Selamat Datang di ENSIKLOPEDIA PRAMUKA
go to my homepage
Go to homepage

May 16, 2013

Pembina Pramuka : Fungsi, Peran & Model Pembawaannya




Funqsi dan Peran Pembina Pramuka

Dalam menjalankan tugas sebagai pendidik yang menggunakan alam bebas sebagai sarana belajar, "Pembina" mempunyai beberapa fungsi dan peran. Fungsi-fungsi ini seringkali tidak dapat dipisahkan antara fungsi yang satu dengan fungsi yang lainnya serta digunakan bersamaan pada waktu dan saat yang tepat. Fungsi dan Peran Pembina tersebut adalah :
  1. Pengamat : Tugas seorang Pembina untuk mengamati dan memantau perkembangan dan tingkah laku individu dan dinamika kelompok. Dalam proses pengamatan ini, seorang pembina tentunya harus menyadari pentingnya membawa "note book" yang berguna untuk mencatat hal-hal yang penting selama pengamatan berlangsung.
  2. Keterampilan Pembina : Seorang pembina harus memastikan bahwa dalam melakukan kegiatan di alam bebas dapat berjalan dengan aman (berkemah, mendaki gunung, memanjat, rafting, snorkeling, dan sebagainya).
  3. Penjaga Keamanan : Memastikan bahwa peserta/kelompok selalu dalam keadaan aman. Sisi samping dari fungsi ini adalah untuk mengantisipasi keadaan bahaya atau beresiko tinggi,maka pembina harus menguasai teknik-teknik P3K, minimal sesuai dengan ruang alam bebas yang sedang digunakan.
  4. Fasilitator : Memberikan dan menyediakan fasilitas bagi peserta atau kelompok kursus untuk belajar. Fasilitas yang dimaksud disini adalah selain sarana pelatihan dan pendidikan juga metode dan teknik-teknik pengajaran yang tepat untuk peserta atau kelompok.
  5. Presenter : Pembina juga harus menguasai teknik-teknik presentasi yang baik. Presentasi yang dimaksud adalah mencakup juga prensentasi dalam berdinamika kelompok di outdoor.
  6. Translator : Setiap pribadi dalam kelompok biasanya memiliki watak karakteristik, dan gaya komunikasi yang berbeda-beda. Tugas Pembina adalah menjembatani perbedaan ini, karena jika terjadi konflik komunikasi dan tidak ditengahi, dapat merusak proses pelatihan atau dinamika kelompok.
  7. Penasehat : Berkaitan dengan fungsi fasilitas, seorang pembina juga harus mempersiapkan dirinya menjadi seorang penasehat yang tidak menasehati. Pembina haruslah melayani dengan penuh Empati.
  8. Panutan : Seorang Pembina dituntut menjadi panutan bagi peserta. Orang yang melaksanakan tugas dengan sungguh-sungguh, taat pada tata tertib, disiplin dan sebagainya. Tingkah laku dan tindakan pembina akan selalu dilihat oleh peserta, baik disaat senggang/santai maupun saat menjalankan aktifitas.
  9. Pemimpin : Menjadi seorang pemimpin di dalam kelompok peserta didik adalah salah satu tugas dan peran Pembina di dalam sebuah kegiatan.
  10. Perencana Kegiatan : Fungsi Pembina yang paling tinggi dan mungkin puncak dalam tugasnya adalah menyusun suatu program kegiatan yang dibutuhkan oleh peserta didik. Penyusunan program kegiatan adalah faktor penting dalam menjamin tercapainya tujuan kegiatan. 
Pembina adalah seorang pendidik yang unik, menggunakan metode yang unik, ruangan belajar yang luas (outdoor), memiliki peserta didik dengan latar belakang yang beragam dan secara individu, maupun kelompok. Fungsi dan peran yang dijabarkan diatas mengambarkan secara implisit ke-khasan seorang pembina. Mana yang tepat digunakan, semua tergantung dari tugas yang dijalankan dan kebutuhan yang harus dipenuhi. Satu hal yang pasti, pengalaman dan kemauan belajar akan mendukung kemampuan seorang Pembina dalam menjalankan tugas dan peran yang diharapkan dari dirinya. 

Pembawaan & Gaya Pembina Pramuka

Teknik-teknik memfasilitasi adalah sebuah proses belajar melalui pengalaman (petualangan, permainan dan sebagainya) telah mengalami beberapa evolusi perubahan. Teknik-teknik ini disusun berdasarkan tingkat penemuannya dan tingkat kesulitannya. Mereka adalah :

Membiarkan pengalaman berbicara sendiri ((Letting the Experience speak for it self)
Gaya fasilitasi ini tergantung penuh pada keandalan suatu program, oleh karena peserta harus menangkap sendiri maknanya yang terkandung melalui program yang dijalankan (program harus benar-benar disusun rapih dan teratur).

Berbicara atas pengalaman (Speaking for the Experience)
Pembina, umumnya dalam peran sebagai seorang konsultan atau ahli, yang dapat menerjemahkan kegiatan yang baru berlangsung oleh peserta. Pembina memberitahu mereka apa yang mereka pelajari dan bagaimana mereka menerapkan di masa yang akan datang.

Membahas pengalaman (Debriefing the Experience)
Para peserta diminta untuk memikirkan ulang (refleksi) apa yang mereka jalankan dan membicarakan apa yang mereka pelajari dari kegiatan tersebut. Teknik ini mulai muncul dipertengahan tahun 70-an dan popular di AS dengan sebutan "Outward Bound Plus".

Memberikan masukan langsung diawal kegiatan (Directly frontloading the Experience)
Penambahan masukan pada briefing awal selain peraturan permainan dan peraturan keselamatan. Pembina membahas di awal kegiatan.

Memberikan batasan pada pengalaman (Framing the Experience)
Kegiatan yang akan dijalankan dibatasi secara isomorph oleh Pembina. lsomorph adalah suatu kiasan yang dibuat oleh Pembina agar peserta dapat membuat kaitan antara kegiatan yang akan dilaksanakan dengan kebutuhan mereka.

Memberikan masukan tidak langsung diawal kegiatan ((lndirectly frontloading the Experience)
Teknik ini umumnya digunakan Pembina apabila peserta terus-menerus menemui kesulitan yang sama pada saat kegiatan berlangsung. Untuk membatasi hal-hal tersebut Pembina umumnya memberikan masukan secara tidak langsung :
  • Mengingat keberhasilan dan kesulitan yang telah mereka alami.
  • Memberikan bayangan-bayangan alternatif penyelesaian.
  • Memberikan contoh tidak langsung.
  • Menghilangkan hal-hal yang membuat mereka " Stuck".
  • Secara pro aktif mem "framing" kegiatan.
Pada tiga gaya terahir pembahasan dititikberatkan pada teknik praktik dari Pembina untuk meningkatkan pelajaran yang didapat peserta dari kegiatan-kegiatan, dan memudahkan untuk menerapkan pada masa yang akan datang.  Ketiga teknik ini dapat dipercaya bahwa perubahan tingkah laku dipengaruhi pengalaman langsung, dibandingkan oleh analogi yang diciptakan pada saat diskusi akhir atau setelah kegiatan selesai berlangsung.


Sumber :

Buku,  Outdoor Games Ala Pramuka, Gerakan Pramuka Kwarda DKI Jakarta, tahun 2004




 
Situs ini merupakan layanan informasi pendidikan kepramukaan yang merujuk ke berbagai sumber yang bisa di pertanggung jawabkan.... Semoga Bermanfaat