PELAKSANAAN LATIHAN ORIENTERING: TEKNIK, STRATEGI, DAN PENGELOLAAN LAPANGAN

 

Ensiklopediapramuka menyajikan tulisan berseri tentang Kegiatan Orientering dalam kepramukaan. Ini adalah tulisan ketiga yaitu Pelaksanaan Latihan Orientering yang merupakan kelanjutan dari tulisan 2 berjudul menyusun skenario orientering. 

 

PENGANTAR

Setelah Kakak Pembina menyusun skenario latihan orientering sesuai dengan situasi, kondisi dan kepentingan pembinaan peserta didik, maka  tahap berikutnya adalah melaksanakan kegiatan di lapangan.  Dalam tahap ini Kakak Pembina sbaiknya dibantu oleh sebuah tim kecil bisa berasal drai peserta didik yang bertindak semacam panitia, yang  bertugas sebagai pengawas dan pengatur kagiatan. Kakak Pembina bertindak sebagai fasilitator latihan.

Sebagaimana telah dijelasakan sebeleumbya bahwa pelaksanaan orientering yang baik tidak hanya mengejar tujuan penguasaan  teknis navigasi, tetapi juga mengelola dinamika regu, pengenalan lingkungan, kecermatan melakukan pengamatan, efisiensi mengatur perjalanan, keselamatan peserta, serta proses refleksi setelah kegiatan selesai. Kak Pembina harus menyadari bahwa Orientering dalam kepramukaan bukan sekadar mencari titik kontrol, melainkan latihan berpikir, kepekaan terhadap alam sekitarnya, bekerja sama, dan mengambil keputusan secara tepat dan bertanggung jawab.

TEKNIK DASAR DALAM PELAKSANAAN ORIENTERING

Agar kegiatan ini efektif, pastikan Kakak Pembina sudah mengajar teknik membuat dan membaca peta lapangan atau peta digital, cara meggunakan kompas, mengatur perjalanan, menejemen tim dan memahami resiko perjalanan. Pastikan para peeserta didik sudah memahami aturan main dalam kegiatan ini terutama dalam menjaga keselamatan perjalanan, menghadapi situasi kedaruratan dan  menjaga kesopanan dalam perjalanan.

Pelaksanaan kegiatan ini dilaksanakan dengan tahapan sbb:

Menentukan arah dengan Kompas:  Peserta didik menggunakan kompas digunakan untuk menentukan arah perjalanan berdasarkan azimut yang telah ditentukan pada peta.

Untuk dapat menentukan arah dengan kompas, langkah dasar yang harus dilakukan: memegang kompas secara datar dengan jari tangan secara benar, menyesuaikan arah jarum kompas dengan arah utara, membaca angka derajat yang menunjukkan arah tujuan, bergerak mengikuti garis bidik kompas. Tahapan ini untuk melatih ketelitian, kecermatan  dan kesabaran peserta didik dalam membaca peta dan mengambil keputusan memulai perjalanan. Hal itu karena kesalahan kecil dalam membaca arah dapat menyebabkan penyimpangan jalur.

Cara membata peta lingkungan yang dijadikan materi pionering: Selain menggunakan kompas untuk menentukan arah perjalanan, peserta didik juga perlu memahami peta pionering yang diberikan oleh pembina. Beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain: arah utara pada peta, posisi jalan atau gang yang akan dilalui, daftar bangunan penting, lapangan atau ruang terbuka, bentang alam (kebun, sawah, parit, sungai, jalan kecil, jalan raya, dll). Dengan memahami peta, peserta dapat memperkirakan rute perjalanan sebelum bergerak.

Memperkirakan Jarak Tempuh, merupakan langkah selanjutnya setelah membaca peta dengan kompas, memahami peta pionering yang diberikan Pembina adalah memperkirakan jarak tempuh,Dalam latihan orientering sederhana di kota atau perkampungan, peserta dapat memperkirakan jarak melalui perkiraan jumlah langkah, perkiraan waktu berjalan, perbandingan dengan skala peta. Kemampuan memperkirakan jarak membantu peserta menentukan apakah mereka masih berada pada jalur yang benar.

Menetapkan Strategi Kerja Regu. Orientering merupakan kegiatan yang sangat efektif untuk melatih kerja sama. Oleh karena itu Kakak Pembina perlu mendorong setiap regu untuk berdiskusi sebelum menentukan arah perjalanan. Beberapa strategi yang dapat dilakukan oleh regu antara lain: membagi peran anggota regu (pembaca peta, pemegang kompas, pencatat perjalanan, komandan perjalanan, dst), berdiskusi sebelum memutuskan rute, memastikan seluruh anggota memahami arah perjalanan, saling mengingatkan apabila terjadi kesalahan arah. Dengan cara ini orientering tidak menjadi kegiatan individu, tetapi proses belajar bersama dalam regu atau kelompok.

Mengelola Kontrol Poin di Lapangan. Yang dimaksud kontrol poin adalah titik perhentian atau pos yang harus ditemukan oleh peserta selama kegiatan orientering. Dalam latihan di lingkungan kota atau perkampungan, kontrol poin dapat berupa: pos ronda, lapangan kecil, taman warga, jembatan kecil, balai pertemuan, pohon besar di ruang terbuka, kantor lurah atau RW, dsb. 

Pada setiap kontrol poin Kakak Pembina dapat menyiapkan beberapa bentuk verifikasi sebagai bukti regu atau kelompok telah sampai atau melewatinya. Bentuk vervivikasi (soal latihan) dimaksud misalnya: kode huruf atau angka, pertanyaan singkat tentang lingkungan sekitar, dokumentasi foto sebagai bukti kehadiran. Metode ini membuat peserta tidak hanya berjalan, tetapi juga melakukan pengamatan.

Penggunaan Teknologi Digital di Lapangan. Dalam latihan orientering yang menggabungkan metode manual dan digital, teknologi digunakan sebagai alat verifikasi. Maksudnya, setelah peserta menyelesaikan rute dengan kompas dan peta, para pesertd didik   dapat menggunakan aplikasi peta digital untuk: melihat jalur yang telah ditempuh, membandingkan jarak perjalanan sesungguhnya dengan jarak d peta, mengevaluasi kesalahan arah, mengevaluasi efektivitas perjalanan. Penggunaan teknologi digital membantu peserta memahami bahwa navigasi manual tetap penting, sementara teknologi digital dapat menjadi alat pembanding.

PERAN PEMBINA DALAM PENGELOLAAN LAPANGAN (RUTE KEGIATAN)

Kakak Pembina memiliki peran penting dalam memastikan kegiatan berjalan aman dan bermakna. Beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh Kakak Pembina antara lain: memastikan area kegiatan aman dari lalu lintas berbahaya, menetapkan batas waktu kegiatan, menetapkan kompleksitas atau bobot kegiatan (seberapa sulit dan berat, seberapa mudah dan ringan), memantau pergerakan regu secara berkala, menyiapkan titik kumpul apabila terjadi keadaan darurat. Selain itu Kakak Pembina juga perlu menjaga agar kegiatan tetap fokus pada proses belajar, bukan sekadar kompetisi. Kegemberiaan, memperoleh pengalaman baru, mengenali lebih mendala lingkungan sekitar, harus menjadi bahan refleksi dalam kegiatan ini.

PENUTUP

Perlu ditekankan kembali bahwa pelaksanaan orientering yang baik bukan hanya tentang menemukan titik kontrol atau kemampuan peserta didik memahami navigasi dan menggunakan peta, tetapi juga tentang bagaimana peserta dirik belajar membaca arah, bekerja sama dalam regu, serta mengambil keputusan dengan penuh tanggung jawab.

Melalui kegiatan semacam ini peserta tidak hanya mengenal lingkungan sekitarnya, tetapi juga belajar memahami bahwa menentukan arah memerlukan ketelitian, diskusi, dan keberanian mengambil keputusan. Oleh sebab itu dengan pendekatan yang tepat, orientering dapat menjadi salah satu metode pendidikan kepramukaan yang sederhana, aman, menyehatkan, menghibur, menantang dan tetap relevan di era digital. 

Selamat berlatih.

Ditulis oleh: Anis Ilahi Wh, dari beragam sumber.

Topik terkait:


 

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama