Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2014

Lambang Negara Garuda Pancasila : Sejarah Penciptaan

Gambar
Pengantar Lambang negara Indonesia adalah Garuda Pancasila dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Lambang negara Indonesia berbentuk burung Garuda yang kepalanya menoleh ke sebelah kanan (dari sudut pandang Garuda), perisai berbentuk menyerupai jantung yang digantung dengan rantai pada leher Garuda, dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang berarti “Berbeda-beda tetapi tetap satu” ditulis di atas pita yang dicengkeram oleh Garuda. Lambang ini dirancang oleh Sultan Hamid II dari Pontianak, yang kemudian disempurnakan oleh Presiden Soekarno, dan diresmikan pemakaiannya sebagai lambang negara pertama kali pada Sidang Kabinet Republik Indonesia Serikat tanggal 11 Februari 1950. Sultan Hamid II Sultan Hamid II, yang terlahir dengan nama Syarif Abdul Hamid Alkadrie, putra sulung sultan Pontianak. Sultan Syarif Muhammad Alkadrie. Lahir di Pontianak tanggal 12 Juli 1913. Beliau  wafat pada 30 Maret 1978 di Jakarta dan dimakamkan di pemakaman Keluarga Kesultanan Pontianak di Batulaya

Lambang Negara Garuda Pancasila : Bentuk, Makna & Tata Cara Penggunaan

Gambar
Sumber Pengaturan Tata Cara Penggunaan Bendera Negara Sang Merah Putih, diatur secara lengkap pada UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2009 TENTANG BENDERA,  BAHASA, DAN LAMBANG NEGARA, SERTA LAGU KEBANGSAAN Tulisan di bawah ini mengacu sepenuhnya pada UU dimaksud di atas khususnya Bab IV pasal 46 sampai dengan pasal 57. Pengertian Lambang Negara Kesatuan Republik Indonesia berbentuk Garuda Pancasila yang kepalanya menoleh lurus ke sebelah kanan, perisai berupa jantung yang digantung dengan rantai pada leher Garuda, dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika ditulis di atas pita yang dicengkeram oleh Garuda. Bentuk Lambang Garuda Pancasila dengan perisai sebagaimana memiliki paruh, sayap, ekor, dan cakar yang mewujudkan lambang tenaga pembangunan. Lambang Garuda Pancasila memiliki sayap yang masing-masing berbulu 17, ekor berbulu 8 pangkal ekor berbulu 19, dan leher berbulu 45. Unsur dan Makna Di tengah-tengah perisai yang digantung pada leher Garuda terda

Scouting For Boys : Disiplin Diri Sendiri (Kehormatan)

Gambar
  PENGANTAR PENULIS "Scouting For Boys", merupakan buku pertama yang ditulis oleh Baden Powell yang dikenal dengan Bapak Pandu Dunia, Buku ini pernah dialihabahsakan oleh Kwarnas Gerakan Pramuka tahun 1988 dengan judul  "Memandu untuk Putera". Buku ini merupakan karya "masterpiece" BP tentang pendidikan kepanduan. Dari buku ini pula kemudian lahir buku-buku selanjutnya seperti : Yarns for Boy Scouts (1909),  The Handbook for the Girl Guides or How Girls Can Help to Build Up the Empire (berkolaborasi dengan Agnes Baden-Powell)(1912), " Boy Scouts Beyond The Sea: My World Tour" (1913), "The Wolf Cub’s Handbook" (1916), "Girl Guiding" (1918), Aids To Scoutmastership (1919), dll. Cerita Api Unggun , merupakan salah satu isi buku "Scouting for Boys" yang didalamnya banyak berisi cerita atau kisah keteladanan atau nilai-nilai kehidupan yang harus dicontoh dan menjadi pedoman hidup seorang anggota Pramuka. Mengambil set

Scouting For Boys : Disiplin Diri Sendiri (Kepatuhan & Ketertiban)

Gambar
PENGANTAR PENULIS "Scouting For Boys", merupakan buku pertama yang ditulis oleh Baden Powell yang dikenal dengan Bapak Pandu Dunia, Buku ini pernah dialihabahsakan oleh Kwarnas Gerakan Pramuka tahun 1988 dengan judul  "Memandu untuk Putera". Cerita Api Unggun , merupakan salah satu isi buku "Scouting for Boys" yang didalamnya banyak berisi cerita atau kisah keteladanan atau nilai-nilai kehidupan yang harus dicontoh dan menjadi pedoman hidup seorang anggota Pramuka.  Suasana api unggun yang hangat di alam terbuka, ceria, saling berbagi ekspresi dan mendengar petuah Kakak Pembina baik yang disampaikan secara langsung, melalui cerita, permainan, pertunjukan, dan medium lainnya, merupakan suasana yang sangat indah untuk dikenang. Api unggun sebagai medium latihan pramukap efektif untuk menanamkan nilai-nilai kehidupan. Cerita Api Unggun No 21 yang bertajuk Disiplin Diri memiliki sub kisa tentang kehormatan, kepatuhan dan ketertiban, keberaniaan, dan k

Scouting For Boys : Disiplin Diri Sendiri (Keberanian)

Gambar
  PENGANTAR PENULIS "Scouting For Boys", merupakan buku pertama yang ditulis oleh Baden Powell yang dikenal dengan Bapak Pandu Dunia, Buku ini pernah dialihabahsakan oleh Kwarnas Gerakan Pramuka tahun 1988 dengan judul  "Memandu untuk Putera". Buku ini merupakan karya "masterpiece" BP tentang pendidikan kepanduan. Dari buku ini pula kemudian lahir buku-buku selanjutnya seperti : Yarns for Boy Scouts (1909),  The Handbook for the Girl Guides or How Girls Can Help to Build Up the Empire (berkolaborasi dengan Agnes Baden-Powell)(1912), " Boy Scouts Beyond The Sea: My World Tour" (1913), "The Wolf Cub’s Handbook" (1916), "Girl Guiding" (1918), Aids To Scoutmastership (1919), dll. Cerita Api Unggun , merupakan salah satu isi buku "Scouting for Boys" yang didalamnya banyak berisi cerita atau kisah keteladanan atau nilai-nilai kehidupan yang harus dicontoh dan menjadi pedoman hidup seorang anggota Pramuka. Cerit

Scouting For Boys : Disiplin Diri Sendiri (Kegembiraan)

Gambar
  PENGANTAR PENULIS "Scouting For Boys", merupakan buku pertama yang ditulis oleh Baden Powell yang dikenal dengan Bapak Pandu Dunia, Buku ini pernah dialihabahsakan oleh Kwarnas Gerakan Pramuka tahun 1988 dengan judul  "Memandu untuk Putera". Buku ini merupakan karya "masterpiece" BP tentang pendidikan kepanduan. Dari buku ini pula kemudian lahir buku-buku selanjutnya seperti : Yarns for Boy Scouts (1909),  The Handbook for the Girl Guides or How Girls Can Help to Build Up the Empire (berkolaborasi dengan Agnes Baden-Powell)(1912), " Boy Scouts Beyond The Sea: My World Tour" (1913), "The Wolf Cub’s Handbook" (1916), "Girl Guiding" (1918), Aids To Scoutmastership (1919), dll. Cerita Api Unggun , merupakan salah satu isi buku "Scouting for Boys" yang didalamnya banyak berisi cerita atau kisah keteladanan atau nilai-nilai kehidupan yang harus dicontoh dan menjadi pedoman hidup seorang anggota Pramuka. Ken

Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara serta Lagu Kebangsaan

Gambar
Sumber Pengaturam UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2009 TENTANG BENDERA, BAHASA, DAN LAMBANG NEGARA, SERTA LAGU KEBANGSAAN Pertimbangan UU No 24 Tahun 2009 yang dimaksud di atas,  dikeluarkan dan diundangkan dengan menimbang hal-hal sbb : bahwa bendera, bahasa, dan lambang negara, serta lagu kebangsaan Indonesia merupakan sarana pemersatu,identitas, dan wujud eksistensi bangsa yang menjadi simbol kedaulatan dan kehormatan negara sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; bahwa bendera, bahasa, dan lambang negara, serta lagu kebangsaan Indonesia merupakan manifestasi kebudayaan yang berakar pada sejarah perjuangan bangsa, kesatuan dalam keragaman budaya, dan kesamaan dalam mewujudkan cita-cita bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia; bahwa pengaturan tentang bendera, bahasa, dan lambang negara, serta lagu kebangsaan  Indonesia belum diatur di dalam bentuk undang-undang; bahwa berdasarkan pertimbanga

Bendera Negara Sang Merah Putih : Pengaturan Penggunaan

Gambar
Sumber Pengaturan Tata Cara Penggunaan Bendera Negara Sang Merah Putih, diatur secara lengkap pada UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2009 TENTANG BENDERA,  BAHASA, DAN LAMBANG NEGARA, SERTA LAGU KEBANGSAAN Tulisan di bawah ini mengacu sepenuhnya pada UU dimaksud di atas. Bentuk Bendera Negara Sang Merah Putih berbentuk empat persegi panjang dengan ukuran lebar 2/3 (dua-pertiga) dari panjang serta bagian atas berwarna merah dan bagian bawah berwarna putih yang kedua bagiannya berukuran sama.  Bendera Negara Sang Merah Putih dibuat dari kain yang warnanya tidak luntur. Ukuran Bendera Negara Sang Merah Putih dibuat dengan ketentuan ukuran: 200 cm x 300 cm untuk penggunaan di lapangan istana kepresidenan; 120 cm x 180 cm untuk penggunaan di lapangan umum; 100 cm x 150 cm untuk penggunaan di ruangan; 36 cm x 54 cm untuk penggunaan di mobil Presiden dan Wakil Presiden; 30 cm x 45 cm untuk penggunaan di mobil pejabat negara; 20 cm x 30 cm untuk penggun

Bendera Negara Sang Merah Putih : Sejarah & Makna Warna

Gambar
Sejarah Periode Jayakatwang Catatan paling awal yang menyebut penggunaan bendera merah putih dapat ditemukan dalam Pararaton; menurut sumber ini disebutkan balatentara Jayakatwang dari Gelang-gelang mengibarkan panji berwarna merah dan putih saat menyerang Singhasari. Hal ini berarti sebelum masa Majapahit pun warna merah dan putih telah digunakan sebagai panji kerajaan.  Dalam sejarah Indonesia terbukti, bahwa Bendera Merah Putih dikibarkan pada tahun 1292 oleh tentara Jayakatwang ketika berperang melawan kekuasaan Kertanegara dari Singosari (1222-1292). Sejarah itu disebut dalam tulisan bahwa  Jawa kuno yang memakai tahun 1216 Caka (1254 Masehi), menceritakan tentang perang antara Jayakatwang melawan R. Wijaya. Pembuatan panji merah putih pun sudah dimungkinkan dalam teknik pewarnaan tekstil di Indonesia purba. Warna putih adalah warna alami kapuk atau kapas katun yang ditenun menjadi selembar kain, sementara zat pewarna merah alami diperoleh dari daun pohon j

Hiking : Mencari Jejak

Gambar
Jenis Mencari Jejak Peserta Pramuka Penggalang atau Penegak Tujuan Meningkatkan pengenalan serta didik terhadap lingkungan Menanamkan kecintaan pada lingkungan Meningkatkan sikap gotong royong, kerjasama, kebersamaan dan kekompakan Mengembangkan kompetensi di bidang pengetahuan, sikap dan ketrampilan hidup di alam bebas dengan penuh tanggungjawab. Meningkatkan kebugaran jasmani, kegembiraan, kerjasama dan sikap positip. Menumbuhkan rasa senang para peserta didik terhadap kegiatan kepramukaan umumnya kegiatan di alam bebas/ruang terbuka Waktu & Jarak Pelaksanaan Durasi perjalanan 2 - 3 jam, jarak perjalanan kurang lebih 3 Km Medan & Tanda Jejak Medan perjalanan pastikan tepat sebagai media melatih ketelitiaan dan kepekaan pandangan mata ( melihat), ketelitiaan dan kepekaan rasa  (meraba), kepekaan dan ktelitiaan analisis (pikiran/otak), kepakaan dan ketelitian  menjalin kerjasama (sosial) dan kepekaan dan ketelitian melaksanakaan ketrampilan (kinet