Selamat Datang di ENSIKLOPEDIA PRAMUKA
go to my homepage
Go to homepage

Aug 17, 2012

Pandega (sejarah & perkembangannya)





Golongan Pandega merupakan golongan peserta didik dalam Gerakan Pramuka yang lahir paling akhir dibandingkan dengan golongan siaga, penggalang dan penegak. Lahirnya golongan ini merupakan hasil eksperiman dari alm. Prof. DR. Fuad Hasan (Mantan Mendikubud RI). Beliau pada tahun 1964 selaku Andalan Nasional Bidang Penelitian melakukan eksperimen dengan membentuk satuan pramuka khusus untuk para mahasiswa. Eksperimen tersebut didasari oleh kenyataan tidak tertariknya para mahasiswa untuk membina dan memimpin adik-adiknya dalam gerakan pendidikan kepramukaan. Satuan khusus tersebut oleh beliau kemudian ingin ditarik keluar kampus dan menjadi bagian dari gugusdepan yang saat itu lebih banyak berpangkalan di teritorial - tidak seperti saat ini yang lebih banyak di sekolah, kampus dan pesantren.

Pada perkembangan berikutnya ternyata satuan khusus hasil eksperimen di atas, oleh Gerakan Pramuka justru disahkan menjadi satuan pendidikan yang bernama Pandega dengan usia peserta didik 21 - 25 tahun. Pengesahan tersebut terjadi pada MUSPPANITERA  III tahun 1974 di Ujungpandang dan baru tiga bulan berikutnya Kwarnas Gerakan Pramuka resmi memutuskan golongan pandega dengan memasukannya kedalam Petunjuk Penyelenggaraan Gugusdepan dengan Keputusan Kwarnas Gerakan Pramuka bernomor III/KN/1974 Bab X. 

Meski telah diresmikan sebetulnya hasil eksperimen tersebut diakui  belum tuntas sehingga masih memerlukan pengkajian-pengkajian lanjutan untuk mematangkan konsep pendidikan pandega sebagai bagian dari sistem pendidikan Gerakan Pramuka (Idik Sulaeman, 1980). Kebutuhan akan pematangan konsep pengembangan sistem pendidikan untuk Pramuka Pandega tampaknya masih aktual hingga saat ini, oleh sebab :
  • Masa usia pandega adalah masa usia yang harus dipandang sebagai orang dewasa muda yang mengarah kepada kematangan dan kemandirian berfikir serta kemampuan untuk bertindak secara kritis, realistis dan analitis.
  • Masa usia yang dominan jiwa petualangan (advontoris) disertai keinginan untuk merombak hal-hal yang dinilai sudah mapan dan tertinggal oleh zaman.
  • Masa usia yang membutuhkan dukungan yang membesarkan semangat, menghendaki kejelasan dan keterbukaan dalam segala hal.
  • Masa usia yang mengarah kepada kebutuhan aktualisasi diri dalam masyarakat dan kebutuhan akan cita-cita masa depannya yang pasti dan berdaya saing.
  • Masa usia yang memerlukan tempat terpecaya untuk mencurahkan pikiran, perasaan dan idealisme-idealismenya baik menyangkut diri sendidi, Gerakan Pramuka, masyarakat sekelilingnya hingga masa depan negara dan bangsanya.
Atas dasar sifat-sifat usia yang semacam di atas maka kegiatan latihan dan program Pramuka Pandega hendaknya diarahkan kepada :
  • Mengembangkan sikap berprakarsa, pramuka pandega diberi kesempatan seluas-luasnya untuk merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi kegiatan dan program-program latihannya secara mandiri, Kakak Pembina hanya berperan mengarahkan, menasehati dan memsatikan bahwa semua yang dilakukan masih sejalan dengan Kode Kehormatan Pramuka.
  • Dalam melaksanakan kegiatan para pramuka pandega hendaknya diarahkan melalui kegiatan-kegiatan perorangan atau kelompok-kelompok kecil namun memiliki dampak yang signifikan bagi diri dan lingkungannya.
  • Pramuka Pandega lebih diarahkan untuk menjadi penggerak, pelopor dan inisiator dalam penciptaan berbagai program bina diri, bina satuan dan bina lingkungan.
Arah pendidikan Pramuka Pandega tampaknya akan terus dinamis sejalan dengan perkembangan sosial budaya masyarakat Indonesia. Hingga saat ini berbagai inovasi pendidikan Pramuka Pandega masih terus berkembang sejalan dengan lahirnya tantangan baru genersi muda Indonesia baik di bidang lingkungan, sosial budaya, kemandirian bangsa, persaingan global, kepedulian sosial, dsb.  Kerjasama antara Kwartir (dalam hal ini Dewan Kerja - Pusdik dan Puslitbang) dengan Para Pandega di berbagai Racana perlu terus digalang untuk menuntaskan sejarah eksperiman lahirnya golongan Pandega yang dulu belum tuntas oleh penggagasnya.

Sumber :  
  • Kak Idik Sulaeman (1980), 
  • Prasaran Kak Mashudi (Ka Kwarnas) di Racana IKIP Jakarta (1988), 
  • Rujukan KPDK DKD DIY tahun 1988 dan Beberapa sumber lain yang terkait - admin



print this page Print this page

 
Situs ini merupakan layanan informasi pendidikan kepramukaan yang merujuk ke berbagai sumber yang bisa di pertanggung jawabkan.... Semoga Bermanfaat