Selamat Datang di ENSIKLOPEDIA PRAMUKA
go to my homepage
Go to homepage

Jan 28, 2018

Reflective Writing (1) : Sebagai Metode Learning By Experience dalam Latihan Pramuka




REFLECTIVE WRITING :
SEBAGAI METODE LATIHAN PRAMUKA  
BERDASAR PENGALAMAN (LEARNING BY EXPERIENCE)


“Kami tidak belajar dari pengalaman namun  kami belajar dari merenungkan pengalaman”'
John Dewey


PENGANTAR
  • Learning by Experience merupakan salah satu metode latiha  kepramukaan disamping metode learning by doing dan learning by process.  Ketiga metode latihan ini merupakan sebuah keniscayaan agar latihan pramuka menjadi menarik, menyenangkan dan mencerahkan. Experiential Learning merupakan  proses latihan kepramukaan  yang mengaktifkan peserta didik  untuk memahami  pengetahuan, menguasai ketrampilan serta menghayati  nilai-nilai dan juga sikap hidup melalui pengalamannya secara langsung.
  • Metode Experiential Learning tidak terbatas hanya untuk memberikan wawasan pengetahuan atau konsep-konsep saja, namun, juga dapat digunakan untuk memberikan pengalaman yang nyata melalui penugasan melakukan latihan   ketrampilan-ketrampilan baru. Metode latihan ini juga mampu  memberi proses umpan balik serta evaluasi antara hasil penerapan pengetahuan dan ketrampilan yang telah dikuasasi dengan apa yang seharusnya dilakukan. Experiential Learning dapat pula dimanfaatkan untuk mendukung berbagai agenda latihan pramuka yang menarik dan menyenangkan sekaligus untuk meningkatkan keterampilan berbahasa, terutama dalam keterampilan berbicara dan menulis. David Kolbs, mengembangkan model pembelajaran yang dinamakan “experiential learning” dengan tiga tahap kegiata yaitu dengan melakukan (do), refleksikan (refelct) dan kemudian terapkan (apply)

REFLECTIVE WRITING
Reflective Writing merupakan tulisan  yang isinya mencerminkan renungan-renungan  pribadi atau personal yg diungkapkan secara hampir spontan sesuai dengan  apa yg dirasakan di benak atau hati pada saat tertentu. Sifat dan isi tulisan ini  hampir sama dengan  catatan harian. Namun demikian jika catatann harian lebih merupakan  tulisan yang berisi lintasan-lintasan  pikiran yang terpisah-pisah dan melompat-lombat dari satu tema ke tema lainnya maka reflective writing berupa   catatan-catatan  yang  yang lebih ekstensif,  terencana,  sebagai  tulisan yang utuh dan sistematis serta didukung data dan pengalaman nyata.
  • Refleksi merupakan proses mental yang  kontemplatif  atau pertimbangan panjang dan dalam hasil dari sebuah perenungan. Refleksi juga disebut dengan pikiran atau opini yang datang saat seorang manusia yang kemudian membawa ke alam interpretasi dari apa yang sedang terjadi ketika belajar atau memperoleh sebuah pengalaman baru.  Penulisan reflektif melahirkan wawasan-wawasan baru berdasar pengalaman yang telah dilalui, melahirkan hal-hal baru untuk ditindaklauti serta melahirkan kemauan untuk memperbaiki dan mengembangkan apa-apa yang telah dicapai atau dilaluinya.
  • Reflektive writing mampu membawa seorang individu keluar dari batasan-batasan yang secara sadar atau tidak telah membelenggunya dalam mengatasi berbagai persoalan yang dihadapinya. Seringkali pemikiran seseorang  telah dibentuk oleh nilai keluarga dan budaya,  situasi yang memalukan atau tidak nyaman, agama,  guru masa lalu, surat kabar, acara TV dan sebagainya. Pengaruh hal-hal tersebut tidaklah salah namun jika tidak bijak dan pandai memanfaatkannya justru akan membelenggu dan membatasi lahirnya kreativitas-kreativitas baru  dalam mengatasi berbagai persoalan kehidupan. 
  • Melakukan refleksi merupakan merupakan proses penting, karena memungkinkan seseorag  memaknai dan belajar dari pengalamannya sendiri. Ketrampilan ini penting dilatih agar dikuasai para peserta didik bahkan peserta pelatihan anggota dewasa dalam Gerakan Pramuka, karena dapat  menunjukkan kemampuan seseorang bahwa ia bisa berpikir secara kritis tentang keterampilan dan praktik yang sudah didapatkan untuk bisa maju (improve) dan belajar lebih baik lagi. Tidak ada cara mutlak atau salah dengan pemikiran reflektif. Tapi pertanyaan kunci dalam pemikiran reflektif adalah bagaimana? dan mengapa?
KEGUNAAN REFELECTIVE WRITING
Reflective Writing sebagai metode latihan pramuka memilikibanyak kegunaan, diantaranya :
  • Mendorong peserta didik atau peserta pelatihan untuk aktif  dengan mengajukan pertanyaan dan pemikiran kritis tentang ide dan pendapat yang dimilikinya.
  • Membantu  memeriksa ulang apa yang telah dipelajari dan bagaimana cara mempelajarinya.
  • Membantu  membuat koneksi atu hubungan, misalnya antara apa yang sudah diketahui dengan apa yang sedang dipelajari, hubungan antara teori dan praktik atau antara isi latihan/kursus dengan  pengalaman pribadi.
  • Membantu menunjukkan pemahaman peserta didik  dengan mengidentifikasi pertanyaan apa yang telah peserta didik meiliki dan apa yang belum dipelajari.
  • Membantu  belajar dari kesalahan dengan mengidentifikasi bagaimana cara  melakukannya secara berbeda di lain waktu dan juga untuk mengidentifikasi dan menerima apa yang tidak dapat diubah pada saat itu.
  • Mendorong seseorang  menjadi individu-individu yang terampil melakaukan  reflektif diri untuk membantu karir masa depan.
PENERAPAN PENULISAN REFLECTIVE WRITING 
Metode latihan pramuka yang salah satunya menggunakan metode “learning by experience”, memiliki beragam kegiatan dan latihan yang dapat menggunakan reflective writing sebagai salah satu alat ukur evaluasi sekaligus materi kegiatan. Reflektif Writing sebagai kegiatan yang menarik dan mengandung pendidikan dapat diterapkan dalam berbagai acara latihan Pramuka seperti : 
  • Akhir kegiatan besar seperti perkemahan,  pengembaraan, bakti sosial, upacara ulang janji, ulang tahun gudep, dsb
  • Akhir kegiatan pendidikan,kurusus atau latihan seperti dianpinsat, LPK, KPDK, KIM bahkan juga Kursus untuk Pembina dan Pelatih
  • Menjelang atau sesudah pelantikan pencapaian TKU atau TKK
  • Pada saat upacara perpindahan jenjang dari Penggalang ke Penegak, Penegak ke Pandega, dst.
  • Kegiatan akhir penerimaan anggota baru gugusdepan
  • Akhir penutupan latihan pramuka
  • Kegiatan khusus pada saat renungan malam
  • Kegiatan akhir masa tugas sebagai anggota Dewan Kerja, Dewan Amballan, Dewan Racana atau Kelokpok Kerja dan Sangga Kerja,
  • Dan beragam peristiwa latihan lainnya yang memberikan pengalaman ketahanan jasmani, rohani, hubungan sosial, dan lain-lainnya.
CARA MEMBUAT MATERI/BAHAN UNTUK  REFLEKTIF WRITING 
Reflectitf Writing pada dasarnya ditulis berdasar pengalaman nyata yang dialami oleh seorang peserta didik ketika mengikuti sebuah acara latihan atau kegiatan. Terdapat beberapa pertanyaan yang  dapat digunakan untuk mengumpulkan semacam data atau materi untuk bahan penulisannya. Sejumlah pertanyaan di bawah ini akan membantu seorang peserta didik melalukan reflectif writing atau menuliskan hasil renungan terhadap  pengalaman yang diperoleh selama latihan atau kegiatan.
  • Apa yang terjadi selama acara atau pengalaman apa yang didapat ketika mengikuti acara  itu? 
  • Mengapa hal atau peristiwa yang dialamai atau dilihat itu terjadi?
  • Apa peran saya dalam acara tersebut? Dan mengapa saya bisa menyesuakan diri dengan peran tersebut?
  • Apa perasaan saya terhadap pengalaman yang didapat ketika mengikuti latihan atau kegiatan tersebut ? Dan kenapa saya  merasa seperti itu?
  • Apa pikiran saya terhadap pengalaman yang didapat ketika mengikuti latihan atau kegiatan itu? Dan mengapa saya berpikir seperti itu?
  • Bagaimana saya  menafsirkan dan memaknai hal-hal  yang saya alami atau saya amati selama latihan atau kegiatan itu berlangsung ?
  • Apa arti pengalaman yang saya peroleh dalam kaitan atau hubungan dengan tujuan latihan atau kegiatan yang dilaksanakan ?
  • Apa perspektif (cara pandang), teori atau konsep atau ajaran-ajaran (agama, budaya, norma sosial, seni, dll)  yang bisa digunakan untuk membantu menafsirkan situas pengalaman yang saya peroleh ?
  • Bagaimana saya bisa belajar dan apa yang saya dapatkan dari pengalaman ini untuk pengembangan diri saya ke depan ?
FRASA SATU ATAU GABUNGAN UNTUK MENGUNGKAPKAN GAGASAN 
Seringkali peserta didik mengalami kesulitan untuk mengungkapkan gagasan atas dasar perenungan terhadap pengalaman yang telah diperoleh setelah mengikuti latihan atau kegiatan. Untuk membantu hal itu, terdapat beberapa frasa (kata atau ungkapan) yang secara sendiri-sendiri atau digabung-gabungkan untuk merumuskan gagasan perenungan, seperti :
  • Pengalaman yang dirasakan dan dipikirkan terhadap  suatu situasi latihan/kegiatan
  • Reaksi pribadi terhadap ide, opini atau perilaku orang lain selama mengikuti latihan/kegiatan
  • Evaluasi atau melalukan penilian terhadap  sebuah argument/teori/konsep/ajaran dibandingkan dengan situasi yang terjadi selama latihan/kegiatan.
  • Membandingkan ide pribadi dengan ide orang lain dimana kelebihannya, kekurangannya, keunikannya, keunggulannya, perbedaannya, dsb.
  • Mengomentari nilai yang terkandung dalam sebuah ide baik ide diri sendiri maupun ide orang lain
  • Mengidentifikasi atau merumuskan isu-isu atau materi atau kejadian-kejadian kunci atau penting selama latihan atau kegiatan berlangsung
  • Seberapa baik saya mengerti sesuatu yang terjadi selama latihan atau kegiatan berlangsung.
Setelah mengugunakan beberapa frase di atas untuk menemukan gagasan-gasan yang terkait dengan pengalaman, maka tiba saatnya untuk menulisakannya. Di bawah ini terdapat beberapa jenis kalimat pembuka yang bisa dijadikan rujukan untuk menuliskan pengalaman yang diperoleh, seperti :
  • Pengalaman ini membuat saya percaya / berpikir / bertanya bahwa ...
  • Saya pikir / merasa / percaya / berharap / saya yakin bahwa ...
  • Saya ingat bahwa  ...
  • Bagi saya apa yang saya alami ini sulit / mudah / menakutkan / seru,  dll, karena ….
  • Saya menemukan ini mengkhawatirkan / lucu / nyaman/menengaknan dll, karena ...
  • Bagi saya, pernyataan ini sangat sulit untuk disepakati mengingat apa yang sudah saya pahami tentang hal ini adalah ...
  • Saya setuju / tidak setuju dengan (Smith (2013), atau pandangan ahli lain)  ketika dia berpendapat bahwa ...
  • Berdasarkan keyakinan dan pengalaman pribadi saya maka apa yang saya lihat dan dapatkan ini merupakan sebuah hal yang ….
  • Dalam pikiran saya, timbul pertanyaan –pertanyaan / pertanyaan utamanya  adalah ...
  • Tidak terpikir oleh saya  bahwa ...
  • Dll. 
bersambung  ke entry/topik berikutnya ...

Ditulis oleh : 
Anis Ilahi Wh – Ketua DKD Kwarda DIY 1987 – 1991

Lihat entry/topic terkait :
  • Reflective Writing (2) :  Jenis-jenis Model Penulisan Reflective Writing
  • Reflective Writing (3) :  Contoh-contoh Naskah Reflective Writing
Rujukan :
  • Bain, JD, Ballantyne, R, Mills, C & Lester, NC 2002, Reflecting on practice: student teachers' perspectives, Post Pressed, Flaxton Qld.
  • Williams K, Woolliams, M, & Spiro, J 2012, Reflective writing, Palgrave Macmillan, New York.
  • University of N.S.W. - Reflective writing
  • http://grammar.yourdictionary.com/for-students-and-parents/what-is-reflective-writing.html
  • Hand out Maka Kuliah Transmedia Story Telling, Departemen Komunikasi FISIP UI tahun 2018


 
Situs ini merupakan layanan informasi pendidikan kepramukaan yang merujuk ke berbagai sumber yang bisa di pertanggung jawabkan.... Semoga Bermanfaat