijakan dan menjadikan kejadian yang telah lampau sebagai soko guru yang baik.
  3. Memiliki keberanian moral, yaitu tidak terkejut apabila mendengar berita buruk atau baik, dan mampu menyatakan “ya” atau “tidak”.
  4. Pemurah, yaitu memberikan minuman siang dan malam. Artinya, mampu menciptakan kemakmuran dan kesejahteraan rakyanya. Pemimpin demikian disebut “Mattuppu batu” (pemimpin yang mampu memakmurkan rakyatnya). Hanya apabila tidak tertidur matanya, siang dan malam memikirkan rakyatnya, barulah ia disebut pemimpin. (Abidin, 1969: 25)

Dalam etika kepemimpinan periode "Lontara"  juga  dipesankan pula bahwa untuk menjadi pemimpin yang baik harus mampu mempelajari sifat negatif dan positif yaitu yang dilambangkan dalam unsur api, air, angin, dan tanah.
  1. Api adalah besar tindakannya, tidak memikirkan akibat perbuatannya, tidak mau mengalah, hanya dirinyalah sendiri yang dianggap benar, tetapi memiliki sifat berani. 
  2. Air memiliki kegigihan tetapi tidak jujur. 
  3. Angin, selalu berlaku kasar dan tidak memiliki ketulusan atau kejujuran. 
  4. Tanah,  memiliki kejujuran, pemurah dan berpengetahuan. 
Dari keempat sifat tersebut, singkatnya  seorang pemimpin dalam era "Lontara"  harus memiliki sifat jujur, cendikia, berani, mengayomi, dan terbuka.

Kemaslahatan dan Kerusakan Negeri
 
Terciptanya kemaslahatan negeri merupakan pusat  perhatian dari etika kepemimpinan periode "Lontara". Telah lama diperingatan bahwa rusaknya suatu negeri karena adanya sifat buruk yang dimiliki seorang pemimpin, yang berupa : tidak mau mendengar nasihat, para cendekiawan tidak berfungsi lagi sebagai cerdik pandai, para pejabat dan hakim ’makan sogok’, pemimpin tidak dapat mengendalikan keadaan negeri dan absennya kepedulian para pemimpin terhadap kebutuhan rakyat.

Secara ringkas ada lima sebab hancurnya sebuah negeru sebagaimana ditegaskan dalam "I Mangada’cina Daeng Sitaba Karaeng Pattingalloang"  sebagai berikut :

  1. Kalau raja yang memerintah tidak mau diperingati.
  2. Kalau tidak ada cendekiawan dalam suatu negara besar.
  3. Kalau para hakim dan para pejabat kerajaan makan sogok.
  4. Kalau terlampau banyak malapetaka besar dalam suatu negeri.
  5. Kalau raja tidak menyayangi rakyatnya.” (Abidin, 1983: 166)
Atas dasar hal di atas untuk menghindari kerusakan negeri (organisasi) maka dalam etika kepemimpinan masyarakat Bugis, pemimpin yang baik adalah pemimpin yang memiliki empat  sifat yang tak terpisahkan, yaitu:

Maccai na malĕmpu’
(Cendekia lagi jujur)

Waraniwi na magĕttĕng
(Berani lagi Teguh dalam Pendirian)


Kewajiban Pemimpin

Sebuah kisah menununjukan bagaimana kewajiban pemimpin dalam hubungannya dengan orang yang dipimpinnya. Ketika itu "La Palewo Topalippu" diangkat menjadi "Arung Matoa Wajo (Raja)" terjadi dialog antara dia dan rakyat yang dipimpinnya. Dalam dialog itu, Arung Matoa menyatakan kewajibannya dengan tegas sebagai berikut.

Engkau kuselimuti supaya tidak kedinginan
(Pemimpin menyayomi supaya rakyat terhindar dari bahaya dan berbagai kesulitan)

Engkau kujaga bagaikan mengusir burung pipit supaya tanaman padi tidak hampa
(Pemimpin menjaga jiwa rakyat dan harta benda)

Saya mengobat/memaafkan kesalahanmu
(Pemimpin mendengarkan semua keluh kesah rakyatnya)

Saya membela kebenaranmu
(Pemimpin, memperjuangkan hak rakyat)

(Sumber : Lontara Sukku’na Wajo)

Hubungan Pemimpin dengan Rakyat

Etika kepemimpinan Bugis sangat memperhatikan harmoni hubungan antara pemimpin dan rakyat. Persamaan hak dan kewajiban dimaknai sebagai nilai-nilai yang harus dijunjung bersama untuk mencapai kesejahteraan kehidupan, sebagaimana tergambar dalam petikan di bawah ini :

Janganlah engkau hai para Arung (raja/pemimpin)  beritikad jahat terhadap rakyatmu.
Akan padam api tungkumu (padam kemuliaanmu),

 dan kalian penduduk janganlah beritikad buruk terhadap rajamu,
 akan padam api di perapianmu (engkau akan ditimpa bencana).

 (Sumber : Lontara’ Sukkuna Wajo: 337) 11

Dalam Lontara’ Latoa ditegaskan bahwa apabila suatu ketika ada manusia, keluarga, kelompok sosial dalam masyarakat yang diperlakukan dengan tidak adil oleh raja, manusia itu dapat melakukan tindakan protes terhadap penguasa yang telah merugikannya. Kalau usaha masyarakat tidak berhasil, biasanya ditandai dengan panen padi yang gagal. Semua orang di negeri itu mulai dari penguasa atau raja sampai masyarakat biasa harus mengintrospeksi dirinya, karena di antara mereka pasti ada yang telah berbuat kesalahan.

Tersebut dalam sejarah bahwa pada waktu La Manussa Toakkarangĕng menjadi DatuSoppeng di Tanah Soppeng (Kabupaten Soppeng saat ini) terjadi kegagalan panen dan orang Soppeng hampir kelaparan karena kemarau panjang. Diselidikinya sebab bencana itu, tetapi tak ada juga pejabat kerajaan yang melakukan perbuatan sewenang-wenang. Setelah lama berpikir, diingatnya bahwa raja sendiri pernah memungut barang di sawah orang lain dan menyimpannya sendiri. Itulah sebab kemarau panjang itu, pikirnya. Lalu, raja mengadili dirinya sendiri, karena tidak ada orang yang berani melakukannya, serta menjatuhkan denda pada dirinya. Dia menyembelih kerbau kemudian dagingnya dibagikannya kepada orang banyak. Di hadapan orang banyak, dia menyatakan dirinya telah bersalah karena memungut barang orang lain (Abidin, 1983: 164).

Di Sidenreng Rappang, La Pagala Nene’ Mallomo pada abad XVI sebagai murid La Taddamparĕ yang baik, menjatuhkan pidana mati terhadap putranya sendiri, yang terbukti menggunakan luku orang lain tanpa seizin pemiliknya. Ketika ditanya, apa sebab memidana mati putranya, dan apakah ia menilai sama jiwa putranya dengan hanya sebuah luku, beliau menjawab: “Adĕ’ e tĕmmakiana’ tĕmmakiĕppo” (Abidin, 1983: 124). Artinya, “Hukum tidak mengenal anak dan tidak mengenal cucu”.

Adat menjamin hak dan protes rakyat dengan lima cara sebagai berikut.
  1. Mannganro ri adĕ’, memohon petisi atau mengajukan permohonan kepada raja untuk mengadakan suatu pertemuan tentang hal-hal yang mengganggu, seperti kemarau panjang karena dimungkinkan sebagai akibat kesalahan pemerintah.
  2. Mapputane’, menyampaikan keberatan atau protes atas perintah yang memberatkan rakyat dengan menghadap raja. Jika menyangkut kelompok, maka mereka diwakili oleh kelompok kaumnya untuk menghadap raja, tetapi jika perseorangan, orang yang bersangkutan langsung menghadap raja.
  3. Mallimpo-adĕ’, protes yang mendesak adat karena perbuatan sewenang-wenang raja, dan karena usaha mapputane’ gagal. Orang banyak, tetapi tanpa
  4. perlengkapan senjata, mengadakan pertemuan dengan para pejabat negara dan tidak meninggalkan tempat itu kecuali permasalahannya selesai.
  5. Mabbarata, protes keras rakyat atau kaum terhadap raja, karena secara prinsipil masyarakat merasa telah diperlakukan tidak sesuai dengan panggadĕrĕng hukum dan peraturan yang berlaku oleh raja, keluarga raja, atau pejabat kerajaan. Masyarakat atau kaum berkumpul di balai pertemuan (baruga) dan mendesak agar masalahnya segera ditangani. Kalau tidak, rakyat atau kaum bisa mengamuk yang bisa berakibat sangat fatal pada keadaan negara.
  6. Mallĕkkĕ’ dapurĕng, tindakan protes rakyat dengan berpindah ke negeri lain. Hal ini dilakukan karena rakyat telah bosan melihat kesewenang-wenangan raja di dalam negerinya dan protes lain tidak ampuh. Mereka berkata: “Kamilah yang memecat raja atau adat, karena kami sekarang melepaskan diri dari kekuasaannya”. (Mattulada, 1985: 417-419)

Selamat Berlatih. Salam Pramuka


Sumber :
  • Kak Hadikusumo (Ka Kwarda DIY 1983 - 1996) "Pemimpin Berkepemimpinan Dalam Keteladanan yang Nyata" - Buku Rujukan KPDK Kwarda DIY tahun 1988
  • http://www.tni.mil.id/pages-8-11-asas-kepemimpinan.html\
  • http://file.upi. edu/Direktori/FIP/JUR._PSIKOLOGI/195009011981032-RAHAYU_GININTASASI/kepemimpinan
  • id. wikipedia.org/wiki/Kepemimpinan
  • journal. uny.ac.id/index.php/jpka/article/download/1284/1068
  • http://shimchinmae. wordpress.com/2012/12/04/kepemimpinan-suku-bugis/
  • http://www. rajaalihaji.com/id/article.php?a=ZURIL3c%3D=

 Lihat entry/topik terkait :
  • Kepemimpinan : pengertian, teori dan fungsi
  • Kepemimpinan : syarat, sifat, azas & profile
  • Kepemimpinan : model kepemimpinan yang efektif
  • Kepemimpinan : assesment test kepemimpinan efektif
  • Kepemimpinan : model tim kepemimpinan
  • Kepemimpinan : model kepemimpinan prophetik  dan asketis
  • Kepemimpinan : nilai-nilai tradisional kepemimpinan masyarakat jawa
  • Kepemimpinan : nilai-nilai tradisional kepemimpinan masyarakat sunda
  • Kepemimpinan : nilai-nilai tradisional kepemimpinan masyarakat batak
  • Kepemimpinan : nilai-nilai tradisional kepemimpinan masyarakat melayu
  • Kepemimpinan : nilai-nilai kepemimpinan Gerakan Pramuka
  • Kepemimpinan : Latihan Pengembangan Kepemimpinan Pramuka Penegak Pandega
  • Kepemimpinan : Gladian Pemimpin Ambalan Penegak dan Racana Pandega
  • Kursus Pengelola Dewan Kerja Penegak Pandega
  • Dewan Kerja sebagai Lembaga Kader Kepemimpinan Gerakan Pramuka

Catatan : 
Melalui beragam metode dan suasana latihan kepramukaan yang menyenangkan nilai-nilai kepemimpinan masyarakat melayu dapat dijadikan materi latihan untuk "pembentukan watak & sikap kepemimpinan yang positip" kepada para peserta didik.

Kepemimpinan : Nilai-nilai Tradisional Kepemimpinan Masyarakat Melayu




Tajus Salatin (Mahkota Raja-raja)

Krisna Budiman, mahasiswa Jurusan Filsafat Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Indonesia (UI) dalam makalahny yang berjudul "Cermin Khasanah Melayu: Tinjauan Pemimpin Ideal dari Sudut Pandang Melayu" (dimuat di: http://www.rajaalihaji.com), menyatakan bahwa Taj al Salatin karangan Bukhari Al Jauhari  tahun 1630 merupakan  kitab mahakarya budaya-politik-peradaban Melayu. Kitab Taj al-Salatin memberi sumbangan penting bagi pembentukan tradisi dan kultur politik Melayu dengan memberi rincian tentang syarat-syarat menjadi raja/pemimpin (mencakup syarat yang bersifat jasmaniyah dan rohaniah).

Kitab ini bahkan juga digunakan oleh beberapa penguasa di pulau Jawa pada abad 17-18. Taj al-Salatin begitu berpengaruh hingga abad ke-19 ketika Munsyi Abdullah mencoba mengenal atau mengetahui watak Raffles dari air mukanya berdasarkan ilmu firasat di dalam buku tersebut. Dalam bukunya Kisah Pelayaran Abdullah ke Negeri Kelantan, Abdullah telah menasihatkan raja-raja di negeri itu supaya membaca Taj al-Salatin untuk mengetahui tanggung jawab sebagai raja.

Bukhari menggariskan ada 10 sifat raja, pemerintah atau pemimpin yang baik, sebagai berikut:
  1. Tahu membedakan baik dengan yang buruk.
  2. Berilmu.
  3. Mampu memilih menteri dan pembantunya dengan benar.
  4. Baik rupa dan budi pekertinya supaya dikasihi dan dihormati rakyatnya.
  5. Pemurah.
  6. Mengenang jasa orang atau tahu balas budi.
  7. Berani; jika berani maka pengikutnya juga akan berani.
  8. Cukup dalam makan tidur supaya tidak lalai.
  9. Mengurangi atau tidak berfoya-foya atau tidak “bermain” dengan perempuan.
  10. Laki-laki  ((Raja perempuan boleh dilantik jika tiada waris laki-laki untuk mengelakkan daripada berlaku huru-hara).

Etika Kepemimpinan Melayu

Krisna Budiman, dalam tulisan  yang sama menyatakan bahwa sumber etika kepemimpinan Melayu sangatlah banyak diantara  Taj-us Salatin, Salatus Salatin, Bustanul Salatin, Hikayat Hang Tuah, dan hikayat-hikayat lainnya yang juga terbukti memiliki kandungan nilai-nilai yang luhur. Sifat Pemimpin Ideal menurut  Etika Budaya Melayu, adalah :

1. Pemimpin adalah Mengurus Orang Banyak

Pemimpin adalah orang yang diberi kelebihan untuk mengurus kepentingan orang banyak. Arti raja atau penguasa dimaknai oleh bangsa Melayu lewat pepatah lama:

Yang didahulukan selangkah
Yang ditinggikan seranting
Yang dilebihkan serambut
Yang dimuliakan sekuku  

2. Pemimpin adalah orang yang banyak tahunya

Tahu duduk pada tempatnya
Tahu tegak pada layaknya
Tahu kata yang berpangkal
Tahu kata yang berpokok

Seorang pemimpin yang baik haruslah mempunyai banyak pengetahuan sebagai dasar bersikap, berfikir,  mengetahui  kondisi rakyat  dan berbagai pengetahuan lainnya. Dengan pengetahuan akan mempermudah menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang ada sekaligus mencegah munculnya permasalahan baru.

3. Pemimin adalah orang yang banyak tahannya

Tahan berhujan mau berpanas
Tahan bersusah berpenat lelah
Tahan berlenjin tak kering kain
Tahan berteruk sepepak teluk

Ketabahan dan kesabaran menjadi salah satu sifat dari pemimpin ideal untuk menjamin tetap terjaganya komitmen dari sang pemimpin. Pemimpin juga harus mampu bersikap tawakkal yaitu memiliki sikap pasrah  namun bukan berarti menyerah pada masalah. Kepasrahan dilakukan setelah melakukan usaha yang maksimal. Dengan kata lain  tawakkal merupakan  penyerahan hasil kepada Allah dari usaha yang dilakukan manusia.

Pada sisi lain seorang pemimpin harus tahan terhadap kritik-kritik tajam dan keluhan-keluhan yang akan diterima oleh banyak pihak. Ketahanan untuk menerima semua itu dan memikirnya secara mendalam merupakan ciri pemimpin ideal.

4. Pemimpin adalah orang yang banyak bijaknya

Bijak menyukat sama papat
Bijak mengukur sama panjang
Bijak menimbang sama berat
Bijak memberi kata putus

Kebijakan adalah sifat yang mutlak harus dimiliki oleh setiap pemimpin karena sifat bijak merupakan salah satu sifat utama seorang pemimpin. Kebijaksanaan sangat erat kaitannya dengan ketepatan dalam mengambil keputusan. Baik buruk kebijakan akan  bermuara pada baik atau buruknya pengambilan keputusan oleh seorang pemimpin. Tanpa kebijakan yang terencana dengan baik, pemimpin akan mudah sekali terjerumus dalam tindakan dan keputusan yang sewenang-wenang.

5. Pemimpin adalah orang yang  banyak cerdiknya

Cerdiknya mengurung dengan lidah
Cerdik mengikat dengan adat
Cerdik menyimak dengan syarak
Cerdik berunding sama sebanding
Cerdik mufakat sama setingkat
Cerdik mengalah tidak kalah
Cerdik berlapang dalam sempit
Cerdik berlayar dalam perahu bocor
Cerdik duduk tidak suntuk
Cerdik tegak tidak bersundak

Pemimpin harus memiliki kecerdikan, yang dimaknai sebagai  proses pengolahan pengetahuan yang dimiliki untuk mencapai keputusan yang paling tepat dalam menangani masalah. Seorang pemimpin, dipastikan akan berkutat dengan berbagai permasalahan yang kompleks. Maka dari itu, dibutuhkan sebuah kecerdikan untuk menghasilkan solusi yang tepat. Tanpa kecerdikan, seorang pemimpin akan rentan menghasilkan kebijakan yang tidak efekif dan kebijakan yang salah salah yang berdampak negatif secara luas bagi bangsa dan negara.

6. Pemimpin adalah orang yang banyak pandainya

Pandai membaca tanda alamat
Pandai mengunut mengikuti jejak
Pandai menyimpan tidak berbau
Pandai mengunci dengan budi

Pemimpin harus memiliki kepandaian agar mampu menganalisis secara baik terhadap masalah-masalah yang ada. Ciri orang pandai adalah mampu melakukan analisis masalah secera mendalam dan menyeluruh. Kemampuan Analisis adalah bagian terpenting dalam usaha penyelesaian masalah, oleh sebab itu sangat dibutuhkan oleh seorang pemimpin. Pepatah lama mengatakan: “Bagi yang pandai, mana yang kusut akan selesai; orang yang pandai pantang memandai-mandai”.

Kepandaian analisis akan  berperan besar dalam mengurai “benang kusut”. Tanpa kepandaian, benang kusut tersebut takkan pernah selesai untuk diurai, kalaupun dapat dilakukan akan memakan waktu yang lama sehingga tidak efisien.

7. Pemimpin adalah orang yang  banyak arifnya

Di dalam tinggi ia rendah
Di dalam rendah ia tinggi
Pada jauh ianya dekat
Pada yang dekat ianya jauh

Arif dan bijak mungkin adalah dua kata yang memiliki makna yang sangat dekat. Bahkan, ada sebagian masyarakat yang menyamakan dua kata tersebut. Namun, dalam konteks Melayu, dua kata tersebut memiliki pengertian yang berbeda. Arif lebih merujuk kepada kemampuan pembawaan diri dalam proses sosialisasi, sedangkan bijaksana lebih mengarah kepada pengolahan pengetahuan dengan sebaik-baiknya.

Seorang raja/pemimpin akan lebih dihormati apabila ia memiki kearifan dalam bertindak. Kearifan yang dimiliki pemimpin akan menambah rasa kepercayaan rakyat bahwa ia memang benar-benar figur yang cocok untuk memimpin.

8. Pemimpin adalah orag yang  mulia budinya

Berkuasa tidak memaksa
Berpengetahuan tidak membodohkan
Berpangkat tidak menghambat

Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang tidak menyalahgunakan kekuasaannya untuk melakukan perbuatan sewenang-wenang. Pemimpin adalah seseorang yang ditunjuk untuk melayani kepentingan masyarakat, bukan seseorang yang hanya diberi kekuasaan untuk memuaskan ambisi pribadinya.  Oleh karena itu, bagi bangsa Melayu, sifat sewenang-wenang dalam memerintah pantang dilakukan oleh seorang pemimpin.

9. Pemimpin adalah orang yang banyak relanya

Rela berkorban membela kawan
Rela dipapak membela yang hak
Rela mati membalas budi
Rela melangas karena tugas
Rela berbagi untung rugi
Rela beralah dalam menang
Rela berpenat menegakkan adat
Rela terkebat membela adat
Rela binasa membela bangsa

Pemimpin adalah seorang yang harus membela kepentingan rakyatnya. Ia harus rela untuk mengorbakan  banyak hal demi terpenuhinya kepentingan warga.  Syair di atas menunjukkan bahwa seorang pemimpin harus rela sengsara demi membela hak, ia harus rela membela kawan meski harus berkorban. Ia juga harus rela dalam kesulitan ketika rakyatnya kesulitan, mengusahakan kebahagiaan untuk rakyatnya saat ia bahagia.

Pemimpin harus memiliki jiwa patriotisme untuk bela negara.  Bahkan, seorang pemimpin harus rela mati demi membela bangsanya, serta rela berpenat dan terkebat dalam membela adatnya. Di samping itu seorang pemimpin memang idealnya mampu berfungsi  sebagai orang yang bersedia berkorban demi orang banyak.

10. Pemimpin adalah orang yang  banyak ikhlasnya

Ikhlas menolong tak harap sanjung
Ikhlas berbudi tak harap puji
Ikhlas berkorban tak harap imbalan
Ikhlas bekerja tak harap upah
Ikhlas memberi tak harap ganti
Ikhlas mengajar tak harap ganjar
Ikhlas memerintah tak harap sembah

Istilah rela memiliki pengertian yang berbeda dengan ikhlas. Bila rela adalah sebuah bentuk siap untuk berkorban, maka ikhlas lebih mengarah kepada pengelolaan niat. Hal ini sangat jelas disuarakan dalam pepatah lama: “Kalau pemimpin tidak ikhlas, banyaklah niat yang ‘kan terkandas”. Artinya, keikhlasan seorang pemimpin dalam bertindak akan sangat mempengaruhi output dari proses pelaksanaan niat tersebut. Apabila seorang pemimpin tidak ikhlas, maka niat-niat baik yang ada tentunya akan hilang.

11. Pemimpin adalah orang yang  banyak taatnya

Taat dan takwa kepada Allah
Taat kepada janji dan sumpah
Taat memegang petua amanah
Taat memegang suruh dan teguh
Taat kepada putusan musyawarah
Taat memelihara tuah dan meruah
Taat membela negeri dan rakyatnya

Ketaatan bukan hanya kewajiban yang dimiliki oleh rakyat terhadap pemimpinnya, melainkan juga dimiliki oleh seorang pemimpin itu sendiri. Etika kepemimpinan Melayu  menekankan pentingnya hubungan timbal balik yang baik antara pemimpin dan yang dipimpin. Rakyat wajib menaati pemimpin, begitu pula sebaliknya.

Raja harus menaati suara rakyat. Ia tak boleh mengabaikan aspirasi warganya, terlebih apabila suara itu adalah keputusan musyawarah. Ia harus taat pada kewajibannya untuk membela negara dan rakyatnya. Selain itu, yang paling penting juga adalah bahwa ia harus taat pada Allah, karena bagaimanapun Ia adalah perwakilan Allah di muka bumi.

12. Pemimpin adalah orang yang  mulia duduknya

Duduk mufakat menjunjung adat
Duduk bersama berlapang dada
Duduk berkawan tak tenggang rasa

Sikap dan sifat yang baik harus menjadi identitas seorang pemimpin. Perilaku sehari-hari sang pemimpin harus mampu mencerminkan kepribadian yang baik. Inilah yang dimaksud dengan syair di atas, bahwa seorang raja harus memiliki tingkah laku yang baik sehingga tidak kehilangan kewibawaannya. Ia harus bersama-sama rakyat untuk menjunjung adat tanpa adanya perbedaan kewajiban.

Kedudukannya sebagai pemimpin tak mengurangi tugas sedikit pun untuk menjunjung adatnya. Ia juga harus sering duduk bersama rakyatnya, dengan segala kebesaran hatinya mau menghilangkan kesombongan dan bersedia mendengarkan keluh kesah rakyatnya, sehingga akhirnya mampu bertenggang rasa. Kewibawaan akhirnya menjadi penilaian apakah ia seorang pemimpin yang baik atau buruk.

13. Pemimpin adalah orang yang banyak sadarnya

Memimpin sedar yang ia pimpin
Mengajar sedar yang ia ajar
Memerintah sedar yang ia perintah
Menyuruh sedar yang ia suruh

Seringkali seorang pemimpin kerap menggunakan kekuasaannya dengan sewenang-wenang, tidak hanya berupa perbuatan yang menjurus pada pelampiasan ambisi pribadi, melainkan juga kesalahan dalam mengambil keputusan yang akhirnya menyusahkan rakyatnya. Banyak pemimpin yang tak mampu membaca situasi dan tak mengerti keadaan yang pasti, akhirnya terjerumus dalam persoalan yang lebih parah. Maka dari itu, seorang pemimpin harus benar-benar sadar apa yang ia lakukan, sadar tentang alasan dalam melakukannya, dan yang paling penting adalah sadar akan akibatnya.

14. Pemimpin adalah orang yang banyak tidaknya

Merendah tidak membuang meruah
Meninggi tidak membuang budi
Sayang tidak akan membinasakan
Kasih tidak merusakkan
Baik tidak mencelakakan
Elok tidak membutakan
Buruk tidak memuakkan
Jauh tidak melupakan
Dekat tidak bersinggungan
Petua tidak menyesatkan
Amanah tidak mengelirukan

Hak, tentunya, selalu disandingkan dengan kewajiban. Begitu pula halnya dengan sifat kepemimpinan. Berbagai pantangan harus dihindari demi sempurnanya pelaksanaan suatu kewajiban. Seorang pemimpin haruslah selalu memegang teguh kebaikan dan menghindari keburukan yang dapat merugikan rakyatnya.

Pepatah lama mengatakan: “Sifat elok sama dipegang, sifat buruk sama dipantang. Elok dipegang, buruk dibuang.” Itu artinya seorang pemimpin haruslah hanya berpegang pada sifat-sifat yang baik saja dan harus membuang jauh-jauh sifat-sifat yang buruk. Raja sebagai “bayang-bayang” Tuhan di muka bumi haruslah mencerminkan sifat-sifat ketuhanan itu sendiri. Dalam konteks Melayu yang kental dengan nuansa Islam, Asmaul Husna harus menjadi pegangan dalam bertindak.

Selamat berlatih. Salam Pramuka


Sumber :
  • Kak Hadikusumo (Ka Kwarda DIY 1983 - 1996) "Pemimpin Berkepemimpinan Dalam Keteladanan yang Nyata" - Buku Rujukan KPDK Kwarda DIY tahun 1988
  • http://www.tni.mil.id/pages-8-11-asas-kepemimpinan.html\
  • http://file.upi. edu/Direktori/FIP/JUR._PSIKOLOGI/195009011981032-RAHAYU_GININTASASI/kepemimpinan
  • id. wikipedia.org/wiki/Kepemimpinan
  • journal. uny.ac.id/index.php/jpka/article/download/1284/1068
  • http://shimchinmae. wordpress.com/2012/12/04/kepemimpinan-suku-bugis/
  • http://www. rajaalihaji.com/id/article.php?a=ZURIL3c%3D=

 Lihat entry/topik terkait :
  • Kepemimpinan : pengertian, teori dan fungsi
  • Kepemimpinan : syarat, sifat, azas & profile
  • Kepemimpinan : model kepemimpinan yang efektif
  • Kepemimpinan : assesment test kepemimpinan efektif
  • Kepemimpinan : model tim kepemimpinan
  • Kepemimpinan : nilai-nilai tradisional kepemimpinan masyarakat jawa
  • Kepemimpinan : nilai-nilai tradisional kepemimpinan masyarakat bugis
  • Kepemimpinan : nilai-nilai tradisional kepemimpinan masyarakat sunda
  • Kepemimpinan : nilai-nilai tradisional kepemimpinan masyarakat batak
  • Kepemimpinan : model kepemimpinan prophetik  dan asketis
  • Kepemimpinan : nilai-nilai kepemimpinan Gerakan Pramuka
  • Kepemimpinan : Latihan Pengembangan Kepemimpinan Pramuka Penegak Pandega
  • Kepemimpinan : Gladian Pemimpin Ambalan Penegak dan Racana Pandega
  • Kursus Pengelola Dewan Kerja Penegak Pandega
  • Dewan Kerja sebagai Lembaga Kader Kepemimpinan Gerakan Pramuka

Catatan :
Melalui beragam metode dan suasana latihan kepramukaan yang menyenangkan nilai-nilai kepemimpinan masyarakat melayu dapat dijadikan materi latihan untuk "pembentukan watak & sikap kepemimpinan yang positip" kepada para peserta didik.

May 10, 2014

Ketrampilan Pramuka : Bermain Sulap "Menebak Halaman Favorit Majalah Kesukaan Penonton"




Pengantar

Agar dapat menghadirkan latihan pramuka yang rekreatif, inspiratif, motivatif dan edukatif seorang Pembina Pramuka perlu membekali diri dengan beragam ketrampilan tambahan seperti bercerita, berstand up komedi, melukis, bernyanyi, bermain tepuk tangan, bermain sulap, dsb. Ketrampilan-ketrampilan tersebut bisa dijadikan sebagai acara selingan latihan agar peserta didik dapat mempertahankan stamina dan minatnya  hingga latihan berakhir.

Bermain Sulap : Menebak Halaman Favorit Majalah Kesukaan Penonton
  1. Si pesulap menghadap meja yang didepannya terdapat setumpukan majalah bekas (minimal 10 buah majalah dan masing-masing majalah minimal 15 halaman).
  2. Si pesulap menyuruh seorang untuk maju dan mengambil sebuah majalah pada urutan keempat
  3. Setelah majalah ditangan si penonton dimaksud maka si pesulap mmeberikan kalkulator kemudian memberikan perintah piliha dan tekan angka sesukamu yang penting di bawah 100.
  4. Si pusulap memberi petintah selanjutnya kepada penonton misalnya kalikan 5. Pesulap bertanya berapa hasilnya, penonton akan menjawab 200 (berarti pilihan awal adalah angka 40)
  5. Selanjutnya si pesulap dengan cepat memberikan perintah-perintah operasi matematika (tambah, minus, bagi, kali, sama dengan, dan variasi lainnya). Misalnya, silakan angka itu bagi dua ditambah (100:2) +5 = 55, selanjutnya jumlahkan kedua angka itu 5+5 = 10, silakan kalikan lagi angka itu dengan 10 (10x10=100), silakan dkurangi separonya (100 - 50 = 50), silakan hasilnya ditambah 15 (50+15=65).
  6. Penonton tersebut terus melakukan perintah si pesulap dan memperhatikan hasilnya dikalkulator tanpa menjelaskan berapa hasil dari tiap perintah.
  7. Si pesulap kemudian memerintahkan kepada penonton "anda sudah tahu hasilnya kan ? dan anda tahu saya tidak tahu hasil angka yang ada dikalkulator anda"
  8. Si pesulap kemudian memerintahkan kepada penonton, bukalah majalah yang sudah anda pilih sesuai dengan angka terakhir dari hasil kalkulator yang anda di tangan anda simpanlah halaman yang anda pilih dalam hati. (Penonton pasti akan membuka halaman 5 karena hasilnya akhirnya adalah 65).
  9. Si pesulap meminta penonton tersebut menunjukan pilihan halamannya kepada penonton lain untuk sama-sama menyaksikan apa isi tulisan, gambar, iklan, dsb.
  10. Si pesulap kemudian melakukan gerakan bermeditasi, menggerak-gerakan tangannya secara dramatik, mengucapkan kata-kata mantra (bisa juga mantra yang lucu-lucu), setelah suasana terbangun kemudian si pusulap berbicara : "Berdasarkan hasil pembacaanterhadap pikiran Anda, saya melihat bahwa anda telah memilih yang isinya cerita tentang .... gambar tentang .... ada iklan produk .... warna iklannya adalah .... dan kata-kata dalam iklan adalah ....
  11. Apa yang diucapkan si pusulap sama persis dengan halaman yang dilihat oleh penonton dan kawan-kawannya. Maka penonton akan kagum, bersorak gembira dan si pusulap tersenyum puas karena keahliannya dikagumi orang.
Peralatan yang dibutuhkan
  • Meja
  • Majalah
  • Kalkulator (yang besar tombol angka dan monitornya)
  • Alat putar musik pengiring
Rahasia Permainan :
  • Trik sulap yang berkategori "magic tricks" ini mendasarkan pada penguasaan operasi matematika (+, -, x, :, =) untuk memainkan variasi angka. Semakin komplek peramainan operasi matematika dan variasi angka akan semakin menarik meskipun resiko kesalahannya akan makin tinggi (si pesulap haris hati-hati).
  • Rahasia permainan sulap di ata terlatak  pada dua kata kunci yaitu : pertama, "majalah nomor keempat dari atas dari setumpuk majalah yang ada" dan kedua angka "65" dari hasil peranan operasi matematika yang cukup rumit.
  • Dalam permainan ini Si pesulap memang mengarahkan agar penonton yang ditunjuk memilih majalah keempat dan kemudian pasti akan memilih halaman 5 karena mengacu pada hasi operasi matematika yang telah dimainkan.
  • Si pesulap tentu sudah menghafal benar isi halaman ke 5 dari majalah keempat tersebut, maka akan dengan mudah menjelaskan isinya secara detail. Penonton akan tersamar trik ini karena terpaku pada operasi matematika yang dilakukannya.
Variasi
  • Jika si pesulap yakin bisa menghafal halaman yang sama (misalnya halaman 5) untuk 5 majalah, maka dapat memerintahkan penonton untuk mengambil majalah mana saja dari 5 majalah yang disediakan. Ingat jumlah majalah tergantung kepada kekuatan daya ingat si pesulap.
  • Pada permainan di atas, untuk patokan Si Pesulap bertanya sekali dari hasil dari operasi matematika (lihat nomor 4). Hasil inilah yang selanjutnya diingat si pesulap dan dimainkan dengan operasi matematika yang canggih untuk menuju hasil akhir  65 (pada contoh di atas, sebenarnya hasilnya bisa berapa saja yang penting angka belakangnya  5 karena angka 5 lah yang akan jadi kunci permainan).
  • Si pesulap bisa juga tidak perlu menangkan hasil operasi matematika ditengah permainan sulap, tetapi harus  menggunakan angka nol ditengah permainan karena berapapun nilai atau angka akan menjadi nol jika dikalikan dengan nol. Misalnya silakan tekan angka sesukamu (misalnya 10), silakan kalikan 100, hasilnya dibadi 2, hasilya silakan ditambah 55 dan dikurangi 5, dua digit angka terakir jumlahkan silakan kalikan 0 (disini titik permainanya), tambahkan 10, kurangi 5,  kalikan 5 tambahkan 2, silakan ingat hasilnya akhirnya (pasti 27). Angka 27 inilah patokan untuk melihat halaman, bisa keduanya bisa angka depannya bisa angka akhirnya.

Prasyarat dan Resiko
  •  Semakin canggih daya ingat si pesulap akan makin canggih operasi matematika yang dimainkan sehingga akan menambah kekaguman penonton.
  • Ada kemungkinan penonton salah melakukan perintah sehingga hasilnya akhirnya salah. Jika ini terjadi maka si pesulap yang baik harus bisa mendapatkan jalan keluar. Misalnya : Permainan pertama ini saya gagal menebak halaman favorit anda karena ternyata "ada gangguan frekeunsi" (dibikin yang lucu), Tapi yang kedua pasti akan benar. Kemudian dimainkan lebih pelan dengan operasi matematika yang sederhana.
  • Terdapat kemungkinan penonton anda sudah tahu tentang trik permainan ini maka anda bisa meminta partisipasinya dengan postip misalnya dengan mengatakan "satu guru satu ilmu jangan ganggu" atau "saya membutuhkan kejujuran anda agar permainan ini berhasil", dst.
  • Semakin anda banyak berlatih maka akan semakin menarik dan memukau penonton.

Selamat Mencoba. Salam Pramuka.


Lihat entry/topik terkait :
  •  Sulap Sebagai Media Pendidikan Kepramukaan Yang Menghibur
Sumber :

  • dari berbagai sumber  ('aiw)




Apr 30, 2014

Berkemah : Membuat Lampu Hias Sederhana



Pengantar

Perkemahan merupakan salah satu metode dan mendia pendidikan kepramukaan yang "multi fungsi dan multi peran". Salah satunya  adalah sebagai media pengembangan kreativitas dan cinta lingkungan terutama dalam hal menyiapkan beberapa perangkat dan perlengkapan perkemahan. Penyiapan perangkat dan perlengkapan perkemahan yang mandiri atau berasal dari kreasi sendiri akan menambah nilai dan bobot pendidikan.

Nama Program

Membuat Lampu Hias untuk Perkemahan

Sumber
http://mstudiosolo.blogspot.com

Nilai Pendidikan
  1. Memberikan pengatuan kepada peserta didik untuk mengolah sampah/barang bekas  menjadi barang baru yang unik dan menarik. 
  2. Meningkatkan kterativitas dan ketrampilan kepada peserta didik mengolah  kertas kardus bekas menjadi barang yang cantik dan bermanfaat.
  3. Memberikan pengalaman peseta didik terhadap kegiatan  3R atau Reuse, Reduce, dan Recycle yang sampai sekarang masih menjadi cara terbaik dalam mengelola dan menangani sampah dengan berbagai permasalahannya.
Alat yang Diperluan
  1. Kardus bekas
  2. Penggaris
  3. Pensil
  4. Cutter
  5. Cat semprot
  6. Lem tembak
  7. Kabel
  8. Fitting
  9. Lampu
Cara Membuat
  • Siapkan kardus bekas, tandai dengan pensil membentuk bidang persegi panjang. Dengan panjang 60cm dan lebar 21cm kemudian potong (untuk ukuran panjang dan lebar potongan dapat disesuaikan dengan kebutuhan).
  •  Langkah selanjutnya warnai salah satu sisi dari potongan kardus tersebut dengan cat semprot. Pilih warna cat sesuai dengan selera Anda, lalu diamkan sampai cat benar-benar kering.
  •  Tandai sisi panjang kardu yang tidak dicat menjadi lima bagian sama panjang, kemudian garis dengan cutter tapi ingat jangan sampai terpotong kardusnya. Hal ini bertujuan agar kardus dapat dilipat menjadi bentuk segilima sama sisi seperti yang terlihat pada gambar diatas.

  • Bentangkan kembali kardus dari lipatan segilima kemudian potong memanjang kardus menjadi tujuh bagian dengan masing-masing bagian memiliki ukuran panjang 60cm dan lebar 3cm.

  •  Setelah diperoleh potongan kecil-kecil, hubungkan antar ujung potongan tersebut sehingga membentuk segilima dengan sisi yang di cat berada pada posisi bagian dalam. sampai ujung ketujuh potongan tersebut terhubung semuanya. Kemudian susun ketujuhnya seperti yang terlihat pada gambar diatas. Ini nanti akan kita gunakan sebagai frame/bingkai dari lampu gantung.
  • Selanjutnya kita siapkan untuk membuat bagian atas dari kap lampu tersebut. Potong kardus dengan bentuk segilima sama sisi dengan panjang sisi-sisinya 12cm, sesuai dengan ukuran potongan frame yang telah kita buat. Supaya mudah kita jiplak ukuran frame segilima sama sisi yang telah dibuat sebelumnya diatas kardus kemudian tinggal dipotong menggunakan cutter.
  • Buat lubang ditengah-tengah bagian atas dari kap lampu yang telah kita buat sebelumnya sehingga ujung lampu dapat masuk ke fitting kemudian lem fitting dengan kardus tersebut.
  • Tinggal kita pasang frame yang telah dibuat dengan atasannya, dan rekatkan dengan lem tembak sehingga terbentuk lampu gantung yang cantik seperti yang terlihat pada gambar dibawah ini.


Penutup 

  • Kreasi pembuatan lampu gantung ini juga bisa dimanfaatkan untuk menghias sanggar pramuka, rumah dan juga tempat-tempat kegiatan lain. 
  • Kreativitas yang ramah lingkungan akan menghasilkan nilai tambah pendidikan yang tinggi bagi para anggota Gerakan Pramuka.
Selamat berlatih. Salam Pramuka.

Lihat topik/entry terkait :






 
Situs ini merupakan layanan informasi pendidikan kepramukaan yang merujuk ke berbagai sumber yang bisa di pertanggung jawabkan.... Semoga Bermanfaat