SKENARIO LATIHAN ORIENTERING (MANUAL + DIGITAL)

  

Ensiklopediapramuka menyajikan tulisan berseri tentang Kegiatan Orientering dalam kepramukaan. Ini adalah tulisan kedua. Oreintering tidak harus selalu dilakukan di hutan atau gunung. Di lingkungan kota atau perkampungan pun, keterampilan navigasi tetap dapat dilatih secara aman dan kontekstual. Yang dibentuk bukan petualangnya, melainkan karakter dan kemampuan berpikirnya. 


 PENGANTAR

Orientering tidak selalu harus dilakukan di hutan atau pegunungan. Untuk kegiatan kepramukaan orientering dapat dilaksanakan di lingkungan kota, sekolah, pemukiman atau perkampungan. Dengan lokasi di pemukiman kegiatan ini tetap dapat dilaksanakan secara aman, kontekstual, dan bermakna.

Justru di ruang dan lingkungan kehidupan sehari-hari, peserta didik dapat belajar membaca arah, mengenali lingkungan sosial, mengenali ruang fisik dan tanda-tanda lingkungan seperti bangunan atau penanda lain, sehingga dengan itu peserta didik dapat  memahami bahwa navigasi adalah keterampilan berpikir, bukan sekadar keterampilan bertahan hidup. Dalam kegiatan kepramukaan pionering harus dirancang menjadi alat pendidikan yang menyenangkan, mengembangkan kebugaran fisik, keterampilan membangun kerjasama tim, komunikasi, kekompakkan menuju puncak prestasi.

Berikut contoh skenario latihan orientering berdurasi 1–2 jam yang menggabungkan alat manual dan digital. Skenario ini bisa diterapkan untuk kegiatan Penggalang maupun Penegak.

TUJUAN PEMBELAJARAN

Melalui kegiatan orientering peserta didik diharapkan mampu menggunakan kompas untuk menentukan arah azimut, membaca peta sederhana lingkungan sekitar, menentukan rute secara mandiri dalam regu, membandingkan hasil navigasi manual dengan teknologi digital, serta merefleksikan kelebihan dan keterbatasan teknologi.

Disamping tujuan seperti di atas, kegiatan ini juga dapat membentuk karakter atau sofskill peserta didik. Jadi yang dibentuk bukan hanya kemampuan menemukan titik lokasi sebagaimana ditetapkan, tetapi juga: bisa membangun karakter seperti ketelitian, kerja sama, pengambilan keputusan, dan literasi digital.

APA ITU AZIMUT?

Dalam kegiatan orientering memahami azimuth sangat penting. Azimut adalah adalah sudut arah yang diukur dari arah Utara (0°) searah jarum jam hingga ke arah tujuan atau sederhananya Azimut adalah angka derajat yang menunjukkan arah tujuan kita.

Cara mudah memahami Azimut, pegang kompas berbentuk lingkaran dengan angka 0° sampai 360°. Dari angka itu maka dapat diketahui bahwa arah Utara = 0° atau 360°, arah Timur = 90°, arah Selatan = 180°, arah Barat = 270°. Jadi jika tujuan kita ke arah Timur maka azimutnya 90°, jika ke arah selatan maka azimutnya 180°, dan jika ke arah barat laut  maka azimutnya sekitar 315°, dst.

Azimut penting dalam orientering. Misalnya, Kakak Pembina memberi instruksi “Ayo bergerak dengan azimut 120° sejauh 150 meter", maka berarti segera putar kompas sampai jarum menunjukkan 120°, arahkan badan sesuai garis bidik, kemudian berjalan sejauh jarak yang ditentukan. Dengan demikian Azimut akan membantu peserta didik tidak bergantung pada jalan yang terlihat, tidak hanya mengira-ngira arah dan bergerak berdasarkan perhitungan

ALAT YANG DIGUNAKAN

Dalam kegiatan orientering alat manual yang harus dibawa peserta berupa kompas bidik atau kompas sederhana, peta lingkungan (dibuat sederhana oleh pembina), peluit, alat tulis dan lembar kontrol poin. Sedangkan alat digital yang harus disiapkan HP (1 per regu), aplikasi Google Maps atau GPS sederhana, powerbank (opsional).

Catatan penting: HP hanya digunakan pada tahap verifikasi, bukan sebagai alat utama sejak awal.

TAHAPAN KEGIATAN

Pembukaan: Pembina membriefing menjelaskan tujuan kegiatan, aturan keselamatan di ruang publik, pembagian regu, sistem kontrol poin, batas waktu kegiatan. Pembina harus mekankan bahwa: Navigasi manual adalah dasar. Digital adalah alat pembanding.

Pelaksanaan: Dalam orientering manual setiap regu diberikan peta lingkungan (lihat contoh), daftar 4–6 titik kontrol, azimut awal atau petunjuk arah. Pembina mengarahkan peserta untuk berdiskusi membedah peta dan perintah yang diberikan, setelah semua regu paham, maka peserta langsung berjalan sesuai dengan peta yang diberikan. Dalam hal ini langkah-langkah yang harus dilakukan peserta adalah menentukan arah menggunakan kompas, memperkirakan jarak, mencatat waktu tempuh, mengisi lembar kontrol poin.

Di bawah ini contoh dua model peta untuk kegiatan orinetering. Peta Pertama sudah tercantum rutenya, peta kedua hanya dicantumkan kontrol poin atau pos yang harus dilewati peserta didik, karena di setiap pos akan ada tugas yang harus dilesesaikan.

 

KONTROL POIN ATAU POS PERJALANAN

Kontrol point adalah titik lokasi yang harus dikunjungi peserta orientering.  Kontrol poin di kota atau kampung bisa berupa: lapangan kecil, pos ronda, masjid atau gereja, taman, balai warga, jembatan kecil, tempat bersejarah, rumah tua, kantor pemerintah, cagar budaya, tempat komersial, dll. 

Kontrol poin tidak harus diberi tanda mencolok. Bisa berupa: kode kecil tersembunyi, pertanyaan yang harus dijawab, dokumentasi foto sebagai bukti, dll. Hal ini karena tujuan kontrol poin adalah melatih ketelitian, pengamatan, dan kerja tim. 

VERIVIKASI DIGITAL

Setelah peserta didik menyelesaikan perjalanan dengan melewati atau menemukan semua titik atau kontrol point, maka Pembina mengajak setiap kelompok membuka Google Maps atau GPS untuk melihat jalur yang ditempuh, membandingkan jarak, mengecek akurasi arah. Peserta didik mendiskusikan kemudian mencatat selisih rute, titik kesalahan dan perbedaan estimasi waktu perjalanan.

REFLEKSI

Di ahir kegiatan Pembina memfasilitasi peserta didik untuk berdiskusi: Apakah rute manual lebih cepat atau lebih lambat? Di mana terjadi kesalahan arah? Apakah GPS selalu akurat? Apa yang terjadi jika baterai habis? Mana yang membuat regu lebih berdiskusi: manual atau digital?, dst.

Disamping diskusi hal-hal di atas sebagai penutup kegiatan, pembina dapat mengajukan pertanyaan berikut: Apa yang paling sulit dalam menentukan arah manual? Apakah semua anggota regu terlibat dalam pengambilan keputusan? Apakah teknologi membantu atau membuat lebih pasif? Jika HP tidak tersedia, apakah regu tetap bisa menyelesaikan tugas? Apa pelajaran karakter yang diperoleh hari ini?

Jawaban atas berbagai pertanyaan di atas kemudian dirumuskan, ditulis dan dimaknai sebagai pengalaman baru para peserta didik.

PENUTUP

Dari uraian di atas, orientering di kota atau perkampungan menunjukkan bahwa navigasi bukan hanya tentang hutan atau gunung, melainkan juga  tentang kemampuan membaca ruang dan menentukan arah secara bertanggung jawab. Dengan integrasi manual dan digital yang tepat, peserta tidak hanya belajar menemukan titik, tetapi juga belajar berpikir, bekerja sama, dan bijak menggunakan teknologi. Jadi melalui kegiatan orientering di tengah kota atau pemukiman yang dilatih  bukan sekadar navigator yang cepat, tetapi pribadi yang mampu menentukan arah dengan sadar dan bertanggung jawab.

Selamat berlatih
Ditulis oleh Anis Ilahi Wh - dari berbagai sumber 

Topik Terkait 

 

 

 

 

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama