IKLAN PRODUK HUBUNGI ADMIN

ENSIKLOPEDI PRAMUKA.....

Sejarah Panjang Gerakan Pramuka telah melahirkan banyak peristiwa,tokoh,benda tradisi istilah kependidikan istilah organisasi dan berbagai hal lainya yang pelu di dokumentasikan......

KA MABINAS GERAKAN PRAMUKA DARI MASA KE MASA

KA.Mabinas Gerakan Pramuka Dari Masa ke Masa:Diawali oleh Ir Soekarno, Soeharto,Baharudin Jusup Habibie,K.H.Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarno Putri dan Soesilo Bambang Yudhoyono...

PANJI GERAKAN PRAMUKA...

ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka Sri Sultan Hamengku Buwono IX menerima Panji Gerakan Pendidikan Kepanduan Pramuka dari Presiden Soekarno pada tanggal 14 Agustus 1961 di Istana Merdeka

APEL BESAR...

Para penggalang Putra dan Putri mengikuti Apel Besar Hari Pramuka yang Diselenggarakan tanggal 18 Agustus 1986 di Istana Merdeka Jakarta.......

KA KWARNAS GERAKAN PRAMUKA DARI MASA KE MASA.

Ka Kwarnas Gerakan Pramuka dari masa ke masa : Sri Sultan Hamangkubuwono IX 1961-1974, H.M. Sarbini 1974-1978(meninggal Th 1977), Mashudi 1974-1993, Himawan Sutanto 1993-1998, H.A. Rivai Harahap 1998-2003,Azrul Azwar 2003-2013,Adhyaksa Dault 2013-2018.

May 25, 2013

Dongeng Boneka sebagai Media Pendidikan Kepramukaan




Pengantar

Perkembangan zaman melahirkan tuntutan, aspirasi, motivasi dan harapan-harapan  baru  para peserta didik dalam mengikuti kegiatan kepramukaan. Para Pembina Pramuka diharapkan mampu memenuhi tuntutan tersebut dengan terus-menerus melakukan inovasi agenda,  metode dan penggunaan media latihan kepramukaan. Tanpa upaya seperti itu akan menyebabkan hilangnya antusiasismenya peserta didik dalam mengikuti kegiatan dan latihan pramuka.

Mendongeng dengan boneka merupakan salah satu media pendidikan yang bisa digunakan oleh para Pembina Pramuka untuk menghadirkan latihan pramuka yang menyenangkan dan menggairahkan. Pemakaian boneka sebagai media pendidikan populer sejak tahun 1940-an terutama ketika mulai banyak digunakan di sekolah dasar dan sekolah lanjutan di Amerika. Bahkan di daratan Eropa seni pembuatan boneka telah sangat tua, lebih tinggi kehaliannya  dan sangat populer penggunaanya sebagai media pendidikan di bandingkan di Amerika.

Di Indonesia penggunaan boneka sebagai media pendidikan massa juga sudah sejak lama dilakukan di tengah masyarakat. Di Jawa Barat dikenal dengan tradisi boneka tongkat berbentuk “Wayang Golek” yang dipakai untuk memainkan dan menyampaikan pesan-pesan moral cerita Mahabarata dan Ramayana. Di Jawa Timur dan Jawa Tengah dikenal pula boneka tongkat dengan dua dimensi dibuat dari kayu yang disebut “Wayang Krucil”. Di dua wilayah ini dikenal pula boneka bayang-bayang yang disebut “Wayang Kulit”. Disamping itu terdapat  berbagai jenis tradisi cerita lain berbasis boneka yang tersebar di seluruh nusantara.


Boneka sebagai Media Pembelajaran

Boneka adalah tiruan dari bentuk manusia dan bentuk  binatang. Boneka manusia merupakan model dari manusia, atau yang menyerupai manusia sangat banyak bentuk dan ragamnya. Boneka  hewan merupakan model dari hewan dengan beragam bentuk dan perbandingan. Awalnya  boneka hanya merupakan benda dekorasi atau koleksi untuk anak yang sudah besar atau orang dewasa dan sebagai media permainan untuk anak-anak perempuan.

Bentuk boneka yang sangat menarik minat anak-anak melahirkan ide penggunaan boneka sebagai media pembelajaran dengan cara dimainkan dalam sandiwara boneka. Boneka sebagai media cerita memiliki banyak kelebihan dan keuntungan. Anak-anak  pada umumnya menyukai boneka, sehingga cerita  yang dituturkan lewat karakter boneka jelas akan mengundang minat dan perhatiannya. Anak-anak juga bisa terlibat dalam permainan boneka dengan ikut memainkan boneka dalam sebuah dongeng atau cerita. Hal ini berarti, boneka bisa menjadi pengalih perhatian anak  sekaligus media untuk berekspresi  atau  menyatakan  perasaannya.  Bahkan  boneka  bisa  mendorong tumbuhnya fantasi atau imajinasi anak.

Mendongeng dengan alat peraga boneka, memerlukan sedikit keterampilan karena tokoh yang akan dibawakan atau boneka yang dipegang harus sesuai dengan karakter dalam cerita. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan, ketika mendongeng dengan alat peraga boneka:
  • Jarak boneka tangan harus agak jauh dari mulut.
  • Kedua belah tangan harus lentur dalam memainkan boneka.
  • Bisa diiringi dengan musik untuk menambah suasan.
  • Libatkan anak-anak dalam adegan cerita yang dibawakan.
  • Sesekali adakan dialog antara tokoh boneka dan pendengar atau penonton.
  • Suara karakter dari tokoh cerita dongeng harus pas sesuai peran.
  • Ajak pendengar atau penonton bernyanyi bersama boneka guna memperoleh keterikatan dalam cerita dongeng.
  • Seusai mendongeng jangan lupa ulas pesan yang terkandung dalam dongeng tersebut; boneka seolah-olah berbicara pada anak-anak (pendengar atau penonton).


Manfaat Mendongeng dengan Boneka

Manfaat mendongen atai cerita boneka sebagai media pendidikan  sudah sangat banyak dibahas oleh para ahli.  Umumnya para ahli menyatakan bahwa  dongeng  sangat bermanfaat bagi pengembangan anak. Dongen  sebagai media belajar  juga dapat melahirkan suasana belajar yang menyenangkan, interaktf, inspiratif dan motivatif.  Manfaat dongen secara lebih luas adalah :

  • Membantu pembentukan pribadi dan moral anak. Cerita sangat efektif membentuk pribadi dan moral anak. Melalui cerita, anak dapat memahami nilai baik dan buruk yang berlaku pada masyarakat.
  • Menyalurkan kebutuhan imajinasi dan fantasi. Cerita dapat dijadikan sebagai media menyalurkan imajinasi dan fantasi anak. Pada saat menyimak cerita, imajinasi anak mulai dirangsang. Imajinasi yang dibangun anak saat menyimak cerita memberikan pengaruh positif terhadap kemampuan anak dalam menyeelesaikan masalah secara kreatif.
  • Memacu kemampuan verbal anak. Ceritadapat memacu kecerdasan linguistik anak. Cerita mendorong anak bukan saja senang menyimak cerita tetapi juga senang bercerita atau berbicara. Anak belajar tata cara berdialog dan bernarasi.
  • Merangsang minat menulis anak. Anak yang terbiasaa memahami cerita dan lebih awal berkenalan dengan cerita akan memiliki kemampuan menulis dengan baik.
  • Merangsang minat baca anak. Kegiatan bercerita dengan buku menjadi ‘pelatihan” baca yang penting. Cerita akan menumbuhkan minat anak terhadap bacaannya.
  • Membuka cakrawala pengetahuan anak. melalaui cerita anak akan mendapatkan berbagai pengetahuan yang bermanfaat.

Jenis-jenis Boneka sebagai Media Pembelajaran 

Boneka jari

  • Boneka ini dibuat dengan alat sederhana seperti tutup botol, bola pingpong, kapas, dakron, gabus, bambu kecil, dll  yang dapat dipakai sebagai kepala boneka. Sesuai dengan namanya boneka ini dimainkan dengan menggunakan jari tangan. 
  • Cara memainkannya kepala boneka diletakkan pada ujung jari kita/ dalam. Dapat juga dibuat dari semacam sarung tangan, dimana pada ujung jari sarung ta-ngan tersebut sudah berbentuk kepala boneka dan dengan demikian kita/ dalam tinggal memainkannya saja.
  
Boneka Tangan

  • Kalau boneka dari setiap ujung jari kita dapat memainkan satu tokoh, lain halnya dengan boneka tangan. Pada boneka tangan ini satu tangan kita hanya dapat memainkan satu boneka. Disebut boneka tangan, karena boneka ini hanya terdiri dari kepala dan dua tangan saja, sedangkan bagian badan dan kakinya hanya merupakan baju yang akan menutup lengan orang yang memainkannya disamping cara memainkannya juga hanya memakai tangan (tanpa menggunakan alat bantu yang lain).
  • Cara memainkanya adalah jari telunjuk untuk memainkan atau menggerakkan kepala, ibu jari, dan jari tangan untuk menggerakkan tangan. Di Indonesia penggunaan boneka tangan sebagai media pendidikan/ pembelajaran di sekolah-sekolah sudah dilaksanakan, bahkan dipakai diluar sekolah yaitu pada siaran TVRI dengan film seri boneka “Si Unyil” dan jiuga "Si Komo".
  
Boneka Tongkat
  • Disebut boneka tongkat karena cara memainkannya dengan menggunakan tongkat. Tongkat-tongkat ini dihubungkan dengan tangan dan tubuh boneka. Wayang Golek di Jawa Barat misalnya adalah termasuk boneka jenis ini.
  • Untuk keperluan penggunaan boneka tongkat sebagai media pendidikan/ pembelajaran di sekolah, maka tokoh-tokohnya dibuat sesuai dengan keadaan sekarang. Misalnya dibuat tokoh tentara, pedagang, lurah, nelayan dan sebagainya Boneka tongkat dapat dibuat darikayu yang lunak seperti kayu kemiri, randu, dan sebagainya.

Boneka Tali

  • Boneka tali atau “Marionet” banyak dipakai dinegara barat. Perbedaan yang menyolok antara boneka tali dengan boneka yang lain adalah, boneka tali bagian kepala, tangan, dan kaki dapat digerak-gerakkan menurut kehendak kita/dalangnya. 
  • Cara menggerakkannya dengan tali. Dengan demikian maka kedudukan tangan orang yang memain-kannya berada di atas boneka yang dimainkannya. Untuk memainkan boneka tali diperlukan latihan-latihan yang teratur, sebab memainkan boneka tali ini memerlukan keterampilan yang lebih sulit dibandingkan dengan memainkan boneka-boneka yang lainnya. Adakan tetapi memiliki kelebihan lebih hidup dari pada boneka yang lain, karena mendekati gerak manusia atau tokoh yang sebenarnya.

Boneka Bayang-bayang
  • Boneka bayang-bayang (Sadhow Puppet) adalah jenis boneka yang cara memainkannya dengan mempertontonkan gerak bayang-bayang dari boneka tersebut. Di Indonesia khususnya di Jawa dikenal dengan “Wayang kulit” dengan latar ceita ramayana dan mahabarata.
  • Untuk keperluan pendidikan dapat diciptaka tokoh-tokoh baru dengan nuansa kekinian seperti polisi, tentara, pembina pramuka, orang tua, dsb. Untuk memainkan boneka ini diperlukan ruangan gelap/tertutup dan  lampu sorot untuk membuat bayang-bayang layar.


Selamat Berekspresi. Salam Pramuka

Lihat Entri/Topik Terkait :
Dongeng Boneka Jari sebagai media Pendidikan Kepramukaan
Dongeng Boneka Tangan sebagai media Pendidikan Kepramukaan
Dongeng Boneka Tongkat sebagai media Pendidikan Kepramukaan
Dongeng Boneka Tali sebagai media Pendidikan Kepramukaan
Dongen Boneka Bayang-bayang sebagai media  Pendidikan Kepramukaan


Sumber :
www.griyabelanja.com
www.satulingkar.com
www.getscoop.com
www.tradisidongen.blogspot.com
www.aaps10.blogspot.com
www.molylovelyme.blogspot.com














Share:

May 22, 2013

Kompas, Penggunaannya dalam Kegiatan Kepramukaan





Pengantar

Kompas adalah alat penunjuk arah yang bekerja berdasarkan gaya medan magnet. Pada kompas selalu terdapat sebuah magnet sebagai komponen utamanya. Magnet tersebut biasanya berbentuk sebuah jarum penunjuk. Saat magnet penunjuk tersebut berada dalam keadaan bebas, maka akan mengarah ke utara-selatan magnet bumi. Inilah yang dijadikan dasar dalam pembuatan kompas dan alat navigasi berbasis medan magnet yang lain.

Umumnya kompas terdiri dari 3 komponen kompas, yaitu badan kompas, jarum magnet, dan skala arah mata angin. Badan kompas berfungsi sebagai pembungkus dan pelindung komponen utama kompas. Jarum magnet dipasang sedemikian rupa agar bisa berputar bebas secara horizontal. Skala penunjuk umumnya berupa lingkaran 360° dan arah mata angin.

Kompas sebagai alat penunjuk  arah mata angin sangat penting untuk para Pramuka dalam hal :
  • Membantu kelancaran dan keselamatan dalam pengembaraan karena para  Pramuka akan dapat mengikuti jalan yang tertera dalam peta sehingga tidak tersesat dijalan.
  • Membantu menentukan arah kiblat untuk kesempurnaan beribadah di alam bebas/di perkemahan bagi yang beragama Islam.
  • Menentukan arah datangnya sinar matahari untuk menentukan arah mendirikan tenda dan arah lokasi kegiatan di di pagi atau sore hari.
  • Membantu dalam pembuatan dan pembacaan peta pita dan atau peta perjalanan
  • Membaca peta medan atau peta topografi
Oleh sebab kegunaannya yang sangat beragam tersebut maka para Pramuka seyogyanya memiliki kemampuan untuk menggunakan dan membaca kompas secara benar dan tepat. Disamping itu kegiatan menggunakan dan membaca kompas merupakan kegiatan yang menyenangkan, melatih ketelitian, kerjasama dan pengenalan medan/lokasi di alam bebas.


Macam dan jenis kompas

Kompas terdiri dari 3 jenis, yaitu kompas bidik (kompas prisma), kompas orientering (kompas silva), dan kompas biasa.

  • Kompas bidik atau prisma fungsi utamanya untuk mempermudah menghitung sudut sasaran bidik (tempat atau benda) secara langsung. Cara pemakaiannya dengan membidikkan kompas ke sasaran secara langsung sekaligus membaca sudut sasaran pada skala kompas. Besar sudut yang dibuat oleh arah bidikan dan arah jarum (utara) itulah sudut sasarannya (bearing).


  • Kompas silva atau orienteering fungsi utamanya untuk mempermudah perhitungan dan pembacaan pada peta secara langsung. Badan atau pembungkus kompas silva selalu dibuat transparan untuk mempermudah pembacaan peta yang diletakkan di bawahnya.


  • Kompas biasa adalah kompas yang hanya digunakan sebagai penunjuk arah dan bentuknya sederhana.

Bagian-bagian penting dari Kompas Bidik :
  • Dial, adalah permukaan Kompas dimana tertera angka derajat dan huruf mata angin.
  • Visir, adalah lubang dengan kawat halus untuk membidik sasaran.
  • Kaca Pembesar, digunakan untuk melihat derajat Kompas.
  • Jarum Penunjuk, adalah alat yang menunjuk Utara Magnet.
  • Tutup Dial, dengan dua garis bersudut 45° yang dapat diputar.
  • Alat Penyangkut, adalah tempat ibu jari untuk menopang Kompas saat membidik.

Cara Mempergunakan Kompas Bidik
  • Letakkan Kompas di atas permukaan yang datar, setelah jarum Kompas tidak bergerak maka jarum tersebut akan menunjukkan ARAH UTARA MAGNET.
  • Bidik sasaran melalui Visir, melalui celah pada kaca pembesar, setelah itu miringkan kaca pembesar kira-kira bersudut 50° dengan kaca dial.
  • Kaca pembesar tersebut berfungsi sebagai : (a) Membidik ke arah Visir, membidik sasaran, (b) Mengintai derajat Kompas pada Dial.
  • Apabila Visir diragukan karena kurang jelas terlihat dari kaca pembesar, luruskan garis yang terdapat pada tutup Dial ke arah Visir, searah dengan sasaran bidik agar mudah terlihat melalui kaca pembesar.
  • Apabila sasaran bidik 30° maka bidiklah ke arah 30°
  • Sebelum menuju sasaran, tetapkan terlebih dahulu Titik sasaran sepanjang jalur 30°.
  • Carilah sebuah benda yang menonjol/tinggi diantara benda lain disekitarnya, sebab rute ke 30° tidak selalu datar atau kering, kadang-kadang berbencah-bencah. Ditempat itu kita Melambung (keluar dari rute) dengan tidak kehilangan jalur menuju 30°.
  • Sebelum bergerak ke arah sasaran bidik, perlu ditetapkan terlebih dahulu Sasaran Balik (Back Azimuth atau Back Reading) agar kita dapat kembali ke pangkalan apabila tersesat dalam perjalanan.

Rumus back azimuth/back reading

1.    Apabila sasaran kurang dari 180° = di tambah 180° maka akan menjadi  180° = X + 180°
2.    Apabila sasaran lebih dari 180° = di kurang 180°
3.    Contoh : Sasaran balik dari
  • 30°      adalah    :    30° + 180°  = 210°
  • 240°    adalah    :    240° - 180°  = 60°
  • 45°, 34’, 20’’      adalah   : 225°    34’    20’’
  • 178°,  54’ , 14’’  adalah   : 001°    05’    45’’



Arah mata angin dalam kompas
    • U         =   Utara                           : 0° atau 360°
    • UTL    =   Utara Timur Laut        : 22°     30’
    • TL       =   Timur Laut                  : 45°
    • TTL     =   Timur Timur Laut       : 67°    30’
    • T          =   Timur                          : 90°   
    • TMG    =   Timur Menenggara     : 112°    30’
    • TG       =   Tenggara                      : 135°
    • SMG    =   Selatan Menenggara   : 157°    30’
    • S          =   Selatan                        :180°
    • SBD    =   Selatan Barat Daya     : 202°    30’
    • BD      =   Barat Daya                  : 225°
    • B         =   Barat                           : 270°
    • BBL    =   Barat Barat Laut         : 292°    30’
    • BL       =   Barat Laut                  : 315°
    • UBL    = Utara Barat Laut          : 337°    30’

Benda-benda lain yang dapat di gunakan untuk menentukan arah Mata Angin :
  • Matahari, terbit di Timur dan terbenam di Barat.
  • Masjid, sebagai kiblat menghadap Barat Laut.
  • Bintang, Rasi-rasi bintang pada malam hari.
  • Kuburan Islam, batu nisan membujur dari Utara Selatan.
  • Silet, jika diapungkan di atas air.

Selamat Berlatih. Salam Pramuka

Share:

May 18, 2013

Berkemah : Teknologi Sederhana Penjernih Air




Pengantar
 

Kadangkala  ketika berkemah para Pramuka sulit menemukan air bersih untuk keperluan mandi, masak dan mencuci. Air bersih sulit didapatkan  salah satunya disebabkan rusaknya lingkungan terutama ruang terbuka hijau sehingga air hujan tidak lagi mampu diserap oleh tanah dengan baik yang berakibat mengecilnya sumber-sumber mata air.

Ketiadaan air  bersih untuk masak memasak dapat menimbulkan  penyakit diare, penyakit lambung dan penyakit pencernaan lainnya. Hal itu karena air kotor seringkali tercemar bakteri salmonella, E-coli bakteri dan berbagai bakteri lainnya.

Agar perkemahan dapat berjalan dengan  sehat, menyenangkan dan penuh kegembiraan maka para Pramuka dituntut mampu melakukan penjernihan air kotor dengan menggunakan teknologi sederhana. Banyak jenis teknologi sederhana penjernihan air yang bisa dipelajari dan dimanfaatkan oleh para Pramuka seperti penjernihan dengan menggunakan filter bahan-bahan alami di bawah ini. Penggunaan teknologi yang tepat akan dapat mengubah air kotor  menjadi air bersih yang layak dan sehat untuk dikonsumai.

Bahan yang Dibutuhkan   
  • Dua buah drum
  • Pipa penghubung
  • Pasir
  • Arang
  • Kerikil

Gambar  Alat Penjernih


Cara kerja alat:
  • Air kotor dituangkan ke drum yang telah diberi filter dengan  lapisan pasir, arang dan kerikil. Lapisan pasir, arang, dan kerikil berfungsi untuk menghilangkan bakteri yang tercampur dalam air kotor tadi. 
  • Alirkan air bersih hasil penyaringan dengan pipa/selang ke drum penampungan air bersih. Air bersih hasil penyaringan akan menjadi air sehat untuk mandi, masak dan mencuci. Namun demikian jika akan diminum harus dimasak terlebih dahulu.
  • Jika aliran air bersih makin mengecil ganti atau bersihkan pasir, arang dan kerikil yang digunakan sebagai filter.
  • Ketersediaan air bersih akan mendukung kegiatan perkemahan yang sehat, menyenangkan, ramah lingkungan serta meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan para Pramuka dalam hal penerapan teknologi penjernihan air.


Selamat mencoba. Salam Pramuka

Lihat topik/entri terkait :


Sumber
http:// www.teknologisederhana.com/
 
Share:

May 16, 2013

Pembina Pramuka : Fungsi, Peran & Model Pembawaannya




Funqsi dan Peran Pembina Pramuka

Dalam menjalankan tugas sebagai pendidik yang menggunakan alam bebas sebagai sarana belajar, "Pembina" mempunyai beberapa fungsi dan peran. Fungsi-fungsi ini seringkali tidak dapat dipisahkan antara fungsi yang satu dengan fungsi yang lainnya serta digunakan bersamaan pada waktu dan saat yang tepat. Fungsi dan Peran Pembina tersebut adalah :
  1. Pengamat : Tugas seorang Pembina untuk mengamati dan memantau perkembangan dan tingkah laku individu dan dinamika kelompok. Dalam proses pengamatan ini, seorang pembina tentunya harus menyadari pentingnya membawa "note book" yang berguna untuk mencatat hal-hal yang penting selama pengamatan berlangsung.
  2. Keterampilan Pembina : Seorang pembina harus memastikan bahwa dalam melakukan kegiatan di alam bebas dapat berjalan dengan aman (berkemah, mendaki gunung, memanjat, rafting, snorkeling, dan sebagainya).
  3. Penjaga Keamanan : Memastikan bahwa peserta/kelompok selalu dalam keadaan aman. Sisi samping dari fungsi ini adalah untuk mengantisipasi keadaan bahaya atau beresiko tinggi,maka pembina harus menguasai teknik-teknik P3K, minimal sesuai dengan ruang alam bebas yang sedang digunakan.
  4. Fasilitator : Memberikan dan menyediakan fasilitas bagi peserta atau kelompok kursus untuk belajar. Fasilitas yang dimaksud disini adalah selain sarana pelatihan dan pendidikan juga metode dan teknik-teknik pengajaran yang tepat untuk peserta atau kelompok.
  5. Presenter : Pembina juga harus menguasai teknik-teknik presentasi yang baik. Presentasi yang dimaksud adalah mencakup juga prensentasi dalam berdinamika kelompok di outdoor.
  6. Translator : Setiap pribadi dalam kelompok biasanya memiliki watak karakteristik, dan gaya komunikasi yang berbeda-beda. Tugas Pembina adalah menjembatani perbedaan ini, karena jika terjadi konflik komunikasi dan tidak ditengahi, dapat merusak proses pelatihan atau dinamika kelompok.
  7. Penasehat : Berkaitan dengan fungsi fasilitas, seorang pembina juga harus mempersiapkan dirinya menjadi seorang penasehat yang tidak menasehati. Pembina haruslah melayani dengan penuh Empati.
  8. Panutan : Seorang Pembina dituntut menjadi panutan bagi peserta. Orang yang melaksanakan tugas dengan sungguh-sungguh, taat pada tata tertib, disiplin dan sebagainya. Tingkah laku dan tindakan pembina akan selalu dilihat oleh peserta, baik disaat senggang/santai maupun saat menjalankan aktifitas.
  9. Pemimpin : Menjadi seorang pemimpin di dalam kelompok peserta didik adalah salah satu tugas dan peran Pembina di dalam sebuah kegiatan.
  10. Perencana Kegiatan : Fungsi Pembina yang paling tinggi dan mungkin puncak dalam tugasnya adalah menyusun suatu program kegiatan yang dibutuhkan oleh peserta didik. Penyusunan program kegiatan adalah faktor penting dalam menjamin tercapainya tujuan kegiatan. 
Pembina adalah seorang pendidik yang unik, menggunakan metode yang unik, ruangan belajar yang luas (outdoor), memiliki peserta didik dengan latar belakang yang beragam dan secara individu, maupun kelompok. Fungsi dan peran yang dijabarkan diatas mengambarkan secara implisit ke-khasan seorang pembina. Mana yang tepat digunakan, semua tergantung dari tugas yang dijalankan dan kebutuhan yang harus dipenuhi. Satu hal yang pasti, pengalaman dan kemauan belajar akan mendukung kemampuan seorang Pembina dalam menjalankan tugas dan peran yang diharapkan dari dirinya. 

Pembawaan & Gaya Pembina Pramuka

Teknik-teknik memfasilitasi adalah sebuah proses belajar melalui pengalaman (petualangan, permainan dan sebagainya) telah mengalami beberapa evolusi perubahan. Teknik-teknik ini disusun berdasarkan tingkat penemuannya dan tingkat kesulitannya. Mereka adalah :

Membiarkan pengalaman berbicara sendiri ((Letting the Experience speak for it self)
Gaya fasilitasi ini tergantung penuh pada keandalan suatu program, oleh karena peserta harus menangkap sendiri maknanya yang terkandung melalui program yang dijalankan (program harus benar-benar disusun rapih dan teratur).

Berbicara atas pengalaman (Speaking for the Experience)
Pembina, umumnya dalam peran sebagai seorang konsultan atau ahli, yang dapat menerjemahkan kegiatan yang baru berlangsung oleh peserta. Pembina memberitahu mereka apa yang mereka pelajari dan bagaimana mereka menerapkan di masa yang akan datang.

Membahas pengalaman (Debriefing the Experience)
Para peserta diminta untuk memikirkan ulang (refleksi) apa yang mereka jalankan dan membicarakan apa yang mereka pelajari dari kegiatan tersebut. Teknik ini mulai muncul dipertengahan tahun 70-an dan popular di AS dengan sebutan "Outward Bound Plus".

Memberikan masukan langsung diawal kegiatan (Directly frontloading the Experience)
Penambahan masukan pada briefing awal selain peraturan permainan dan peraturan keselamatan. Pembina membahas di awal kegiatan.

Memberikan batasan pada pengalaman (Framing the Experience)
Kegiatan yang akan dijalankan dibatasi secara isomorph oleh Pembina. lsomorph adalah suatu kiasan yang dibuat oleh Pembina agar peserta dapat membuat kaitan antara kegiatan yang akan dilaksanakan dengan kebutuhan mereka.

Memberikan masukan tidak langsung diawal kegiatan ((lndirectly frontloading the Experience)
Teknik ini umumnya digunakan Pembina apabila peserta terus-menerus menemui kesulitan yang sama pada saat kegiatan berlangsung. Untuk membatasi hal-hal tersebut Pembina umumnya memberikan masukan secara tidak langsung :
  • Mengingat keberhasilan dan kesulitan yang telah mereka alami.
  • Memberikan bayangan-bayangan alternatif penyelesaian.
  • Memberikan contoh tidak langsung.
  • Menghilangkan hal-hal yang membuat mereka " Stuck".
  • Secara pro aktif mem "framing" kegiatan.
Pada tiga gaya terahir pembahasan dititikberatkan pada teknik praktik dari Pembina untuk meningkatkan pelajaran yang didapat peserta dari kegiatan-kegiatan, dan memudahkan untuk menerapkan pada masa yang akan datang.  Ketiga teknik ini dapat dipercaya bahwa perubahan tingkah laku dipengaruhi pengalaman langsung, dibandingkan oleh analogi yang diciptakan pada saat diskusi akhir atau setelah kegiatan selesai berlangsung.


Sumber :

Buku,  Outdoor Games Ala Pramuka, Gerakan Pramuka Kwarda DKI Jakarta, tahun 2004




Share:

May 15, 2013

Morse Dalam Kegiatan Kepramukaan


 Pengantar 

  • Sebelum ditemukan Morse oleh Samuel Finley Breese Morse pada tahun 1832, sudah banyak cara yang dilakukan oleh manusia untuk menyampaikan berita dengan cepat dari satu tempat ketempat lain. Cara pertama dilakukan oleh Homerus Ilias yang menggunakan api yang berasap, yang disusun menurun kode-kode berita seperti yang dilakukan oleh suku Indian Amerika.
  • Selanjutnya ditemukan alat tilgram yang menggunakan ketukan-ketukan suara yang diatur panjang dan pendek untuk rnengirirn berita. Juga dipergunakan isyarat cahaya untuk mengirimkan berita yang dimengerti oleh markonis-markonis seluruh dunia. Pada tahun 1832 Morse merancang sebuah alat Telegraf yang pertama, dan pada tahun 1844 terjadilah hubungan telegraf yang pertama kali di dunia antara kota Baltimore dengan Washington, tepatnya pada tangal 27 Mei 1844.
  • Kode-kode Morse untuk mengirim berita sederhana sekali yaitu berupa alfabet Morse yang mudah dimengerti  dan dipelajari
Alfabet Morse






Alat untuk Menyampaikan Morse
  1. Dengan Peluit (Bunyi Pendek dan Panjang).
  2. Dengan Bendera (Kibaran Pendek dan Kibaran Panjang).
  3. Dengan Api/cahaya Lampu (Nyala pendek dan Panjang).
  4. Dengan Asap (Gumpalan Kecil-dan Gumpalan Besar).
  5. Dengan AIat Telegraf (Tulisan Titik dan Garis).
  6. Cermin dengan bantuan cahaya matahari (Sebentar dan Lama).

Cara Bersemboyan Morse Bendera


Yang Penting Diingat
  1. Pada waktu memberi isyarat Morse perlu diperhatikan antara perbedaan TITIK dan GARIS, yaitu 1 : 3.
  2. Misalnya untuk Titik 1(satu) detik, maka untuk Garis adalah 3 (tiga) detik.

Rumah Morse

Alat bantu untuk menghafal morse

 

Keterangan : 
  1. Kotak = titik (.)     Kotak arsir = strip/garis (-)
  2. Semua huruf yang dimulai dengan titik ( . ) carilah di sebelah kiri.
  3. Semua huruf yang dimulai dengan strip ( - ) carilah di sebelah kanan.
  4. Cara mencarinya dari kotak di atas turun lurus ke bawah. 
Yang perlu diketahui dalam Mengirim dan Menerima Semaphore

 


Selamat berlatih, Salam Pramuka


Share:

May 7, 2013

Boediono (Wapres RI) : Pendidikan Kunci Pembangunan





Barangkali tak ada di antara kita yang tak setuju bahwa pendidikan punya peran besar dalam pembangunan suatu bangsa. Namun, sering kali kita berhenti di situ pada tataran abstrak dan menerimanya sebagai kebenaran mutlak yang tidak perlu lagi dikaji dan dirinci. Berdasarkan keyakinan itu kita melaksanakan percepatan dan perluasan pendidikan melalui aneka program pendidikan. Negara sebagai penjurunya dan masyarakat berpartisipasi aktif. 
Semangat ini sudah benar. Namun, sebenarnya ada satu hal penting yang “hilang”, yaitu tentang “apa” yang seyogianya diajarkan untuk menyiapkan manusia-manusia Indonesia yang mampu berkontribusi maksimal bagi kemajuan bangsanya. Barangkali sekarang sudah waktunya kita memikirkan secara lebih mendalam masalah yang teramat penting ini. 

Belum punya konsep yang jelas

Saya harus menyatakan bahwa sampai saat ini kita belum punya konsepsi yang jelas mengenai substansi pendidikan ini. Karena tak ada konsepsi yang jelas, timbulah kecenderungan untuk memasukkan apa saja yang dianggap penting kedalam kurikulum. Akibatnya terjadilah beban berlebihan pada anak didik. Bahan yang diajarkan terasa ”berat”, tetapi tak jelas apakah anak mendapatkan apa yang seharusnya diperoleh dari pendidikannya.

Substansi dasar yang memberikan isi pada kebijakan pendidikan kita perlu dibakukan. Rumusan substansi yang jelas dan cermat akan dapat menjadi kompas dan perajut bagi begitu banyak kegiatan dan inisiatif pendidikan di Tanah Air sehingga mengurangi segala macam kemubaziran. Rumusan substansi tersebut haruslah mengacu dan diturunkan dari konsepsi yang jelas mengenai bagaimana kemajuan bangsa terjadi dan apa peranan pendidikan di dalamnya.

Saya tak akan mengulang apa yang telah dikatakan oleh para pakar mengenai peran strategis pendidikan dalam menyiapkan kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) bangsa serta dengan demikian mendorong kemajuan bangsa. Kita semua sepakat mengenai hal ini. Di sini saya ingin mengangkat sisi penting lain dari pendidikan, yaitu perannya dalam mendukung kemajuan bangsa melalui dukungannya dalam pembangunan sosial, ekonomi, dan politik.

Berikut ini adalah butir-butir yang terkait  dengan itu, yang saya sarikan dari hasil-hasil riset di bidang ekonomi-politik dan sejarah (Daron Acemoglu & James  ARobinson, 2O12). Penelitian-penelitian itu mencoba mengidentifikasi faktor-faktor penentu utama kemajuan bangsa sebagai suatu identitas sosial, ekonomi, politik berdasarkan analisis pengalaman sejarah bangsa-bangsa.

Beberapa kesimpulan penting adalah sebagai berikut. Bahwa kemajuan suatu bangsa ditentukan oleh mutu institusi-institusinya terutama institusi politik dan ekonominya. Proses kemajuan suatu bangsa terjadi dan berlanjut bila terjadi interaksi positif antara institusi politik dan institusi ekonominya. Bangsa-bangsa yang gagal maju karena insiden sejarah atau barangkali karena kelalaiannya sebagai bangsa-umumnya terperangkap dalam interaksi negatif dari kedua kelompok institusinya tersebut.

Dari dua kelompok institusi penentu kemajuan bangsa sejarah bangsa-bangsa menunjukkan, institusi politik adalah yang lebih mendasar. Kelompok institusi inilah yang pada akhirnya menentukan aturan main yang mengkondisikan efektif tidaknya institusi-institusi lain. Pembenahan dan penataan institusi politik merupakan kunci pembuka kemajuan bangsa.

Selanjutnya riset sejarah menunjukkan, institusi politik akan mendukung proses kemajuan suatu bangsa apabila memenuhi dua persyaratan utama. Pertama, harus ada suatu tingkat konsentrasi kekuasaan politik di tingkat nasional yang cukup untuk menjamin penegakan law and order. Somalia dan Afganistan adalah contoh ekstrem kekuasaan terlalu tercerai-berai sehingga ketertiban umum dan hukum tidak bias dijalankan.

Syarat kedua adalah sebaliknya yaitu kekuasaan politik tak boleh terkonsentrasi di tangan satu kelompok atau beberapa kelompok saja (oligarki), tetapi harus terbagi sedemikian rupa sehingga elemen-elemen utama bangsa terwakili di dalamnya. Konstelasi politik harus inklusif karena dengan demikian sistem checks and balances dapat berjalan efektif. Tidak terlalu terkonsentrasi dan tidak terlalu tercerai-berai.

Dengan kata lain: system demokrasi! Riset tersebut menarik kesimpulan kuat dari analisis empiris sejarah bahwa demokrasi merupakan sistem politik yang paling menjanjikan bagi bergulirnya proses kemajuan bangsa. Tentu, yang dimaksud adalah demokrasi dalam arti substantive, bukan sekadar bentuk formalnya.

Riset menunjukkan bahwa makin tinggi pendapatan per kapita makin besar peluang demokrasi berhasil dan berlanjut (Fareed Zakaria, 2OO3). Bangsa-bangsa yang sedang membangun dan sedang mengonsolidasikan demokrasinya sangat penting untuk menghindari krisis ekonomi. Sebab, di situ ada risiko tinggi sendi-sendi demokrasi yang sedang dibangun ikut rontok. Konsolidasi demokrasi berpeluang tinggi berhasil bila ditopang oleh perekonomian yang tumbuh dan manfaatnya makin terbagi merata.

Apabila demokrasi berhasil dikonsolidasikan, semakin besar pula institusi-institusi ekonomi akan berfungsi lebih baik lagi. Pada gilirannya meningkatkan kinerja  perekonomian dan selanjutnya akan memperkuat demokrasi. Demikianlah seterusnya: terjadi proses interaksi positif antara politik dan ekonomi.  

Peran pendidikan

Satu hal penting dari hasil riset mutakhir: institusi memegang peran kunci dalam proses kemajuan bangsa. Kualitas institusi penentu utama kemajuan bangsa. Oleh karena itu, upaya pembangunan bangsa semestinya memberikan prioritas tertinggi pada pembangunan institusi.

Kualitas kinerja institusi pada akhirnya ditentukan oleh kualitas manusia-manusia yang melaksanakan fungsi institusi itu, terutama dalam sikap dan kompetensinya. Di sinilah kita melihat jelas peran sentral pendidikan dalam pembangunan dan kemajuan bangsa. Melalui pendidikan kita dapat menanamkan sikap yang pas dan memberikan bekal kompetensi yang diperlukan kepada manusia-manusia yang menjalankan fungsi institusi-institusi yang menentukan kemajuan bangsa.

Di sini penting dibedakan dua sasaran pendidikan. Pertama membentuk sikap dan kompetensi dasar yang perlu dimiliki oleh setiap warga negara di manapun mereka berkarya. Ini merupakan tugas dari pendidikan umum. Adapun sasaran kedua: mendidik sikap dan kompetensi khusus yang diperlukan bagi mereka yang bekerja di bidang-bidang tertentu. Ini adalah bidang tugas dari pendidikan khusus. Pendidikan umum membekali anak didik soft skills untuk menjadi manusia dan warga negara yang baik. Pendidikan khusus memberikan hard skills untuk menjadi pekerja yang baik.

Pada hakikatnya pendidikan umum wajib diberikan kepada semua anak didik di semua jenjang mulai dari SD hingga perguruan tingg[ (S-1). Tentu materi di setiap jenjang disesuaikan dengan umur dan tingkat kematangan anak didik. Adapun substansi pendidikan khusus diberikan sesuai vokasi atau profesi yang dipilih oleh siswa atau mahasiswa dalam kariernya nanti. Materi pendidikan khusus diberikan sebagai tambahan materi pendidikan umum. Dalam pendidikan khusus inilah dibangun, antara lain, kemampuan iptek manusia Indonesia.

Dalam strategi pendidikan yang utuh, kedua komponen pendidikan ini dirumuskan secara rinci, konsisten, dan seimbang. Keduanya membentuk kurikulum minimal pada tiap jenjang pendidikan dengan standar yang berlaku, dan diberlakukan secara nasional. Tentu ruang untuk muatan lokal harus tetap diberikan sesuai kekhasan setiap daerah dan kelompok masyarakat. Inilah yang saya maksud dengan benang merah substansi pendidikan nasional yang perlu kita rumuskan secara lebih jelas dan cermat. Apabila kita menerima bahwa konsolidasi demokrasi adalah simpul kritis penentu kemajuan bangsa, strategi pendidikan perlu diarahkan sepenuhnya dan secara nyata mendukung sasaran ini. Pintu masuk kita adalah melalui pendidikan umum. Substansi pendidikan umum harus mencakup semua hal yang diperlukan untuk membekali anak didik agar jadi pelaku demokrasi yang efektif, yang tahu hak dan tanggung jawabnya, yang punya komitmen untuk menyukseskan proses konsolidasi demokrasi. Apabila ini kita lakukan, kita dapat optimistis, risiko-risiko kegagalan demokrasi dalam masa konsolidasi ini dapat diminimalkan. Demokrasi kita akan makin mantap dan institusi-institusi ekonomi akan makin efektif, yang selanjutnya akan makin memperkuat demokrasi.

Delapan kemampuan

Apa yang perlu dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan umum yang memenuhi tuntutan tersebut? Ini adalah tantangan bagi para ahli, untuk merumuskannya. Di sini saya ingin menyampaikan satu contoh substansi pendidikan umum dari negara lain untuk jenjang perguruan tinggi (S-1). Substansi bagi jenjang-jenjang di bawahnya tentu perlu penyesuaian-penyesuaian, termasuk harus memasukkan kekhasan budaya dan sejarah kita.

Profesor Derek Bok, Presiden Emeritus Universitas Harvard, mengatakan, pendidikan S-1 di Amerika Serikat bertujuan memberikan bekal delapan kemampuan kepada mahasiswanya. 

Pertama kemampuan berkomunikasi. Semua mahasiswa S-1 perlu punya kemampuan ini secara efektif dengan berbagai pihak. Mereka harus mampu menulis dengan presisi dan menarik juga secara lisan idenya dengan jelas dan persuasive. Ketidakmampuan berkomunikasi antara warga Negara atau antara pemerintah dan public adalah kegagalan demokrasi.

Kedua, kemampuan berfikir jernih dan kritis. Kemampuan ini mencakup kemampuan mengajukan pertanyaan yang relevan, mengenali dan mendevinisikan masalah, menyadari dan mempertimbangkan argumentasi dari berbagai sisi dari suatu permasalahan, serta mencari dan menggunakan secara efektif data dan informasi yang relevan. Akhirnya, mengambil sikap dan kesimpulan setelah mempertimbangkan semuanya dengan cermat.

Ketiga, kemampuan mempertimbangkan segi moral suatu permasalahan. Hampir tiap isu publik punya sisi moral. Mahasiswa perlu dilatih menganalisis dengan jernih dan mengambil sikap mengenai aspek baik-buruk, benar-salah dari segi moral dalam menghadapi permasalahan.  

Keempat, kemampuan untuk menjadi warga negara yang efektif. Mahasiswa harus disiapkan menjadi peserta aktif dalam proses demokrasi dan mampu mengambil sikap yang rasional mengenai berbagai  masalah politik dan isu-isu publik.

Kelima kemampuan untuk mencoba mengerti dan toleran terhadap pandangan yang berbeda. Di AS yang terdiri atas banyak kelompok etnis dan kelompok agama, pengajaran toleransi memperolehperhatian khusus dan dianggap sebagai tugas penting dari universitas.

Keenam, kemampuan hidup dalam masyarakat yang mengglobal. Mahasiswa diharapkan punya pengetahuan dasar masalah-masalah  internasional dan apresiasi mengenai kultur yang berbeda. 

Ketujuh, memiliki minat luas mengenai hidup. Mahasiswa harus dibangkitkan minat intelektualnya seperti mengenai sejarah, filsafat, dan minat di bidang-bidang lain, seperti music, seni, dan olahraga.

Kedelapan, memiliki kesiapan untuk bekerja. Ini sebenarnya bukan bagian dari kurikulum pendidikan umum, tetapi bagian dari kurikulum pendidikan khusus yang memang harus diajarkan pada tingkat S-1 sesuai dengan fakultasnya.

Kedenganrannya terlalu idealistik, tetapi itulah yang jadi sasaran ideal universitas-universitas disana. Dan, tampaknya mereka sangat serius dalam mencapai sasaran tersebut. Tentunya kita tak boleh puas diri dengan apa yang kita punya sekarang. Taruhannya terlalu besar untuk bersikap seperti itu. Marilah kita lakukan sesuatu yang substansif bagi pendidikan kita.


BOEDIONO
Wakil Presiden RI
 
Sumber : 
Kolom Opini Harian Kompas, Senin 27 Agustus 2012


Share:

May 4, 2013

Metode Discovery & Penanaman Nilai-nilai Kode Kehormatan Pramuka (Contoh Penerapan)



Pengantar

Mengacu pada AD/ART Gerakan Pramuka,  Kode Kehormatan Pramuka terdiri dari janji yang disebut satya (tri satya dan dwi satya) dan ketentuan moral  yang disebut darma (dasa darma dan dwi darma). Kode kehormatan sebagai ketentuan moral  merupakan  budaya organisasi Gerakan Pramuka yang melandasi sikap dan perilaku setiap anggota Gerakan Pramuka dalam melaksanakan kegiatan berorganisasi. (Selengkapnya lihat entri :  Kode Kehormatan Pramuka).

Salah satu tugas Pembina Pramuka adalah menanamkan nilai-nilai  yang terkandung dalam kode kehormatan agar dapat dipahami, dihayati dan diamalkan oleh para Pramuka. Bahkan Pendidikan Kepramukaan sebagai pendidikan karakter pada hakikatnya merupakan upaya penanaman nilai-nilai yang terkandung dalam kode kehormatan dimaksud secara terus menerus.

Banyak metode yang bisa digunakan oleh para Pembina untuk menanamkan nilai-nilai Kode Kehormatan Pramuka, salah satu diantaranya adalah metode discovery. Meski metode ini awalnya  digunakan untuk pelatihan science namun dengan modifikasi dan kreativitas metode ini menarik untuk dijadikan metode pendidikan dan penanaman nilai-nilai yang terkandung dalam kode kehormatan pramuka.

Di bawah ini adalah contoh prosedur dan model penerapan metode discovery untuk penanaman nilai-nilai yang terkandung dalam kode kehormatan pramuka. Secara khusus yang akan dipakai adalah metode penemuan terapan atau metode discovery terbimbing.

Persiapan

Kakak Pembina ingin menanamkan nilai-nilai Kode Kehormatan Pramuka yang salah satunya adalah pentingnya nilai - nilai "kecintaan pada alam". Pada tahap persiapan, Kakak Pembina harus menetapkan terlebih dahulu  tema, tujuan, alat peraga yang dibutuhkan dan lembar kegiatan peserta didik.

Menetapkann Tema :

Tema latihan akan dikomunikasi pada peserta didik di awal kegiatan. Oleh sebab itu harus disusun secara menarik dan sesuai dengan alam Pramuka saat ini. Salah satu contoh tema, misalnya : "Cinta Alam, Tanggungjawab dan Gaya Hidup Penggalang Masa Kini, Mungkinkah ?"

Menetapkan Tujuan :

Menetapkan tujuan sangat penting karena akan menjadi panduan Pembina didalam mendampingi peserta didik berdiskusi. Sebagaimana umumnya proses pendidikan maka dalam menetapkan tujuan  harus mempertimbangkan 3 ranah perubahan perilaku peserta didik yaitu ranah kognitif, afektif dan psikomotorik.

Tujuan pendidikan adalah terjadinya perubahan perilaku peserta didik setelah mengikuti sebuah proses pendidikan. Ubahan perilaku tersebut umumnya mengacu pada kata kerja operasional dalam Taksonomi Bloom yang meliputi ketiga ranah yaitu penalaran, penghayatan dan pengamalan (selengkapnya lihat entri/topik : Taksonomi Bloom).

Mengacu pada tema di atas, kira-kira tujuan pelatihan yang bisa ditetapkan dalam kegiatan ini, kurang lebih sbb :
  • Para Penggalang mampu mengidentifikasi problem-problem lingkungan yang terjadi di sekitar lingkungan kehidupannya.
  • Para Penggalang mampu mengkombinasikan antara upaya pemecahan problem lingkungan dan peran yang bisa dilakukan oleh dirinya, keluarganya, masyarakat bahkan bangsanya.
  • Para Penggalang mampu  melaksaakan program bersih-bersih lingkungan baik dilakukan sendiri maupun dengan berkelompok

Alat Bantu Yang Dibutuhkan

Alat bantu/peraga untuk mendukung penerapan metode ini, adalah :
  • Alat peraga (foto, berita, gambar, video, dll) tentang berbagai kerusakan alam yang terjadi didunia dan akibatnya bagi manusia.
  • Konsep Pendidikan Nilai tentang Pentingnya Mencintai Alam (dari sisi agama, lingkungan budaya, sosial, ekonomi, dll).
  • Lambar Kerja Peserta Didik
  • Kertas Karton, Spidol & Papan Tulis

Siapkan Hadiah yang menarik

Untuk membuat diskusi lebih dinamis dan menyenangkan, Kakak Pembina sebaiknya menyiapkan beberapa hadiah yang akan dibagikan setiap selesai diskusi. Upayakan setiap regu memperoleh hadiah sesuai dengan prestasi masing-masing, misalnya :  regu dengan  ide paling unik, paling kompak, paling seru, paling dinamis/antusias, dll. Prinsipnya semua regu haruss memperoleh hadiah sesuai dengan upayanya masing-masing.


Pelaksanaan

Pembukaan

Setelah Upacara Pembukaan Latihan, Kakak Pembina menjelaskan bahwa topik latihan hari ini tentang Kode Kehormatan Pramuka dengan tema "Cinta Alam, Tanggungjawab dan Gaya Hidup Penggalang Masa Kini, Mungkinkah". Sebagai pengantar Kakak Pembina menjelaskan apa itu cinta alam dari berbagai segi (agama, sosial, budaya, lingkungan, ekonomi, dsb), kenapa alam perlu dicintai, fungsi alam untuk mendukung kehidupan manusia, dan berbagai kejadian bencana alam yang merugikan umat manusia. Agar penjelasan menarik perlu disertakan alat peraga baik foto, gambar, video, dll.

Selanjutnya Kakak Pembina, meminta para Penggalang berkelompok sesuai regu masing-masing untuk berdiskusi  dengan tahapan dan topik yang telah ditetapkan.

Diskusi Putara 1 :

Kakak Pembina membagikan "lembar kerja peserta didik"  untuk diisi berdasar hasil diskusi regu. Diskusi putaran pertama bertujuan mendorong  peserta didik  agar mampu menemukan fakta/ fenomena  problem-problem lingkungan di sekitar lingkungan terdekatnya.

Waktu untuk diskusi hendaknya jangan terlalu lama, hanya sekitar 5 - 10 menit. Tidak semua kotak harus diisi seluruhnya. Isian kotak adalah  kalimat yang pendek-pendek atau kalimat pernyataan yang jelas menggambarkan fakta/fenomena/keadaan.

Lembar kerja peserta didik di diskusi putaran pertama ini  kurang lebih akan berupa :


Setelah peserta didik selesai diskusi putaran pertama, Kakak Pembina meminta masing-masing regu melaporkan hasil temuannya dan dicatat di papan tulis. Jika ada regu yang tidak berhasil mengisi kotak tertentu dibiarkan saja. Kotak-kota yang kosong dapat diisi bersama antara Kakak Pembina dengan semua anggota regu.

Berdasarkan paparan masing-masing kelompok, Kakak Pembina kemudian menyimpulkan di papan tulis temuan-temuan tiap regu, kira-kira hasilnya akan seperti :


Dari tabel di atas, Kakak Pembina meminta semua regu untuk menyusun sebuah cerita dalam 3 sampai 5 kalimat dengan gaya bebas namun harus mengacu pada pokok-pokok temuan diskusi seperti tercantum pada tabel atas.

Misalnya Regu Harima menyatakan  : "Menjaga lingkungan adalah tanggungjawab semua keluarga, warga rt/rw dan juga warga kalurahan. Sampah akan menjadi masalah lingkungan kalau tiap keluarga membuang begitu saja. Sampah akan bermanfaat jika saja di tiap RT/RW mendirikan Bank Sampah untuk didaur ulang" 

(Catatan : mengapa dibikin cerita ? :
  • Hasil diskusi sebagaimana tercantum di atas masih berupa fenomena/fakta-fakta yang tentu saja masih susah diingat apalagi dihayati.
  • Sebuah cerita umumnya mudah diingat dan diinternalisasi dalam pikiran, perasaan dan mudah dijadikan  motivasi berkarya.
  • Sebuah cerita umumnya lebih menarik dan ekspresif  karena fakta yang sama bisa diceritakan dengan gaya humor, gaya sedih, gaya gembira, gaya motivatif, gaya inspiratif, dsb)

Setelah semua regu diminta menyusun cerita, sebelum memasuki diskusi putaran dua Kakak Pembina memberikan penghargaan, misalnya  kepada regu yang dianggap paling dinamis atau yang ceritanya sangat menarik.  Dapat juga diselingi dengan bernyanyi, bermain tepuk tangan, yel-yel, dsb.

Diskusi Putaran 2 :
Diskusi putaran kedua merupakan kelanjutan diskusi putaran pertama. Pada putaran kedua ini  para Peserta Didik didorong untuk mampu menemukan fokus masalah lingkungan dengan derajat  yang ideal/bagus, rusak atau sangat rusak.

Lembar kerja peserta didik di putaran kedua ini kurang lebih, sbb :


Setelah peserta didik selesai diskusi putaran kedua, Kakak Pembina kembali  meminta masing-masing regu melaporkan hasilnya dan dicatat di papan tulis. Tidak semua regu harus mampu mengisi semua kolom yang ada.  Kotak-kotak yang kosong diisi bersama antara Kakak Pembina dan semua anggota regu.

Berdasarkan paparan masing-masing regu, Kakak Pembina kemudian menyimpulkan dan ditulis di  papan tulis. Kira-kira hasilnya akan seperti :



Selesai semua tabel diisi, Kakak Pembina meminta semua regu untuk kembali menyusun sebuah cerita dalam 3 sampai 5 kalimat dengan gaya bebas namun mengacu pada pokok-pokok temuan diskusi di atas.

Misalnya Regu Garuda  menyatakan  : "Sungguh menyedihkan ruang terbuka hijau di lingkungan kotaku sangat rusak, pohon-pohon mati, rumput liar tumbuh di mana-mana, air menggenang di berbagai sudut sehingga menjadi sumber penyakit  seperti demam berdarah, pernafasan, alergi dan berbagai penyakit lainnya. Tentu hal ini tidak bisa dibiarkan sebab ruang terbuka hijau adalah sumber oksigen, keindahan kota dan tempat rekreasi"

Setelah semua regu diminta menyusun cerita dan sebelum memasuki diskusi putaran tiga  Kakak Pembina kembali memberikan penghargaan, misalnya  kepada regu yang idenya  sangat menarik, pendapatnya beragam, dsb.  Dapat juga diselingi dengan bernyanyi, bermain tepuk tangan, yel-yel, dsb.


Diskusi Putaran 3 :

Diskusi putaran ketiga merupakan kelanjutan diskusi putaran pertama dan kedua. Pada putaran ketiga ini para Peserta Didik didorong untuk mampu menemukan dan merumuskan peran individu maupun kelompok dalam menciptakan lingkungan yang ideal.

Lembar kerja peserta didik di putaran kedua ini kurang lebih, sbb :


Setelah peserta didik selesai diskusi putaran ketiga,  Kakak Pembina kembali meminta masing-masing regu melaporkan kembali hasil temuanya dan dicatat di papan tulis. Tidak semua regu harus mampu mengisi semua kolom yang ada.  Kolom yang masih kosong kembali diisi oleh Kakak Pembina dengan seluruh anggota regu.

Berdasarkan paparan masing-masing kelompok, Kakak Pembina kemudian menyimpukan dan menuliskannya di papan tulis.  Kira-kira hasilnya akan seperti :



Setelah semua kolom terisi, , Kakak Pembina meminta semua regu untuk menyusun kembali  sebuah cerita dalam 3 sampai 5 kalimat dengan gaya bebas namun mengacu pada pokok-pokok temun diskusi di atas.

Misalnya Regu Singa  menyatakan  : "Kami regu singa adalah pribadi-pribadi yang cinta lingkungan. Mulai saat ini kami tidak akan lagi membuang sampah sembarangan, dengan sukarela membersihkan selokan, menyingkarkan benda-benda dijalan yang menggangu lalu lintas dan giat ikut serta menjaga ruang terbuka hijau di lingkungan kami. Semua itu kami lakukan karena kami bersemboyan Pramuka cinta alam sepanjang hayat dikandung badan ..."

Setelah semua regu diminta menyusun cerita dan sebelum memasuki diskusi putaran keempat  Kakak Pembina kembali memberikan penghargaan, misalnya  kepada regu yang paling kompak, dinamis dan bekerjasama dengan baik.  Dapat juga diselingi dengan bernanyi, bermain tepuk tangan, yel-yel, dsb.


Diskusi Putaran 4/Penutup

Temuan-temuan pada diskusi putaran pertama, kedua dan ketiga merupakan tahap mengidentifikasi, menggolongkan,  menjelaskan berbagai fakta/fenomena  yang terkait dengan keadaan lingkungan disekitar peserta didik.

Diskusi putaran 4 merupakan tahap  perumusan hasil-hasil temuan dengan cara menarik kesimpulan baik yang berupa hubungan sebab akibat, hubungan subyek dan obyek, hubungan pengaruh mempengaruhi antar fakta/fenomena yangg berhasil ditemukan peserta didik dalam ketiga tahap diskusi di atas.  Dari hubungan-hubungan tersebut peserta didik  dibimbing untuk merumuskan  konsep pemikiran, cara menyikapi dan rencana aksi sebagai perwujudan nilai-nilai cinta alam.

Perumusan hasil-hasil temuan ini mengacu pada tujuan, tema dan hasil diskusi baik yang  berupa rangkaian fakta maupun fakta yang telah disusun dalam sebuah cerita oleh tiap regu. Kakak Pembina dapat lebih aktif agar perumusan ini bisa dilakukan dengan baik.

Perumusan hasil temuan harus diupayakan agar meliputi ranah penalaran, penghayatan dan pengamalan.  kelompok. Hasil perumusan akan berbeda-beda karena terkait dengan minat dan fokus indivisu dan kelompok terhadap terhadap fakta-fakta temua diskusi di atas.

Hasil perumusan bisa disusun dalam sebuah cerita, pernyataan, janji, komitmen, dsigb sesuai dengan alam Penggalang. Misalnya, hasil perumusan Regu Gajah sbb :

Pada hari ini, 5 Mei 2013, kami regu Gajah menyatakan bahwa cinta alam sebagai kode kehormatan pramuka harus bisa menjadi gaya hidup dan tanggungjawab setiap anggota regu baik sebagai pribadi, sebagai anggota keluarga, sebagai anggota masyarakat, sebagian bagian dari bangsa Indonesia maupun sebagai bagian dari warga dunia.

Alam adalah tempat manusia hidup dan berpijak. Alam yang rusak akan mengancam kehidupan umat manusia. Ketika sampah berserakan, kotor dan bau, pohon-pohon mati, jalan kotor dan berdebu, sungai-sungai kering - tercemar saat kemarau dan banjir saat hujan, limbah rumah tangga dan limbah industri dibuang begitu saja, itulah tanda-tanda alam yang rusak.

Ketika alam rusak maka saatnya  kita semua untuk kembali memperbaiki dan melestarikannya. Untuk itu pada hari ini seluruh anggota regu gajah akan :

Satu : Menjadi duta lingkungan untuk mengingatkan siapa saja dengan santun agar berperilaku bersih, bersahabat dengan alam dan menjaga kelestariannya.

Dua : Tidak kenal lelah mengajak kawan, keluarga dan masyarakat untuk secara sendiri-sendiri atau bersama-sama mengatasi persoalan  lingkungan dari  persolan  kecil hingga yang besar.

Tiga :Setiap minggu kami akan bekerja bakti membersihkan selokan, taman-taman sekolah dan taman-taman kota, sungai-sungai dengan suka cita, suka rela dan penuh tanggungjawab.

Jakarta, 5 Mei 2013
Hidup Regu Gajah ..... Yesss...
Regu Gajah ..... Cinta Alam Sepanjang Hayat

Statemen hasil perumusan di atas bisa ditulis secara rapi dilengkapi dengan ilustrasi kemudian  dipasang sebagai hiasan dinding sangar gudep atau sesekali diikutkan dalam pameran Pramuka.


Penutup

Dari rangkain proses penerapan metode discovery di atas tampak ada beberapa hal yang layak dijadikan perhatian, seperti :
  • Kreativitas Pembina dituntut tinggi terutama dalam penguasaan tema dengan segala dimensinya karena akan menjadi bahan penyusunan Lembar Kerja Peserta Didik pada tiap tahapan.
  • Pembina harus aktif  mengobservasi tiap kelompok agar diskusi bisa berkembang dengan baik dan fokus pada tema.
  • Pendidikan nilai sesungguhnya tidak mudah karena pada diri para peserta didik pada dasarnya telah terinternalisasi begitu banyak nilai sebagai hasil interaksinya dengan berbagai jenis lingkungan. Pendidikan nilai yang baik adalah yang mampu mengungkap nilai-nilai yang telah "dimiliki" peserta didik kemudian membekalinya  agar mampu menyeleksinya mana nilai yang baik dan berguna mana yang tidak.
Metode ini banyak disarankan untuk peserta didik usia penggalang ke atas, namun demikian dengan modifikasi dan adaptasi seperlunya kemungkinan bisa juga diterapkan untuk siaga. Makin tinggi usia peserta didik tentu akan  akan makin komplek  sudut pandang masalah dan penyelesainnya, tentu saja  kemudian akan membutuhkan penyusunan lembar kerja yang lebih njlimet.


Pada akhirnya yang penting disadarai metode hanyalah sekedar alat. Oleh sebab itu jangan pernah ragu menginovasi dan mengadaptasinya  bagi kepentingan peserta didik. Metode discovery termbimbing bisa dilakukan untuk materi pendidikan apa saja.


Selamat Mencoba, salam Pramuka


Lihat entri/topik terkait :
Metode Discovery untuk Latihan Pramuka yang Menyenangkan
Taksonomi Bloom
Kode Kehormatan Pramuka


Sumber :
http://id.wikipedia.org/
http://file.upi.edu/
Kertas Kerja Workshop Penyusunan Kurikulum Berbasis Kompetensi  Departemen Vokasi UI - 2012
Kertas Kerja Workshop Penyusunan Kurikulum Berbasis Kompetensi Kursus Penyiaran, Ditjen PAUDNI  Kemendiknas 2012

.... dan dari berbagai sumber lain, ditulis ulang dan disesuaikan dengan keperluan "ensiklopedia pramuka" (-aiw).

Share:

May 3, 2013

Metode Discovery untuk Latihan Pramuka yang Menyenangkan




Pengantar
  • Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta perubahan  lingkungan sosial budaya melahirkan aspirasi-aspirasi baru didalam kehidupan umat manusia. Aspirasi-aspirasi baru itu juga terjadi pada para peserta didik Gerakan Pramuka. Sejalan dengan itu maka  lingkungan dan proses pendidikan kepramukaan perlu terus dikembangkan dan diinovasi dengan berbagai cara. Salah satunya adalah inovasi dibidang metode dan materi latihan kepramukaan agar sejalan dengan tuntutan zaman yang terus berubah tersebut.
  • Metode pendidikan  merupakan salah satu kunci sukses untuk mencapai tujuan pendidikan. Metode pendidikan kepramukaan yang menekankan pentingnya penciptaan “kegembiraan lingkungan  belajar”  membutuhkan kreativitas, inisiatif dan sikap inovatif para Pembina Pramuka. “Kegembiraan lingkungan belajar  & latihan” merupakan atmosfer yang perlu diciptakan oleh para Pembina Pramuka melalui pemilihan dan penggunaan metode pembelajaran yang menantang, partisipatif, interaktif, menarik minat, serta mampu memenangkan perhatian peserta didik.
  • Terdapat dua pendekatan didalam penciptaan lingkungan pembelajaran yaitu “student center” dan “teacher center”. Student center  merupakan pendekatan pendidikan yang berpusat pada peserta didik  sangat sejalan dengan sistem pendidikan kepramukaan. Pendekatan ini dirasakan  lebih efektif untuk mencapai tujuan pembelajaran sekaligus untuk membangun kecerdasan peserta didik baik ranah kognitif, afektif maupun psikomotorik.  Sedangkan  “teacher center” atau pendekatan pendidikan yang berpusat pada  guru, dianggap sudah tidak sesuai dengan aspirasi baru para peserta didik dan dianggap kurang  dapat memberikan ruang bagi perkembangan peserta didik.

Arti Penting Metode Pendidikan

Pemilihan metode pendidikan/latihan sangat penting  sebab metode latihan memiliki 3 arti penting yaitu : sebagai strategi pembelajaran, sebagai alat mencapai tujuan pendidikan dan  sebagai alat memotivasi peserta didik.

Strategi pembelajaran adalah upaya menciptkan lingkungan pendidikan agar proses latihan dapat terlaksanaka dengan efisien dan efektif.  Strategi pembelajaran bersifat konseptual dan berbentuk perencanaan pelatihan yang didalamnya memuat pilihan metode pembelajaran dalam kaitannya dengan factor-faktor pembelajaran lain seperti tujuan, materi, karakter peserta didik,  sarana dan prasarana, narasumber, dsb.

Setiap proses pendidikan dinyatakan atau tidak pada hakikatnya memiliki tujuan yang ingin dicapai. Tujuan pendidikan umumnya dirumuskan untuk mengembangkan potensi diri setiap indivisu manusia baik dalam ranah  kognitif  (pengetahuan), afektif (sikap) dan psikomotorik (ketrampilan). Metode pembelajaran merupakan alat yang dipakai untuk mencapai tujuan pembelajaran dimaksud. Penggunaan metode pembelajaran yang tepat akan menjadikan kegiatan belajar dapat mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan.

Metode pendidikan sebagai alat motivasi ekstrinsik, maksudnya bahwa metode  berfungsi sebagai alat perangsang dari luar yang dapat membangkitkan minat belajar seseorang. Penggunaan metode yang tepat dan bervariasi akan dapat dijadikan sebagai alat motivasi ekstrinsik dalam kegiatan pembelajaran/ latihan. Pembelajaran konvensional yang tidak banyak menggunakan metode yang bervariasi dan kurang membuat peserta didik aktif  akan menimbulkan kebosanan. Siswa akan menjadi pasif, tidak bersemangat, dan antusiame rendah saat mengikuti pelajaran di kelas. 

Metode Discovery  (Metode Penemuan)

Salah satu metode pembelajaran yang berorientasi pada “student center” adalah metode discovery (penemuan). Bentuk metode ini adalah  mengatur pengajaran/pelatihan  sedemikian rupa sehingga peserta didik memperoleh pengetahuan baru  tidak melalui pemberitahuan tetapi  sebagian atau seluruhnya ditemukan sendiri.  Penemuan  pengetahuan baru, konsep-konsep dan prinsip-prinsip tersebut  melalui proses mental para peserta didik sendiri.
Dalam menemukan konsep dan prinsip baru tersebut para peserta didik  melakukan pengamatan, menggolongkan, membuat dugaan, menjelaskan, menarik kesimpulan dan sebagainya untuk menemukan beberapa konsep atau prinsip. Narasumber belajar (guru/pembina/pamong) hanya  membimbing dan memberikan intruksi. Dengan demikian pembelajaran discovery ialah suatu pembelajaran yang melibatkan peserta didik  dalam proses kegiatan mental melalui tukar pendapat, berdiskusi, membaca sendiri,  mencoba sendiri dan menyimpulkan sendiri.


Ciri Utama

Metode Discovery memiliki ciri utama, sbb :    
  • Peran narasumber (guru/pembina/pamong/instruktur)  jauh lebih sedikit dibandingkan dengan metode pembelajaran lainnya. Meski demikian  tidak berarti narasumber belajar  terbebas dari pemberian bimbingan kepada peserta didik.
  • Bruner (www.laskasinformasi.com) memberikan tiga ciri utama pembelajaran penemuan, yaitu:  (1) Keterlibatan siswa dalam proses belajar. (2) Peran guru adalah sebagai seorang penujuk (guide) dan pengarah bagi siswanya yang mencari informasi. Jadi, guru bukan sebagai penyampai informasi. (3) Umumnya dalam proses pembelajaran digunakan barang-barang nyata
  • Narasumber belajar  sesedikit mungkin menerangkan, tetapi harus  lebih banyak mengajukan pertanyaan.  Dengan pertanyaan-pertanyaan tersebut diharapkan  membantu peserta didik menyadari kearah mana mereka harus berfikir, bersikap dan bertindak terhadap sebuah pengetahuan atau prinsip baru yang ditemukannya.
  • Narasumber belajar harus mampu  mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang sesuai bagi setiap individu/kelompok agar mereka mampu mengorganisasikan pendapat serta dapat meningkatkan pengertian-pengertian terhadap segala sesuatu yang menjadi topik bahasan.
  • Narasumber belajar harus terampil menyusun berbagai bentuk atau jenis pertanyaan dengan   lebih dahulu menetapkan  proses berfikir, jenis pengembangan bakat/ketrampilan serta jenis sikap yang diharapkan berkembang pada para peserta didik.


Prosedur

Penerapan metode belajar discovery atau penemuan  bukan hanya agar peserta didik  memperoleh tambahan pengetahuan saja, melainkan untuk memberikan motivasi kepada peserta didik, melatih kemampuan berpikir intelektual,  merangsang keingintahuan siswa, mendorong siswa untuk bertindak (menerapkan pengetahuannya) dan memperkuat konsep diri (sikap) terhadap sebuah hal.

Terdapat dua model pembelajaran penemuan, yaitu Model Pembelajaran Penemuan Murni dan Model Pembelajaran Penemuan Terarah. Model pembelajaran penemuan murni merupakan model pembelajaran penemuan tanpa adanya petunjuk atau arahan. Penerapan metode ini mungkin akan menimbulkan kegaduhan karena peserta didik akan  banyak diskusi dan bertanya kepada teman yang lainnya atau kepada narasumber. Pembelajaran penemuan terarah sedikit berbeda dari pembelajaran penemuan murni. Dalam metode ini narasumber beajar akan sedikit lebih banyak berperan dibanding dengan pembelajaran penemuan murni..

Dalam proses pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran penemuan ada beberapa hal yang harus dilakukan, diantaranya :
  • Bagilah peserta didik di dalam kelas menjadi beberapa kelompok
  • Berikan tugas kepada setiap kelompok
  • Berikan arahan terhadap aktivitas peserta didik apa  yang akan dilakukan sebelum alat dan bahan yang akan dipakai dibagikan.
  • Narasumber belajar harus selalu berkeliling mendekati peserta didik di setiap kelompok untuk memberikan bantuan yang diperlukan

Diskusi adalah alat utama dalam medtode ini. Oleh sebab itu narasumber belajar dituntut mampu membangun suasana diskusi yang terbuka, menyenangkan, interaktif dan  partisipatif. Peserta didik didorong agar dapat berperan optimal dalam diskusi.

Narasumber belajar harus dapat mengarahkan kegiatan-kegiatan mental (berfikir, merenung, menilai) para peserta didik agar sesuai  dengan yang apa telah direncanakan. Peserta didik harus lebih aktif dan narasumber belajar menghindari  terlalu banyak berceramah..



Kelebihan dan Kekurangan

Tidak ada satupun metode belajar yang sempurna. Semua ada kelebihan dan kekurangannya.  Suherman, dkk (2001: 179 dalam http://herdy07.wordpress.com), menyatakan  kelebihan metode discovery sebagai berikut:

  • peserta didik aktif dalam kegiatan belajar, sebab ia berpikir dan menggunakan kemampuan untuk menemukan hasil akhir;
  • peserta didik mampu memahami materi latihan karena  mengalami sendiri proses menemukannya. Sesuatu yang diperoleh dengan cara ini lebih lama diingat;
  • peserta didik menemukan sendiri menimbulkan rasa puas. Kepuasan batin ini mendorong ingin melakukan penemuan lagi sehingga minat belajarnya meningkat;
  • Peserta didik memperoleh pengetahuan dengan metode penemuan akan lebih mampu mentransfer pengetahuannya ke berbagai lingkungan kehidupannya
  • Metode ini melatih peserta didik untuk lebih banyak belajar mandiri.
Sedangkan beberapa kelemahan dari metode discovery ini adalah :
  • Membutuhkan waktu belajar yang lebih lama dibandingkan dengan belajar menerima.
  • Membutuhkan latar belakang pengetahuan/informasi yang cukup dari para peserta didik.
  • Cenderung hanya bisa diikuti oleh siswa yang aktif, banyak membaca dan cerdas.
  • Narasumber belajar dituntut untuk mampu menyusun materi pertanyaan yang sesuai dengan kemampuan anak.
  • Narasumber belajar harus mampu menyiapkan  lembar kerja siswa (LKS) yang menarik, informative dan komprehensif.

Metode Discovery sebagai Metode Latihan Pramuka

Metode  Discovery  yang bersifat “student center” sangat sesuai dengan pendidikan kepramukaan. Metode ini menekankan pentingnya bertanya pada peserta didik sebagaimana digariskan oleh Boden Powell (Bapak Pandu Dunia) bahwa didalam merancang latihan kepramukaan yang utama adaah “ask the boy”.  

Prosedur penerapan metode discovery akan sangat membantu para pembina untuk “ask the boy” secara kontekstual, partispatif dan komprehensif. Metode inipun akan sangat membantu untuk menciptakan “lingkungan latihan yang menggembirakan” apalagi jika dipadu dengan permainan tepuk tangan, menyanyi, menari dan kegiatan khas pramuka lainnya disela-sela diskusi.


Selamat Memandu. Salam Pramuka
Pramuka,  inovasi tiada henti untuk menuju masa depan yang lebih baik.


Lihat Entri/Topik terkait
Metode Discovery sebagai Metode Penanaman Kode Kehormatan Pramuka


Sumber :
http: // www.en.wikipedia.org
http: // www.digilib.sunan-ampel.ac.id
http: // www. e-journal.ung.ac.id
http:// www.laskasinformasi.com
http:// www.kelompok28bgr.wordpress.com 
hhtp:// www.herdy07.wordpress.com

... dan dari berbagai sumber lain. Ditulis ulang dan disesuaikan untuk keperluan "ensiklopediapramuka"  (-aiw)
Share:

May 1, 2013

SKK & TKK Dirgantara Krida Pengetahuan Dirgantara




SKK & TKK Kedirgantaraan Krida Pengetahuan Dirgantara
  1. SKK & TKK Navigasi Udara
  2. SKK & TKK Pengatur Lalu Lintas Udara
  3. SKK & TKK Meteorologi


01. SKK & TKK Navigasi Udara

SKK Navigasi Udara untuk Tingkat Siaga
  • Mengenal dan menyebut 8 arah mata angin dan jenis pesawat.
  • Bisa menyebut 3 nama kota/desa terdekat dari tempat tinggal/sekolah/tempat latihan. 
Gambar TKK  Navigasi Udara untuk Tingkat Siaga 


SKK Navigasi Udara untu Tingkat Penggalang
  • Mengetahui jenis-jenis peta dan tanda-tanda peta.
  • Mengetahui kota-kota yang ada bandara atau pangkalan udara.
  • Mengetahui jenis-jenis arah mata angin.
  • Mengetahui jenis-jenis ukuran kecepatan, ketinggian, temperature dan peralatannya.
  • Bisa menyebutkan Ietak suatu objek berdasarkan koordinat dipeta.
  • Mengetahui beberapa alat bantu navigasi.
Gambar TKK  Navigasi Udara untuk Tingkat Penggalang  



SKK Navigasi Udara untu  Tingkat Penegak
  • Mengetahui tentang arah sebenarnya (True North, Magnetic North).
  • Mampu membaca rute chart.
  • Mampu menghitung perbandingan antara satuan kecepatan, jarak dan ketinggian.
  • Mengetahui jenis-jenis navigasi.
  • Mengetahui dan bisa menghitung navigasi dasar (Death Recoaching).
  • Bisa menghitung ETA (Estimate Time Off Arrival) suatu penerbangan.
  • Bisa menghitung waktu/perbedaan waktu suatu tempat.
 Gambar TKK  Navigasi Udara untuk Tingkat Penegak 



SKK Navigasi Udara untu Tingkat Pandega
  • Mengetahui jenis-jenis navigasi dan perhitungannya.
  • Bisa mempergunakan computer navigasi.
  • Mengetahui jenis-jenis alat elektronik navigasi dan penggunaannya.
  • Mengetahui tentang deviasi, variasi dan deklinasi pengaruh terhadap kompas.
  • Menghitung Drift penerbangan.
  • Mampu membuat Flight PIan (Rencana Penerbangan).
Gambar TKK  Navigasi Udara untuk Tingkat Pandega



 02. SKK & TKK Pengatur Lalu Lintas Udara

SKK & TKK Pengatur Lalu Lintas Udara untuk  Tingkat Siaga
  • Mampu mengenal jenis pesawat.
  • Bisa menyebutkan nama-nama bandara dan pangkalan udara minimal 5 di dalam negeri.
Gambar TKK Pengatur Lalu Lintas Udara untuk Tingkat Siaga 




 SKK & TKK Pengatur Lalu Lintas Udara untuk Tingkat Penggalang
  • Mengetahui registrasi pesawat dan lampu-lampu navigasi di pesawat.
  • Mengetahui perbedaan jenis-jenis lapangan udara/bandara, air strip.
  • Mengetahui tentang ketentuan di bandara.
  • Mengetahui batas-batas ketinggian bangunan di suatu pangkalan udara, bandara.
  • Mengetahui fasiIitas navigasi di darat.
  • Mengetahui jenis-jenis lampu di bandara.
  • Mengetahui arti dan fungsi taxiway, runway, parking area, appron.
Gambar TKK Pengatur Lalu Lintas Udara untuk Tingkat Penggalang


SKK & TKK Pengatur Lalu Lintas Udara untuk Tingkat Penegak
  • Mengetahui tentang batas-batas kewenangan pengontrolan suatu bandara (AMC, ATD).
  • Mengetahui tentang ketentuan-ketentuan penerbangan visual flight rules.
  • Mampu memandu pergerakan pesawat di area.
  • Memahami cara-cara menggunakan alat-alat bantu pengawasan lalu Iintas udara.
  • Mengetahui cara pengisian rencana penerbangan (flight plan) dan Notam.
  • Mengetahui pola penerbangan di suatu bandara.
  • Mengetahui ketentuan atau syarat pembuatan Helipad.
  • Mampu membaca data cuaca (QAM).
Gambar TKK Pengatur Lalu Lintas Udara untuk Tingkat Penegak



SKK & TKK Pengatur Lalu Lintas Udara untuk Tingkat Pandega
  • Memahami cara-cara pengetahuan pengendalian penerbangan.
  • Memahami ketentuan IFR ( Instrument Flight Rules).
  • Mengetahui IMC (Instrument Meteorological Condition).
  • Memahami alat bantu navigasi pesawat udara.
  • Memahami batas-batas atau daerah pengawasan lalu lintas udara (pattern, approach control, terminal control, control area, FIR).
  • Memahami cara-cara pengendaIian suatu penerbangan.
  • Memahami cara pembuatan helipad. 
Gambar TKK Pengatur Lalu Lintas Udara untuk Tingkat Pandega




03.  SKK & TKK Meteorologi

SKK Meteorologi untuk Tingkat Siaga
  • Mempunyai catatan jumlah hari hujan.
  • Mengenal Barometer dan jumlah musim di daerahnya.
  • Mengenal Barometer dan tanda-tanda hari akan hujan.
Gambar TKK  Meteorologi  untuk Tingkat Siaga 



SKK Meteorologi untuk Tingkat Penggalang
  • Mengetahui sesuai catatan-catatan tentang hari hujan dalam tiap-tiap dekade.
  • Mengetahui tanda-tanda akan hujan.
  • Dapat menjelaskan terjadinyahujan.
  • Dapat menghitung temperatur dalam satuan derajat Celcius, Fahrenheit,  maupun Reamur.
  • Dapat memperkirakan kecepatan angin.
Gambar TKK  Meteorologi  untuk Tingkat Penggalang  




SKK Meteorologi untuk Tingkat Penegak
  • Tahu tentang pergerakan angin/terjadinya angin.
  • Mengenal alat-alat pengukur kecepatan angin.
  • Tahu tentang susunan atmosfer.
  • Dapat menggambarkan tentang arah dan kecepatan angin.
  • Mengetahui pengaruh angin terhadap penerbangan.
Gambar TKK  Meteorologi  untuk Tingkat Penegak


SKK Meteorologi untuk Tingkat Pandega
  • Memahami dan dapat menceritakan proses terjadinya awan.
  • Memahami jenis-jenis awan.
  • Mampu memperkirakan kerapatan awan terhadap daerah penerbangan.
  • Mampu menjelaskan terjadinya thunder strom dan akibatnya terhadap penerbangan.
  • Memahami alat-alat meteorologi.
  • Dapat menjelaskan tentang radar cuaca.
Gambar TKK  Meteorologi  untuk Tingkat Pandega





Selamat berlatih. Salam Pramuka.
 
Sumber :
Keputusan Kwartir Nasional Gerakan Pramuka Nomor : 29 Tahun 1996 tentang 
Penyempurnaan Syarat-syarat dan Gambar Tanda Kecakapan Khusus Kelompok Kedirgantaraan.
Share:

DAPATKAN APLIKASI ENSIKOPEDIA PRAMUKA DI GOOGLE PLAY FREE

DAPATKAN APLIKASI ENSIKOPEDIA PRAMUKA DI GOOGLE PLAY FREE

FACEBOOK FAN

PENGGUNAAN METODE DISCOVERY UNTUK MENANAMKAN NILAI-NILAI KODE KEHORMATAN PRAMUKA

PENGGUNAAN METODE DISCOVERY UNTUK MENANAMKAN NILAI-NILAI KODE KEHORMATAN PRAMUKA
Meski metode ini awalnya digunakan untuk pelatihan science namun dengan modifikasi dan kreativitas metode ini menarik untuk dijadikan metode pendidikan dan penanaman nilai-nilai yang terkandung dalam kode kehormatan pramuka. (Klik gambar untuk baca artikel selengkapnya)

INFO ENTRY/TOPIK

Hingga hari ini ensiklopediapramuka on line ini telah memuat 680 entry/topik tentang Gerakan Pramuka, Pramuka & Kepramukaan. Semoga dapat memenuhi harapan para pembaca untuk lebih memahami dan dapat menerapkan pendidikan kepramukaan dengan lebih baik. Silakan klik abjad pada daftar isi yang terkait dengan tema yang anda butuhkan, maka anda akan terhubung dengan tulisan lengkap terkait dengan tema dimaksud. Salam.

JUMLAH PENGUNJUNG

DAFTAR ISTILAH KEPRAMUKAAN INDONESIA - INGGRIS

DAFTAR ISI ENSIKLOPEDI : BERDASAR ABJAD (KLIK "ABJAD" UNTUK MEMILIH TOPIK YANG DIBUTUHKAN)

ENTRI/TOPIK TERPOPULER