6 LANGKAH PENTING PENERAPAN MANAJEMEN RISIKO KEGIATAN KEPRAMUKAAN DI ALAM BEBAS

 

 6 LANGKAH PENTING PENERAPAN MANAJEMEN RISIKO KEGIATAN KEPRAMUKAAN DI ALAM TERBUKA

 Seri Tulisan Menejemen Resiko Bagian 3:

Terjadinya beberapa kali  kecelakaan dalam Kegiatan Kepramukaan di alam terbuka, menjadikan topik "Menejemen Risiko" sangat penting dipahami dan diterapkan oleh para Pembina Pramuka. Ensiklopedia pramuka akan menghadidirkan tulisan berseri dan form simulasi menejemen risiko yang dapat Kakak-kakak jadikan model dan masukan.

 

“Sedia payung sebelum hujan”  merupakan nasihat penting agar kita lebih berhati-hati dan merancang persiapan secara matang sebelum melaksanakan kegiatan di aam terbuka. Semakin sering kita merancang dan menerapkan manajemen risiko pada kegiatan di alam terbuka, maka akan semakin matang dan kaya pengalaman, sehingga dengan itu manajemen risiko bukan menjadi beban tetapi akan menjadi budaya kerja yang membahagiakan. Tidak ada kebahagiaan yang lebih tinggi bagi seorang Pembina Pramuka kecuali bisa menyelenggarakan kegiatan di alam terbuka dengan nyaman, aman dan efektif mencapai tujuan bagi tumbuhnya secara optimal karakter para peserta didik.

Alam dan seisisinya merupakan sumber belajar yang tak terbatas, memberikan pengalaman yang lengkap bagi peserta didik, serta efektif untuk mengembangkan potensi keperibadian peserta didik baik potensi sosial, intelektual, emosional, dan  fisik. Ruang terbuka merupakan ruang belajar untuk menumbuhkan karakter peserta didik sesuai dengan nilai-nilai dalam Dasa Darma Pramuka.

Terkat dengan uraian di atas, maka setelah memahami pentingnya manajemen risiko dan mengenali berbagai jenis risiko dalam kegiatan Pramuka, langkah berikutnya adalah bagaimana menerapkannya secara sederhana dan realistis. Manajemen risiko tidak harus rumit atau penuh istilah teknis. Yang terpenting adalah pola pikir sadar risiko dan kesiapan pembina dalam mengelola kegiatan secara aman, naman dan bertanggung jawab.

Manajemen Risiko kegiatan kepramukaan di alam terbuka, diterapkan melalui beberapa langkah dasar yang saling berkaitan satu dengan lainya dan relatif mudah dilakukan, apalagi jika sudah menjadi budaya satuan atau gugusdepan akan semakin mudah penerapannya.

1. Identifikasi Risiko Sejak Tahap Perencanaan

Langkah pertama dalam manajemen risiko adalah mengenali potensi risiko yang mungkin terjadi pada saat kegiatan berlangsung. Identifikasi risiko harus dilakukan sejak dalam perencanaan, bukan pada saat kegiatan sudah berjalan. Membuka dokumen lama tentang potensi risiko dalam sebuah kegiatan akan membantu perumusan potensi risiko secara lebih komprehensif.

Beberapa pertanyaan sederhana yang bisa diajukan oleh Pembina Pramuka dalam tahap ini antara lain: risiko apa yang mungkin terjadi dalam  kegiatan ini? Siapa saja yang berpotensi terdampak? Pada bagian kegiatan mana risiko paling besar terjadi? Apa saja langkah yang pentin dilakukan jika risiko itu terjadi? Pada bagian mana potensi terjadinya risiko baik besar, kecil maupun menengah?

Identifikasi risiko membantu Pembina melihat dan merancang kegiatan secara lebih utuh, bukan hanya dari sisi teknis operasional, namun juga dari sisi keselamatan peserta didik.

2. Menilai Tingkat Risiko Secara Realistis

Tidak semua risiko memiliki tingkat bahaya yang sama, tergantung dengan besar kecilnya risiko yan telah diidentfikasi pada tahap perencanaan. Dalam kaitan ini Pembina Pramuka,  perlu menilai risiko secara realistis, tanpa berlebihan namun juga tidak meremehkan. Penilaian risiko dapat dilakukan dengan mempertimbangkan: kemungkinan risiko terjadi, dampak yang ditimbulkan jika risiko terjadi, serta tingkat kesulitan untuk melakukan penyelamatan.

Jangan hanya memperhatikan kemungkinan risiko besar dengan dampak besar, namun risiko dengan kemungkinan kecil tetapi berdampak besar pada keselamatan eserta didik tetap perlu diperhatikan. Penilaian Tingkat Risiko,   membantu Pembina menentukan prioritas penanganan teknis operasional dan keselamatan dalam pengelolaan kegiatan di alam terbuka. Lihat dan baca kembali jenis-jenis risiko kegiatan di alam terbuka.

3. Menyusun Langkah Pencegahan dan Mitigasi

Setelah risiko diidentfikasi jenisnya dan dinilai tingkat kemungkinan terjadi dan dampaknya, langkah selanjutnya adalah menyiapkan upaya pencegahan dan mitigasi. Pencegahan bertujuan mengurangi kemungkinan terjadinya risiko, sedangkan mitigasi bertujuan mengurangi dampak jika risiko tetap terjadi.

Contoh langkah mitigasi dalam kegiatan Pramuka antara lain: menyesuaikan rute penjelajahan dengan kemampuan peserta didik, memastikan perlengkapan kegiatan dan P3K dalam kondisi layak, membagi tugas regu secara jelas, memberikan briefing keselamatan sebelum kegiatan, memperhatikan perubahan cuaca, menetapkan metode penyelamatan jika risiko terjadi, dan berbagai aspek lainnya.

Pencegahan dan mitigasi risiko,  sering kali menjadi penentu apakah kegiatan berjalan aman atau justru menimbulkan masalah. Langkah-langkah sederhana ini hendaknya menjadi bagian dari dokumen perencanaan kegiatan dan dipahami oleh seluruh panitia dan peserta kegiatan secara baik.

4. Menyiapkan Rencana Tanggap Darurat

Manajemen risiko tidak lengkap tanpa rencana tanggap darurat. Rencana ini bukan untuk menakut-nakuti, tetapi sebagai bentuk kesiapsiagaan. Beberapa hal yang perlu disiapkan: prosedur jika terjadi cedera atau sakit, pembagian peran saat kondisi darurat, ketersediaan  alat P3K dan alat komunikasi secara mamadai, penetapan titik kumpul atau evakuasi secara aman, pengelolaan regu untuk mengindari kepanikan, keterpaduan pengambilan keputusan dan pengelolaan konflik ketika situasi darurat.

Dengan rencana tanggap darurat, pembina dan peserta didik tidak panik ketika menghadapi situasi tak terduga. Rencana tanggap darurat hendaknya dirancang sebagai bagian dari SOP (Standard Operating Procedre) setiap perencanaan dan pelaksanaan kegiatan di alam terbuka. Semakin sering diterapkan maka SOP ini akan semakin matang dan dapat menjadi budaya organisasi yang kuat.

5. Pelaksanaan Kegiatan dengan Pengawasan Aktif

Saat kegiatan berlangsung, para Pembina Pramuka perlu melakukan pengawasan secara aktif. Pengawasan bukan berarti membatasi ruang gerak peserta, tetapi memastikan kegiatan berjalan sesuai rencana dan kondisi tetap terkendali. Pengawasan aktif mencakup: memantau kondisi fisik dan mental peserta, memperhatikan perubahan cuaca dan lingkungan, menjaga komunikasi antar Pembina dan Ketua Kelompok (Regu atau Sangga), kedisiplinan semua pihak dalam menerapkan SOP kegiatan yang telah disepakati bersama, menjaga kegiatan tetap berlangsung secara aman, nyaman, dan mencapai tujuan yang ditetapkan.

Kehadiran para Pembina Pramuka yang sigap, terbuka, memilik kewasapaan  dan peduli risiko, sering kali menjadi faktor kunci dalam mencegah terjadinya insiden. Umumnya para Pembina Pramuka yang telah terbiasa menerapkan manajemen risiko akan memiliki kepekaan yang tinggi dalam menilai keadaan dan kecepatan bertindak.

6. Evaluasi dan Pembelajaran Pasca Kegiatan

Langkah terakhir yang sering dilupakan adalah evaluasi. Setelah kegiatan selesai, pembina perlu melakukan refleksi bersama peserta didik. Evaluasi dapat mencakup: risiko apa saja yang benar-benar terjadi, bagaimana cara penanganannya, pelajaran apa yang dapat diambil untuk kegiatan berikutnya. Melalui evaluasi, manajemen risiko menjadi bagian dari proses belajar, bukan sekadar kewajiban administratif.

Hasil evaluasi didokumentasikan dan menjadi salah satu sumber rujukan untuk merancang desain manajemen risiko pada kegiatan berikutnya. Semakin banyak dokumen evaluasi akan semakin memperkaya acuan, semaki kaya acuan akan semakin mematangkan desain perencanaan dan penerapan manajemen risiko kegiatan di alam terbuka.

Manajemen Risiko sebagai Proses Pendidikan

Dalam pendidikan kepramukaan, manajemen risiko bukan hanya urusan Pembina Pramuka, para peserta didik juga perlu dilibatkan secara bertahap sesuai usia dan tingkatannya. Dengan demikian, mereka belajar: mengenali risiko, berpikir sebelum bertindak, bertanggung jawab terhadap diri dan kelompok. Nilai-nilai ini selaras dengan tujuan Pramuka sebagai pendidikan karakter berbasis pengalaman.

Manajemen risiko dalam kegiatan Pramuka di alam terbuka dapat diterapkan melalui langkah-langkah sederhana namun bermakna. Dengan identifikasi, penilaian, mitigasi, kesiapsiagaan, pengawasan, dan evaluasi, kegiatan Pramuka tetap dapat berlangsung menantang sekaligus aman. Pendekatan ini membantu pembina dan peserta didik menjalani kegiatan dengan lebih bijak, bertanggung jawab, dan manusiawi. Para Pembina Pramuka tidak akan merasa dibebani  manajamen risiko dan dibebani rasa takut berkegiatan di alam terbuka, karena langkah-langkah penerapan manajemen risiko dapat dijangkau oleh siapapun. Langkah yang sederhana, namun membutuhkan kecermatan dan tidak akan menjadi beban.

Catatan: Artikel ini memuat tautan afiliasi Shopee. Jika pembaca melakukan pembelian melalui tautan tersebut, pembaca  tidak akan dikenakan tambahan biaya.  

Dirangkum dari berbabai sumber: Penulis: Anis Ilahi Wh - Redaksi www.ensiklopediapramuka.com 

Tulisan Terkait:


 

 

 

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama