Selamat Datang di ENSIKLOPEDIA PRAMUKA
go to my homepage
Go to homepage

Nov 3, 2012

Salam Pramuka Siaga





Apabila seorang bertemu dengan orang lain, ia tentu mengucapkan salam. Demikian juga kalau ia mau meninggalkan orang lain tersebut. Caranya tentu saja menurut adat istiadat mereka masing-masing. Hal ini pun berlaku bagi seorang siaga. la waiib memberikan salam kalau bertemu dengan kawan siaga lainnya, atau pramuka lainnya, baik ia pramuka biasa atau kakak Pembina. Caranya, mengangkat tangan kanan sampai uiung jarinya kena pelipis kanan, agak miring menghadap kemu ka.
Mengapa harus lima jari? Karena dasar Pramuka adalah Pancasila, yang juga meniadi dasar dan falsafah Negara Republik lndonesia. Sebenarnya dalam adat tata cara Siaga, pemberian salam, atau pemberian hormat itu lebih mendalam lagi, karena salam itu bukan sekedar saling memberi hormat, tetapi juga merupakan cara saling mengingatkan akan Dwi Satya. Meskipun Dwi Satya itu hanya terdiri dari dua kalimat, namun isinya mengandung lima kewajiban. Kalimat pertama mengandung kewajiban terhadap Tuhan, kewaiiban terhadap tanah air dan kewajiban mengikuti aturan keluarga (di rumah atau di perindukan) yang merupakan Dwi Dharma Siaga. Jelasnya kewajiban mengikuti ayah dan ibunda dan harus berani dan tidak putus asa. Kewajiban kelima ialah setiap hari berbuat kebaikan, dan ini merupakan isi dari kalimat Dwi Satya kedua.

Jadi secara lengkapnya, kewajiban yang selalu harus saling kita ingat-mengingatkan ialah :
1. Kewajiban terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
2. Kewajiban terhadap Tanah Air lndonesia.
3. Kewajiban ta’at kepada kedua orang tua
4. Waiib untuk berani dan tidak putus asa;
5. Wajib untuk setiap hari berbuar kebaikan.

Cara saling mengingatkan untuk melaksanakan Dwi Satya dengan mengangkat tangan dengan kelima jari tertutup sampai ke pelipis kanan inilah yang dinamakan “Salam Siaga”.
Selain kepada kawan Siaga/Pramuka, Salam Siaga ini juga wajib diberikan kepada kakak pembina (Yanda, Bunda, pak Cik dan Bu Cik) dan kakak Pembina lainnya, Kepala Negara, Pusaka Perindukan “Sang Merah Putih" dan jenazah.
Hal ini perlu diindahkan dan ditanamkan sejak dari usia siaga untuk memupuk rasa nasionalisme dan patriotisme dan menegakkan disiplin. Seorang calon siaga sebelum dilantik harus sudah dapat dan mengetahui kepada siapa Salam Siaga harus diberikan.



Lihat entri/topik terkait :
Perindukan Siaga  (Filosofi dan Pengorganisasiannya), 
Aziz Saleh  (Ka Kwarnari, periode 1963 - 1967)


Sumber :
Buku, Pedoman Pembina Siaga, Kwarnas Gerakan Pramuka, tahun 1983.

 
Situs ini merupakan layanan informasi pendidikan kepramukaan yang merujuk ke berbagai sumber yang bisa di pertanggung jawabkan.... Semoga Bermanfaat