Selamat Datang di ENSIKLOPEDIA PRAMUKA
go to my homepage
Go to homepage

KA MABINAS GERAKAN PRAMUKA DARI MASA KE MASA

KA.Mabinas Gerakan Pramuka Dari Masa ke Masa:Diawali oleh Ir Soekarno, Soeharto,Baharudin Jusup Habibie,K.H.Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarno Putri dan Soesilo Bambang Yudhoyono...

ENSIKLOPEDI PRAMUKA.....

Sejarah Panjang Gerakan Pramuka telah melahirkan banyak peristiwa,tokoh,benda tradisi istilah kependidikan istilah organisasi dan berbagai hal lainya yang pelu di dokumentasikan......

PANJI GERAKAN PRAMUKA...

ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka Sri Sultan Hamengku Buwono IX menerima Panji Gerakan Pendidikan Kepanduan Pramuka dari Presiden Soekarno pada tanggal 14 Agustus 1961 di Istana Merdeka

APEL BESAR...

Para penggalang Putra dan Putri mengikuti Apel Besar Hari Pramuka yang Diselenggarakan tanggal 18 Agustus 1986 di Istana Merdeka Jakarta.......

KA KWARNAS GERAKAN PRAMUKA DARI MASA KE MASA.

Ka Kwarnas Gerakan Pramuka dari masa ke masa : Sri Sultan Hamangkubuwono IX 1961-1974, H.M. Sarbini 1974-1978(meninggal Th 1977), Mashudi 1974-1993, Himawan Sutanto 1993-1998, H.A. Rivai Harahap 1998-2003,Azrul Azwar 2003-2013,Adhyaksa Dault 2013-2018.

Jan 28, 2018

Reflective Writing (1) : Sebagai Metode Learning By Experience dalam Latihan Pramuka




REFLECTIVE WRITING :
SEBAGAI METODE LATIHAN PRAMUKA  
BERDASAR PENGALAMAN (LEARNING BY EXPERIENCE)


“Kami tidak belajar dari pengalaman namun  kami belajar dari merenungkan pengalaman”'
John Dewey


PENGANTAR
  • Learning by Experience merupakan salah satu metode latiha  kepramukaan disamping metode learning by doing dan learning by process.  Ketiga metode latihan ini merupakan sebuah keniscayaan agar latihan pramuka menjadi menarik, menyenangkan dan mencerahkan. Experiential Learning merupakan  proses latihan kepramukaan  yang mengaktifkan peserta didik  untuk memahami  pengetahuan, menguasai ketrampilan serta menghayati  nilai-nilai dan juga sikap hidup melalui pengalamannya secara langsung.
  • Metode Experiential Learning tidak terbatas hanya untuk memberikan wawasan pengetahuan atau konsep-konsep saja, namun, juga dapat digunakan untuk memberikan pengalaman yang nyata melalui penugasan melakukan latihan   ketrampilan-ketrampilan baru. Metode latihan ini juga mampu  memberi proses umpan balik serta evaluasi antara hasil penerapan pengetahuan dan ketrampilan yang telah dikuasasi dengan apa yang seharusnya dilakukan. Experiential Learning dapat pula dimanfaatkan untuk mendukung berbagai agenda latihan pramuka yang menarik dan menyenangkan sekaligus untuk meningkatkan keterampilan berbahasa, terutama dalam keterampilan berbicara dan menulis. David Kolbs, mengembangkan model pembelajaran yang dinamakan “experiential learning” dengan tiga tahap kegiata yaitu dengan melakukan (do), refleksikan (refelct) dan kemudian terapkan (apply)

REFLECTIVE WRITING
Reflective Writing merupakan tulisan  yang isinya mencerminkan renungan-renungan  pribadi atau personal yg diungkapkan secara hampir spontan sesuai dengan  apa yg dirasakan di benak atau hati pada saat tertentu. Sifat dan isi tulisan ini  hampir sama dengan  catatan harian. Namun demikian jika catatann harian lebih merupakan  tulisan yang berisi lintasan-lintasan  pikiran yang terpisah-pisah dan melompat-lombat dari satu tema ke tema lainnya maka reflective writing berupa   catatan-catatan  yang  yang lebih ekstensif,  terencana,  sebagai  tulisan yang utuh dan sistematis serta didukung data dan pengalaman nyata.
  • Refleksi merupakan proses mental yang  kontemplatif  atau pertimbangan panjang dan dalam hasil dari sebuah perenungan. Refleksi juga disebut dengan pikiran atau opini yang datang saat seorang manusia yang kemudian membawa ke alam interpretasi dari apa yang sedang terjadi ketika belajar atau memperoleh sebuah pengalaman baru.  Penulisan reflektif melahirkan wawasan-wawasan baru berdasar pengalaman yang telah dilalui, melahirkan hal-hal baru untuk ditindaklauti serta melahirkan kemauan untuk memperbaiki dan mengembangkan apa-apa yang telah dicapai atau dilaluinya.
  • Reflektive writing mampu membawa seorang individu keluar dari batasan-batasan yang secara sadar atau tidak telah membelenggunya dalam mengatasi berbagai persoalan yang dihadapinya. Seringkali pemikiran seseorang  telah dibentuk oleh nilai keluarga dan budaya,  situasi yang memalukan atau tidak nyaman, agama,  guru masa lalu, surat kabar, acara TV dan sebagainya. Pengaruh hal-hal tersebut tidaklah salah namun jika tidak bijak dan pandai memanfaatkannya justru akan membelenggu dan membatasi lahirnya kreativitas-kreativitas baru  dalam mengatasi berbagai persoalan kehidupan. 
  • Melakukan refleksi merupakan merupakan proses penting, karena memungkinkan seseorag  memaknai dan belajar dari pengalamannya sendiri. Ketrampilan ini penting dilatih agar dikuasai para peserta didik bahkan peserta pelatihan anggota dewasa dalam Gerakan Pramuka, karena dapat  menunjukkan kemampuan seseorang bahwa ia bisa berpikir secara kritis tentang keterampilan dan praktik yang sudah didapatkan untuk bisa maju (improve) dan belajar lebih baik lagi. Tidak ada cara mutlak atau salah dengan pemikiran reflektif. Tapi pertanyaan kunci dalam pemikiran reflektif adalah bagaimana? dan mengapa?
KEGUNAAN REFELECTIVE WRITING
Reflective Writing sebagai metode latihan pramuka memilikibanyak kegunaan, diantaranya :
  • Mendorong peserta didik atau peserta pelatihan untuk aktif  dengan mengajukan pertanyaan dan pemikiran kritis tentang ide dan pendapat yang dimilikinya.
  • Membantu  memeriksa ulang apa yang telah dipelajari dan bagaimana cara mempelajarinya.
  • Membantu  membuat koneksi atu hubungan, misalnya antara apa yang sudah diketahui dengan apa yang sedang dipelajari, hubungan antara teori dan praktik atau antara isi latihan/kursus dengan  pengalaman pribadi.
  • Membantu menunjukkan pemahaman peserta didik  dengan mengidentifikasi pertanyaan apa yang telah peserta didik meiliki dan apa yang belum dipelajari.
  • Membantu  belajar dari kesalahan dengan mengidentifikasi bagaimana cara  melakukannya secara berbeda di lain waktu dan juga untuk mengidentifikasi dan menerima apa yang tidak dapat diubah pada saat itu.
  • Mendorong seseorang  menjadi individu-individu yang terampil melakaukan  reflektif diri untuk membantu karir masa depan.
PENERAPAN PENULISAN REFLECTIVE WRITING 
Metode latihan pramuka yang salah satunya menggunakan metode “learning by experience”, memiliki beragam kegiatan dan latihan yang dapat menggunakan reflective writing sebagai salah satu alat ukur evaluasi sekaligus materi kegiatan. Reflektif Writing sebagai kegiatan yang menarik dan mengandung pendidikan dapat diterapkan dalam berbagai acara latihan Pramuka seperti : 
  • Akhir kegiatan besar seperti perkemahan,  pengembaraan, bakti sosial, upacara ulang janji, ulang tahun gudep, dsb
  • Akhir kegiatan pendidikan,kurusus atau latihan seperti dianpinsat, LPK, KPDK, KIM bahkan juga Kursus untuk Pembina dan Pelatih
  • Menjelang atau sesudah pelantikan pencapaian TKU atau TKK
  • Pada saat upacara perpindahan jenjang dari Penggalang ke Penegak, Penegak ke Pandega, dst.
  • Kegiatan akhir penerimaan anggota baru gugusdepan
  • Akhir penutupan latihan pramuka
  • Kegiatan khusus pada saat renungan malam
  • Kegiatan akhir masa tugas sebagai anggota Dewan Kerja, Dewan Amballan, Dewan Racana atau Kelokpok Kerja dan Sangga Kerja,
  • Dan beragam peristiwa latihan lainnya yang memberikan pengalaman ketahanan jasmani, rohani, hubungan sosial, dan lain-lainnya.
CARA MEMBUAT MATERI/BAHAN UNTUK  REFLEKTIF WRITING 
Reflectitf Writing pada dasarnya ditulis berdasar pengalaman nyata yang dialami oleh seorang peserta didik ketika mengikuti sebuah acara latihan atau kegiatan. Terdapat beberapa pertanyaan yang  dapat digunakan untuk mengumpulkan semacam data atau materi untuk bahan penulisannya. Sejumlah pertanyaan di bawah ini akan membantu seorang peserta didik melalukan reflectif writing atau menuliskan hasil renungan terhadap  pengalaman yang diperoleh selama latihan atau kegiatan.
  • Apa yang terjadi selama acara atau pengalaman apa yang didapat ketika mengikuti acara  itu? 
  • Mengapa hal atau peristiwa yang dialamai atau dilihat itu terjadi?
  • Apa peran saya dalam acara tersebut? Dan mengapa saya bisa menyesuakan diri dengan peran tersebut?
  • Apa perasaan saya terhadap pengalaman yang didapat ketika mengikuti latihan atau kegiatan tersebut ? Dan kenapa saya  merasa seperti itu?
  • Apa pikiran saya terhadap pengalaman yang didapat ketika mengikuti latihan atau kegiatan itu? Dan mengapa saya berpikir seperti itu?
  • Bagaimana saya  menafsirkan dan memaknai hal-hal  yang saya alami atau saya amati selama latihan atau kegiatan itu berlangsung ?
  • Apa arti pengalaman yang saya peroleh dalam kaitan atau hubungan dengan tujuan latihan atau kegiatan yang dilaksanakan ?
  • Apa perspektif (cara pandang), teori atau konsep atau ajaran-ajaran (agama, budaya, norma sosial, seni, dll)  yang bisa digunakan untuk membantu menafsirkan situas pengalaman yang saya peroleh ?
  • Bagaimana saya bisa belajar dan apa yang saya dapatkan dari pengalaman ini untuk pengembangan diri saya ke depan ?
FRASA SATU ATAU GABUNGAN UNTUK MENGUNGKAPKAN GAGASAN 
Seringkali peserta didik mengalami kesulitan untuk mengungkapkan gagasan atas dasar perenungan terhadap pengalaman yang telah diperoleh setelah mengikuti latihan atau kegiatan. Untuk membantu hal itu, terdapat beberapa frasa (kata atau ungkapan) yang secara sendiri-sendiri atau digabung-gabungkan untuk merumuskan gagasan perenungan, seperti :
  • Pengalaman yang dirasakan dan dipikirkan terhadap  suatu situasi latihan/kegiatan
  • Reaksi pribadi terhadap ide, opini atau perilaku orang lain selama mengikuti latihan/kegiatan
  • Evaluasi atau melalukan penilian terhadap  sebuah argument/teori/konsep/ajaran dibandingkan dengan situasi yang terjadi selama latihan/kegiatan.
  • Membandingkan ide pribadi dengan ide orang lain dimana kelebihannya, kekurangannya, keunikannya, keunggulannya, perbedaannya, dsb.
  • Mengomentari nilai yang terkandung dalam sebuah ide baik ide diri sendiri maupun ide orang lain
  • Mengidentifikasi atau merumuskan isu-isu atau materi atau kejadian-kejadian kunci atau penting selama latihan atau kegiatan berlangsung
  • Seberapa baik saya mengerti sesuatu yang terjadi selama latihan atau kegiatan berlangsung.
Setelah mengugunakan beberapa frase di atas untuk menemukan gagasan-gasan yang terkait dengan pengalaman, maka tiba saatnya untuk menulisakannya. Di bawah ini terdapat beberapa jenis kalimat pembuka yang bisa dijadikan rujukan untuk menuliskan pengalaman yang diperoleh, seperti :
  • Pengalaman ini membuat saya percaya / berpikir / bertanya bahwa ...
  • Saya pikir / merasa / percaya / berharap / saya yakin bahwa ...
  • Saya ingat bahwa  ...
  • Bagi saya apa yang saya alami ini sulit / mudah / menakutkan / seru,  dll, karena ….
  • Saya menemukan ini mengkhawatirkan / lucu / nyaman/menengaknan dll, karena ...
  • Bagi saya, pernyataan ini sangat sulit untuk disepakati mengingat apa yang sudah saya pahami tentang hal ini adalah ...
  • Saya setuju / tidak setuju dengan (Smith (2013), atau pandangan ahli lain)  ketika dia berpendapat bahwa ...
  • Berdasarkan keyakinan dan pengalaman pribadi saya maka apa yang saya lihat dan dapatkan ini merupakan sebuah hal yang ….
  • Dalam pikiran saya, timbul pertanyaan –pertanyaan / pertanyaan utamanya  adalah ...
  • Tidak terpikir oleh saya  bahwa ...
  • Dll. 
bersambung  ke entry/topik berikutnya ...

Ditulis oleh : 
Anis Ilahi Wh – Ketua DKD Kwarda DIY 1987 – 1991

Lihat entry/topic terkait :
  • Reflective Writing (2) :  Jenis-jenis Model Penulisan Reflective Writing
  • Reflective Writing (3) :  Contoh-contoh Naskah Reflective Writing
Rujukan :
  • Bain, JD, Ballantyne, R, Mills, C & Lester, NC 2002, Reflecting on practice: student teachers' perspectives, Post Pressed, Flaxton Qld.
  • Williams K, Woolliams, M, & Spiro, J 2012, Reflective writing, Palgrave Macmillan, New York.
  • University of N.S.W. - Reflective writing
  • http://grammar.yourdictionary.com/for-students-and-parents/what-is-reflective-writing.html
  • Hand out Maka Kuliah Transmedia Story Telling, Departemen Komunikasi FISIP UI tahun 2018


Jan 9, 2016

Usaha Dana Pramuka (4) : Model Penganggaran Keuangan Kegiatan Pramuka

Pengantar
Model penganggaran merupakan sebuah model perencanaan keuangan yang berisi rencana pendapatan (pemasukan) dan rencana penggunaan (pengeluaran) uang suatau kegiatan. Anggaran merupakan salah satu faktor penting sukses tidaknya sebuah acara kegiatan kepramukaan. Oleh sebab itu anggaran atau pengelolaan keuangan kegiatan mesti dikelola (direncanakan dan digunakan) secara baik, akuntable (bisa dipertanggungjawabkan), transparan (terbuka), jujur dan efektif.

Sejauh ini model atau pola penganggaran dapat dibedakan menjadi 3 :
  1. Model anggaran negara (APBN/APBD), disusun berbasis kinerja oleh sebab itu program yang disusun harus terealisasi dan anggaran yang direncanakan harus habis digunakan (tingkat serapan tinggi), kerana dengan serapan tinggi itu masyarakat diharapkan dapat merasakan dampak positifnya seperti meningkatan kualitas  pelayanan pemerintah,  infrastruktur Negara yang makin banyak, berkualitas  dan lengkap, pertumbuhan ekonomi yang makin baik, dsb. Singkatnya semangat mengelola Anggaran Negara (APBN/APBD) adalah kemampuan menghabiskan/menyarap anggaran.
  2. Model anggaran perusahaan atau lembaga profit, disusun berbasis program dan dilaksanakan secara efisien  dengan orientasi menghasilkan keuntungan. Uang yang keluar (pengeluaran) harus mampu menghasilkan pemasukan (uang yang masuk) sebesar-besarnya. Singkatnya, semangat mengelola anggaran perusahaan/lembaga profit adalah menghasilkan untung sebesar-besarnya untuk memperbesar dan memperluas usaha, meningkatkan kesejahteraan karyawan dan orang terkait serta meningkatkan kekayaan pemilik.
  3. Model anggaran lembaga non profit  atau penggaran organisasi nirlaba seperti Gerakan Praamuka. Anggaran disusun berbasis tujuan. Anggaran direncanakan dan digunakan untuk mencapai tujuan yang ditetapkan, bukan untuk mencari untung sebesar-besarnya. Pemilihan dan pelaksanaan program didasarkan pada yang memiliki manfaat besar dengan biaya yang kecil atau biaya yang tersedia. Singkatnya, semangat mengelola anggaran lembaga non profit seperti Gerakan Pramuka adalah menggunakan uang yang terbatas (sedikit)  untuk melaksanakan kegiatan sebanyak-banyaknya demi tercapainya tujuan pembinaan pesrta didik.
Sistem Perencanaan, Pemrograman dan Penganggaran
  • SPPA (Sistem Perencanaan, Pemrograman dan Penganggaran) atau PPBS (Programme Planning & Budgeting System) merupakan salah satu model penganggaran yang bebererapa waktu lalu digunakan oleh Gerakan Pramuka. Model ini cukup tepat untuk mengatasi “keterbatasan dana” dibanding dengan jumlah kegiatan yang akan dilaksanakan. 
  • Salah satu keunggulan SPPA adalah adanya  analisis secara sistematis atas berbagai alternatif pelaksanaan program, yang meliputi: (a) identifikasi tujuan, (b) identifikasi secara sistematik alternatif jenis kegiatan  untuk mencapai tujuan, (c) estimasi biaya total dari masing-masing alternatif kegiatan, (d) estimasi manfaat (hasil) yang ingin diperoleh dari masing-masing alternatif program. 
  • Misalnya : Sebuah ambalan merencanakan studi wisata ke Bali dengan tujuan mengenal obyek wisata budaya, studi banding dengan ambalan setempat, dan meningkatkan cinta tanah air. Maka disusunlah program kunjungan seperti transportasi apa yang digunakan, berapa hari di Bali, menginap di mana, konsumsiny apa, dsb. Dari program itu disusunlah alternative anggaran, anggaran akan besar jika misalnya transportasi menggunakan pesawat, menginap di hotel, transport local dengan bis AC, konsumsi di warung padang dsb. Namun disisi lain anggaran akan makin kecil kalau transportnya pakai bus atau kereta ekonomi, menginap di sanggar ambalan tujuan, transport dari satu lokasi wisata ke lokasi lain naik angkutan umum atau jalan kaki, makan secukupnya, dsb. Dari dua model penganggaran itu, tujuan program dapat sama-sama tercapai. Yang membedakan hanya tingkat “kenyamanan”. Kenyamanan bisa dikurangi karena bukan faktor utama mencapai tujuan.
Model Perencanaan Biaya Kegiatan Pramuka


Dari model penyusunan anggaran berbasis SPPA seperti di atas, tampak bahwa anggaran biaya bukan merupakan “unsur supporting” atau pendukung suatu acara tetapi merupakan “unsur pokok” yang menjadi salah satu pertimbangan dalam penyusunan kegiatan. Intinya, kegiatan yang sudah direncanakan tidak boleh tidak terlaksana hanya karena keterbatasan biaya. Justru dengan keterbatasan dana dan biaya  itu perlu dicari alternatif-alternatif jalan keluar agar kegiatan tetap terlaksana dan tujuan kegiatan tercapai secara optimal.

Tahapan Penyusunan Biaya :

1. Menetapkan Index
Index adalah cara menetapkan besaran  biaya per individu untuk mengikuti sebuah kegiatan tertentu. Misalnya sebuah Kwaran akan menyelenggarakan Raimuna Ranting ditetapkan bahwa jumlah peserta 1.000 dengan index biaya perpeserta  Rp. 200.000. Maka total biaya yang dibutuhkan untuk Raimna Ranting tersebut adalah sebesar Rp. 200.000.000. Index biaya bukan merupakan ukuran iuran perpeserta karena biaya index akan ditanggung oleh beragam pendapatan lain seperti : iuan peserta, sumbangan Ka Kwaran, Donatur, Sponsorship, dll. Cara menetapkan index berdasar faktor : tujuan apa yang ingin dicapai, jenis kegiatan apa yang wajib dilaksanakan, sarana prasarana pokok apa yang wajib disediakan, lokasi dan lama kegiatan, peluag dan dukungan potensi dana yang bisa diraih, dsb.

2. Menetapkan Jenis Satuan Biaya
Menetapkan jenis satuan biaya merupakan salah satu pintu sukses mengelola anggaran  dan penyelenggaraan kegiatan kepramukaan. Semakin tepat dan rinci menetapkan satuan biaya maka akan semakin tepat pula dalam mengelola anggaran biaya kegiatan.  Contoh satuan biaya kegiatan pramuka paling tidak meliputi :
  • Satuan biaya administrasu kesekretariatan
  • Satuan biaya humas dan prokokoler
  • Satuan biaya transportasi dan komunikasi
  • Satuan biaya kegiatan dan penataan tapak prkemahan
  • Satuan biaya perlengkapan dan sarana prasana perkemahan
  • Satuan biaya keamanan, kebersihan dan kesehatan
  • Satuan biaya pameran dan pasar Rakyat
  • Satuan biaya evaluasi dan  pelaporan, dll.
Masing-masing satuan biaya tersebut dirinci lebih lanjut ke dalam sub-sub rencana satuan biaya, contoh rincian satuan biaya kegiatan:

3. Menetapkan Besaran Satuan Biaya
Langkah ini sangat penting agar biaya bisa direncanakan secara tepat baik dari aspek jumlah, harga, maupun volumenya. Menyusun secara detail dan tepat satuan biaya akan menghilangkan aspek pemborosan dan juga biaya yang alokasinya tidak tepat. Contoh besaran satuan biaya.



4. Total Biaya
Setelah semua satuan biaya dan besaran harga ditetapkan maka dijumlah secara total sehingga menjadi “rencana anggaran”. Rencana anggaran disusun secara bersama-sama oleh seluruh panitia inti (waka, kabid, kasi) di bawah pimpinan bendahara. Total rencana biaya tidak boleh lebih besar dari index yang ditetapkan. Jika terlalu besar atau terlalu kecil maka harus dihitung ulang.

Metode Penetapan Anggaran Biaya

1. Evaluasi Biaya
Evaluasi anggaran dilaksanakan oleh Pimpinan Panitia bersama seluruh panitia inti. Evaluasi difokuskan apakah anggaran yang disusun sudah sesuai index, apakah alokasi anggaran sudah proporsional (jangan sampai biaya administrasi lebih besar dari biaya kegiatan, misalnya), apakah satuan biaya sudah sesuai atau belum, dsb.

2. Penetapan Anggaran
Setelah biaya ditetapkan maka Pimpinan Panitia akan membandingkannya dengan pendapatan, jika dianggap sudah sesuai maka rencana biaya dan rencana pengeluaran itu ditetapkan menjadi “Anggaran Belanja dan Pemasukan Kegiatan”. Dokumen ini sebaiknya di SK kan secara khusus oleh Pimpinan Kwartir atau Kamabigus sehingga dapat dijadikan pedoman semua pihak. Contoh "Anggaran Belanja dan Pemasukan Kegiatan Pramuka".


3. Realisasi dan Pengendalian
Realiasi dan pengendalian anggaran tetap menjadi tugas bendahara, sebaiknya juga disusun SOP (standar operating procedure) pencairan, penggunaan dan pelaporan penggunaan biaya. Misalnya, seksi kegiatan yang memperoleh alokasi dana Rp. 10.000.000 tidak berarti semua dicairkan di awal dan diserahkan kepada seksi kegiatan. Tetap saja seksi kegiatan mencairkan secara bertahap sesuai kebutuhan. Bendahara bisa mengendalikan dengan cara dana berikutnya tidak akan dicairkan kalau dana yang sudah dipakai belum ada laporan penggunaan disertai bukti.

4. Pelaporan dan Pertanggungjawaban
Di akhir kegiatan di bawah pimpina bendahara, semua panitia pengguna anggaran diwajibkan melaporkan penggunaan anggaran disertai bukti-bukti yang sah. Laporan ini disusun menjadi satu kesatuan oleh bendahara menjadi “Laporan Pertanggungjawaban Keuangan Penyelenggaraan Kegiatan Pramuka”.

Menetapkan Target Pendapatan dari Sponsor
Lihat halaman berikutnya ...



Lihat entry/topik terkait :
Penulis :
Anis Ilahi Wh  (Ketua DKD Kwarda DIY  1987 - 1991) diramu dari berbagai sumber.








Dec 28, 2015

Usaha Dana Pramuka (3) : Tata Organisasi Tim Sponsorship Kegiatan Pramuka



Pengantar
  • Pada tulisan bagian 2 tentang Tahapan Kerja Tim Sponsoorship Kegiatan Pramuka telah dijelaskan tahap-tahap yang harus dilakukan dalam menyukseskan upaya mencari sponsor kegiatan. Tata organisasi adalah cara membagi pekerjaan pada masing-masing tahap dalam sebuah model organisasi. Organisasi yang baik harus mampu mewadahi seluruh tahapan kerja, membagi seluruh pekerjaan dan mengatur hubungan kordinasi, pelaporan dan tanggungjawab masing-masing personal yang diserahi tugas.
  • Tidak ada bentuk baku organisasi tim sponsorship kegiatan pramuka. Yang harus diperhatikan, bentuk organisasi yang disusun harus mampu membagi habis tugas  perencanaan, penjualan dan negosiasi,  produksi dan implementasi, pertanggungjawaban dan laporan, serta tugas-tugas evaluasi. Masing-masing pekerjaan bisa disatukan namun bisa dibedakan dalam struktur/kotak organisasi yang berbeda, tergantung besar kecilnya kegiatan atau juga tergantung besar kecilnya target sponsor yang harus didapatkan.
Kedudukan Tim Sponsorship dalam Organisasi Kepanitiaan Kegiatan
  • Tim sponsorship merupakan bagian dari organisasi besar kepanitiaan sebuah kegiatan.  Oleh sebab itu Tim Sponsor tidak boleh bergerak dan berjalan sendiri, merasa paling penting dan merasa paling dibutuhkan. 
  • Tim sponsor harus mampu menjalin kerjasama dengan bagian lain dalam kepanitiaan secara erat, kolaboratif, kordinatif dan saling memahami.  Bentuk organisasi tim sponsor bisa setingkat seksi, setingkat bidang, departemen atau bahkan setingkat ketua atau wakil ketua, di bawah ketua umum panitia. 
  • Tim sponsor bisa berkedudukan khusus di bawah ketua kwartir atau ka mabigus, misalnya bisa juga sejajar dengan seksi, bidang, departeman atau ketua-ketua lain dalam sebuah organisasi pelaksana kegiatan pramuka. Jika sejajar dengan bagian lain maka strukturnya akan tampak  seperti tampak pada gambar di bawah ini :


Model Organisasi Tim Sponsorship Kegiatan Pramuka

Dimanapun keudukannya, hendaknya susunan organisasi tim sponsor disusun secara spesifik, semi mandiri, mampu melakukan "one stop services" pada mitra kerja serta  memiliki ruang kordinasi yang luas, hal ini karena :
  1. Pekerjaan sponshorship membutuhkan kecepatan pelayanan baik surat-menyurat, informasi maupun kordinasi. Jika semua menggantungkan pada Panitia Induk maka akan mengalami pelambatan dan bisa kehilangan peluang.
  2. Penanganan klien/mitra harus bersifat khusus mengingat keinginan klien/mitra biasanya  sangat beragam dan membutuhkan kedalaman diskusi.
  3. Semakin banyak klien/mitra yang menjadi target sponsor akan semakin komplek pula kordinasi, informasi dan pengambilan keputusannya. Mitra/klien sponsor umumnya tidak hanya melayani satu organisasi saja – maka siapa yang lambat akan ditinggalkan.
  4. Standar pelayanan dan mutu pekerjaan dari klien/mitra umumnya sangat tinggi sehingga perlu penanganan yang focus dan professional.
Atas sejumlah pertimbangan di atas maka model organisisasi Tim Sponsorship Kegiatan Kepramu-kaan, salah satunya bisa dalam bentuk seperti di bawah ini :




Uraian Tugas dan Sistem Kordinasi

Ketua Tim Sponsorship 
  1. Bersama-sama Ketua Panitia dan Ketua lain menyusun kebijakan sponsorship seperti berapa target sponsorship, mana yang boleh disponsorkan mana yang tidak, sponsor mana yang boleh da mana yang tidak.
  2. Bertugas memimpin, mengendalikan dan mengontrol seluruh kegiatan sponsor dari mulai perencanaan hingga pertanggungjawaban dan evaluasi.
  3. Melakukan kordinasi lintas bidang, misalnya jika ada sponsor yang ingin memberikan hadiah dalam sebuah upacara penutupan, maka Ketua Tim harus berkordinasi dengan Ketua Protokoler dan memastikan hal itu bisa dilakukan.
Tim Sekretariat Sponsorship
  1. Memberikan dukungan surat menyurat, dokumen (proposal), kontrak kerjasama kepada Tim Penjualan dan Pelayanan Mitra Kerja.
  2. Mendokumentasikan seluruh data, dokumen, informasi  dan material kerjasama sponsorship.
  3. Berkordinasi dengan Sekretaris Panitia.
Tim Keuangan Sponshorship
  1. Menyusun dan mengendalikan kebutuhan biaya operasional, produksi dan pelayanan mitra kerja.
  2. Melaksanakan, mengendalikan dan mempertanggungjawabkan seluruh proses transaski keuangan Tim Sponsorship.
  3. Menyusun laporan perkembangan pendapatan sponsor dari waktu ke waktu
  4. Berkordinasi dengan Bendahara Panitia.
Bidang/Seksi Perencanaan
  1. Menyusun target pendapatan sponsor dan target mitra sponsor (perusahaan/lembaga yang potensial menjadi sponsor)
  2. Menyusun  jenis-jenis kreatif sponsorship baik yang berupa media kreatif, kegiatan kreatif, model kreatif panitia dan pelayanan peserta (kaos, topi, tas, slayer, buku panduan dll), kreatif penataan lokasi kegiatan (tong sampah, papan petunjuk, baliho, pintu masuk), dsb.
  3. Menyusun paket-paket sponsorship yang menarik baik dari segi harga, jenis materi promosi, jenis kegiatan maupun jenis-jenis sponsor lainnya.
  4. Menyusun proposal penjualan sponsorship semenarik dan sekreatif mungkin.
  5. Menemani Tim Penjualan dan Pelayanan Mitra Kerja sponsor untuk presentasi, diskusi kreatif dengan mitra sponsor maupun mencar ide-ide baru untuk mempertemukan aspirasi sponsor dengan peningkatan kualitas kegiatan.
Bidang/Seksi Penjualan & Pelayanan Mitra Sponsor

    1. Menyusun rencana penjualan/distribusi penawaran proposal sponsorship dilengkapi dengan kontak person yang bisa dihubungi sewaktu-waktu.
    2. Mengecek distribusi penawaran proposal apakah sudah sampai sesuai tujuan atau belum
    3. Melakukan kordinasi dan informasi untuk meminta waktu presentasi
    4. Melaksanakan tawar menawar dan deal dengan pihak sponsor serta memfinalisasi surat perjanjian kerjasama.
    5. Menjembatani aspirasi dan kepentingan mitra sponsor dengan Panitia Pelaksana secara kesluruhan agar apa yang menjadi pokok-pokok kerjasama dapat terlaksana dengan baik.
    6. Menjalin kerjasama erat dengan mitra sponsor selama kegiatan berlangsung.
    Catatan :  Seksi Penjualan & Pelayanan Mitra Sponsor (klien services) sebaiknya 1 orang menangani tidak lebih dari 5 mitra sponsor. Jika mitra sponsor membantu dana dalam jumlah  besar – misalnya sponsor utama maka harus ditangani oleh 1 orang, bahkan bisa lebih.

      Bidang Produksi/Implementasi


        1. Melaksanakan produksi jenis-jenis media sponsor sesuai dengan order dari Tim Penjualan & Pelayanan Mitra Sponsor.
        2. Berkordinasi dengan Tim Penjualan & Pelayanan Mitra Sponsor serta Mitra Sponsor dalam hal pembuatan desaian kreatif, produksi dan implementasi (pemasangan dan distribusi) media sponsor.
        Bidang Pelaporan dan Evaluasi

          1. Mendokumentasikan seluruh kegiatan sponsorship baik dalam bentuk dokumen tertulis, foto, video maupun bukti-bukti fisik (kaos, topi, dll) untuk menjadi bahan laporan ke mitra kerja.
          2. Menyusun laporan pelaksanaan kegiatan sponsorship untuk laporan, penagihan atau ucapan terimakasih kepada  mitra kerja sponsor.
          3. Melaksanakan evaluasi kegiatan sponsorship.
          Selamat berkreasi dalam semengat kemandiriran. Salam Pramuka. Bersambung.

                          Lihat entry/topik terkait :
                          Penulis :
                          Anis Ilahi Wh  (Ketua DKD Kwarda DIY  1987 - 1991) diramu dari berbagai sumber.






                          Dec 26, 2015

                          Usaha Dana Pramuka (2) : Tahapan Kerja Tim Sponsorship Kegiatan Pramuka

                          Pengantar

                          1. Sukses tidaknya meraih kerjasama atau dukungan sponsor terhadap program dan kegiatan pramuka tergantung bagaimana cara mengelola kerjasama tersebut. Pihak mitra sponsor umumnya mensaratkan kerja yang tertata dan terencana rapi, dilaksanakan sesuai komitmen, dipertanggungjawabkan dengan bukti-bukti yang transparan dan apa adanya serta dilaporkan sesuai fakta, waktu dan standar yang ditetapkan. Hal itu karena pihak mitra sponsor harus mempertanggungjawabkan seberapa  besar “manfaat” yang diperoleh atas “dana atau dukungan” yang telah diberikan kepada kegiatan dimaksud.
                          2. Agar pekerjaan kerjasama sponsorship dapat terlaksana dengan baik, berkelanjutan dan harmonis, maka pelaksanaan kegiatan sponsorship harus dikelola dengan menejemen yang baik dan berdasarkan tahapan yang baik dan tertata. Tanpa upaya itu maka kerjasama sponsorship akan berpotensi gagal dan  mengecewakan mitra sehingga kerjasama tidak berkelanjutan.
                          3. Tahapan-tahapan menjalin kerjasama sponsorship terdiri dari : tahap perencanaan, tahap penjualan dan negosiasi, tahap produksi dan implementasi, tahap pertanggungjawaban dan laporan, tahap evaluasi. 
                          4. Gambar tahapan kerja Sponsorship :


                          Tahap 1 : Perencanaan Kerjasama Spsonsorship
                          1. Ada dua hal yang harus disiapkan yaitu persiapan teknis dan persiapan strategis. Persiapan teknis paling tidak berisi tujuan, target pendapatan – penjualan sponsorship (lihat entry perencanaan keuangan dan taret sponsor), potensial klien, waktu pelaksanaan, organisasi (pembagian tugas) tim sponsor,  dsb. Persiapan teknis disusun dalam sebuah proposal untuk kepentingan internal atau laporan kepada Ketua Panitia Pelaksana (lihat entry proposal teknis kegiatan sponsorship).
                          2. Persiapan strategis, paling tidak berisi informasi kegiatan, keunggulan kegiatan, jenis-jenis/peluang kerjasama sponsor, harga paket sponsor, contoh-contoh media sponsor – spanduk, kaos, topi, bak sampah, dll. Persiapan strategis disusun dalam sebuah proposal “sponsorship” untuk kepentingan eksternal atau diedarkan kepada calon mitra sponsor (lihat entry : contoh pemaketan harga sponsorship kegiatan dan  juga entry : contoh proposal sponsorship).

                          Tahap 2 : Penjualan, Presentasi dan Negosiasi

                          Tahap penjualan dan negosiasi merupakan tahap mendistribusikan proposal sponsorship yang telah disusun pada tahap perencanaan. Beberapa hal yang harus diketahui pada saat mendistribusikan proposal sponsor :
                          1. Akan lebih baik sebelum surat dan proposal sponsorship dikirim, sudah kenal atau tahu terlebih dahulu pejabat yang berwenang mengambil keputusan sponsorship di perusahaan/lembaga yang akan dituju.  Jika sudah kenal buatlah perjanjian untuk bertemu, presentasi atau janji akan mengirim surat dan proposal. 
                          2. Kirimlah surat dan proposal pada lembaga atau perusahaan yang dituju, mintalah tanda terima surat dan proposal yang dikirim. Tanda terima berisi : siapa yang menerima, tanggal terima, kontak/telp/email yang bisa dihubungi untuk konfirmasi.
                          3. Tindaklanjuti surat yang sudah dikirim yaitu  menanyakan surat sudah sampai mana, apa keputusan pimpinan, kapan bisa presentasidsb. Tindak lanjut bisa melalui konfirmasi telepon, mendatangi calon mitra, atau cara-cara lainnya misalnya minta bantuan orang yang berpengaruh, dsb.
                          4. Jika diundang untuk presentasi berarti mitra sponsor sudah mulai berminat,  siapkan presentasi dengan baik, menarik dan meyakinkan.
                          5. Lakukan negosiasi jika mitra sponsor sudah tertarik, jangan terlalu kaku, cari jalan tengah. Sudah lazim kalau mitra sponsor akan meminta kompensasi sebanyak-banyaknya dengan harga semurah-murahnya. Tawar menawar dan negosiasilah dengan baik dan fair.
                          6. Jika negosiasi sudah deal atau sepakat, siapkan kontrak kerjasama yang mengatur hak dan kewajiban kedua belah pihak termasuk cara dan jadwal pembayaran.
                          7. Lakukan kordinais pada saat produksi dan implementasi sponsorship dengan mitra sponsor agar tidak terjadi kesalahan baik dalam proses produksi maupun pemasangan/penggunaan media sponsor. Mitra kerja sering tidak mau mambayar jika ada kesalahan produksi media sponsor yang tidak sesuai komitmen.

                          Tahap 3 :  Produksi dan Implementasi
                          • Tahap Produksi dan Implementasi adalah tahap melaksanakan hal-hal yang sudah disepakati antara Panitia Kagiatan yang diwakili oleh Tim Sponsor dengan Mitra Sponsor. Hal terbaik yang dilakukan adalah apa yang disepakti harus dilakukan atau diimplementasikan. Misalnya sebuah lembaga/perusahaan menyepakati menyeponsori  Raimuna Ranting, sbb :

                          • Dari contoh paket di atas maka materi yang harus diproduksi adalah kaos, spanduk, umbul-umbul, dan tenda kerucut untuk pameran. Tim Produksi harus membuat materi tersebut dengan spesifikasi jumlah, bentuk, warna, model, ukuran sesuai kesepakatan dengan sponsor. Setelah selesai diproduksi maka harus didistribusikan atau dipasang sesuai kesepakatan baik lokasi, lama waktu maupun jumlah pemasangannya, kadang juga ada yang minta tinggi rendahnya tempat pemasangan.

                          Tahap 4 : Pertanggungjawaban dan Laporan
                          • Sejumlah mitra sponsor umumnya meminta laporan pertanggungjawaban atas pekerjaan sponsorship yang terlah dilaksanakan. Bahkan beberapa mitra sponsor menjadikan laporan pertanggungjawaban sebagai syarat pencairan dana sponsorship. Oleh sebab itu Panitia atau Tim Sponsor berkewajiban menyusun laporan kepada mitra sponsor. Laporan pertanggungjawaban ke mitra sponsor secara garis besar dibagi menjadi dua, pertama “laporan singkat penyelenggaraan kegiatan” dan kedua, "laporan kegiatan sponsorship dari mulai perencanaan, produksi, implementasi hingga selesai". Laporan disertai dengan foto-foto sebagai bukti, termasuk foto spanduk atau umbul2 yang terpasang, kaos dan topi yang dipakai panitia, dan berbagai jenis pemasangan media sponsor lainnya sesuai perjanjian.
                          Tahap 5 :  Evaluasi

                          Tahap evaluasi dilaksanakan untuk menilai proses, kekurangan, keberhasilan, dan hambatan-hambatan yang terjadi. Evaluasi lebih bersifat untuk kepentingan internal panitia dan digunakan untuk perbaikan di masa datang. Evaluasi dapat dilakukan dengan cara :
                          • Membandingkan antara target, misalnya target sponsor  10 juta rupiah. Kalau tercapai apa faktor suksesnya, kalau tidak tercapai apa faktor penghambatnya.
                          • Pelayanan pada mitra, apakah sudah sesuai komitmen apa belum, faktor suksesnya apa faktor penghambatnya apa.
                          • Manfaat bagi kegiatan, apakah sponsor yang didapat mampu meningkatkan kualitas kegiatan atau tidak, kalau bermanfaat faktornya apa, kalau tidak bermanfaat faktornya apa.
                          • Organisasi atau Tim Sponsor, efektif atau tidak cara kerjanya, cara kerja apa yang harus dipertahankan, apa yang harus ditingkatkan, dan apa yang harus dihindar.
                          • dsb.

                          Selamat berkreasi. Bersambung. Salam Pramuka.

                          Lihat entry/topik terkait :
                          Penulis :
                          Anis Ilahi Wh  (Ketua DKD Kwarda DIY  1987 - 1991) diramu dari berbagai sumber.







                          Dec 21, 2015

                          Usaha Dana Pramuka (1) : Jenis Sponsorship Kegiatan Pramuka


                          Pengantar


                          Undang-undang No 12 Tahun 2010 tentang Gerakan Pramuka, Bab VII tentang Keuangan, Pasal 43 ayat 1 menyatakan : Keuangan Gerakan Pramuka diperoleh dari (a) iuran anggota sesuai dengan kemampuan, (b) sumbangan masyarakat yang tidak mengikat, dan (c) sumber lain yang tidak lain yang tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan.


                          Gerakan Pramuka dalam melaksanakan program dan kegiatannya dapat menjalin kerjasama sponsorship dengan berbagai pihak seperti perusahaan, yayasan, dan beragam jenis lembaga lainnya. Kerjasama sponsorship   merupakan salah satu bentuk usaha dana yang sejalan dengan Undang-undang No 12 tahun 2010 tentang Gerakan Pramuka dimaksud. Sponsorship sering diartikan sebagai dukungan dana oleh sebuah perusahaan atau lembaga  kepada suatu organisasi, orang, atau aktivitas yang dipertukarkan dengan publisitas merek dan merupakan suatu upaya kerjasama  untuk membangun citra dan memperluas pasar (konsumen). 


                          Potensi Kegiatan Pramuka sebagai Media Sponsorship

                          Dalam menjalin kerjasama sponsorship para penyelenggara kegiatan kepramukaan hendaknya jangan hanya melihat kegiatan sponsorship semata-mata sebagai aktivitas penggalangan dana untuk mendukung acara kegiatan yang dibuat. Cara seperti ini menunjukan kesalahan cara pandang sehingga kerjasama sponsorship tidak bisa berumur panjang, penuh masalah dan tidak memberikan keuntungan siginifikan  kepada mitra sponsor.  Bisa jadi dengan kerjasama seperti ini penyelenggara kegiatan akan tetap berhasil mendapatkan sponsor, tapi akan gagal mempertahankan hubungan kerjasama jangka panjang, berkelanjutan, saling menguntungkan dan menjalin hubungan kemitraan yang berkualitas. Ketatnya persaingan pemasaran produk dan jasa telah mengubah kegiatan sponsorship secara drastis. Sponsorshipnya tidak sekedar upaya "menyumbang dana" tetapi harus dapat dijadikan sebagai media mengembangkan kegiatan pemasaran untuk membangun citra dan memperluas konsumen sebuah produk atau jasa.   

                          Secara prinsipil dapat dicontohkan jika sebuah produk mensponsori "Jambore Nasional Pramuka" pada dasarnya produk tersebut tidak sedang ingin  diasosiasikan sebagai pendukung  "Jambore Nasional Pramuka" semata, namun produk tersebut justru  ingin membangun dan memperkuat hubungan personal, menjalin kedekatan emosional dan meningkatkan pemahaman para peserta, panitia, dan seluruh personal yang terkait dalam kegiatan "Jambore Nasional Pramuka" dimaksud.   Oleh sebab karakter sponsorship yang semacam itu maka pemilihan sponsor dalam kegiatan kepramukaan harus dilakukan secara selektif.

                          Kegiatan kepramukaan pada dasarnya memiliki potensi sponsorship yang besar. Hal itu karena kegiatan kepramukaan dapat dijadikan sebagai media meningkatkan citra, nilai jual, hubungan saling pengertian  dan dukungan keberlanjutan sebuah merek produk atau jasa. Besarnya jumlah dan jenis peserta didik, ragam dan uniknya kegiatan, tujuan kegiatan yang strategis dan mulia, waktu dan lokasi kegiatan yang menarik, perhatian khalayak yang tinggi merupakan potensi kegiatan kepramukaan yang memiliki nilai jual dihadapan para sponsor. 

                          Jenis Kerjasama Sponsorship

                          Sponsor Komersial

                          Sponsor komersial merupakan kerjasama Gerakan Pramuka atau panitia penyelenggara kegiatan kepramukaan dengan perusahaan tertentu yang perusahaan tersebut diberi kompensasi/ kewenangan untuk melaksanakan kegiatan  promosi serta melaksanakan program komunikasi pemasaran terpadu dalam sebuah  kegiatan kepramukaan yang disponsorinya. Program-program kegiatan komunikasi pemasaran terpadu ini harus mampu memberi nilai tambah pengetahuan, sikap dan ketrampilan para peserta didik Gerakan Pramuka yang mengikuti kegiatan dimaksud.

                          Sponsor CSR (Corporate Sosial Responsibility)

                          Termasuk jenis sponsor non komersial, yaitu kerjasama Gerakan Pramuka atau panitia penyelenggara kegiatan kepramukaan dengan perusahaan tertentu yang memiliki program CSR baik berupa bantuak program kegiatan, program dana dukungan kegiatan, program bantuan sarana prasarana maupun jenis program CSR lainnya. Tanggung jawab Sosial Perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR) merupakan sebuah konsep bahwa organisasi, khususnya (namun bukan hanya) perusahaan harus  memiliki berbagai bentuk tanggung jawab terhadap seluruh pemangku kepentingannya, yang di antaranya adalah konsumen, karyawan, pemegang saham, komunitas, masyarakat  dan lingkungan dalam segala aspek operasional perusahaan yang mencakup aspek ekonomi, sosial, pendidikan dan lingkungan.

                          Sponsor Non Komersial

                          Sponsor Non Komersoal merupakan sumbangan dari berbagai lembaga profit (perusahaan) maupun non profit (yayasan, LSM, pemerintah, organisasi amal, dll) kepada Gerakan Pramuka tanpa meminta imbalan apapun. Jenis sponsor ini bisa berupa program kegiatan, sarana dan prasarana kegiatan, sarana dan prasarana gugusdepan, dsb.

                          Sponsor Program

                          Sponsor Non Komersoal merupakan sumbangan program kegiatan yang sesuai atau dibutuhkan untuk memperkaya dan memvariasikan kegiatan kepramukaan yang diberikan berbagai lembaga profit (perusahaan) maupun non profit (yayasan, LSM, pemerintah, organisasi amal, dll) kepada Gerakan Pramuka tanpa meminta imbalan apapun. Jenis sponsor ini  seperti kegiatan, wisata sejarah, bakti lingkungan, program pendidikan ketrampilan, program bela negara, program pendidikan kewirausahaan, program pendidikan desain grafis, program kesehatan lingkungan, program peningkatan hobis, dll.

                          Terimakasih, ikuti tulisan berikutnya. Salam Pramuka.




                          Lihat entry/topik terkait :


                          Penulis :
                          Anis Ilahi Wh  (Ketua DKD Kwarda DIY  1987 - 1991) diramu dari berbagai sumber.






                          Nov 11, 2015

                          Hiking : Jelajah Kota (Urban Wide games)



                          Pengantar
                          • Jelajah Kota/Urban Widegames, adalah sebuah model widegames atau permainan besar yang dilaksanakan dengan mengggunakan "lingkungan kota" sebagai arena permainan,  dan "kehidupan kota" sebagai materi dan media permainan.
                          • Jelajah Kota/Urban Wide games dapat berisi 1 tema dalam 1 kegiatan atau beberapa tema yang dikemas dalam 1 kegiatan atau dikemas dalam bentuk "variety games" yang menarik, menantang dan mengandung pendidikan.
                          • Jelajah Kota/Urban Wide games juga bisa memadukan antara kegiatan bakti (lingkungan dan sosial), kegiatan rekreasi (berkunjung ke tempat2 rekreasi) dan kegiatan pendidikan (sejarah kota, problem kota, penduduk kota, kehidupan kota, dll).
                          Peserta
                          • Pramuka Penggalang
                          • Pramuka Penegak
                          • Pramuka Pandega
                          Tujuan
                          • Meningkatkan pemahaman pemahaman para anggota Pramuka terhadap situasi, kondisi, dan potensi lingkungan sbuah kota.
                          • Meningkatkan kecintaan para anggota Pramuka terhadap lingkungan kota
                          • Meningkatkan partisipasi para anggota Pramuka dalam membangun, menjaga dan merawat lingkungan sbeuah kota.
                          • Memupuk ketrampilan para anggota Pramuka  hidup di  lingkungan kota dengan penuh tanggungjawab, kreatif, produktif dan mandiri.
                          • Membangun sikap toleransi para anggota Pramuka dalam kehidupan kota sangat yang majememuk (plural)
                          Contoh Tema Jelajah Kota
                          • Perjalanan Jurnalistik dan Advokasi 
                          • Lost in my city  (mencari dan menemukan tempat-tempat unik di kota)
                          • Perjalanan bakti lingkungan
                          • Perjalanan budaya dan  sejarah kota
                          • Perjalanan bakti kemanusiaan di kota (kunjungan ke panti asuhan, panti jompo, kawasan kumuh/miskin kota, dll)
                          • Satu perjalanan dengan tema kombinasi dari seluruh materi di atas.
                          Catatan :
                          Agar menarik maka tema jelajah kota yang diplih dikemas ulang menjadi nama kegiatan dengan rumusan yang menarik, misalnya : my city my adventure, lost in the city, jelajah budaya, dll.

                          Contoh Skenario Kegiatan Jelajah Kota : My City My Passion  

                          Out put dan out comes Skenario Kegiatan Jelajah Kota My City My Passion
                          • Out put kegiatan ini di bidang soft skills adalah meningkatnya pengetahuan, sikap dan ketrampilan peserta didik di bidang : membangun rasa kerjasama dan kepemimpinan kelompok, kreativitas dan sikap bertanggungjawab dalam bermedia sosial, bangga dan ikut serta mempromosikan keuanggulan-keunggulan kotanya, empati dan kasih sayang sesama warga kota yang tidak beruntung, serta berfikir inovatif untuk memajukan kota. Sedangkan Out put di bidang live skill meningkatkan kemampuan dalam memanfaatkan dan berpartisipasi di media sosial dengan isi (tulisan, foto, video) yang sehat, inspiratif dan bertanggungjawab.
                          • Out comes kegiatan ini adalah menjadi warga kota yang disiplin, bertanggungjawab, beretika, kreatif, produktif dan inovatif sehingga mampu menjadi warga kota yang mandiri dan berbudaya secara sosial dan ekonomi.
                          Prasyarat Skenario Skenario Jelajah Kota "My City My Passion"
                          • Untuk dapat ikut serta secara aktif dan menyenangkan dalam "urban widegames" para peserta didik harus sudah memperoleh latihan tentang "media sosial" pada saat latihan rutin mingguan secara memadai baik aspek konten/isi maupun platform. Pelatihan aspek konten seperti : memahami teknik penulisan jurnalistik, penulisan feature, penulisan puisi dan cerpen, fotografi, videografi, olah foto, animasi sederhana dan gambar sketsa (panorama kalau dalam tradisional scouting).
                          • Melalui latihan ruting mingguan peserta juga sudah memahami sifat dan karakter semua platfom/bentuk media sosial serta cara berpartisipasi (log in, log out, upload, download), memahami dampak isi media sosial (regulasi, psikologis, sosiologis, politis, dll), kelebihan dan keunggulan media sosial sebagai media promosi, media edukasi, media advokasi dan media aktualisasi diri baik itu dengan platform/bentuk facebook, tweeter, instagram, maupun youtube.
                          • Dalam permainan ini juga ditambahkan kemampuan membaca peta digital (google maps) dan mampu membaca data-data GPS.
                          Jarak Tempuh
                          • Tidak ditentukan. Yang dipentingkan adalah variasi lokasi pos-pos pemberhentian yang memungkinkan para peserta melakukan program-program kegiatan sesuai yang direncanakan.
                          • Waktu tempuh pelaksanaan kegiatan harus diperhitungkan, yaitu akan lebih baik jika  kegiatan ini selesai dalam waktu 1 hari.
                          Peralatan dan Perlengkapan
                          • Peralatan Panitia : Ruangan "Comand Center" atau ruang kontrol kegiatan dengan 1 atau beberapa perangkat komputer yang terhubung dengan internet. Berfungsi untuk mengontrol, mengarahkan, menggerakan dan memberi informasi dan perintah kepada para peserta widegames. Peralatan Peserta : laptop, smartphone atau tabs yang dilengkapi dengan sofware tertentu (medsos, google maps, editing video, dll) sesuai tuntutan permainan.
                          • Perlengkapan Panitia : 1 akun group facebook, 1 akun twiteer list (group twiter), 1 hastag twiteer yang menarik dan 1 akun youtube. Perlengkapan Peserta : 1 regu/sangga harus memiliki l 3 akun facebook yang tergabung dalam group faceebook yang disiapkan panitia, 1 regu/sangga memiliki maksimal 3 akun twiter yang tergabung dalam twiteer list panitia, dan setiap regu/sangga memiliki pasword untuk masuk dalam akun youtube yang dimiliki panitia.
                          Pelaksanaan

                          Titik Pemberangkatan
                          • Di titik pemberangkatan Kakak Pembina menjelaskan bahwa target utama kegiatan adalah : melalui twiterland "menginspirasi warga kota untuk bangga dan peduli pada kotanya" dengan hastag ‪#‎guebanggajakarta‬. Semua peserta dan panitia harus berupaya keras agar ‪#‎hastag‬tersebut itu bisa menjadi trending topik. Caranya dengan aktif mentweet hal-hal menarik selama widegame dan menginvite teman, keluarga, pejabat, publicfigure dll untuk ikut berpartisipasi (mentweet dan retweet). Keberhasilan sebuah hastag yang positip menjadi trending topik akan membangun kebanggaan peserta didik karena sudah ikut serta mempromosikan sikap peduli pada kotanya.
                          Menuju Pos 1
                          • Perjalanan dari 1 pos ke pos berikutnya, dilaksanaan dengan memberi perintah berdasar ordinat GPS. Misalnya dari Pos Pertama di Gudep Jaksel 04 yang berpangkalan di MAN 4 Jakarta, adik-adik dipersilakan menuju titik ordinat -6.17540016 106.82706955. Adik-adik kemudian membuka google map dan memasukan titik ordinat itu di kolom pencarian maka akan ketemu lokasinya yaitu Tugu Monas di Jakarta Pusat. Adik-adik merancang perjalanan menuju Monas apakah dengan menggunakan busway, metromini, kombinasi angkot dan kereta commuterline, dsb. Pilihan jenis transportasi dan rute ditetapkan oleh peserta didik berdasar durasi perjalanan yang ditetapkan. Kegiatan ini akan melatih daya analisis dan model pemecahan masalah dengan faktor pertimbangan lebih dari satu.
                          • Sesampai di Pos 1 peserta didik melaporkan ke "command center" bahwa telah sampai tujuan dan siap menerima tugas melalaui WhatsAps. Comand Center memberi tugas maisalnya setiap regu/sangga diminta membuat liputan jurnalistik "human interest" dengan obyek disekitar monas, ditulis tidak lebih dari 200 kata dan disertai foto pendukung di posting di Group FB yang telah disediakan. Obyek liputan juga dikemas dengan kalimat pendek yang inspiratif, menarik dan motifatif dan diposting di list dan hastag twiteer yang telah disediakan.
                          Menuju Pos Pos Berikutnya.
                          • Perintah menuju pos berikutnya tetap diberikan melalui ordinat GPS dan Google map. Isi kegiatan di pos-pos berikutnya bisa bervariasi. Misalnya di Pos 2 adalah JPO (Jembatan Penyeberangan Orang) yang kotor dan tidak rapi. Di Pos ini peserta didik diperintahkan melakukan kerjabakti dan hasil kerjanya dilaporkan baik dengan tulisan maupun foto melalui FB dan Twiter.
                          • Pos lain misalnya Taman Pahlawan, peserta didik diminta mengunjungi salah satu makam pahlawan, memfotonya dan menuliskan sejarah dan riwayat perjuangannya dengan memanfaatkan sumber-sumber di google. Bisa juga diminta menulis puisi, prosa liris bahkan jika mungkin menulis sebuah cerita pendek di posting di FB dan dibuat kalimat pendek untuk Twiteer.
                          • Obyek-obyek kota lain bisa menjaid lokasi kegiatan seperti taman budaya, kota tua, panti jompo, pusat rekreasi, pusat industri kreatif, rumah tokoh bangsa, dsb. Kehadiran peserta didik dilokasi itu dilaporkan melalui media sosial dengan beragam style tulisan. Kehadiran itu bauk hanya berupa kunjungan, kerja sosial, ziarah, wisata budaya, dsb. Berbagi berita positif melalui media sosial yang direspon oleh orang lain dengan psotip pula akan membangun kebanggaan dan sikap positip peserta didik didalam memandang kota dan dunianya
                          Pos Audio Visual
                          • Di pilih sebuah pos yang memungkinkan anak-anak untuk membuat sebuah karya video dengan format sederhana namun inspiratif dan komunikatif. Bisa diambil dengan kamera smartphone, kamera tab, kamera laptop, bahkan juga bisa dengan handycam atau DSLR. Anak-anak diminta "mengupload" hasil karyanya itu kedalam akun youtube yang telah ditetapkan. Karya-karya video youtube (webseries) pada dasarnya bisa dikemas dengan pendekatan sinematografi sederhana yang pasti secara teknis akan dapat dikuasai anak-anak dengan memperoleh pelatihan sederhana tentang proses produksi audio visual.
                          Penghargaan
                          • Kakak Pembina/Panitia dapat mengaitkan kegiatan ini untuk memperoleh TKU dan juga TKK sesuai bidangnya.
                          • Kakak Pembina/Panitia juga dapat mengeluarkan "badge" khusus yang didesain secara menarik, komunikatif dan artistik yang dapat ditempel di baju/koas lapangan peserta didik.
                          • Kakak Pembina/Panitia juga dapat menyediakan beragam hadiah lain yang menarik baik secara kelompok maupun indivisu.
                          Evaluasi
                          • Lakukan evaluasi terhadap pelaksanaan kegiatan ini (jarak, waktu, proses penelitian, hasil, sarana prasarana, penentuan obyek, dll) untuk bahan perbaikan kegiatan serupa di masa datang.
                          • Libatkan peserta didik dalam kegiatan eveluasi.
                          Penutup
                          • Urban Widegames ini adalah perpaduan antara kemampuan menulis, mengambil gambar (foto dan audio) dan memanfaatkan media sosial secara positip. Kota dengan segenap sudutnya yang beragam bisa menjadi arena widegames yang tepat untuk mengembangkan kemampuan analitis, urban survival, kepedulian sosial, human interest, traveling, pemahaman nilai-nilai budaya dan masyarakat multikultural, dsb. Dengan itu semua maka kegiatan kepramukaan akan memperoleh relevansi, nilai guna dan nilai "jual" (kemanarikan) yang sangat luar biasa bagi anak dan remaja kota. Tentu skenario ini hanya sebuah contoh. Ditangan Kakak-kakak Pembina yang super, pasti akan lahir kegiatan "urban scouting" yang super pula. Salam. Bersambung (Anis Ilahi Wh).
                          Salam Pramuka. Selamat Mengembara.


                          Lihat entry/topik terkait :


                          Sumber :
                          Ditulis oleh Anis Ilahi Wahdati  (Ketua DKD Kwarda DIY masa bakti 1987 - 1991)

                          Nov 9, 2015

                          Sistim Administrasi Kwartir Gerakan Pramuka : Tulisan yang Bersifat Mengatur dalam bentuk "Juknis, SPK &Surat Tugas"




                          I. PENGERTIAN DAN JENIS

                          Tulisan dinas yang bersifat mengatur adalah naskah dinas yang berisi informasi mengenai apa dan bagaimana melakukan suatu kegiatan. Naskah dinas dimaksud berupa produk hukum yang bersifat pengaturan dan penetapan, naskah yang bersifat bimbingan, dan naskah yang bersifat perintah melaksanakan tugas.
                          1. Keputusan & Surat Keputusan
                          2. Petunjuk Penyelenggaraan. & Petunjuk Pelaksanaan (Jukran & Juklak)
                          3. Petunjuk Teknis, Surat Perintah Kerja & Surat Tugas.
                          4. Kesepakatan Bersama.
                          5. Nota Kesepahaman/Memorandum of Understanding (MoU)
                          6. Perjanjian Kerjasama.

                          II. PETUNJUK TEKNIS (JUKNIS)

                          a. Pengertian.
                          • Petunjuk Teknis disingkat Juknis adalah tulisan dinas pengaturan yang memuat  hal-hal yang berkaitan dengan teknis kegiatan, tidak menyangkut wewenang dan  prosedur.
                          • Pengesahan juknis dilampirkan dalam surat keputusan (SK).
                          b. Wewenang penetapan dan penandatanganan.
                          • Pejabat yang berwenang menetapkan dan menandatangani juknis adalah ketua kwartir.
                          c. Wewenang pembuatan/pengolahan:
                          •  Juknis serendah-rendahnya dibuat/dikeluarkan oleh kwartir ranting;
                          •  Penomoran juknis diatur sesuai dengan penomoran SK;
                          •  Distribusi juknis sesuai dengan kwartir yang menerbitkan SK tersebut
                          •  Bentuk juknis mengacu pada bentuk jukran; dan
                          •  Pembuatan/pengolahan juknis merujuk pada juknis kwartir di atasnya.
                          d. Susunan.

                          1) Kepala.
                          •  Lampiran, nomor dan tanggal keputusan juknis dicantumkan di sebelah kanan  atas.
                          • Tulisan “PETUNJUK TEKNIS” ditulis dengan huruf kapital dicantumkan di tengah  atas.
                          • Kata “TENTANG” dicantumkan di bawah tulisan “PETUNJUK TEKNIS” ditulis  dengan huruf kapital;
                          • Rumusan “JUDUL” PETUNJUK TEKNIS” ditulis dengan huruf kapital simetris di  bawah tulisan “TENTANG”.
                          2) Isi.
                          • “Pendahuluan” berisi latar belakang/dasar pemikiran, maksud, tujuan, ruang  lingkup/tata urut, dan pengertian.
                          •  Materi juknis.
                          • Penutup terdiri atas hal yang harus diperhatikan, penjabaran lebih lanjut, dan  alamat pembuat juknis yang diajukan kepada para pembaca/pengguna atau mereka  yang akan menyampaikan saran penyempurnaan.
                          3) Penutup
                          • Nama jabatan ketua kwartir yang menandatangani ditulis dengan huruf awal kapital,  diakhiri dengan tanda baca koma.
                          • Tanda tangan.
                          • Nama lengkap ditulis dengan huruf awal kapital.
                          • Stempel/cap kwartir.
                          e. Distribusi: 
                          menggunakan daftar distribusi yang berlaku.

                          f. Bentuk
                          •  Bentuk Juknis  pada umumnya dirumuskan dalam beberapa Bab seperti tercantum pada contoh jukran.

                          III. SURAT PERINTAH KERJA (SPK)

                          a. Pengertian
                          • Surat Perintah Kerja adalah tulisan dinas yang memerintahkan seseorang pimpinan dalam sebuah kwartir yang berbadan hukum atau perusahaan yang berbadan hukum (PT, CV, danKoperasi), untuk melaksanakan suatu pekerjaan, yang ditentukan waktunya.
                          b. Wewenang pembuatan dan penandatanganan.
                          • Surat Perintah Kerja dibuat dan ditandatangani oleh yang berwenang minimal oleh Sekretaris Jenderal atau Sekretaris Kwartir.
                          c. Susunan

                          1). Kepala 
                          •  Kop kwartir.
                          •  Kata surat perintah kerja.
                          •  Nomor surat berada di bawah tulisan surat perintah kerja.
                          •  Dari, kepada, perihal, dan jumlah biaya.
                          2) Isi
                          •  Isi memuat: spesifikasi, tempat penyerahan, waktu penyerahan, pembayaran.
                          3) Penutup
                          • Tempat dan tanggal surat tugas.
                          • Pejabat yang berwenang menandatangani, ditulis dengan huruf awal kapital,  diakhiri dengan tanda baca koma.
                          • Tanda tangan yang berwenang memerintahkan.
                          • Nama lengkap yang menandatangani.
                          4) Contoh Penulisan SPK (klik untuk memperbesar contoh gambar SPK)



                          IV. SURAT TUGAS

                          a. Pengertian
                          • Surat Tugas adalah tulisan dinas yang ditujukan kepada seorang atau beberapa orang pimpinan, andalan/badan pelaksana kwartir/anggota Gerakan Pramuka, memuat apa yang harus dilaksanakan.
                          b. Wewenang Pembuatan dan Penandatanganan.
                          • Surat Tugas dibuat dan ditandatangani oleh yang berwenang berdasarkan lingkup tugas, fungsi, dan tanggungjawab.
                          c. Susunan

                          1) Kepala
                          •  Kop kwartir.
                          •  Kata surat tugas ditulis dengan huruf kapital.
                          •  Nomor surat berada di bawah tulisan surat tugas.
                          2) Isi
                          • Konsiderans meliputi “pertimbangan” dan/atau “dasar”. Pertimbangan memuat  alasan/tujuan ditetapkan surat tugas, sedangkan dasar memuat ketentuan yang  dijadikan landasan ditetapkan surat tugas tersebut;
                          • Diktum dimulai dengan kata “menugaskan” ditulis dengan huruf kapital  dicantumkan pada posisi tengah, diikuti kata “kepada” di tepi kiri serta nama dan  jabatan karyawan yang mendapat tugas. Di bawah “kepada” ditulis “untuk” disertai  tugas-tugas yang harus dilaksanakan.
                          3) Penutup
                          • Tempat dan tanggal surat tugas.
                          • Pejabat yang berwenang menandatangani, ditulis dengan huruf awal kapital, diakhiri dengan tanda baca koma.
                          • Tanda tangan yang berwenang menugaskan.
                          • Nama lengkap yang menandatangani.
                          • Cap/stempel kwartir
                          4) Distribusi dan Tembusan.
                          • Surat Tugas disampaikan kepada yang mendapat tugas;
                          • Tembusan disampaikan kepada pimpinan kwartir terkait/pimpinan instansi terkait.
                          5) Hal yang perlu diperhatikan.
                          • Bagian konsiderans memuat “pertimbangan” atau “dasar”;
                          • Jika tugas merupakan tugas kolektif, daftar pegawai yang ditugaskan dimasukkan  dalam lampiran yang terdiri atas kolom nomor urut, nama, pangkat, jabatan dan  keterangan;
                          • Pada dasarnya surat tugas ditetapkan oleh atasan pegawai yang mendapat tugas,  kecuali apabila karena pertimbangan tertentu pejabat tersebut diberi wewenang  tertulis untuk menetapkan surat tugas untuk diri sendiri;
                          • Surat Tugas tidak berlaku lagi setelah tugas yang termuat selesai dilaksanakan.
                          6) Contoh Penulisan Surat Tugas  (klik untuk memperbesar gambar surat tugas)


                          Lihat entry/topik terkait :
                          Sumber :
                          LAMPIRAN II KEPUTUSAN KWARTIR NASIONAL GERAKAN RAMUKA NOMOR 162.A TAHUN 2011 TENTANG PETUNJUK PENYELENGGARAAN SISTEM ADMINISTRASI KWARTIR GERAKAN PRAMUKA 



                           
                          Situs ini merupakan layanan informasi pendidikan kepramukaan yang merujuk ke berbagai sumber yang bisa di pertanggung jawabkan.... Semoga Bermanfaat