9 DIMENSI PENILAIAN RISIKO KEGIATAN KEPRAMUKAAN DI ALAM TERBUKA

 

 

 

Seri Tulisan Menejemen Resiko Bagian 4:

Terjadinya beberapa kali  kecelakaan dalam Kegiatan Kepramukaan di alam terbuka, menjadikan topik "Menejemen Risiko" sangat penting dipahami dan diterapkan oleh para Pembina Pramuka. Ensiklopedia pramuka akan menghadidirkan tulisan berseri dan form simulasi menejemen risiko yang dapat Kakak-kakak jadikan model dan masukan.

 

Salah satu tahapan penting dalam manajemen risiko kegiatan kepramukaan di alam bebas adalah penilaian risiko (risk assessment). Penilaian risiko bukan bertujuan menakut-nakuti peserta atau membatasi kegiatan, melainkan membantu pembina dan peserta memahami potensi bahaya secara rasional dan bertanggung jawab. Dengan melakukan penilaian atas kemungkinan atau potensi risiko yang terjadi akan memberi ketengan kepada pembina dan peserta didik dalam melaksanakan kegiatan di alam terbuka

Apa itu Penilaian Risiko?

Penilaian risiko merupakan langkah selanjutnya setelah melakukan identifikasi risikom sehingga dengan ini risiko akan lebih terstruktur dan dapat diantisipasi dengan baik. Tahap ini membantu pembina dan peserta tidak bereaksi berlebihan, tetapi juga tidak meremehkan potensi bahaya.

Penilaian risiko adalah proses menilai seberapa besar kemungkinan suatu risiko terjadi dan seberapa besar dampaknya, sehingga dapat ditentukan prioritas penanganannya. Dalam kegiatan Pramuka di alam terbuka, tidak semua risiko memiliki tingkat bahaya yang sama dan tidak semuanya harus dihindari. Penilaian risiko mengajarkan bahwa tidak semua risiko harus dihindari, namun setiap risiko harus dipahami.

Memahami Dimensi Penilaian Risiko

Dimensi penilaian risiko adalah sudut pandang yang membantu pembina memahami bahwa risiko kegiatan Pramuka dipengaruhi oleh banyak faktor, bukan hanya oleh jenis kegiatannya.

Memahami dimensi penilaian risiko sangat penting sebab kegiatan yang sama, ditempat yang sama akan memiliki risiko berbeda karena pengaruh  waktu pelaksanaan, jumlah peserta,  kondisi medan dan cara pengelolaan. Tanpa memahami dimensi risiko bisa jadi pembina terlalu takut sehingga materi kegiatan yang sebenarnya bagus dan diminati peserta didik malah dimatikan, atau sebaliknya pembina malah terlalu berani sehingga menyelenggarakan kegiatan membahayakan.

Secara garis besar dimensi penilaian risiko dalam kegiatan kepramukaan di alam bebasa, terdiri dari dimensi inti yang terdiri dari: kemungkinan terjadinya rsiko, dampak yang ditimbulka, tingkat risiko dan sikap terhadap risiko. Dimensi berikutnya adalah dimensi kontekstual yang terdiri dari: medan atau Lokasi kegiatan, waktu & musim, jumlah peserta, tingkat penyelenggaraan, komposisi peserta.

Dalam kepramukaan kegaiat di alam terbuka merupakan bagian yang sangat penting oleh sebab itu pembina perlu memahami dimensi risiko. Pemahaman ini bermakna  belajar berpikir bijak dan penuh perhitungan sebelum bertindak. Sikap semacam inilah bagian dari pendidikan karakter yang sesungguhnya.

 9 Dimensi Penilaian Risiko

  1. Kemungkinan Terjadi Risiko (Likelihood) yaitu seberapa mungkin risiko terjadi dalam kondisi kegiatan.  
  2. Dampak (Impact) atau akibat yang ditimbulkan, yaitu seberapa besar akibat yang terjadi pada peserta didik jika risiko benar-benar terjadi. 
  3. Tingkat Risiko, yaitu perhitungan antara kemungkinan terjadinya resiko ditambah dampak yang ditimbulkan, sehingga diperoleh kesimpulan tingkat kegiatan yang akan dilaksanakan berisiko rendah, sedang atau tinggi.
  4. Sikap terhadap Risiko, yaitu apakah risiko yang sudah dipetaan dan dihitung itu diterima, dikurangi, dihindari, atau dialihkan.
  5. Medan atau Lokasi Kegiatan, risiko khas yang terjadi berdasarkan situasi dan konsisi tempat kegiatan sepertu sungai, pantai, gunung, hutan, perkemahan.
  6. Waktu dan Musim, risiko yang terjadi yang timbul akibat pengaruh musim, cuaca, dan waktu pelaksanaan terhadap risiko.
  7. Jumlah Peserta, risiko yang timbul akiat jumlah peserta kediatan. Semakin besar jumlah peserta, semakin tinggi risiko pengawasan dan manajerial.
  8. Tingkat Penyelenggaraan, resiko yang timbul berdasar tinggat kegiatan seperti kegiatan gudep, ranting, cabang, daerah atau nasional memengaruhi kompleksitas koordinasi dan tingkat risiko yang berbeda.
  9. Komposisi Peserta, risiko yang terjadi berdasar komposisi peserta. Kegiatan yang diikuti peserta didik putra saja, atau putri saja, atau campuran sebagai memiliki tingkat penilaian dan varibael  risiko yang berbeda-beda termasuk  merumuskan langkah perlindungannya.

Penerapan 9 Dimensi Risiko

Kesembilan dimensi ini saling beririsan, tidak berdiri sendiri. Untuk menerapkan 9 dimensi di atas pembina cukup melakukan tiga langkah sederhana yaitu: Identifikasi kondisi kegiatan berdasarkan 9 dimensi, tandai dimensi yang meningkatkan risiko serta sesuaikan keputusan dan mitigasi sebelum kegiatan dimulai

Jika terlalu banyak dimensi berada pada kategori risiko tinggi, kegiatan perlu ditinjau ulang, jangan dipaksakan. Jika berada pada dimensi rendah dan sedang kegiatan dapat dilaksanakan dengan dilengkapi panduan menejemen risiko. Jika ada yang rendah, sedang dan tinggi maka komposisi kegiatan yang berisiko tinggi jangan terlalu banyak dan berilah atensi khusus pada kegiatan ini. Dalam kaintan ini semakin tinggi jenis risiko sebuah kegiatan, maka jumlanya semakin sedikit.

 Contoh Penerapan Teknik Penilaian Risiko

Skenarion Kegiatan:  Sebuah Gugusdepan akan menyelenggarakan kegiatan  Susur sungai, dengan Peserta: 20 Penggalang Putra dan  20 Penggalang Putri,  Waktu pelaksanaan: Sabtu, 09.00–12.00, Tujuan kegiatan: Mengenal vegetasi dan bentang alam sungai, Kondisi medan: Sungai dengan variasi kedalaman, Cuaca: Tidak pasti (masa pancaroba).

Dari skenario di atas maka pemetaan menejemen risiko dan langkah pengurangan risikonya dapat diskenariokan sbb:

 


Dari matriks di atas, maka Ringkasan Hasil Penilaian Risiko adalah: 

Risiko Tinggi yaitu kemungkinan peserta didik tenggelam dibagian sungai yang dalam, langkah pengurangan risiko ketika melewati sungai yang dalam peserta didik harus dikendalikan dan diawasi dengan ketat supaya disiplin melewati rute yang ditetapkan dan tidak boleh dinegosiasikan. 

Risiko Sedang peserta didik kemungkinan terpeleset, kelelahan, cuaca, dehidrasi, langkah pengurangan risiko yang harus dilakukan adalah pengawasan dan mitigasi risiko serta penerapan skenario pengurangan risiko seperti tersedianya PPP3, logistik yang mencukupi, tersedianya pos istirahat yang memadai dan teresedianya rencana evakuasi yang cepat dan tepat jika kondisi makin memburk.

Risiko Rendah peserta didik kemunkinan mengalami luka ringan, konflik atau  dinamika kelompok yang tidak kondusif, skenario pengurangan risiko seperti tersedianya PPP3, pendampingan kelompok yang mencukupi, tersedianya area atau pos untuk refleksi, bergembira bersama, diskusi kelompok, dsb.

Pembina merupakan pengambil keputusan utama dalam implemenasi skenario menejemen risiko, oleh sebab itu penilaian risiko tidak boleh diserahkan kepada peserta didik. Kepada peserta didik cukup diberi penjelasan aturan dan alasan keselamatan dan diberi kesadaran bahwa risiko tidak dihilangkan seluruhnya, tetapi dikendalikan.

Selamat berlatih 

Ditulis oleh: Anis Ilahi Wh, dirangkkum dari beragam sumber 

Ikuti tulisan terkait: 

 


 

 

 

 

 

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama