Selamat Datang di ENSIKLOPEDIA PRAMUKA
go to my homepage
Go to homepage

Program On Device Portal....

PT.MOLINO PRAMUKA.saat ini sedang mengembangkan sebuah program "on device portal"sebuah layanan informasi pendidikan dan informasi Organisasi Gerakan Pramuka melalui smartphone...

ENSIKLOPEDI PRAMUKA.....

Sejarah Panjang Gerakan Pramuka telah melahirkan banyak peristiwa,tokoh,benda tradisi istilah kependidikan istilah organisasi dan berbagai hal lainya yang pelu di dokumentasikan......

UMROH PRAMUKA...

PT.MOLINO PRAMUKA menyelenggarakan Ibadah Umroh terbuka untuk masyarakat umum periode pemberangkatan mulai bulan Desember 2013 sampai dengan Mei 2014 pemberangkatan setiap akhir bulan (sembilan hari)untuk informasi lebih lanjut hubungi PT.Molino Pramuka JL Jambore No 1 Cibubur Jaktim Tlp 021 8731656

PENANAMAN POHON...

Peserta Rakernas Gerakan Pramuka tahun 2013" seusai menanam pohon buah di "Kebun Buah Bumi Perkemahan Cibubur - Jakarta" yang dikelola dan dikembangkan oleh Divisi Aset Menejemen PT. Molino .......

KA KWARNAS GERAKAN PRAMUKA DARI MASA KE MASA.

Ka Kwarnas Gerakan Pramuka dari masa ke masa : Sri Sultan Hamangkubuwono IX 1961-1974, H.M. Sarbini 1974-1978(meninggal Th 1977), Mashudi 1974-1993, Himawan Sutanto 1993-1998, H.A. Rivai Harahap 1998-2003,Azrul Azwar 2003-2013.

Apr 13, 2014

Pendidikan Perdamaian (Peace Education) : Konsep dan Definisi



Pengantar

Perdamaian dan Pendidikan Perdamaian merupakan salah satu fokus pendidikan kepanduan sejak didirikan oleh Baden Powell. Pendidikan Perdamaian jug terus dikembangkan oleh Gerakan Pramuka melalui berbagai program seperti pendidikan lingkungan, pendidikan kewarganegaraan, pendidikan resolusi konflik, pendidikan hak azasi manusia, global development village, dsb. Dalam dekade terakhir ini WOSM merilis program Messenger of Peace yang mempromosikan dan mendesiminasi para anggota pramuka menjadi agen-agen perdamaian dalam beragam dimensi.

Pendidikan Perdamaian merupakan salah satu pendekatan pendidikan yang menarik dan relevan bagi Gerakan Pramuka mengingat pluralitas bangsa Indonesia yang sangat komplek baik dari aspek suku, ras, golongan, agama, afiliasi politik, geografi, dsb. Keberagaman dimaksud akan mudah memicu konflik jika tidak dikelola dengan baik, salah satu cara terbaik untuk mengelolanya melalui pendidikan perdamaian yang juga diprakarsai oleh Gerakan Pramuka.


Konsep

Ian Harris dan John Synott Harris, Ian and Synott, John (2002) dalam buku "Peace Education for a New Century' Social Alternatives"  menjelaskan bahwa pendidikan perdamaian adalah pengajaran yang menarik bagi semua orang. Hal ini karena didorong oleh :
  • Adanya keinginan semua orang untuk hidup damai
  • Adanya kebutuhan untuk mengelola atau menyelesaikan konflik tanpa kekerasa
  • Pentingnya kemampuan memahami dan menganalisis secaara kritis berbagai ekspresi budaya lokal/global dan regulasi formal yang justru menyuburkan atau memproduksi praktek-praktek ketidakadilan dan ketidaksetaraan dalam masyarakat.
Pada sisi lain,  James Halaman menyatakan bahwa pendidikan perdamaian dapat menjadi media untuk mendorong komitmen setiap orang terhadap pentingnya  perdamaian melalui upaya meningkatkan kepercayaannya sebagai agen perdamaian. Pendidikan perdmainan dilakukan dengan  mengajarkan pada anak dan remaja tentang akibat negatif dari perang dan ketidakadilan sosial. Kepada para anak dan remaja  juga diinformasikan tentang pentingnya menegakkan nilai-nilai perdamaian dan keadilan sosial,  mencintai perdamain dunia, membayangkan indahnya masa depan tanpa konflik serta menumbuhkan untuk terus peduli terhadap sesama agar tercipta kehidupan yang harmonis.

Pada tataran implementasi pendidikan perdamaian bukan hanya berupa  pendidikan formal di sekolah, juga bukan merupakan pendidikan yang penuh teori-teori yang harus dihafal agar mendapat nilai,  melainkan sebuah proses pendidikan tentang bagaimana seorang manusia/individu  dapat membantu membangun masa depan dan membuat dunia menjadi tempat yang lebih damai untuk hidup dan kehidupan umat manusia.

Oleh sebab hal di atas pendidikan perdamaian selalu berawal dari pertanyaan dalam diri umat manusia untuk bertanya pada diri sendiri, tentang hal-hal  :
  • Apa yang dimaksud dengan perdamian ?
  • Apakah ada kedamain  dalam hidup saya ? Jika ada dimana? Di dalam kelas saya ? Dalam keluarga saya ? Dalam komunitas saya ? Di kota saya ? Di negera Saya ? atau di tempat-tempat lain ?
  • Dimanakah  dalam hidup saya, saya dapat lebih banyak melihat perdamian dan kedamaian ?
  • Yang penting bagi saya adalah untuk terus menerus belajar tentang makna damai, situasi perdamaian dan pentingnya kedamaian.
  • Apa yang bisa saya sumbangkan, apa yang bisa saya berikan dan apa yang bisa saya upayakan untuk membangun dunia yang damai ?

Pendidikan Perdamaian menemukan momentumnya pada awal abad 21, ketika banyak anak, remaja dan orang muda di seluruh dunia, mulai  bertanya pada diri sendiri tentang apa yang bisa dilakukan untuk membuat dunia lebih aman, sehat, hijau, adil, ttanpa  diskriminasi dan berkurangnya  kekerasan terhadap sesama. Melalui berbagai gerakan orang-orang muda telah menyuarakan tentang pentingnya mengakhiri kekerasan di sekolah, kemiskinan, pekerja anak, diskriminasi ras dan gender, penggunaan tentara anak-anak, dan peperangan yang  brutal, dan berbagai konflik sosial maupun konflik antara umat manusia dan lingkungan . 

Atas dasar hal-hal di atas maka pendidikan  perdamaian merupakan sebuah keniscayaan untuk menjadi bagian dari mata pelajaran dan dikembangkan di sekolah, lembaga pendidikan non formal dan informal termasuk pendidikan Gerakan Pramuka secara lebih dini, komprehensif, menarik dan partispatif.


Peran PBB


Tahun 2000  telah dinyatakan oleh PBB sebagai "Tahun Internasional untuk Budaya Damai". Ini merupakan  tahun pertama program "Dekade Internasional untuk Perdamaian dan Non - Kekerasan terhadap  Anak-anak". PBB juga mendorong orang-orang muda untuk berpartisipasi dalam proses pembangunan perdamaian, pada bulan September 1999 UNESCO badan pendidikan dan kebudayaan PBB, menyatakan :Keterlibatan anak-anak muda merupakan suatu keharusan dalam upaya  keberlanjutan pembangunan manusia dan perdamaian dunia melalui upaya :

  • Mereka ingin dianggap sebagai warga negara secara penuh dan setara. Orang-orang muda harus memiliki tanggung jawab dan dapat  menentukan peran dalam pembangunan masyarakat. Para pemuda juga  harus bisa diberi kesempatan dan bimbingan untuk membuktikan kemampuannya, layak untuk memikirkan dan  terlibat dalam semua aspek pertukaran dan pembangunan sosial kemasyarakatan .
  • Para pemuda harus dijadikan  menjadi mitra strategis dan dapat diandalkan  dalam setiap strategi,  perencanaan dan pelaksanaan program pengembangan masyarakat. Hal itu karena kaum muda sejatinya memiliki  pemahaan terhadap masalah sosial di lingkunganny dan juga memiliki solusi-solusi kreatif untuk mengatasinya.  Para pemuda  harus memegang peran dalam pengambilan keputusan tentang solusi konflik atau jalan keluar dari konflik.
  • Untuk menopang hal di atas PBB menyatakan pentingnya keterlibatan para guru dan siswa dalam pendidikan perdamaian bukan dengan  proses belajar yang pasif  melainkan belajar aktif yang bersumber dari pengalaman.

Content & Metode

Pendidikan perdamaian menyatukan berbagai filsafat pendidikan, teori pendidikan, dan inisiatif internasional untuk kemajuan pembangunan manusia melalui proses pembelajaran. Pendidikan Perdamaian bersifat dinamis, interdisipliner, multikultural dan berkembang atas dasar pemkiran para tokoh pendidikan   seperti John Dewey, Maria Montessori, Paulo Freire, Johan Galtung, Elise, Kenneth Boulding, dan banyak lainnya.

Prinsip-prinsip dan praktek-praktek pendidikan perdamaian telah berevolusi dari waktu ke waktu sejalan dengan tantangan yang terjadi dan berbeda-beda di setiap zaman. Namun demikian  pendidikan perdamaian tetap bertujuan untuk menumbuhkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang diperlukan oleh umat manusia untuk mencapai dan mempertahankan budaya perdamaian secara global,  memahami dan mengubah sumber terjadinya kekerasan, dsb.
Diagram berikut membantu memvisualisasikan hubungan inti antara kekerasan dan perdamaian.



Pada sisi lain perdamaian dipahami tidak hanya sebagai terhapusnya  bentuk-bentuk kekerasan tradisional atau kekerasan langsung, tetapi juga pentingnya membangun sikap positif terhadap perdamaian itu sendiri. Jadi ruang lingkup pendidikan sangatlah luas atau bisa dikatakan mendidik untuk dan tentang semua aspek perdamaian.

Diagram berikut menggambarkan hubungan antara pengetahuan, keterampilan, dan sikap dalam sebuah proses pendidikan perdamaian.


Di dalam kelas , pendidikan perdamaian bertujuan untuk mengembangkan keterampilan, sikap, dan pengetahuan tentang perdamaian dengan etode pembelajaran partisipatif dan pembentukan lingkungan kelas yang penuh  toleransi, kerjsama dan tumbuhnnya rasa saling hormat antar anggota kelas. Melalui dialog dan eksplorasi terhadap berbagai persoalan perdamaian, guru dan siswa harus bisa terlibat dalam suasana belajar bersama . 

Para siswa dilatih dan diberdayakan untuk dapat mengambil tanggung jawab secara mandiri terhadap perkembangan dan prestasi belajarnya, sementara para guru memberikan perhatian terhadap pemenuhan sarana prasarana belajar siswa.  Praktek pendidikan perdamaian digelar agar bisa menjadi ruang untuk memberikan kesempatan para siswa dalam mempromosikan sikap damai, advokasi/pembelaan terhadap pemarataan hak dan kewajiban, serta  mempromosikan tanggung jawab sosial peserta didik  dilingkungan belajarnya. Pendidikan perdamaian yang disampaikan secara praktek dan aksi nyata, dapat menjadi alternatif untuk menekan kekerasan, membangun keadilan dan kebersamaan serta menumbuhkan sikap tanggungjawab. .

Tantangan & Peluang

Pendidikan Perdamaian tidak mengajar siswa apa-apa  yang harus dipikirkan (pendekatan teoritik - kognitif) melainkan meembimbing siswa bagaimana berpikir kritis . Dalam proses ini,  yang diterapkan adalah pendekatan holistik dan partisipatif yang mungkin berbeda dengan  desain kurikulum tradisional yang berlaku di sekolah dengan standarnya yang ketat.

Pendidikan perdamaian juga bertujuan tidak untuk mereproduksi apa-apa yang telah diketahui siswa tetapi untuk mengubah perilaku siswa. Pendidik adalah orang-orang yang "secara sadar berusaha untuk mendidik generasi penerus mereka tidak semata-mata untuk kepentingan negara melainkan juga untuk kepentingan  masa depan umat manusia yang lebih baik" ( John Dewey : "Demokrasi dan Pendidikan"). Hal-hal semacam inilah yang menumbuhkan peluang dan tantangan yang siginifikan terhadap  pendidikan perdamaian bagi umat manusia.

Salah satu cara untuk menghdapai  tantangan penyelenggaraan pendidikan perdamaian adalah dengan membangun kerjsama dan dukungan antar "peserta kunci". Pembelajaran pendidikan perdamaian harus terkait dengan konteks sosial yang lebih luas,  tidak eksklusif di sekolah atau ruang kelas, dapat berlangsung di ranah keluarga, masyarakat, dan jaringan sosial mempengaruhi dan mengubah perilaku positif dan abadi terhadap pentingnya perdamaian.

Gagasan "berpikir secara global, bertindak lokal " dapat dijadikan sebagai acuan pendidikan untuk budaya damai dalam tataran teori dan  praktek baik yang menyangkut isu-isu internasional maupun prakarsa-prakarsa individu di tingkat lokal. Jika anda sebagai seorang pendidik perdamaian maka anda tidak perlu merasa bekerja sendiri. Komunitas pendidikan perdamaian internasional aktif dan berkembang melalui jaringan , publikasi , kampanye global, inisiatif nasional , dan program internasional . Para pendidik dan aktivis dari segala usia di seluruh dunia mempromosikan dan membangun perdamaian melalui pendidikan. Yang satu sama lain terhubung !.

Selamat Berlatih. Salam Pramuka

Lihat Entry/topik terkait :

  • Jenis-jenis Pendidikan Perdamianan
  • Community Development
  • Resolusi Konflik
  • Global Development Village
  • Ticket to Life
  • BP dan World Peacse 
  • Massenger of Peace (MOP)
  • Gerakan Pramuka dan Pendidikan Perdamaian

Sumber Rujukan :
  • e book  "Scouting & Peace",  WOSM, Geneva 2004
  • https://www.un.org/cyberschoolbus/peace 
  • en.wikipedia.org/ wiki/Peace_education







Apr 6, 2014

Kepemimpinan : Kepemimpinan Organisasi



Kepemimpinan Organisasi sebagai Media Pendidikan Kepramukaan
  • Pengembangan potensi kepemimpinan merupakan salah satu fokus yang pendidikan Gerakan Pramuka. Sistem pengorganisasi peserta didik dari mulai satuan terkecil seperti barung, regu, atau sangga hingga satuan terbesar seperti perindukan siaga, pasukan penggalang, ambalan penegak dan racana pandega didesain agar dapat mengembangan potensi kepemimpina. Bahkan untuk satuan penegak pandega peserta didik dilatih untuk mampu mengembangkan potensi kepemimpinannya hingga tingkat kwartir melalui wadah yang bernama Dewan Kerja.
  • Ciri pengembangan kepemimpinan didalam sistem pendidikan Gerakan Pramuka disamping mengembangkan potensi kepemimpinan yang bersifat individual juga mengembangkan potensi kepemimpinan sebagai sebuah tim. Hal itu sebagaimana terlihat dalam pengorganisasian peserta didik yang selalu berbentuk dewan, seperti dewan siaga, dewan penggalang, dewan ambalan, dewan racana, dewan kerja hingga dewan saka.
  • Model pengorganisasian dalam bentuk dewan mencerminkan kepemimpinan dilakukan oleh sebuah tim secara kolegial. Melalui sifat itu peserta didik dilatih untuk mampu mengambil keputusan, memecahkan masalah, merencananakan - melaksanakan - mengevaluasi progam secara bersama-sama berdasar prosedur dan tata kerja organisasi. Kegialitas membutuhkan kemampuan kerjasama tim secara solid dan efektif, karena pada kenyataannya dalam kolegialitas individu tidak mesti sempurna namun tim haruslah sempurna.

Pengertian Kepemimpinan Organisasi
Kepemimpinan Organisasi memiliki ruang lingkup yang sangat luas baik ditinjau dari aspek personal, proses, tujuan, lingkungan maupun aspek-aspek lain yang mempengaruhinya. Dimensi-dimensi kepemimpinan organisasi dimaksud, kurang lebih sbb :
  • Dalam suatu organisasi kepemimpinan merupakan faktor yang sangat penting dalam menentukan pencapaian tujuan yang telah ditetapkan oleh organisasi.
  • Kepemimpinan merupakan titik sentral dan penentu kebijakan dari kegiatan yang akan dilaksanakan dalam organisasi. 
  • Kepemimpinan adalah aktivitas untuk mempengaruhi perilaku orang lain agar supaya mereka mau diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu (Thoha, 1983:123). 
  • Menurut Robbins (2002:163) Kepemimpian adalah kemampuan untuk mempengaruhi suatu kelompok untuk mencapai tujuan. Sedangkan menurut Ngalim Purwanto (1991:26).
  • Menurut John Piffner, Kepemimpinan merupakan seni dalam mengkoordinasikan dan mengarahkan individu atau kelompok untuk mencapai suatu tujuan yang dikehendaki (H. Abu Ahmadi, 1999:124-125). 
  • Kepemimpinan adalah pengaruh antar pribadi, dalam situasi tertentu dan langsung melalui proses komunikasi untuk mencapai satu atau beberapa tujuan tertentu (Tannebaum, Weschler and Nassarik, 1961, 24).
  • Kepemimpinan adalah suatu proses yang memberi arti (penuh arti Kepemimpinan) pada kerjasama dan dihasilkan dengan kemauan untuk memimpin dalam mencapai tujuan (Jacobs & Jacques, 1990, 281)
  • Kepemimpinan merupakan suatu kemampuan, proses, atau fungsi pada umumnya untuk mempengaruhi orang-orang agar berbuat sesuatu dalam rangka mencapai tujuan tertentu. (Slamet, 2002: 29)
  • Kepemimpinan adalah sikap pribadi, yang memimpin pelaksanaan aktivitas untuk mencapai tujuan yang diinginkan. (Shared Goal, Hemhiel & Coons, 1957, 7) 
  • Kepemimpinan adalah suatu proses yang mempengaruhi aktifitas kelompok yang diatur untuk mencapai adalah pengaruh antar pribadi, dalam situasi tertentu dan langsung melalui proses komunikasi untuk mencapai satu atau beberapa tujuan tertentu (Tannebaum, Weschler and Nassarik, 1961, 29).
  • Kepemimpinan adalah aktivitas untuk mempengaruhi perilaku orang lain agar supaya mereka mau diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu (Thoha, 1983:123). 
  • Kepemimpinan adalah sekumpulan dari serangkaian kemampuan dan sifat-sifat kepribadian, termasuk didalamnya kewibawaan, untuk dijadikan sebagai sarana dalam rangka meyakinkan yang dipimpinnya agar mereka mau dan dapat melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya dengan rela, penuh semangat, ada kegembiraan batin, serta merasa tidak terpaksa.
    ( Ngalim Purwanto ,1991:26).
Unsur-unsur Kepemimpinan Organisasi

Dari uraian di atas dapat dismpulkan bahwa unsur-unsur kepemimpinan organisasi paling tidak terdiri dari :
  • Aspek Anggota : Kepemimpinan melibatkan orang lain dan adanya situasi kelompok atau organisasi tempat pemimpin dan anggotanya berinteraksi
  • Aspek Personal : Kepemimpinan adalah sekumpulan kemampuan dan sifat-sifat kepribadian seseorang seperti : kewibawaan, kecerdasan, kebijakan, keterbukaan, kesediaan berbagi dan sikap positif lainnya yang dapat digunakan untuk  meyakinkan orang-orang yang dipimpinnya agar melaksanakan tugas-tugas pekerjaannya dengan fokus pada tujuan,  penuh semangat dan dedikasi, suasana  batin yang gembira dan tertantang, serta yakin bahwa kebaikan organisasi akan membawa kebaikan bagi diri, keluarga dan orang lain.
  • Aspek Perilaku Organisasi : Kepemimpinan adalah proses pembagian kekuasaan,  proses mengontrol, memotivasi dan mempengaruhi orang-orang dipimpin untuk mencapai tujuan organisasi secara optimal.


Empat Ranah Kempemimpinan Organisasi

Ilmuwan terkemuka Gallup, berdasarkan penelitian terbaru menemukan adanya 34 tema atau sifat kepemimpinan yang efektif yang terbagi dalam dalam  "Empat Ranah Kekuatan Kepemimpinan Organisasi", sbb :



Tipe Pelaksanaan
  • Tipe pemimpin  yang dominan memiliki di ranah bertindak. Ia tahu bagaimana bertindak. Tipe ini sesuai untuk mencari solusi sebab pemimpin jenis ini akan bekerja tanpa lelah untuk persoalan yang dihadapi. Pemimpin dengan kekuatan untuk bertindak  juga memiliki kemampuan untuk "menangkap" ide dan mewujudkannya.

Tipe Mempengaruhi
  • Tipe pemimpin "memengaruhi"  mimiliki kekuatan untuk melibatkan khalayak sasaran lebih luas. Para pemimpin dengan kekuatan di ranah ini selalu menjajakan ide tim di dalam dan di luar organisasi. Pemimpin jenis ini sesuai saat organisasi membutuhkan banyak hal yang harus dijelaskan, dikompromikan, didiskuisikan dan didengarkan. 
Tipe Membina Hubungan
  • Tipe pemimpin  "membina hubungan" memiliki kemampuan sebagai  perekat penting  dan mampu menyatukan tim dalam berbagai keadaan. Tanpa daya rekat seorang pemimpin dalam sebuah tim, seringkali tim hanyalah  merupakan  sekumpulan individual semata yang tidak bermakna apa-apa. Para pemimpin yang memiliki kekuatan "membina hubungan" umumnya memiliki kemampuan unik untuk membentuk grup dan organisasi yang jauh lebih besar dan lebih solid.
  • Tipe pemimpin ini juga disebut sebagai pemimpin yang  positifis dan senang mengedepankan harmoni, meminimalkan perpecahan  dan senang mempertahankan energi kolektif  tim agar tetap tinggi. 
Tipe Berpikir Strategis
  • Tipe pemimpin dengan kekuatan "berpikir strategis"  adalah mereka yang mampu  membuat semua anggota organisasi  tetap fokus pada apa yang  mungkina bisa dilakukan. Pemimpin jenis ini terus menyerap dan menganalisis informasi untuk membantu tim membuat keputusan yang terbaik baik. Disamping itu pemimpin jenis ini juga mampu  terus merangsang seseorang untuk  memikirkan masa depan.
  • Pemimpin tipe ini mampu  menjelaskan bagaimana kejadian di masa lalu mempengaruhi keadaan saat ini, dan mampu merumuskan jalan  terbaik untuk meraiah kemungkinan-kemungkinan terbaik di masa depan. Tipe ini umumnya memiliki gagasan yang kuat dalam melihat peluang berdasarkan masukan atau informais yang ada. Daya kritis dan analitisnya sangat bermanfaat dan  bisa membantu organisasi dalam memahami sebab dan akibat suatu masalah/keadaan.


Lihat Topik/Entry Terkait :

Sumber
  • http://www.gallup.com/region/asia_pacific/160946/apa-yang-membentuk-tim-kepemimpinan-yang-hebat.aspx
  •  http://referensi-kepemimpinan.blogspot.com/2009/03/pengertian-pemimpin.html




Hiking : Lintas Daerah/Lintas Medan



Jenis Kegiatan
  • Lintas Daerah atau Lintas Medan atau disebut juga dengan "Cross  Country"  yaitu perjalanan memintas untuk mendapatkan jarak yang terpendek. 
  • Lintas alam dapat dibagi dalam tiga tahap: ringan, sedang, dan berat.
 Peserta
  • Jumlah ideal peserta  10-15 regu dengan masing-masing regu beranggota 5 - 8 orang. 
  • Berat ringan medan disesuaikan dengan usia dan kemampuan fisiknya. 
  • Diikuti khusus untuk  kelompok usia tertentu misalnya untuk Penggalang, Penegak atau Pandega saja.
  • Peserta tidak boleh dicampur adukkan antar golongan peserta didik.

Tujuan

  • Meningkatkan pengenalan peserta didik terhadap lingkungan dan kecintaan terhap alam
  • Meningkatkan kebugaran jasmani, kegembiraan, kerjasama dan sikap positip.
  • Menumbuhkan sikap kerjasama kelompok, daya tahan di alam bebas, kreativitas, survival dan ketrampilan mengatasi masalah yang dihadapi.
Persiapan Pengelolaan Kegiatan

  • Persiapkan rute perjalanan dengan matang termasuk mempertimbangkan aspek resiko yang akan dihadapi.
  • Survey rute, amati dan catat dengan baik rute perjalanan dengan mengutamakan keselamatan.
  • Susun tata terbit  dengan sederhana, mudah dipahami dan berdasar kondisi lapangan
  • Siapkan sistem monitoring dan emergency respon jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan
  • Siapkan kotak obat standar PPPK.
  • Siapkan saran dan prasarana pendukung dengan baik. 
  • Tetapkan dan pastikan bahwa kegiatan ini mengandung pendidikan dan berdampak positip bagi perkembangan jasmani dan ruhani peserta didik.

Pelaksanaan

Medan Ringan :
  • Medannya perjalanan tidak berat dalam arti datar tidak terlalu banyak halangan alam seperti sungai, pematang, lembang, bukit, dll.
  • Medan dan ruter perjalanan sudah  sudah diketahui dengan pasti oleh para peserta, sehingga tidak mungkin tersesat.
  • Dalam perjalanan peserta dapat rileks sambil nyanyi, senda gurau,  tepuk tangan, yel-yel, cerita lucu dsb yang dapat membangun suasana senang dan gembira
  • Arah perjalanan sudah diberitahukan termasuk garis finish, misalnya akan berakhir di kampung "A" atau hutan "B" atau Kantor Kecamatan, dsb.
    Jenis kegiatan ini tepat untuk usia peserta 13 tahun ke atas. 
  • Jenis kelamin dapat dicampur atau terpisah meski sebenarnya lebih disenangi kalau dicampur). 
  • Jarak yang ditempuh 5 – 8 km. 
  • Dapat pula diperlombakan regu-per-regu (8-orang) dengan mengatur cara berangkat setiap 10 menit, kemudian diperhitungkan waktu yang diperlukan di perjalanan sampai di tujuan.
  • Kategori lomba dapat bervariasi misalnta regu tercepat, terkompak, paling gembira, paling kreatif, paling semangat, dsb.
Medan Sedan,
  • Medannya perjalanan agak berat :  campuran antara medan datar, naik turun, basah kering, sempit - luas dan juga ada  halangan menyeberang air, melompat parit, meniti pematang, dsb.
  • Rute perjalanan tidak diketahui para peserta hanya dipandu dengan peta atau tanda-tanda jejak,  tanda-tanda alam atau pos-pos perjalanan
  • Peserta harus mampu melewati semua pos yang ditetapkan. Pos-pos tersebut juga difungsikan sebagai alat pengecekan atau pemeriksaan apakah setiap regu melewati pos tersebut. 
  • Pada pos-pos tersebut juga dapat sekaligus diadakan pertanyaan-pertanyaan, selain untuk sedikit istirahat.
  • Perjalanan ini juga dapat digunakan untuk  memperlombakan waktu tempuh. Kemungkinan karena lamanya waktu yang digunakan untuk memecahkan soal di tiap pos, ragu menempuh rute atas dasar peta sehingga berdiskusi terlalu lama,tersesat, pos yang terlewat, dsb akan memperngaruhi waktu tempuh antar regu sehingga berpengaruh pula pada prestasi yang diraih.

Medan  Berat, 
  • Medan perjalanan berat, tidak dikenal, jauh, menginap dan memiliki variasi halangan seperti sungai, lembah, sawah, belukar, bukit, jalan terjal naik turun, dsb.
  • Syarat utama para perserta harus menguasai pengetahuan peta dan dapat membaca kompas. 
  • Semua perintah dari  tempat start (memulai), tempat bermalam dan tempat finish (akhir) ditentukan  di atas peta.
  • Tugas utama peserta adalah menghubungkan ketiga titik itu (temat start, tempat istirahat dan finis) dengan pinsil dan manarik garis lurus di atas pesta. Caranya letakkan peta sesuai dengan arah pedoman sebenarnya, letakkan pula kompas (pedoman) pada titik start, sehingga diketahui pasti berapa derajat ukuran arah menuju titik tempat bermalam yang harus ditempuh. Usahakan agar supaya jalan yang ditempuh tidak menyimpang jauh dari garis arah yang telah dibuat di atas peta. (lihat entry/topik : cara menggunakan kompas dan membaca peta)
  • Pelengkapan utama peserta adalah ransel (tas punggung) dengan beban seberat 10-20 kg, yang berisi perlengkapan berkemah untuk satu malam. 
  • Ditempat peristirahatan dirikan tenda atau gubuk/bivak, buatlah api untuk memasak, dan bermalam satu malam. Keesokan harinya, bidiklah tempat finish dengan kompas di atas peta; setelah diketahui berapa derajat arah yang harus ditempuh berangkatlah menuju finish. 
  • Jenis Ini diperuntukkan peserta 15-25 tahun, perseorangan atau rombongan kecil dengan jarak seluruhnya 25 km. 
  • Dalam melakukan perjalanan dari satu titik ke titik berikutnya peserta  boleh memakai kendaraan yang ada (menumpang mobil, gerobak, membonceng sepeda, dll).
  • Persiapan : hiking medan berat membutuhkan persiapan persiapan yang matang sebelum kegiatan ini dilakukan. Mulailah berlatih secara bertahap dari jarak yang pendek, setiap kali ditambah, sehingga dianggap cukup.  Ingat, tidak hanya kaki dan punggung yang harus dilatih, tetapi yang lebih penting kesiapan mental, sebab pada perjalanan yang paling dekat pun, sebenamya jelas akan ditemui kesulitan-kesulitan.  Siapkan paling cepat 3 bulan latihan untuk menguasai kecakapan-kecakapan yang diperlukan. 
  • Tentu saja jenis ini hanya untuk putera, meskipun puteri pun dapat dan sanggup melakukannya.

Evaluasi
  • Setelah selesai kegiatan bukalah forum curah gagasan untuk  evaluasi, masukan, kritik dan saran.
  • Masukan, kritik dan saran peserta dapat digunakan untuk perbaikan kegiatan sejenis di masa depan
  • Acara ini juga dijadikan sebagai media uji TKU/TKK sesuai dengan kriteria yang ditetapkan.

Salam Pramuka. Selamat Mengembara.

Lihat entry/topik terkait :

    Hiking : Pengembaraan/Penjelajahan Alam Bebas
    Hiking : Mengikuti petunjuk tanda-tanda,
    Hiking : Mengenal Daerah Sendiri
    Hiking : Mencari dan mengikuti jejak,
    Hiking : Perjalanan spiritual,
    Hiking : Penjelajahan masyarakat,
    Hiking : Perjalanan penyelidikan,
    Hiking : Pengembaraan dengan sepeda, perahu,kuda, dengan cara beranting,
    Hiking : Penjelajahan mempertahankan hidup.

Sumber :
  • Idik Sulaeman "Hiking, Petualangan Praktis Bagi Siapapun Yang Akan Melakukannya", Penerbit Aku Suka,  Bandung, 2005.
  • Sumber-sumber lain yang relevan

Mar 29, 2014

Berkemah : Pengusir Lalat Ramah Lingkungan



Pengantar

Menjaga kebersihan lingkungan tenda harus diutamakan dalam setiap kegiatan perkemahan. Namun demikian seringkali tidak bisa dihindari karena keterbatasan daya dukung lingkungan perkemahan, menjadikan lingkungan tidak bisa sebersih yang dipersyaratkan. Lingkungan perkemahan yang tidak bersih mengundang hadirnya berbagai serangga pengganggu dan penyebar penyakit yang salah satu diantaranya adalah lalat.

Salah satu yang disarankan dalam perkemahan adalah melatih kemampuan melakukan pengusiran lalat dengan bahan-bahan yang ramah lingkungan. Pengusiran lalat dengan menggunakan bahan-bahan kimia dalam sebuah perkemahan akan berdampak kurang baik pada lingkungan sekitar disamping juga dapat mengurangi "rasa cinta lingkungan".


Perkembangbiakan Lalat
 
Lalat merupakan salah satu serangga yang mengganggu dan sebagai salah satu serangga penyebar penyakit. Lalat adalah media berbagai kuman penyakit dikarenakan memakan  bangkai, kotoran manusia dan hewan, sampah dan sebagainya. Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap perkembangbiakan lalat adalah :  datangnya musim kemarau yang lembab, sampah yang membusuk, sisa makanan yang tercecer dimana-mana, bau yang tak sedap akibat tergenang air hujan, air selokan dan air kotor, dll. 

Lalat rumah berkembang biak dalam kotoran dari semua jenis dan seringkali sangat banyak. Pada daerah tropis, lalat rumah membutuhkan waktu 8- 10 hari pada suhu 300 C dalam satu siklus hidupnya, dari telur, larva, pupa dan dewasa (Sigit dan Hadi, 2006).


Lalat sebagai Sumber Penyakit

Penyebaran penyakit yang disebabkan oleh lalat biasanya melalui makanan. Lalat umumnya hinggap di makanan, di dapur atau  meja makan yang terbuka sehingga makanan tersebut tercemar virus. Ketika makanan tersebut dikonsumsi/dimakan maka dapat menimbulkan penyakit :
  • Disentri : Penyebaran bibit penyakit dibawa oleh lalat rumah yang berasal dari sampah, kotoran manusia atau hewan. Gejal sakit disentri adalah sakit di bagian perut dan kotoran terdapat lendir dan nanah.
  • Diare : Gejala sakitdiare adalah sakit pada bagian perut, lemas dan pencernaan terganggu. 
  • Typhoid : Gejala Sakit Typhoid yang ditimbulkan adalah gangguan pada usus, sakit pada perut, sakit kepala, berak darah dan demam yang tinggi.
  • Kolera : Gejalanya sakitkolera adalah muntah-muntah, demam dan dehidrasi. Penyakit ini tersebar di seluruh dunia dan tidak dipengaruhi oleh iklim.

Ciri-ciri Lalat

Lalat Rumah (Musca domestica) berukuran sedang, panjangnya 6-7,5 mm, berwarna hitam keabu-abuan dengan empat garis memanjang pada bagian punggung. Mata lalat betina mempunyai celah lebih lebar dibandingkan lalat jantan (lihat Gambar 1). Antenanya terdiri atas 3 ruas, ruas terakhir paling besar, berbentuk silinder dan memiliki bulu pada bagian atas dan bawah Bagian mulut atau probosis lalat seperti paruh yang menjulur digunakan untuk menusuk dan menghisap makanan berupa cairan atau sedikit lembek. Bagian ujung probosis terdiri atas sepasang labella berbentuk oval yang dilengkapi dengan saluran halus disebut pseudotrakhea tempat cairan makanan diserap.


Sayapnya mempunyai empat garis (strep) yang melengkung ke arah kosta/rangka sayap mendekati garis ketiga. Garis (strep) pada sayap merupakan ciri pada lalat rumah dan merupakan pembeda dengan musca jenis lainnya. Pada ketiga pasang kaki lalat ini ujungnya mempunyai sepasang kuku dan sepasang bantalan disebut pulvilus yang berisi kelenjar rambut. Pulvilus tersebut memungkinkan lalat menempel atau mengambil kotoran pada permukaan halus kotoran ketika hinggap di sampah dan tempat kotor lainnya.


Cara Mencegah Penyebaran Lalat
  • Menjaga kebersihan tenda dan sekeliling tenda.
  • Ketika malam hari tempat sampah yang berada di dapur segera pindahkan ke pekarangan rumah. Atau cari tempat sampah yang ada penutupnya. 
  • Bersihkan setiap sisa makanan yang ada di meja makan dan juga tutup makanan yang ada. 


Cara Mengusir Lalat Ramah Lingkungan

Apabila lalat tetap menyerbu tenda di perkemahan maka ada beberapa cara ramah lingkungan untuk mengusirnya, seperti menggunakan buah cengkeh, daun pandan dan pohon lavender.

Cengkeh
Wangi cengkeh ternyata cukup efektif untuk mengusir lalat. Ada dua cara memanfaatkan wewangian rempah yang satu ini.
  • Pertama, cara yang paling sederhana yaitu dengan cara merendam cengkeh secukupnya, pada semangkuk air. Kemudian letakkan rendaman cengkeh tadi pada tempat yang banyak dihinggapi lalat. 
  • Kedua adalah denga memadukan wangi cengkeh dengan apel. Caranya adalah ambil satu buah apel yang sudah matang. Kemudian siapkan 20-30 buah cengkeh yang sudah dipotong dua. Penuhi seluruh permukaan apel dengan cengkeh, dengan cara menusukkan bunga-bunga cengkeh ke permukaan kulit apel. Letakkan apel yang sudah terutup cengkeh ini di atas meja. Dalam sekejap semua lalat yang mengerubuti makanan akan menjauh karena bau wangi yang dikeluarkan dari buah cengkeh.

Daun Pandan
Wangi pandan, ternyata juga bisa dicoba untuk mengusir lalat.

 

 Caranya cukup mudah. Cukup siapkan beberapa helai daun pandan, kemudian iris kecil-kecil. Letakkan irisan daun pandan tadi pada sebuah wadah. Terakhir, tempatkan wadah irisan daun pandan tadi di tempat yang banyak dihinggapi lalat.

Lavender 
Lavender merupakan salah satu tanaman, yang wanginya tidak disukai serangga.

 

Tempatkan beberapa tangkai bunga lavender di dalam rumah, untuk mengusir lalat. Selain mengusir lalat, bunga-bunga lavender ini juga akan mempercantik tampilan ruangan rumah anda.

Mar 28, 2014

Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Negara : Kedudukan dan Sejarah




Kedudukan Bahasa Indonesia

Sebagai Bahasa Nasional
  • Kedudukan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional diperoleh sejak awal kelahirannya, yaitu tanggal 28 Oktober 1928 dalam Sumpah Pemuda. Bahasa Indonesia dalam kedudukannya sebagai bahasa nasional sekaligus merupakan bahasa persatuan. Adapun dalam kedudukannya sebagai bahasa nasional , bahasa Indonesia mempunyai fungsi sebagai berikut : (1) Lambang jati diri (identitas). (2) Lambang kebanggaan bangsa. (3) Alat pemersatu berbagai masyarakat yang mempunyai latar belakang etnis dan sosial-budaya, serta bahasa daerah yang berbeda. (4) Alat penghubung antarbudaya dan antardaerah

Sebagai Bahasa Resmi/Negara
  • Kedudukan bahasa Indonesia yang kedua adalah sebagai bahasa resmi/negara; kedudukan ini mempunyai dasar yuridis konstitusional, yakni Bab XV pasal 36 UUD 1945. Dalam kedudukannya sebagai bahasa resmi/negara, bahasa Indonesia berfungsi sebagai berikut : (1) Bahasa resmi negara . (2) Bahasa pengantar resmi di lembaga-lembaga pendidikan. (3) Bahasa resmi dalam perhubungan tingkat nasional untuk kepentingan perencanaan dan pelaksanaan pembangunan serta pemerintahan. (4) Bahasa resmi dalam pengembangan kebudayaan dan pemanfaatan ilmu dan teknologi.

Fungsi dalam Bahasa Indonesia

Fungsi Bahasa Indonesia Baku :
  • Sebagai pemersatu : dalam hubungan sosial antar manusia
  • Sebagai penanda kepribadian : mengungkapkan perasaan & jati diri
  • Sebagai penambah wibawa : menjaga komunikasi yang santun
  • Sebagai kerangka acuan : dengan tindak tutur yang terkontrol
Secara umum sebagai alat komunikasi lisan maupun tulis.
Menurut Santoso, dkk. (2004) bahwa bahasa sebagai alat komunikasi memiliki fungsi sebagai berikut:
  • Fungsi informasi : mengungkapkan perasaan
  • Fungsi ekspresi diri : perlakuan terhadap antar anggota masyarakat
  • Fungsi adaptasi dan integrasi : berhubungan dengan sosial
  • Fungsi kontrol social : mengatur tingkah laku

Menurut Hallyday (1992) Fungsi bahasa sebagai alat komunikasi untuk keperluan:
  • Fungsi instrumental : untuk memperoleh sesuatu
  • Fungsi regulatoris : untuk mengendalikan prilaku orang lain
  • Fungsi intraksional : untuk berinteraksi dengan orang lain
  • Fungsi personal : untuk berinteraksi dengan orang lain
  • Fungsi heuristik : untuk belajar dan menemukan sesuatu
  • Fungsi imajinatif : untuk menciptakan dunia imajinasi
  • Fungsi representasional : untuk menyampaikan informasi
Sejarah Bahasa Indonesia

Lahirnya Bahasa Indonesia
  • Bahasa Indonesia lahir pada tanggal 28 Oktober 1928. Pada saat itu, para pemuda dari berbagai pelosok Nusantara berkumpul dalam kerapatan Pemuda dan berikrar (1) bertumpah darah yang satu, tanah Indonesia, (2) berbangsa yang satu, bangsa Indonesia, dan (3) menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Ikrar para pemuda ini dikenal dengan nama Sumpah Pemuda.
  • Bahasa Indonesia dinyatakan kedudukannya sebagai bahasa negara pada tanggal 18 Agustus 1945 karena pada saat itu Undang-Undang Dasar 1945 disahkan sebagai Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia. Dalam Undang-Undang Dasar 1945 disebutkan bahwa Bahasa negara ialah bahasa Indonesia (Bab XV, Pasal 36).
  • Keputusan Kongres Bahasa Indonesia II tahun 1954 di Medan, antara lain, menyatakan bahwa bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu. Bahasa Indonesia tumbuh dan berkembang dari bahasa Melayu yang sejak zaman dulu sudah dipergunakan sebagai bahasa perhubungan (lingua franca) bukan hanya di Kepulauan Nusantara, melainkan juga hampir di seluruh Asia Tenggara.
  • Kebangkitan nasional  (20 Me 1908)  telah mendorong perkembangan bahasa Indonesia dengan pesat. Peranan kegiatan politik, perdagangan, persuratkabaran, dan majalah sangat besar dalam memodernkan bahasa Indonesia. 
  • Proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus 1945, telah mengukuhkan kedudukan dan fungsi bahasa Indonesia secara konstitusional sebagai bahasa negara. Kini bahasa Indonesia dipakai oleh berbagai lapisan masyarakat Indonesia, baik di tingkat pusat maupun daerah.
  • Meskipun dipahami dan dituturkan oleh lebih dari 90% warga Indonesia, Bahasa Indonesia bukanlah bahasa ibu bagi kebanyakan penuturnya. Sebagian besar warga Indonesia menggunakan salah satu dari 748 bahasa yang ada di Indonesia sebagai bahasa ibu. Penutur Bahasa Indonesia kerap kali menggunakan versi sehari-hari (kolokial) dan/atau mencampuradukkan dengan dialek Melayu lainnya atau bahasa ibunya. Meskipun demikian, Bahasa Indonesia digunakan sangat luas di perguruan-perguruan, di media massa, sastra, perangkat lunak, surat-menyurat resmi, dan berbagai forum publik lainnya, sehingga dapatlah dikatakan bahwa Bahasa Indonesia digunakan oleh semua warga Indonesia. 
  • Fonologi dan tata bahasa Bahasa Indonesia dianggap relatif mudah.  Dasar-dasar yang penting untuk komunikasi dasar dapat dipelajari hanya dalam kurun waktu beberapa minggu.
  • Dari sudut pandang linguistik, bahasa Indonesia adalah salah satu dari banyak ragam bahasa Melayu. Dasar yang dipakai adalah bahasa Melayu Riau (wilayah Kepulauan Riau sekarang dari abad ke-19. Dalam perkembangannya ia mengalami perubahan akibat penggunaanya sebagai bahasa kerja di lingkungan administrasi kolonial dan berbagai proses pembakuan sejak awal abad ke-20. Penamaan "Bahasa Indonesia" diawali sejak dicanangkannya Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928, untuk menghindari kesan "imperialisme bahasa" apabila nama bahasa Melayu tetap digunakan. Proses ini menyebabkan berbedanya Bahasa Indonesia saat ini dari varian bahasa Melayu yang digunakan di Riau maupun Semenanjung Malaya. Hingga saat ini, Bahasa Indonesia merupakan bahasa yang hidup, yang terus menghasilkan kata-kata baru, baik melalui penciptaan maupun penyerapan dari bahasa daerah dan bahasa asing. 
  • Pemerintah kolonial Hindia-Belanda menyadari bahwa bahasa Melayu dapat dipakai untuk membantu administrasi bagi kalangan pegawai pribumi karena penguasaan bahasa Belanda para pegawai pribumi dinilai lemah. Dengan menyandarkan diri pada bahasa Melayu Tinggi (karena telah memiliki kitab-kitab rujukan) sejumlah sarjana Belanda mulai terlibat dalam standardisasi bahasa. Promosi bahasa Melayu pun dilakukan di sekolah-sekolah dan didukung dengan penerbitan karya sastra dalam bahasa Melayu. Akibat pilihan ini terbentuklah "embrio" bahasa Indonesia yang secara perlahan mulai terpisah dari bentuk semula bahasa Melayu Riau-Johor.
  • Pada awal abad ke-20 perpecahan dalam bentuk baku tulisan bahasa Melayu mulai terlihat. Pada tahun 1901, Indonesia (sebagai Hindia-Belanda) mengadopsi ejaan Van Ophuijsen dan pada tahun 1904 Persekutuan Tanah Melayu (kelak menjadi bagian dari Malaysia) di bawah Inggris mengadopsi ejaan Wilkinson.[12] Ejaan Van Ophuysen diawali dari penyusunan Kitab Logat Melayu (dimulai tahun 1896) van Ophuijsen, dibantu oleh Nawawi Soetan Ma’moer dan Moehammad Taib Soetan Ibrahim.
  • Intervensi pemerintah semakin kuat dengan dibentuknya Commissie voor de Volkslectuur ("Komisi Bacaan Rakyat" - KBR) pada tahun 1908. Kelak lembaga ini menjadi Balai Poestaka. Pada tahun 1910 komisi ini, di bawah pimpinan D.A. Rinkes, melancarkan program Taman Poestaka dengan membentuk perpustakaan kecil di berbagai sekolah pribumi dan beberapa instansi milik pemerintah. Perkembangan program ini sangat pesat, dalam dua tahun telah terbentuk sekitar 700 perpustakaan.[14] Bahasa Indonesia secara resmi diakui sebagai "bahasa persatuan bangsa" pada saat Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 1928. Penggunaan bahasa Melayu sebagai bahasa nasional atas usulan Muhammad Yamin, seorang politikus, sastrawan, dan ahli sejarah. Dalam pidatonya pada Kongres Nasional kedua di Jakarta, Yamin mengatakan,

Bahasa Melayu sebagai Asal Bahasa Indonesia

Faktor  penyebab Bahasa Melayu menjadi Bahasa Indonesia

  • Bahasa melayu adalah merupakan Lingua Franca di Indonesia, bahasa perhubungan dan bahasa perdagangan.
  • Sistem bahasa melayu sederhana, mudah di pelajari karena dalam bahasa melayu tidak di kenal tingkatan bahasa (bahasa kasar dan bahasa halus).
  • Suku Jawa, Suku Sunda, dan Suku2 yang lainnya dengan sukarela menerima bahasa melayu menjadi bahasa indonesia sebagai bahasa nasional.
  • Bahasa melayu mempunyai kesanggupan untuk di pakai sebagai bahasa kebudayaan dalam arti yang luas.
Perkembangan Bahasa Melayu menjadi Bahasa Indonesia

  • Bahasa Indonesia adalah varian bahasa Melayu, sebuah bahasa Austronesia dari cabang bahasa-bahasa Sunda-Sulawesi, yang digunakan sebagai lingua franca di Nusantara kemungkinan sejak abad-abad awal penanggalan modern.
  • Bahasa Melayu mulai dipakai di kawasan Asia Tenggara sejak abad ke-7. Bukti yang menyatakan itu ialah dengan ditemukannya prasasti di Kedukan Bukit berangka tahun 683 M (Palembang), Talang Tuwo berangka tahun 684 M (Palembang), Kota Kapur berangka tahun 686 M (Bangka Barat), dan Karang Brahi berangka tahun 688 M (Jambi). Prasasti itu bertuliskan huruf Pranagari berbahasa Melayu Kuna. Bahasa Melayu Kuna itu tidak hanya dipakai pada zaman Sriwijaya karena di Jawa Tengah (Gandasuli) juga ditemukan prasasti berangka tahun 832 M dan di Bogor ditemukan prasasti berangka tahun 942 M yang juga menggunakan bahasa Melayu Kuna.
  • Pada zaman Sriwijaya, bahasa Melayu dipakai sebagai bahasa kebudayaan, yaitu bahasa buku pelajaran agama Budha. Bahasa Melayu juga dipakai sebagai bahasa perhubungan antarsuku di Nusantara dan sebagai bahasa perdagangan, baik sebagai bahasa antarsuku di Nusantara maupun sebagai bahasa yang digunakan terhadap para pedagang yang datang dari luar Nusantara. 
  • Perkembangan dan pertumbuhan bahasa Melayu tampak makin jelas dari peninggalan kerajaan Islam, baik yang berupa batu bertulis, seperti tulisan pada batu nisan di Minye Tujoh, Aceh, berangka tahun 1380 M, maupun hasil susastra (abad ke-16 dan ke-17), seperti Syair Hamzah Fansuri, Hikayat Raja-Raja Pasai, Sejarah Melayu, Tajussalatin, dan Bustanussalatin.
  • Bahasa Melayu menyebar ke pelosok Nusantara bersamaan dengan menyebarnya agama Islam di wilayah Nusantara. Bahasa Melayu mudah diterima oleh masyarakat Nusantara sebagai bahasa perhubungan antarpulau, antarsuku, antarpedagang, antarbangsa, dan antarkerajaan karena bahasa Melayu tidak mengenal tingkat tutur.
  • Aksara pertama dalam bahasa Melayu atau Jawi ditemukan di pesisir tenggara Pulau Sumatera, mengindikasikan bahwa bahasa ini menyebar ke berbagai tempat di Nusantara dari wilayah ini, berkat penggunaannya oleh Kerajaan Sriwijaya yang menguasai jalur perdagangan. Istilah Melayu atau sebutan bagi wilayahnya sebagai Malaya sendiri berasal dari Kerajaan Malayu yang bertempat di Batang Hari, Jambi, dimana diketahui bahasa Melayu yang digunakan di Jambi menggunakan dialek "o" sedangkan dikemudian hari bahasa dan dialek Melayu berkembang secara luas dan menjadi beragam.
  • Istilah Melayu atau Malayu berasal dari Kerajaan Malayu, sebuah kerajaan Hindu-Budha pada abad ke-7 di hulu sungai Batanghari, Jambi di pulau Sumatera, jadi secara geografis semula hanya mengacu kepada wilayah kerajaan tersebut yang merupakan sebagian dari wilayah pulau Sumatera. Dalam perkembangannya pemakaian istilah Melayu mencakup wilayah geografis yang lebih luas dari wilayah Kerajaan Malayu tersebut, mencakup negeri-negeri di pulau Sumatera sehingga pulau tersebut disebut juga Bumi Melayu seperti disebutkan dalam Kakawin Nagarakretagama.
  • Ibukota Kerajaan Melayu semakin mundur ke pedalaman karena serangan Sriwijaya dan masyarakatnya diaspora keluar Bumi Melayu, belakangan masyarakat pendukungnya yang mundur ke pedalaman berasimilasi ke dalam masyarakat Minangkabau menjadi klan Malayu (suku Melayu Minangkabau) yang merupakan salah satu marga di Sumatera Barat. Sriwijaya berpengaruh luas hingga ke Filipina membawa penyebaran Bahasa Melayu semakin meluas, tampak dalam prasasti Keping Tembaga Laguna.
  • Bahasa Melayu kuno yang berkembang di Bumi Melayu tersebut berlogat "o" seperti Melayu Jambi, Minangkabau, Kerinci, Palembang dan Bengkulu. Semenanjung Malaka dalam Nagarakretagama disebut Hujung Medini artinya Semenanjung Medini.
  • Dalam perkembangannya orang Melayu migrasi ke Semenanjung Malaysia (Hujung Medini) dan lebih banyak lagi pada masa perkembangan kerajaan-kerajaan Islam yang pusat mandalanya adalah Kesultanan Malaka, istilah Melayu bergeser kepada Semenanjung Malaka (Semenanjung Malaysia) yang akhirnya disebut Semenanjung Melayu atau Tanah Melayu. Tetapi nyatalah bahwa istilah Melayu itui berasal dari Indonesia. Bahasa Melayu yang berkembang di sekitar daerah Semenanjung Malaka berlogat "e".
  • Kesultanan Malaka dimusnahkan oleh Portugis tahun 1512 sehingga penduduknya diaspora sampai ke kawasan timur kepulauan Nusantara. Bahasa Melayu Purba sendiri diduga berasal dari pulau Kalimantan, jadi diduga pemakai bahasa Melayu ini bukan penduduk asli Sumatera tetapi dari pulau Kalimantan. Suku Dayak yang diduga memiliki hubungan dengan suku Melayu kuno di Sumatera misalnya Dayak Salako, Dayak Kanayatn (Kendayan), dan Dayak Iban yang semuanya berlogat "a" seperti bahasa Melayu Baku.
  • Penduduk asli Sumatera sebelumnya kedatangan pemakai bahasa Melayu tersebut adalah nenek moyang suku Nias dan suku Mentawai. Dalam perkembangannya istilah Melayu kemudian mengalami perluasan makna, sehingga muncul istilah Kepulauan Melayu untuk menamakan kepulauan Nusantara.
  • Secara sudut pandang historis juga dipakai sebagai nama bangsa yang menjadi nenek moyang penduduk kepulauan Nusantara, yang dikenal sebagai rumpun Indo-Melayu terdiri Proto Melayu (Melayu Tua/Melayu Polinesia) dan Deutero Melayu (Melayu Muda). Setelah mengalami kurun masa yang panjang sampai dengan kedatangan dan perkembangannya agama Islam, suku Melayu sebagai etnik mengalami penyempitan makna menjadi sebuah etnoreligius (Muslim) yang sebenarnya didalamnya juga telah mengalami amalgamasi dari beberapa unsur etnis.
  • M. Muhar Omtatok, seorang Seniman, Budayawan dan Sejarahwan menjelaskan sebagai berikut: "Melayu secara puak (etnis, suku), bukan dilihat dari faktor genekologi seperti kebanyakan puak-puak lain. Di Malaysia, tetap mengaku berpuak Melayu walau moyang mereka berpuak Jawa, Mandailing, Bugis, Keling dan lainnya. Beberapa tempat di Sumatera Utara, ada beberapa Komunitas keturunan Batak yang mengaku Orang Kampong - Puak Melayu
  • Pada abad ke-15 berkembang bentuk yang dianggap sebagai bahasa Melayu Klasik (classical Malay atau medieval Malay). Bentuk ini dipakai oleh Kesultanan Melaka, yang perkembangannya kelak disebut sebagai bahasa Melayu Tinggi. Penggunaannya terbatas di kalangan keluarga kerajaan di sekitar Sumatera, Jawa, dan Semenanjung Malaya.[rujukan?] Laporan Portugis, misalnya oleh Tome Pires, menyebutkan adanya bahasa yang dipahami oleh semua pedagang di wilayah Sumatera dan Jawa. Magellan dilaporkan memiliki budak dari Nusantara yang menjadi juru bahasa di wilayah itu. Ciri paling menonjol dalam ragam sejarah ini adalah mulai masuknya kata-kata pinjaman dari bahasa Arab dan bahasa Parsi, sebagai akibat dari penyebaran agama Islam yang mulai masuk sejak abad ke-12. Kata-kata bahasa Arab seperti masjid, kalbu, kitab, kursi, selamat, dan kertas, serta kata-kata Parsi seperti anggur, cambuk, dewan, saudagar, tamasya, dan tembakau masuk pada periode ini. Proses penyerapan dari bahasa Arab terus berlangsung hingga sekarang.
  • Kedatangan pedagang Portugis, diikuti oleh Belanda, Spanyol, dan Inggris meningkatkan informasi dan mengubah kebiasaan masyarakat pengguna bahasa Melayu. Bahasa Portugis banyak memperkaya kata-kata untuk kebiasaan Eropa dalam kehidupan sehari-hari, seperti gereja, sepatu, sabun, meja, bola, bolu, dan jendela. Bahasa Belanda terutama banyak memberi pengayaan di bidang administrasi, kegiatan resmi (misalnya dalam upacara dan kemiliteran), dan teknologi hingga awal abad ke-20. Kata-kata seperti asbak, polisi, kulkas, knalpot, dan stempel adalah pinjaman dari bahasa ini.
  • Bahasa yang dipakai pendatang dari Cina juga lambat laun dipakai oleh penutur bahasa Melayu, akibat kontak di antara mereka yang mulai intensif di bawah penjajahan Belanda. Sudah dapat diduga, kata-kata Tionghoa yang masuk biasanya berkaitan dengan perniagaan dan keperluan sehari-hari, seperti pisau, tauge, tahu, loteng, teko, tauke, dan cukong.
  • Jan Huyghen van Linschoten pada abad ke-17 dan Alfred Russel Wallace pada abad ke-19 menyatakan bahwa bahasa orang Melayu/Melaka dianggap sebagai bahasa yang paling penting di "dunia timur". Luasnya penggunaan bahasa Melayu ini melahirkan berbagai varian lokal dan temporal. Bahasa perdagangan menggunakan bahasa Melayu di berbagai pelabuhan Nusantara bercampur dengan bahasa Portugis, bahasa Tionghoa, maupun bahasa setempat. Terjadi proses pidginisasi di beberapa kota pelabuhan di kawasan timur Nusantara, misalnya di Manado, Ambon, dan Kupang. Orang-orang Tionghoa di Semarang dan Surabaya juga menggunakan varian bahasa Melayu pidgin. Terdapat pula bahasa Melayu Tionghoa di Batavia. Varian yang terakhir ini malah dipakai sebagai bahasa pengantar bagi beberapa surat kabar pertama berbahasa Melayu (sejak akhir abad ke-19). Varian-varian lokal ini secara umum dinamakan bahasa Melayu Pasar oleh para peneliti bahasa.
  • Terobosan penting terjadi ketika pada pertengahan abad ke-19 Raja Ali Haji dari istana Riau-Johor (pecahan Kesultanan Melaka) menulis kamus ekabahasa untuk bahasa Melayu. Sejak saat itu dapat dikatakan bahwa bahasa ini adalah bahasa yang full-fledged, sama tinggi dengan bahasa-bahasa internasional pada masa itu, karena memiliki kaidah dan dokumentasi kata yang terdefinisi dengan jelas.
  • Hingga akhir abad ke-19 dapat dikatakan terdapat paling sedikit dua kelompok bahasa Melayu yang dikenal masyarakat Nusantara: bahasa Melayu Pasar yang kolokial dan tidak baku serta bahasa Melayu Tinggi yang terbatas pemakaiannya tetapi memiliki standar. Bahasa ini dapat dikatakan sebagai lingua franca, tetapi kebanyakan berstatus sebagai bahasa kedua atau ketiga. Kata-kata pinjaman
 Lihat topik/entry terkait :


Sumber :
  • id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Indonesia
  • badanbahasa.kemdikbud.go.id 
  • http://file.upi.edu


Mar 26, 2014

Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Negara : Pengaturan, Penggunaan dan Pengembangan



Sumber Pengaturan
  • Tata Cara Penggunaan Bendera Negara Sang Merah Putih, diatur secara lengkap pada UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2009 TENTANG BENDERA,  BAHASA, DAN LAMBANG NEGARA, SERTA LAGU KEBANGSAAN
  • Tulisan di bawah ini mengacu sepenuhnya pada UU dimaksud di atas khususnya Bab III pasal  25 sampai dengan pasal 45.
Umum
  • Bahasa Indonesia yang dinyatakan sebagai bahasa resmi negara dalam Pasal 36 Undang-Undang Dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia Tahun 1945 bersumber dari bahasa yang diikrarkan dalam Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 1928 sebagai bahasa persatuan yang dikembangkan sesuai dengan dinamika peradaban bangsa.
  • Bahasa Indonesia memiliki fungsi sebagai jati diri bangsa, kebanggaan nasional, sarana pemersatu berbagai suku bangsa, serta sarana komunikasi antardaerah dan  antarbudaya daerah.
  • Bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi negara sebagaimana juga memiliki fungsi  sebagai bahasa resmi kenegaraan, pengantar pendidikan, komunikasi tingkat nasional, pengembangan kebudayaan nasional, transaksi dan dokumentasi niaga, serta sarana pengembangan dan pemanfaatan ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan bahasa media massa.

Penggunaan Bahasa Indonesia
  • Bahasa Indonesia wajib digunakan dalam peraturan perundang-undangan.
  • Bahasa Indonesia wajib digunakan dalam dokumen resmi negara.
  • Bahasa Indonesia wajib digunakan dalam pidato resmi Presiden, Wakil Presiden, dan pejabat negara yang lain yang disampaikan di dalam atau di luar negeri.
  • Bahasa Indonesia wajib digunakan sebagai bahasa pengantar dalam pendidikan nasional. Namun demikian  bahasa pengantar sebagaimana dimaksud  juga dapat menggunakan bahasa asing untuk tujuan yang mendukung kemampuan berbahasa asing peserta didik.
  • Penggunaan Bahasa Indonesia tidak berlaku untuk satuan pendidikan asing atau satuan pendidikan khusus yang mendidik warga negara asing.
  • Bahasa Indonesia wajib digunakan dalam pelayanan administrasi publik di instansi pemerintahan.
  • Bahasa Indonesia wajib digunakan dalam nota kesepahaman atau perjanjian yang melibatkan lembaga negara, instansi pemerintah Republik Indonesia, lembaga swasta Indonesia atau  perseorangan warga negara Indonesia.  Nota kesepahaman atau perjanjian sebagaimana dimaksud adalah yang melibatkan pihak asing ditulis juga dalam bahasa nasional pihak asing tersebut dan/atau bahasa Inggris.
  • Bahasa Indonesia wajib digunakan dalam forum yang bersifat nasional atau forum yang bersifat internasional di Indonesia. 
  • Bahasa Indonesia dapat digunakan dalam forum yang bersifat internasional di luar negeri.
  • Bahasa Indonesia wajib digunakan dalam komunikasi resmi di lingkungan kerja pemerintah dan swasta.  Pegawai di lingkungan kerja lembaga pemerintah dan swasta sebagaimana dimaksud yang belum mampu berbahasa Indonesia wajib mengikuti atau diikutsertakan dalam pembelajaran untuk meraih kemampuan berbahasa Indonesia.
  •  Bahasa Indonesia wajib digunakan dalam laporan setiap lembaga atau perseorangan kepada instansi pemerintahan. 
  • Bahasa Indonesia wajib digunakan dalam penulisan karya ilmiah dan publikasi karya ilmiah di Indonesia.  Penulisan dan publikasi sebagaimana dimaksud,  untuk tujuan atau bidang kajian khusus dapat menggunakan bahasa daerah atau bahasa asing.
  • Bahasa Indonesia wajib digunakan dalam nama geografi di Indonesia.  Nama geografi sebagaimana dimaksud  hanya memiliki 1 (satu) nama resmi. 
  • Bahasa Indonesia wajib digunakan untuk nama bangunan atau gedung, jalan, apartemen atau
    permukiman, perkantoran, kompleks perdagangan, merek dagang, lembaga usaha, lembaga pendidikan, organisasi yang didirikan atau dimiliki oleh warga negara Indonesia atau badan hukum Indonesia. 
  • Penamaan sebagaimana dimaksud di atas  dapat menggunakan bahasa daerah atau bahasa asing apabila memiliki nilai sejarah, budaya, adat istiadat, dan/atau keagamaan. 
  • Bahasa Indonesia wajib digunakan dalam informasi tentang produk barang atau jasa produksi dalam negeri atau luar negeri yang beredar di Indonesia. Informasi sebagaimana dimaksud dapat dilengkapi dengan bahasa daerah atau bahasa asing sesuai dengan keperluan.
  • Bahasa Indonesia wajib digunakan dalam rambu umum, penunjuk jalan, fasilitas umum, spanduk, dan alat informasi lain yang merupakan pelayanan umum.  Penggunaan Bahasa Indonesia sebagaimana dimaksud  dapat disertai bahasa daerah dan/atau  bahasa asing.
  • Bahasa Indonesia wajib digunakan dalam informasi melalui media massa. Media massa sebagaimana dimaksud dapat menggunakan bahasa daerah atau bahasa asing yang mempunyai tujuan khusus atau sasaran khusus.
Pengembangan, Pembinaan, dan Pelindungan Bahasa Indonesia
  • Pemerintah wajib mengembangkan, membina, dan melindungi bahasa dan sastra Indonesia agar tetap memenuhi kedudukan dan fungsinya dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara,  sesuai dengan perkembangan zaman.
  • Pengembangan, pembinaan, dan pelindungansebagaimana dimaksud di atas dilakukan secara bertahap, sistematis, dan berkelanjutan oleh lembaga kebahasaan. 
  • Pemerintah daerah wajib mengembangkan, membina, dan melindungi bahasa dan sastra daerah agar tetap memenuhi kedudukan dan fungsinya dalam kehidupan bermasyarakat sesuai dengan perkembangan zaman dan agar tetap menjadi bagian dari kekayaan budaya Indonesia.
  • Pengembangan, pembinaan, dan pelindungan bahasa dan sastra sebagaimana dimaksud di atas dilakukan secara bertahap, sistematis, dan berkelanjutan oleh pemerintah daerah di bawah koordinasi lembaga kebahasaan.  
  • Pemerintah dapat memfasilitasi warga negara Indonesia yang ingin memiliki kompetensi berbahasa asing dalam rangka peningkatan daya saing bangsa.
Peningkatan Fungsi Bahasa Indonesia Menjadi Bahasa Internasional
 

  • Pemerintah meningkatkan fungsi Bahasa Indonesia menjadi bahasa internasional secara bertahap, sistematis, dan berkelanjutan. 
  • Peningkatan fungsi Bahasa Indonesia menjadi bahasa internasional sebagaimana dimaksud  dikoordinasi oleh lembaga kebahasaan. 
Lembaga Kebahasaan
  • Lembaga kebahasaan  dibentuk sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan dan bertanggung jawab kepada Menteri.  

Sumber :
  • UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2009 TENTANG BENDERA,  BAHASA, DAN LAMBANG NEGARA, SERTA LAGU KEBANGSAAN
Lihat entry/topik terkait :

 
PT.MOLINO PRAMUKA Menyelenggarakan Umroh Pramuka tahun 2013/2014 mulai bulan Desember 2013 Informasi lebih lanjut hubungi PT.Molino Pramuka 021-8731656