IKLAN PRODUK HUBUNGI ADMIN

ENSIKLOPEDI PRAMUKA.....

Sejarah Panjang Gerakan Pramuka telah melahirkan banyak peristiwa,tokoh,benda tradisi istilah kependidikan istilah organisasi dan berbagai hal lainya yang pelu di dokumentasikan......

KA MABINAS GERAKAN PRAMUKA DARI MASA KE MASA

KA.Mabinas Gerakan Pramuka Dari Masa ke Masa:Diawali oleh Ir Soekarno, Soeharto,Baharudin Jusup Habibie,K.H.Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarno Putri dan Soesilo Bambang Yudhoyono...

PANJI GERAKAN PRAMUKA...

ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka Sri Sultan Hamengku Buwono IX menerima Panji Gerakan Pendidikan Kepanduan Pramuka dari Presiden Soekarno pada tanggal 14 Agustus 1961 di Istana Merdeka

APEL BESAR...

Para penggalang Putra dan Putri mengikuti Apel Besar Hari Pramuka yang Diselenggarakan tanggal 18 Agustus 1986 di Istana Merdeka Jakarta.......

KA KWARNAS GERAKAN PRAMUKA DARI MASA KE MASA.

Ka Kwarnas Gerakan Pramuka dari masa ke masa : Sri Sultan Hamangkubuwono IX 1961-1974, H.M. Sarbini 1974-1978(meninggal Th 1977), Mashudi 1974-1993, Himawan Sutanto 1993-1998, H.A. Rivai Harahap 1998-2003,Azrul Azwar 2003-2013,Adhyaksa Dault 2013-2018.

May 18, 2014

Permainan Pramuka Siaga : Polisi & Pengacau



NAMA PERMAINAN
Polisi - Pengacau

KATEGORI
Permainan Siaga

TUJUAN
Permainan ini bertujuan meningkatkan kemampuan penginderaan, ketelitiaan, kegembiraan dan kecerdikan.

SASARAN
Setelah mengikuti permainan ini peserta mampu :
  • Meningkatkan semangat kebersamaan dan keakabaran sesama teman
  • Meningkatkan kemampuan penginderaan dan keelitiaan
  • Meningkatkan kemampuan mengatasi persoalan dan hambatan
  • Meningkatkan kecerdikan keluar  situasi yang tidak nyaman

METODE
Permainan kelompok

PESERTA
Pramuka Siaga

WAKTU
45 menit
  • 05 menit Pengantar dan briefing.
  • 20 menit Proses
  • 20 menit pemaknaan dan debriefing
TEMPAT
Di luar - di dalam ruangan

PERALATAN
  • 8 kantong kertas merah, 8 kantong kertas biru (bisa warna lain)
  • Dasi/stangan leher
  • Tali (rafia, kain, dll)
  • Kapur untuk garis

PELAKSANAAN
  • 2 barung yang ditunjuk bermain, 2 barung lainnya untuk menonton. Pada putaran kedua barung yang menonton menjadi pemaian, barung yang  bermain menjadi penonton.
  • 2 barung yang bermain, diatur saling berhadapan dengan jarak minimal 5 meter.
  • 1 barung kepalanya ditutup dengan kantong merah sebagai polisi, 1 yang lainnya ditutup dengan kantong kertas biru sebagai pengacau.
  • 1 barung yang bertindak sebagai polisi mengikat lengan tangan kanannya dengan dasi, 1 barung yang bertindak sebagai pengacau mengikat lengan kanannya dengan tali.
  • Setelah semua siap, sebelum permainan dimulai Yanda dan Bunda memberi penjelasan singkat dan mengajak bersama untuk bertepuk tangan dan menyanyi terlebih dahulu biar semangat.
  • Permainan dimulai. Yanda/Bunda memberi aba-aba "Jalan", maka kedua barung itu merangkak ke jurusan lawan dengan diam-diam menuju lawannya. Barung penonton bisa memberikan dukungan untuk bersemangat.
  • Bila dua barung sudah bertemu maka tugasnya adalah meraba-raba lengan kanan. Jika teman dilepaskan. Jika lawan dirampas topinya.
  • Barung yang berhasil mengumpulkan/merampas topi lawan merupakan barung yang menang.
  • Durasi permainan antara 5 - 10 menit.  
  • Putaran pertama selesai dilanjutkan dengan putaran dua (bergantian dengan barung yang pada putaran pertama jadi penonton).  
DEBRIFING
  • Setelah permainan selesai Yanda/Bunda mengajak para siaga untuk mendiskusikan pengalamannya dengan fokus apa makna panca indera penglihatan, makna ketelitian, makna kejujuran, makna kalah menang, dst.
  • Yanda/Bunda bisa mengaikan permainan ini dengan materi lain misalnya penghayatan kode kehormatan pramuks siaga, pentingnya kebugaran dan kesehatan tubuh, dll
  •  Acara selesai.

Selamat berlatih. Salam Pramuka.


Lihat entry/topik terkait :


Sumber :
Buku "284 Permainan Siaga"  Kedai Pramuka Kwarnas- Jakarta, 1990 
Share:

Kepemimpinan : Nilai-nilai Tradisional Kepemimpinan Msyarakat Bugis



Etika Kepemimpinan Masyarakat Bugis

Terdapat 2 era/periode yang melahirkan etika  kepemimpinan suku bugis, yaitu periode "galigo"  dan periode "lontara". Periode Galigo  raja/pemimpin  dianggap sebagai wakil dewa di langit, sehingga memiliki banyak kelebihdan dan  juga merupakan sumber hukum. Periode "Lontara" merupakan babakan baru dalam memandang pemimpin.

Pada periode Lontara, Etika kepemimpinan masyarakat  Bugis amat menjunjung tinggi kedudukan manusia sebagai ’tau’. Pembinaan watak manusia dalam membangun Panggadĕrĕng (tata aturan dan hukum) mendapat tempat yang amat penting. Manusia menjadi pusat penentu atas kehidupan kebudayaannya. Manusia menempati tempat tertinggi dalam menentukan nasibnya.

Perideo Lontara

Menurut etika kepemimpinan Bugis pada periode Lontara, syarat seorang yang menjadi pemimpin (raja) bagi adalah sebagai berikut :
  1. Jujur terhadap Dewata Seuwae dan sesamanya manusia.
  2. Takut kepada Dewata Seuwae dan menghormati rakyatnya dan orang asing serta tidak membeda-bedakan rakyatnya.
  3. Mampu memperjuangkan kebaikan negerinya agar berkembang biak rakyatnya, dan mampu menjamin tidak terjadinya perselisihan antara pejabat kerajaan dan rakyat.
  4. Mampu menjamin kesejahteraan rakyatnya.
  5. Berani dan tegas, tidak gentar hatinya mendapat berita buruk (kritikan) dan berita baik (tidak mudah terbuai oleh sanjungan).
  6. Mampu mempersatukan rakyatnya beserta para pejabat kerajaan.
  7. Berwibawa terhadap para pejabat dan pembantu-pembantunya.
  8. Jujur dalam segala keputusannya. (Abidin, 1983: 163)
Pada bagian lain dalam falsafah sulapa’ ĕppa, dikemukakan oleh seorang raja yang bernama Arung Matoa Matinrowa Rikannana (memerintah pada akhir abad XVI atau permulaan abad XVII) bahwa individu yang cocok menjadi pemimpin haruslah memiliki empat sifat, karena hanya pemimpin yang memiliki sifat inilah yang akan dapat memperbaiki negeri. Keempat sifat tersebut yaitu :
  1. Jujur, yaitu jika bersalah atau dipersalahkan, dia meminta maaf.
  2. Berpengetahuan, yaitu mampu melihat kemungkinan akibat yang akan terjadi dari suatu kebijakan dan menjadikan kejadian yang telah lampau sebagai soko guru yang baik.
  3. Memiliki keberanian moral, yaitu tidak terkejut apabila mendengar berita buruk atau baik, dan mampu menyatakan “ya” atau “tidak”.
  4. Pemurah, yaitu memberikan minuman siang dan malam. Artinya, mampu menciptakan kemakmuran dan kesejahteraan rakyanya. Pemimpin demikian disebut “Mattuppu batu” (pemimpin yang mampu memakmurkan rakyatnya). Hanya apabila tidak tertidur matanya, siang dan malam memikirkan rakyatnya, barulah ia disebut pemimpin. (Abidin, 1969: 25)

Dalam etika kepemimpinan periode "Lontara"  juga  dipesankan pula bahwa untuk menjadi pemimpin yang baik harus mampu mempelajari sifat negatif dan positif yaitu yang dilambangkan dalam unsur api, air, angin, dan tanah.
  1. Api adalah besar tindakannya, tidak memikirkan akibat perbuatannya, tidak mau mengalah, hanya dirinyalah sendiri yang dianggap benar, tetapi memiliki sifat berani. 
  2. Air memiliki kegigihan tetapi tidak jujur. 
  3. Angin, selalu berlaku kasar dan tidak memiliki ketulusan atau kejujuran. 
  4. Tanah,  memiliki kejujuran, pemurah dan berpengetahuan. 
Dari keempat sifat tersebut, singkatnya  seorang pemimpin dalam era "Lontara"  harus memiliki sifat jujur, cendikia, berani, mengayomi, dan terbuka.

Kemaslahatan dan Kerusakan Negeri
 
Terciptanya kemaslahatan negeri merupakan pusat  perhatian dari etika kepemimpinan periode "Lontara". Telah lama diperingatan bahwa rusaknya suatu negeri karena adanya sifat buruk yang dimiliki seorang pemimpin, yang berupa : tidak mau mendengar nasihat, para cendekiawan tidak berfungsi lagi sebagai cerdik pandai, para pejabat dan hakim ’makan sogok’, pemimpin tidak dapat mengendalikan keadaan negeri dan absennya kepedulian para pemimpin terhadap kebutuhan rakyat.

Secara ringkas ada lima sebab hancurnya sebuah negeru sebagaimana ditegaskan dalam "I Mangada’cina Daeng Sitaba Karaeng Pattingalloang"  sebagai berikut :

  1. Kalau raja yang memerintah tidak mau diperingati.
  2. Kalau tidak ada cendekiawan dalam suatu negara besar.
  3. Kalau para hakim dan para pejabat kerajaan makan sogok.
  4. Kalau terlampau banyak malapetaka besar dalam suatu negeri.
  5. Kalau raja tidak menyayangi rakyatnya.” (Abidin, 1983: 166)
Atas dasar hal di atas untuk menghindari kerusakan negeri (organisasi) maka dalam etika kepemimpinan masyarakat Bugis, pemimpin yang baik adalah pemimpin yang memiliki empat  sifat yang tak terpisahkan, yaitu:

Maccai na malĕmpu’
(Cendekia lagi jujur)

Waraniwi na magĕttĕng
(Berani lagi Teguh dalam Pendirian)


Kewajiban Pemimpin

Sebuah kisah menununjukan bagaimana kewajiban pemimpin dalam hubungannya dengan orang yang dipimpinnya. Ketika itu "La Palewo Topalippu" diangkat menjadi "Arung Matoa Wajo (Raja)" terjadi dialog antara dia dan rakyat yang dipimpinnya. Dalam dialog itu, Arung Matoa menyatakan kewajibannya dengan tegas sebagai berikut.

Engkau kuselimuti supaya tidak kedinginan
(Pemimpin menyayomi supaya rakyat terhindar dari bahaya dan berbagai kesulitan)

Engkau kujaga bagaikan mengusir burung pipit supaya tanaman padi tidak hampa
(Pemimpin menjaga jiwa rakyat dan harta benda)

Saya mengobat/memaafkan kesalahanmu
(Pemimpin mendengarkan semua keluh kesah rakyatnya)

Saya membela kebenaranmu
(Pemimpin, memperjuangkan hak rakyat)

(Sumber : Lontara Sukku’na Wajo)

Hubungan Pemimpin dengan Rakyat

Etika kepemimpinan Bugis sangat memperhatikan harmoni hubungan antara pemimpin dan rakyat. Persamaan hak dan kewajiban dimaknai sebagai nilai-nilai yang harus dijunjung bersama untuk mencapai kesejahteraan kehidupan, sebagaimana tergambar dalam petikan di bawah ini :

Janganlah engkau hai para Arung (raja/pemimpin)  beritikad jahat terhadap rakyatmu.
Akan padam api tungkumu (padam kemuliaanmu),

 dan kalian penduduk janganlah beritikad buruk terhadap rajamu,
 akan padam api di perapianmu (engkau akan ditimpa bencana).

 (Sumber : Lontara’ Sukkuna Wajo: 337) 11

Dalam Lontara’ Latoa ditegaskan bahwa apabila suatu ketika ada manusia, keluarga, kelompok sosial dalam masyarakat yang diperlakukan dengan tidak adil oleh raja, manusia itu dapat melakukan tindakan protes terhadap penguasa yang telah merugikannya. Kalau usaha masyarakat tidak berhasil, biasanya ditandai dengan panen padi yang gagal. Semua orang di negeri itu mulai dari penguasa atau raja sampai masyarakat biasa harus mengintrospeksi dirinya, karena di antara mereka pasti ada yang telah berbuat kesalahan.

Tersebut dalam sejarah bahwa pada waktu La Manussa Toakkarangĕng menjadi DatuSoppeng di Tanah Soppeng (Kabupaten Soppeng saat ini) terjadi kegagalan panen dan orang Soppeng hampir kelaparan karena kemarau panjang. Diselidikinya sebab bencana itu, tetapi tak ada juga pejabat kerajaan yang melakukan perbuatan sewenang-wenang. Setelah lama berpikir, diingatnya bahwa raja sendiri pernah memungut barang di sawah orang lain dan menyimpannya sendiri. Itulah sebab kemarau panjang itu, pikirnya. Lalu, raja mengadili dirinya sendiri, karena tidak ada orang yang berani melakukannya, serta menjatuhkan denda pada dirinya. Dia menyembelih kerbau kemudian dagingnya dibagikannya kepada orang banyak. Di hadapan orang banyak, dia menyatakan dirinya telah bersalah karena memungut barang orang lain (Abidin, 1983: 164).

Di Sidenreng Rappang, La Pagala Nene’ Mallomo pada abad XVI sebagai murid La Taddamparĕ yang baik, menjatuhkan pidana mati terhadap putranya sendiri, yang terbukti menggunakan luku orang lain tanpa seizin pemiliknya. Ketika ditanya, apa sebab memidana mati putranya, dan apakah ia menilai sama jiwa putranya dengan hanya sebuah luku, beliau menjawab: “Adĕ’ e tĕmmakiana’ tĕmmakiĕppo” (Abidin, 1983: 124). Artinya, “Hukum tidak mengenal anak dan tidak mengenal cucu”.

Adat menjamin hak dan protes rakyat dengan lima cara sebagai berikut.
  1. Mannganro ri adĕ’, memohon petisi atau mengajukan permohonan kepada raja untuk mengadakan suatu pertemuan tentang hal-hal yang mengganggu, seperti kemarau panjang karena dimungkinkan sebagai akibat kesalahan pemerintah.
  2. Mapputane’, menyampaikan keberatan atau protes atas perintah yang memberatkan rakyat dengan menghadap raja. Jika menyangkut kelompok, maka mereka diwakili oleh kelompok kaumnya untuk menghadap raja, tetapi jika perseorangan, orang yang bersangkutan langsung menghadap raja.
  3. Mallimpo-adĕ’, protes yang mendesak adat karena perbuatan sewenang-wenang raja, dan karena usaha mapputane’ gagal. Orang banyak, tetapi tanpa
  4. perlengkapan senjata, mengadakan pertemuan dengan para pejabat negara dan tidak meninggalkan tempat itu kecuali permasalahannya selesai.
  5. Mabbarata, protes keras rakyat atau kaum terhadap raja, karena secara prinsipil masyarakat merasa telah diperlakukan tidak sesuai dengan panggadĕrĕng hukum dan peraturan yang berlaku oleh raja, keluarga raja, atau pejabat kerajaan. Masyarakat atau kaum berkumpul di balai pertemuan (baruga) dan mendesak agar masalahnya segera ditangani. Kalau tidak, rakyat atau kaum bisa mengamuk yang bisa berakibat sangat fatal pada keadaan negara.
  6. Mallĕkkĕ’ dapurĕng, tindakan protes rakyat dengan berpindah ke negeri lain. Hal ini dilakukan karena rakyat telah bosan melihat kesewenang-wenangan raja di dalam negerinya dan protes lain tidak ampuh. Mereka berkata: “Kamilah yang memecat raja atau adat, karena kami sekarang melepaskan diri dari kekuasaannya”. (Mattulada, 1985: 417-419)

Selamat Berlatih. Salam Pramuka


Sumber :
  • Kak Hadikusumo (Ka Kwarda DIY 1983 - 1996) "Pemimpin Berkepemimpinan Dalam Keteladanan yang Nyata" - Buku Rujukan KPDK Kwarda DIY tahun 1988
  • http://www.tni.mil.id/pages-8-11-asas-kepemimpinan.html\
  • http://file.upi. edu/Direktori/FIP/JUR._PSIKOLOGI/195009011981032-RAHAYU_GININTASASI/kepemimpinan
  • id. wikipedia.org/wiki/Kepemimpinan
  • journal. uny.ac.id/index.php/jpka/article/download/1284/1068
  • http://shimchinmae. wordpress.com/2012/12/04/kepemimpinan-suku-bugis/
  • http://www. rajaalihaji.com/id/article.php?a=ZURIL3c%3D=

 Lihat entry/topik terkait :
  • Kepemimpinan : pengertian, teori dan fungsi
  • Kepemimpinan : syarat, sifat, azas & profile
  • Kepemimpinan : model kepemimpinan yang efektif
  • Kepemimpinan : assesment test kepemimpinan efektif
  • Kepemimpinan : model tim kepemimpinan
  • Kepemimpinan : model kepemimpinan prophetik  dan asketis
  • Kepemimpinan : nilai-nilai tradisional kepemimpinan masyarakat jawa
  • Kepemimpinan : nilai-nilai tradisional kepemimpinan masyarakat sunda
  • Kepemimpinan : nilai-nilai tradisional kepemimpinan masyarakat batak
  • Kepemimpinan : nilai-nilai tradisional kepemimpinan masyarakat melayu
  • Kepemimpinan : nilai-nilai kepemimpinan Gerakan Pramuka
  • Kepemimpinan : Latihan Pengembangan Kepemimpinan Pramuka Penegak Pandega
  • Kepemimpinan : Gladian Pemimpin Ambalan Penegak dan Racana Pandega
  • Kursus Pengelola Dewan Kerja Penegak Pandega
  • Dewan Kerja sebagai Lembaga Kader Kepemimpinan Gerakan Pramuka

Catatan : 
Melalui beragam metode dan suasana latihan kepramukaan yang menyenangkan nilai-nilai kepemimpinan masyarakat melayu dapat dijadikan materi latihan untuk "pembentukan watak & sikap kepemimpinan yang positip" kepada para peserta didik.
Share:

Kepemimpinan : Nilai-nilai Tradisional Kepemimpinan Masyarakat Melayu




Tajus Salatin (Mahkota Raja-raja)

Krisna Budiman, mahasiswa Jurusan Filsafat Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Indonesia (UI) dalam makalahny yang berjudul "Cermin Khasanah Melayu: Tinjauan Pemimpin Ideal dari Sudut Pandang Melayu" (dimuat di: http://www.rajaalihaji.com), menyatakan bahwa Taj al Salatin karangan Bukhari Al Jauhari  tahun 1630 merupakan  kitab mahakarya budaya-politik-peradaban Melayu. Kitab Taj al-Salatin memberi sumbangan penting bagi pembentukan tradisi dan kultur politik Melayu dengan memberi rincian tentang syarat-syarat menjadi raja/pemimpin (mencakup syarat yang bersifat jasmaniyah dan rohaniah).

Kitab ini bahkan juga digunakan oleh beberapa penguasa di pulau Jawa pada abad 17-18. Taj al-Salatin begitu berpengaruh hingga abad ke-19 ketika Munsyi Abdullah mencoba mengenal atau mengetahui watak Raffles dari air mukanya berdasarkan ilmu firasat di dalam buku tersebut. Dalam bukunya Kisah Pelayaran Abdullah ke Negeri Kelantan, Abdullah telah menasihatkan raja-raja di negeri itu supaya membaca Taj al-Salatin untuk mengetahui tanggung jawab sebagai raja.

Bukhari menggariskan ada 10 sifat raja, pemerintah atau pemimpin yang baik, sebagai berikut:
  1. Tahu membedakan baik dengan yang buruk.
  2. Berilmu.
  3. Mampu memilih menteri dan pembantunya dengan benar.
  4. Baik rupa dan budi pekertinya supaya dikasihi dan dihormati rakyatnya.
  5. Pemurah.
  6. Mengenang jasa orang atau tahu balas budi.
  7. Berani; jika berani maka pengikutnya juga akan berani.
  8. Cukup dalam makan tidur supaya tidak lalai.
  9. Mengurangi atau tidak berfoya-foya atau tidak “bermain” dengan perempuan.
  10. Laki-laki  ((Raja perempuan boleh dilantik jika tiada waris laki-laki untuk mengelakkan daripada berlaku huru-hara).

Etika Kepemimpinan Melayu

Krisna Budiman, dalam tulisan  yang sama menyatakan bahwa sumber etika kepemimpinan Melayu sangatlah banyak diantara  Taj-us Salatin, Salatus Salatin, Bustanul Salatin, Hikayat Hang Tuah, dan hikayat-hikayat lainnya yang juga terbukti memiliki kandungan nilai-nilai yang luhur. Sifat Pemimpin Ideal menurut  Etika Budaya Melayu, adalah :

1. Pemimpin adalah Mengurus Orang Banyak

Pemimpin adalah orang yang diberi kelebihan untuk mengurus kepentingan orang banyak. Arti raja atau penguasa dimaknai oleh bangsa Melayu lewat pepatah lama:

Yang didahulukan selangkah
Yang ditinggikan seranting
Yang dilebihkan serambut
Yang dimuliakan sekuku  

2. Pemimpin adalah orang yang banyak tahunya

Tahu duduk pada tempatnya
Tahu tegak pada layaknya
Tahu kata yang berpangkal
Tahu kata yang berpokok

Seorang pemimpin yang baik haruslah mempunyai banyak pengetahuan sebagai dasar bersikap, berfikir,  mengetahui  kondisi rakyat  dan berbagai pengetahuan lainnya. Dengan pengetahuan akan mempermudah menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang ada sekaligus mencegah munculnya permasalahan baru.

3. Pemimin adalah orang yang banyak tahannya

Tahan berhujan mau berpanas
Tahan bersusah berpenat lelah
Tahan berlenjin tak kering kain
Tahan berteruk sepepak teluk

Ketabahan dan kesabaran menjadi salah satu sifat dari pemimpin ideal untuk menjamin tetap terjaganya komitmen dari sang pemimpin. Pemimpin juga harus mampu bersikap tawakkal yaitu memiliki sikap pasrah  namun bukan berarti menyerah pada masalah. Kepasrahan dilakukan setelah melakukan usaha yang maksimal. Dengan kata lain  tawakkal merupakan  penyerahan hasil kepada Allah dari usaha yang dilakukan manusia.

Pada sisi lain seorang pemimpin harus tahan terhadap kritik-kritik tajam dan keluhan-keluhan yang akan diterima oleh banyak pihak. Ketahanan untuk menerima semua itu dan memikirnya secara mendalam merupakan ciri pemimpin ideal.

4. Pemimpin adalah orang yang banyak bijaknya

Bijak menyukat sama papat
Bijak mengukur sama panjang
Bijak menimbang sama berat
Bijak memberi kata putus

Kebijakan adalah sifat yang mutlak harus dimiliki oleh setiap pemimpin karena sifat bijak merupakan salah satu sifat utama seorang pemimpin. Kebijaksanaan sangat erat kaitannya dengan ketepatan dalam mengambil keputusan. Baik buruk kebijakan akan  bermuara pada baik atau buruknya pengambilan keputusan oleh seorang pemimpin. Tanpa kebijakan yang terencana dengan baik, pemimpin akan mudah sekali terjerumus dalam tindakan dan keputusan yang sewenang-wenang.

5. Pemimpin adalah orang yang  banyak cerdiknya

Cerdiknya mengurung dengan lidah
Cerdik mengikat dengan adat
Cerdik menyimak dengan syarak
Cerdik berunding sama sebanding
Cerdik mufakat sama setingkat
Cerdik mengalah tidak kalah
Cerdik berlapang dalam sempit
Cerdik berlayar dalam perahu bocor
Cerdik duduk tidak suntuk
Cerdik tegak tidak bersundak

Pemimpin harus memiliki kecerdikan, yang dimaknai sebagai  proses pengolahan pengetahuan yang dimiliki untuk mencapai keputusan yang paling tepat dalam menangani masalah. Seorang pemimpin, dipastikan akan berkutat dengan berbagai permasalahan yang kompleks. Maka dari itu, dibutuhkan sebuah kecerdikan untuk menghasilkan solusi yang tepat. Tanpa kecerdikan, seorang pemimpin akan rentan menghasilkan kebijakan yang tidak efekif dan kebijakan yang salah salah yang berdampak negatif secara luas bagi bangsa dan negara.

6. Pemimpin adalah orang yang banyak pandainya

Pandai membaca tanda alamat
Pandai mengunut mengikuti jejak
Pandai menyimpan tidak berbau
Pandai mengunci dengan budi

Pemimpin harus memiliki kepandaian agar mampu menganalisis secara baik terhadap masalah-masalah yang ada. Ciri orang pandai adalah mampu melakukan analisis masalah secera mendalam dan menyeluruh. Kemampuan Analisis adalah bagian terpenting dalam usaha penyelesaian masalah, oleh sebab itu sangat dibutuhkan oleh seorang pemimpin. Pepatah lama mengatakan: “Bagi yang pandai, mana yang kusut akan selesai; orang yang pandai pantang memandai-mandai”.

Kepandaian analisis akan  berperan besar dalam mengurai “benang kusut”. Tanpa kepandaian, benang kusut tersebut takkan pernah selesai untuk diurai, kalaupun dapat dilakukan akan memakan waktu yang lama sehingga tidak efisien.

7. Pemimpin adalah orang yang  banyak arifnya

Di dalam tinggi ia rendah
Di dalam rendah ia tinggi
Pada jauh ianya dekat
Pada yang dekat ianya jauh

Arif dan bijak mungkin adalah dua kata yang memiliki makna yang sangat dekat. Bahkan, ada sebagian masyarakat yang menyamakan dua kata tersebut. Namun, dalam konteks Melayu, dua kata tersebut memiliki pengertian yang berbeda. Arif lebih merujuk kepada kemampuan pembawaan diri dalam proses sosialisasi, sedangkan bijaksana lebih mengarah kepada pengolahan pengetahuan dengan sebaik-baiknya.

Seorang raja/pemimpin akan lebih dihormati apabila ia memiki kearifan dalam bertindak. Kearifan yang dimiliki pemimpin akan menambah rasa kepercayaan rakyat bahwa ia memang benar-benar figur yang cocok untuk memimpin.

8. Pemimpin adalah orag yang  mulia budinya

Berkuasa tidak memaksa
Berpengetahuan tidak membodohkan
Berpangkat tidak menghambat

Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang tidak menyalahgunakan kekuasaannya untuk melakukan perbuatan sewenang-wenang. Pemimpin adalah seseorang yang ditunjuk untuk melayani kepentingan masyarakat, bukan seseorang yang hanya diberi kekuasaan untuk memuaskan ambisi pribadinya.  Oleh karena itu, bagi bangsa Melayu, sifat sewenang-wenang dalam memerintah pantang dilakukan oleh seorang pemimpin.

9. Pemimpin adalah orang yang banyak relanya

Rela berkorban membela kawan
Rela dipapak membela yang hak
Rela mati membalas budi
Rela melangas karena tugas
Rela berbagi untung rugi
Rela beralah dalam menang
Rela berpenat menegakkan adat
Rela terkebat membela adat
Rela binasa membela bangsa

Pemimpin adalah seorang yang harus membela kepentingan rakyatnya. Ia harus rela untuk mengorbakan  banyak hal demi terpenuhinya kepentingan warga.  Syair di atas menunjukkan bahwa seorang pemimpin harus rela sengsara demi membela hak, ia harus rela membela kawan meski harus berkorban. Ia juga harus rela dalam kesulitan ketika rakyatnya kesulitan, mengusahakan kebahagiaan untuk rakyatnya saat ia bahagia.

Pemimpin harus memiliki jiwa patriotisme untuk bela negara.  Bahkan, seorang pemimpin harus rela mati demi membela bangsanya, serta rela berpenat dan terkebat dalam membela adatnya. Di samping itu seorang pemimpin memang idealnya mampu berfungsi  sebagai orang yang bersedia berkorban demi orang banyak.

10. Pemimpin adalah orang yang  banyak ikhlasnya

Ikhlas menolong tak harap sanjung
Ikhlas berbudi tak harap puji
Ikhlas berkorban tak harap imbalan
Ikhlas bekerja tak harap upah
Ikhlas memberi tak harap ganti
Ikhlas mengajar tak harap ganjar
Ikhlas memerintah tak harap sembah

Istilah rela memiliki pengertian yang berbeda dengan ikhlas. Bila rela adalah sebuah bentuk siap untuk berkorban, maka ikhlas lebih mengarah kepada pengelolaan niat. Hal ini sangat jelas disuarakan dalam pepatah lama: “Kalau pemimpin tidak ikhlas, banyaklah niat yang ‘kan terkandas”. Artinya, keikhlasan seorang pemimpin dalam bertindak akan sangat mempengaruhi output dari proses pelaksanaan niat tersebut. Apabila seorang pemimpin tidak ikhlas, maka niat-niat baik yang ada tentunya akan hilang.

11. Pemimpin adalah orang yang  banyak taatnya

Taat dan takwa kepada Allah
Taat kepada janji dan sumpah
Taat memegang petua amanah
Taat memegang suruh dan teguh
Taat kepada putusan musyawarah
Taat memelihara tuah dan meruah
Taat membela negeri dan rakyatnya

Ketaatan bukan hanya kewajiban yang dimiliki oleh rakyat terhadap pemimpinnya, melainkan juga dimiliki oleh seorang pemimpin itu sendiri. Etika kepemimpinan Melayu  menekankan pentingnya hubungan timbal balik yang baik antara pemimpin dan yang dipimpin. Rakyat wajib menaati pemimpin, begitu pula sebaliknya.

Raja harus menaati suara rakyat. Ia tak boleh mengabaikan aspirasi warganya, terlebih apabila suara itu adalah keputusan musyawarah. Ia harus taat pada kewajibannya untuk membela negara dan rakyatnya. Selain itu, yang paling penting juga adalah bahwa ia harus taat pada Allah, karena bagaimanapun Ia adalah perwakilan Allah di muka bumi.

12. Pemimpin adalah orang yang  mulia duduknya

Duduk mufakat menjunjung adat
Duduk bersama berlapang dada
Duduk berkawan tak tenggang rasa

Sikap dan sifat yang baik harus menjadi identitas seorang pemimpin. Perilaku sehari-hari sang pemimpin harus mampu mencerminkan kepribadian yang baik. Inilah yang dimaksud dengan syair di atas, bahwa seorang raja harus memiliki tingkah laku yang baik sehingga tidak kehilangan kewibawaannya. Ia harus bersama-sama rakyat untuk menjunjung adat tanpa adanya perbedaan kewajiban.

Kedudukannya sebagai pemimpin tak mengurangi tugas sedikit pun untuk menjunjung adatnya. Ia juga harus sering duduk bersama rakyatnya, dengan segala kebesaran hatinya mau menghilangkan kesombongan dan bersedia mendengarkan keluh kesah rakyatnya, sehingga akhirnya mampu bertenggang rasa. Kewibawaan akhirnya menjadi penilaian apakah ia seorang pemimpin yang baik atau buruk.

13. Pemimpin adalah orang yang banyak sadarnya

Memimpin sedar yang ia pimpin
Mengajar sedar yang ia ajar
Memerintah sedar yang ia perintah
Menyuruh sedar yang ia suruh

Seringkali seorang pemimpin kerap menggunakan kekuasaannya dengan sewenang-wenang, tidak hanya berupa perbuatan yang menjurus pada pelampiasan ambisi pribadi, melainkan juga kesalahan dalam mengambil keputusan yang akhirnya menyusahkan rakyatnya. Banyak pemimpin yang tak mampu membaca situasi dan tak mengerti keadaan yang pasti, akhirnya terjerumus dalam persoalan yang lebih parah. Maka dari itu, seorang pemimpin harus benar-benar sadar apa yang ia lakukan, sadar tentang alasan dalam melakukannya, dan yang paling penting adalah sadar akan akibatnya.

14. Pemimpin adalah orang yang banyak tidaknya

Merendah tidak membuang meruah
Meninggi tidak membuang budi
Sayang tidak akan membinasakan
Kasih tidak merusakkan
Baik tidak mencelakakan
Elok tidak membutakan
Buruk tidak memuakkan
Jauh tidak melupakan
Dekat tidak bersinggungan
Petua tidak menyesatkan
Amanah tidak mengelirukan

Hak, tentunya, selalu disandingkan dengan kewajiban. Begitu pula halnya dengan sifat kepemimpinan. Berbagai pantangan harus dihindari demi sempurnanya pelaksanaan suatu kewajiban. Seorang pemimpin haruslah selalu memegang teguh kebaikan dan menghindari keburukan yang dapat merugikan rakyatnya.

Pepatah lama mengatakan: “Sifat elok sama dipegang, sifat buruk sama dipantang. Elok dipegang, buruk dibuang.” Itu artinya seorang pemimpin haruslah hanya berpegang pada sifat-sifat yang baik saja dan harus membuang jauh-jauh sifat-sifat yang buruk. Raja sebagai “bayang-bayang” Tuhan di muka bumi haruslah mencerminkan sifat-sifat ketuhanan itu sendiri. Dalam konteks Melayu yang kental dengan nuansa Islam, Asmaul Husna harus menjadi pegangan dalam bertindak.

Selamat berlatih. Salam Pramuka


Sumber :
  • Kak Hadikusumo (Ka Kwarda DIY 1983 - 1996) "Pemimpin Berkepemimpinan Dalam Keteladanan yang Nyata" - Buku Rujukan KPDK Kwarda DIY tahun 1988
  • http://www.tni.mil.id/pages-8-11-asas-kepemimpinan.html\
  • http://file.upi. edu/Direktori/FIP/JUR._PSIKOLOGI/195009011981032-RAHAYU_GININTASASI/kepemimpinan
  • id. wikipedia.org/wiki/Kepemimpinan
  • journal. uny.ac.id/index.php/jpka/article/download/1284/1068
  • http://shimchinmae. wordpress.com/2012/12/04/kepemimpinan-suku-bugis/
  • http://www. rajaalihaji.com/id/article.php?a=ZURIL3c%3D=

 Lihat entry/topik terkait :
  • Kepemimpinan : pengertian, teori dan fungsi
  • Kepemimpinan : syarat, sifat, azas & profile
  • Kepemimpinan : model kepemimpinan yang efektif
  • Kepemimpinan : assesment test kepemimpinan efektif
  • Kepemimpinan : model tim kepemimpinan
  • Kepemimpinan : nilai-nilai tradisional kepemimpinan masyarakat jawa
  • Kepemimpinan : nilai-nilai tradisional kepemimpinan masyarakat bugis
  • Kepemimpinan : nilai-nilai tradisional kepemimpinan masyarakat sunda
  • Kepemimpinan : nilai-nilai tradisional kepemimpinan masyarakat batak
  • Kepemimpinan : model kepemimpinan prophetik  dan asketis
  • Kepemimpinan : nilai-nilai kepemimpinan Gerakan Pramuka
  • Kepemimpinan : Latihan Pengembangan Kepemimpinan Pramuka Penegak Pandega
  • Kepemimpinan : Gladian Pemimpin Ambalan Penegak dan Racana Pandega
  • Kursus Pengelola Dewan Kerja Penegak Pandega
  • Dewan Kerja sebagai Lembaga Kader Kepemimpinan Gerakan Pramuka

Catatan :
Melalui beragam metode dan suasana latihan kepramukaan yang menyenangkan nilai-nilai kepemimpinan masyarakat melayu dapat dijadikan materi latihan untuk "pembentukan watak & sikap kepemimpinan yang positip" kepada para peserta didik.
Share:

May 10, 2014

Ketrampilan Pramuka : Bermain Sulap "Menebak Halaman Favorit Majalah Kesukaan Penonton"




Pengantar

Agar dapat menghadirkan latihan pramuka yang rekreatif, inspiratif, motivatif dan edukatif seorang Pembina Pramuka perlu membekali diri dengan beragam ketrampilan tambahan seperti bercerita, berstand up komedi, melukis, bernyanyi, bermain tepuk tangan, bermain sulap, dsb. Ketrampilan-ketrampilan tersebut bisa dijadikan sebagai acara selingan latihan agar peserta didik dapat mempertahankan stamina dan minatnya  hingga latihan berakhir.

Bermain Sulap : Menebak Halaman Favorit Majalah Kesukaan Penonton
  1. Si pesulap menghadap meja yang didepannya terdapat setumpukan majalah bekas (minimal 10 buah majalah dan masing-masing majalah minimal 15 halaman).
  2. Si pesulap menyuruh seorang untuk maju dan mengambil sebuah majalah pada urutan keempat
  3. Setelah majalah ditangan si penonton dimaksud maka si pesulap mmeberikan kalkulator kemudian memberikan perintah piliha dan tekan angka sesukamu yang penting di bawah 100.
  4. Si pusulap memberi petintah selanjutnya kepada penonton misalnya kalikan 5. Pesulap bertanya berapa hasilnya, penonton akan menjawab 200 (berarti pilihan awal adalah angka 40)
  5. Selanjutnya si pesulap dengan cepat memberikan perintah-perintah operasi matematika (tambah, minus, bagi, kali, sama dengan, dan variasi lainnya). Misalnya, silakan angka itu bagi dua ditambah (100:2) +5 = 55, selanjutnya jumlahkan kedua angka itu 5+5 = 10, silakan kalikan lagi angka itu dengan 10 (10x10=100), silakan dkurangi separonya (100 - 50 = 50), silakan hasilnya ditambah 15 (50+15=65).
  6. Penonton tersebut terus melakukan perintah si pesulap dan memperhatikan hasilnya dikalkulator tanpa menjelaskan berapa hasil dari tiap perintah.
  7. Si pesulap kemudian memerintahkan kepada penonton "anda sudah tahu hasilnya kan ? dan anda tahu saya tidak tahu hasil angka yang ada dikalkulator anda"
  8. Si pesulap kemudian memerintahkan kepada penonton, bukalah majalah yang sudah anda pilih sesuai dengan angka terakhir dari hasil kalkulator yang anda di tangan anda simpanlah halaman yang anda pilih dalam hati. (Penonton pasti akan membuka halaman 5 karena hasilnya akhirnya adalah 65).
  9. Si pesulap meminta penonton tersebut menunjukan pilihan halamannya kepada penonton lain untuk sama-sama menyaksikan apa isi tulisan, gambar, iklan, dsb.
  10. Si pesulap kemudian melakukan gerakan bermeditasi, menggerak-gerakan tangannya secara dramatik, mengucapkan kata-kata mantra (bisa juga mantra yang lucu-lucu), setelah suasana terbangun kemudian si pusulap berbicara : "Berdasarkan hasil pembacaanterhadap pikiran Anda, saya melihat bahwa anda telah memilih yang isinya cerita tentang .... gambar tentang .... ada iklan produk .... warna iklannya adalah .... dan kata-kata dalam iklan adalah ....
  11. Apa yang diucapkan si pusulap sama persis dengan halaman yang dilihat oleh penonton dan kawan-kawannya. Maka penonton akan kagum, bersorak gembira dan si pusulap tersenyum puas karena keahliannya dikagumi orang.
Peralatan yang dibutuhkan
  • Meja
  • Majalah
  • Kalkulator (yang besar tombol angka dan monitornya)
  • Alat putar musik pengiring
Rahasia Permainan :
  • Trik sulap yang berkategori "magic tricks" ini mendasarkan pada penguasaan operasi matematika (+, -, x, :, =) untuk memainkan variasi angka. Semakin komplek peramainan operasi matematika dan variasi angka akan semakin menarik meskipun resiko kesalahannya akan makin tinggi (si pesulap haris hati-hati).
  • Rahasia permainan sulap di ata terlatak  pada dua kata kunci yaitu : pertama, "majalah nomor keempat dari atas dari setumpuk majalah yang ada" dan kedua angka "65" dari hasil peranan operasi matematika yang cukup rumit.
  • Dalam permainan ini Si pesulap memang mengarahkan agar penonton yang ditunjuk memilih majalah keempat dan kemudian pasti akan memilih halaman 5 karena mengacu pada hasi operasi matematika yang telah dimainkan.
  • Si pesulap tentu sudah menghafal benar isi halaman ke 5 dari majalah keempat tersebut, maka akan dengan mudah menjelaskan isinya secara detail. Penonton akan tersamar trik ini karena terpaku pada operasi matematika yang dilakukannya.
Variasi
  • Jika si pesulap yakin bisa menghafal halaman yang sama (misalnya halaman 5) untuk 5 majalah, maka dapat memerintahkan penonton untuk mengambil majalah mana saja dari 5 majalah yang disediakan. Ingat jumlah majalah tergantung kepada kekuatan daya ingat si pesulap.
  • Pada permainan di atas, untuk patokan Si Pesulap bertanya sekali dari hasil dari operasi matematika (lihat nomor 4). Hasil inilah yang selanjutnya diingat si pesulap dan dimainkan dengan operasi matematika yang canggih untuk menuju hasil akhir  65 (pada contoh di atas, sebenarnya hasilnya bisa berapa saja yang penting angka belakangnya  5 karena angka 5 lah yang akan jadi kunci permainan).
  • Si pesulap bisa juga tidak perlu menangkan hasil operasi matematika ditengah permainan sulap, tetapi harus  menggunakan angka nol ditengah permainan karena berapapun nilai atau angka akan menjadi nol jika dikalikan dengan nol. Misalnya silakan tekan angka sesukamu (misalnya 10), silakan kalikan 100, hasilnya dibadi 2, hasilya silakan ditambah 55 dan dikurangi 5, dua digit angka terakir jumlahkan silakan kalikan 0 (disini titik permainanya), tambahkan 10, kurangi 5,  kalikan 5 tambahkan 2, silakan ingat hasilnya akhirnya (pasti 27). Angka 27 inilah patokan untuk melihat halaman, bisa keduanya bisa angka depannya bisa angka akhirnya.

Prasyarat dan Resiko
  •  Semakin canggih daya ingat si pesulap akan makin canggih operasi matematika yang dimainkan sehingga akan menambah kekaguman penonton.
  • Ada kemungkinan penonton salah melakukan perintah sehingga hasilnya akhirnya salah. Jika ini terjadi maka si pesulap yang baik harus bisa mendapatkan jalan keluar. Misalnya : Permainan pertama ini saya gagal menebak halaman favorit anda karena ternyata "ada gangguan frekeunsi" (dibikin yang lucu), Tapi yang kedua pasti akan benar. Kemudian dimainkan lebih pelan dengan operasi matematika yang sederhana.
  • Terdapat kemungkinan penonton anda sudah tahu tentang trik permainan ini maka anda bisa meminta partisipasinya dengan postip misalnya dengan mengatakan "satu guru satu ilmu jangan ganggu" atau "saya membutuhkan kejujuran anda agar permainan ini berhasil", dst.
  • Semakin anda banyak berlatih maka akan semakin menarik dan memukau penonton.

Selamat Mencoba. Salam Pramuka.


Lihat entry/topik terkait :
  •  Sulap Sebagai Media Pendidikan Kepramukaan Yang Menghibur
Sumber :

  • dari berbagai sumber  ('aiw)




Share:

DAPATKAN APLIKASI ENSIKOPEDIA PRAMUKA DI GOOGLE PLAY FREE

DAPATKAN APLIKASI ENSIKOPEDIA PRAMUKA DI GOOGLE PLAY FREE

FACEBOOK FAN

PENGGUNAAN METODE DISCOVERY UNTUK MENANAMKAN NILAI-NILAI KODE KEHORMATAN PRAMUKA

PENGGUNAAN METODE DISCOVERY UNTUK MENANAMKAN NILAI-NILAI KODE KEHORMATAN PRAMUKA
Meski metode ini awalnya digunakan untuk pelatihan science namun dengan modifikasi dan kreativitas metode ini menarik untuk dijadikan metode pendidikan dan penanaman nilai-nilai yang terkandung dalam kode kehormatan pramuka. (Klik gambar untuk baca artikel selengkapnya)

INFO ENTRY/TOPIK

Hingga hari ini ensiklopediapramuka on line ini telah memuat 680 entry/topik tentang Gerakan Pramuka, Pramuka & Kepramukaan. Semoga dapat memenuhi harapan para pembaca untuk lebih memahami dan dapat menerapkan pendidikan kepramukaan dengan lebih baik. Silakan klik abjad pada daftar isi yang terkait dengan tema yang anda butuhkan, maka anda akan terhubung dengan tulisan lengkap terkait dengan tema dimaksud. Salam.

JUMLAH PENGUNJUNG

DAFTAR ISTILAH KEPRAMUKAAN INDONESIA - INGGRIS

DAFTAR ISI ENSIKLOPEDI : BERDASAR ABJAD (KLIK "ABJAD" UNTUK MEMILIH TOPIK YANG DIBUTUHKAN)

ENTRI/TOPIK TERPOPULER